
"Kalau di ingat-ingat lagi ternyata kamu jahat banget ya ke Reta." ejek Zen.
Aku tersadar dari lamunanku dan melirik sinis kearahnya.
"Kamu deketin dia cuma untuk bantu ayahmu supaya perusahaannya tertolong. Tapi, kenyataannya Reta malah beneran sayang sama kamu. Ku pikir dia pinter nyatanya dia gobloknya kebangetan." tawa Zen.
Aku juga ikut tertawa. Karena aku juga menyadari berapa jatahnya aku dan aku juga berpikir hal yang sama dengannya bahwa Reta itu benar-benar bodoh tapi orangnya benar-benar tulus.
"Menurut mu kalau dia tahu hal ini apa dia bakalan sedih?" tanya Zen.
Kayak ada pisau yang menusuk-nusuk ku. Aku baru terpikirkan akan hal ini. Bagaimana jika dia tahu kenyataan ini? Apa dia bakalan benci banget sama aku?
"Kenapa kamu malah jadi mikirin dia?" tanyaku curiga.
Sejujurnya aku merasa sedikit aneh dengannya. Aku merasa rasa bencinya pada Reta sudah mulai berkurang.
"Ya kasian aja sama dia. Dia kan tiap hari ngomel-ngomel sama Risa. Ngajak berantem terus. Bahkan kamu jarang banget belain dia. Dan selalu ngomong kalau kamu sama Risa tuh sama-sama punya rasa tapi enggak berani ungkapin karena takut persahabatan rusak." jawab Zen.
Risa? Jujur saja aku hanya menganggapnya sebagai sahabat saja. Aku merasa aku tidak menyukai siapa-siapa.
Ya karena aku tahu jika aku jatuh cinta aku akan menjadi seperti ibu. Yang mencintai orang yang salah. Dan orang yang di cinta malah enggak tahu diri.
"Aku cuma belain orang yang lebih lama sama aku. Dan aku enggak suka sama dua-duanya." ucapku.
"Yakin? Kalau di lihat-lihat kayaknya kamu beneran suka sama Reta. Bukan suka pura-pura tapi suka yang beneran." tanyanya.
Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Mungkinkah perasaan ku sudah mulai tumbuh untuknya? Tapi aku benar-benar tidak ada rasa suka seperti cinta padanya. Aku hanya kagum hanya sekedar kagum dan tidak akan berubah menjadi cinta.
"Kalau kamu engga suka sama dia lebih baik lepasin dia." saran Zen.
Aku terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa dia menyuruh ku untuk mengakhiri hubungan? Sedangkan sejak awal saja Zen yang membantuku untuk mendapatkan Reta.
"Ku pikir dia orang jahat. Nyatanya dia sama juga kayak kita. Hidup kayak boneka." ucap Zen sambil menerawang.
"Maksud mu?" tanyaku yang masih bingung dengan apa yang dia maksud.
__ADS_1
"Yang kita tahu dia itu sempurna. Punya wajah cantik dengan bakat segudang. Otak yang pintar membuatnya di sayang orang gitu dan orang tuanya. Tapi, kita enggak tahu kenyataannya kayak gimana." jawab Zen sambil menutup kedua matanya.
Tanpa sada aku mengepalkan kedua tangan ku. Aku merasa bahwa aku tahu banyak tentang Reta. Tapi orang-orang meremehkan ku dan mengatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa tentangnya.
Bahkan orang aneh yang baru ku temui di depan rumah Reta juga mengatakan hal yang sama.
"Dia enggak ada masalah apa-apa. Dia selalu bahagia dengan kehidupannya." ucapku.
Zen tersenyum sinis sambil menatap ku dengan pandangan mengejek.
"Bagaimana kamu tahu orang itu bahagia atau tidak? Bagaimana kamu tahu orang itu sedih atau tidak? Senyum itu bisa saja untuk menutupi masalahnya. Tangis juga belum tentu dia sedih. Dia hanya ingin menangis dan mendapatkan perhatian dari orang lain." ucap Zen.
Yang ia katakan ada benarnya.Aku tersenyum karena aku memang harus tersenyum. Dan ketika aku sedih pun aku harus tetap tersenyum.
Kata-kata yang sering ku dengar sejak kecil bahwa laki-laki tidak boleh nangis. Kalau nangis artinya banci.
"Walaupun kita dekat tapi kita enggak bisa baca pikiran dan perasaan seseorang." kata Zen.
"Maksudnya aku enggak tahu apa-apa tentang dia?" tanyaku dengan nada ketus.
Padahal kan aku yang lebih lama dengan Reta dan aku juga selalu bersamanya.
"Iya. Kamu engga tahu apa-apa tentang dia. Yang kamu tahu dia hanya bahagia dan cinta banget sama kamu." jawabnya sambil tertawa mengejek.
"Enggak usah mancing emosi ku." kesal ku.
"Aku baru tahu kenapa sampai sekarang kamu masih sama dia. Dan kamu juga suka sama dia. Kamu benar karena dia orang baik. Dan kebaikannya enggak semua orang bisa lihat. Karena dari awal orang-orang selalu menamakan diri mereka bahwa Reta itu jahat." ucap Zen panjang lebar.
Aku berdiri dan hendak pergi. Tetapi aku terdiam di tempatku karena mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Zen.
"Tolong lepasin dia. Dia udah banyak masalah. Kayaknya kalau dia tahu kenyataan tentang mu, dia bakalan makin hancur." ucap Zen.
Setelah itu aku benar-benar pergi meninggalkannya.
"Siapa dia berhak ngomong kayak gitu? Bukanya dia sendiri yang bilang aku harus dapati Reta dan setelah berhasil aku harus tinggali dia supaya dia sedih. Tapi, sekarang dia malah kayak gini." kesal ku.
__ADS_1
Bagaimana perasaan kalian jika teman kalian sendiri sepertinya mulai ada rasa dengan orang yang sedang menjalin hubungan dengan kalian?
Apa kita akan melepaskannya begitu saja atau kita semakin menunjukkan padanya bahwa dia adalah milik kita?
Aku kembali ke rumah dengan perasaan yang semakin campur aduk. Dan aku melihat rumah sudah bersih.
Aku cuma bisa menghela napas dan kembali ke kamar ku.
Di sana aku melihat begitu banyak foto Reta. Bukan karena aku terlalu mencintainya. Aku memajang fotonya karena saat itu aku sedang mengincarnya.
"Kayaknya aku benar-benar jahat ke dia." ucapku sambil merebahkan diri di atas kasur.
Aku mulai berpikir bahwa aku memang tidak tahu tentang dia. Aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak memahaminya dan hanya dia yang memahami ku.
Aku terlihat sangat mencintainya padahal kenyataannya aku sama sekali tidak tahu perasaan ku padanya.
Yang aku tahu bahwa dia benar-benar mencintai ku. Dia berantem dengan Risa karena aku. Dia memohon padanya juga karena aku. Dia melangkah waktunya untuk mengajari ku. Dia membantu ku mengerakkan tugasku.
Sekarang aku kembalikan pada diriku sendiri. Apa yang ku lakukan untuknya? Apa yang ku berikan untuknya?
Apa dia bahagia bersama ku? Setidaknya walaupun semuanya hanyalah sandiwara harusnya aku benar-benar bisa membuatnya tersenyum dengan tulus, seperti senyum yang ia tunjukkan pada baka kecil itu.
"Kenapa aku jadi bingung gini!" kesal ku.
Aku benar-benar muak dengan kehidupan ini. Aku heran kenapa aku seperti ini?
Sebenarnya apa yang ku cari? Sebenarnya apa yang ku mau? Aku saja masih bingung dengan kehidupan ku.
Orang lain mungkin berpikir bahwa hidup adalah kehidupan yang sangat sempurna dan semua orang sangat ingin berada di posisi ku.
Tetapi mereka tidak tahu kenyataan pahit yang harus mereka terima jika ingin menjadi diriku.
Ada begitu banyak rahasia dan itu benar-benar membuat ku sendiri bingung tentang diriku sendiri.
Kenapa aku bisa seperti ini? Kenapa aku memanfaatkan seseorang tapi orang lain berpikir bahwa aku yang di manfaatkan?
__ADS_1
Sungguh kehidupan yang sangat kejam dan penuh dengan tipuan.