
Baru juga meletakkan tas di meja tiba-tiba rasanya aku mau muntah. Akhirnya aku pergi ke kamar mandi.
"Mau ke mana?" tanya Leo yang berpapasan dengan ku.
Tapi aku malah menutup mulutku dengan sau tangan dan pergi begitu saja. Tapi, mata kita berdua sempat melakukan kontak mata.
"Kok dia gitu sih?" heran Risa.
Leo hanya diam saja. Sejujurnya dia merasa sangat khawatir melihat Reta yang wajahnya terlihat pucat.
Aku langsung menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Dan benar saja makanan tadi pagi semuanya keluar.
Rasanya lemes banget enggak ada tenaga sama sekali. Aku nangis, bener-bener nangis.
"Ternyata kehidupannya benar-benar enggak ada enak-enaknya sama sekali." batin ku.
Aku mencuci wajahku dan aku melihat penampilan ku yang berantakan.
"Percuma kalau punya otak pintar, banyak uang kalau hidup yang di jalani kayak gini." ucap ku.
Aku pergi ke kelas dan di kelas sudah ada guru yang masuk dan aku melihat ada Zen yang sedang berdiri di depan kelas.
"Maaf, Bu. Saya baru dari kamar mandi." ucapku sambil bersalaman dengan Bu Siti.
"Kamu enggak papa? Wajahmu pucat banget?" tanya Bu Siti dengan nada khawatir.
"Dua Minggu lagi kamu mau olimpiade, Jadi harus jaga kesehatan." ucapnya.
Olimpiade? Lah? Aku aja enggak paham mau olimpiade apa?
"Kamu boleh duduk." ucapnya sambil memakai kacamatanya.
"Makasih, Bu." ucapku.
Aku baru jalan beberapa langkah tapi aku menyadari kalau Zen masih setia berdiri di tempatnya.
"Kenapa masih berdiri? Ayok duduk?" Ajak ku.
Dia malah terlihat kesal padaku. Apa coba salah ku? Aku kan cuma ngajak dia duduk bukan ngajak dia berantem.
"Kamu juga duduk." ucap Bu Siti.
Akhirnya dia duduk juga. Kadang aku ngerasa heran sama dia. Kenapa ya dia kayaknya benci banget sama aku? Aku enggak tahu alasannya apa karena di dalam novel enggak di jelaskan secara pasti.
Hanya saja aku bisa menyimpulkan karena dia suka sama Risa dan aku sering ganggu Risa makanya dia benci sama aku.
__ADS_1
"Baik anak-anak jangan lupa Minggu depan kita ulangan harian. Ingat di mata pelajaran ibu enggak ada yang katanya remedial!" ucapnya dengan tegas.
"Hah?"
Aku kaget karena aku baru aja duduk tapi pelajaran malah udah selesai. Di dunia ini aku enggak perlu belajar tapi hati aku malah yang sering di tekan.
Aku tidak perduli sekarang ini aku sangat lelah dan ingin tidur. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke UKS.
Aku numpang tidur di UKS dan UKS di sekolah ini tuh enak banget. Jadi, nyaman banget untuk tidur tanpa harus mikirin kehidupan yang melelahkan ini.
"Reta, udah nunggu lama ya? Maaf ya tadi aku ada urusan." ucap Leo yang sedang mengatur napasnya.
Aku ngeliat dia dan aku bingung karena tadi kan aku tiduran di UKS tapi sekarang aku lagi di parkiran dan pakai tas juga.
Dan aku juga lihat anak-anak yang lain satu persatu mulai pulang ke rumahnya masing-masing.
"Kamu lari?" tanya ku.
"Iya." jawabnya sambil menyeka keringatnya.
Aku memberikannya tisu dan aku heran banget darimana datangnya tisu ini? Tiba-tiba aja ada di tangan ku.
"Makasih." ucapnya sambil mengambil tisu dari tangan ku.
"Iya enggak papa." jawab ku.
Dan akhirnya kami berempat pulang bersama. Dengan posisi ku yang ada di tengah-tengah antara Risa dan Leo.
"Ret, tadi kan kita papasan tuh tapi kenapa kamu malah pergi gitu aja?" tanya Risa.
"Maaf, tadi aku buru-buru mau ke kamar mandi. Mau muntah." jawab ku jujur.
Leo langsung menempelkan telapak tangannya di dahi ku.
"Dingin banget. Kamu sakit?" tanyanya dengan nada khawatir.
Andai semua ini adalah nyata maka aku enggak akan terlalu sedih ataupun bahagia.
"Enggak kok." jawab ku.
"Kamu harus banyak istirahat jangan terlalu banyak kegiatan." sarannya.
Aku enggak bisa karena aku enggak bisa bergerak semauku. Kalau aku bisa pastinya sekarang ni aku pengen pergi jalan-jalan, beli banyak barang dan juga tidur sepuas ku.
"Iya." ucap ku sambil tersenyum.
__ADS_1
Mobil berhenti di depan rumah ku. Dan aku langsung turun dari mobil.
"Makasih." ucapku sambil melambaikan tangan kearahnya.
"Sama-sama." ucap Leo.
Mobil pun mulai menjauh dan aku langsung masuk kedalam rumah.
"Leo, kamu beneran suka sama tuh Mak lampir?" tanya Zen terus terang.
"Iya, aku suka beneran sama dia." jawab Leo dengan jelas.
"Apa sih yang kamu suka dari dia? Padahal semua orang juga tahu kalau dia tuh bukan orang baik-baik." heran Zen.
"Enggak boleh gitu. Dibalik sifat jeleknya pasti masih ada sifat baiknya yang enggak kita tahu." ucap Risa.
Tiba-tiba Leo tersenyum. Dan hal itu disadari oleh Risa.
"Kamu nggak akan tahu walaupun aku jelasin ke kamu alasan aku suka sama dia. Aku nggak peduli pandangan orang lain ke dia yang aku peduliin itu pandangan dia ke aku." ucap Leo.
Zen hanya bisa menggelengkan kepalanya. dia benar-benar heran kenapa Leo bisa segitu sukanya sama Reta.
"Jadi kamu beneran suka ya sama dia?" tanya Risa dengan nada sedih.
Leo tidak akan sadar bahwa sebenarnya Risa itu suka padanya berbeda dengan Zen dia menyadari kalau Risa sebenarnya diam-diam menyukai Leo dan itu adalah hal yang membuatnya kesal.
"Iyalah beneran masa bohongan." tawa Leo.
"Tapi dia tuh sering gangguin Risa loh. Itu bener-bener bikin kesel. Kamu masih tetap suka sama dia walaupun dia gangguin sahabat kita?" tanya Zen.
Leo tidak bisa menjawabnya. karena sesungguhnya dia juga menjadi bingung. dia nggak mungkin melepas Reta yang ia perjuangkan cukup lama. Tetapi dia juga tidak mungkin mengorbankan persahabatannya.
"Udahlah aku nggak apa-apa kok. Lagi pula kan sekarang Reta juga udah nggak cari masalah lagi." bela Risa.
"Kok bisa-bisa ya kamu sering dijahatin sama dia tapi kamu masih tetap baik sama dia? Jadi orang itu jangan terlalu baik ntar kamu ditindas terus." nasehat Zen.
"Kamu ngomong kayak gitu seolah-olah Reta itu orangnya jahat banget. Kamu cuma tahu kejahatannya aja dari orang lain kamu nggak tahu kebaikan yang dia punya. kalau kamu nyadarin kebaikannya dan juga ketulusannya aku juga yakin kamu pastinya bakalan jatuh cinta sama dia." ucap Leo.
Mereka berdua kaget mendengar ucapan Leo. karena dia terlalu membela Reta yang menurut mereka sama sekali tidak masuk akal.
"Aku nggak mungkin jatuh cinta sama orang kayak dia!" ucap Zen penuh penekanan.
"Awas aja ya kalau kamu sampai suka sama dia. Aku bakalan ngajak kamu berantem. dan nggak ada kata ampun di antara kita berdua." ucap Leo dengan serius.
Sayangnya perkataan itu hanya dianggap candaan oleh Zen. Dan Risa sejujurnya sudah dari tadi merasa sangat kesal karena yang dibicarakan terus saja Reta dan Reta.
__ADS_1