Ternyata Dia Cuma Bercanda

Ternyata Dia Cuma Bercanda
Dekati Dia


__ADS_3

Aku menerawang jauh dan mengingat tentang pertemuan ku dengannya.


Dia terlihat sangat manis ketika dia berambut pendek sebahu. Selalu tersenyum walaupun ada banyak orang yang enggak suka sama dia.


Waktu itu aku duduk di kantin bareng Risa dan juga Zen. Aku enggak sengaja lihat dia yang duduk sendirian di kantin. Terus ada kakak kelas yang nyamperin dia dengan mata merah menyala.


"Jadi, cewek tuh enggak usah sok ganjen!" teriak perempuan bernando pink.


Sepertinya dia sangat marah padanya. Tapi, anehnya dia hanya diam sambil terus makan.


"Eh, Lo punya kuping enggak sih?" bentak teman si cewek.


Aku hanya bisa terbengong-bengong karena dia malah mengorek telinganya dengan santainya.


Dan dia menutup matanya rapat-rapat setelah dia di siram es teh oleh perempuan bernando pink.


Tiba-tiba matanya terbuka dan tatapan sinis mulai terlihat, dia berdiri dan langsung menampar perempuan itu dengan cukup keras.


Kalian tahu semua mata tertuju padanya. dan perempuan itu menangis dan teman-temannya tak terima kalau sahabatnya di tampar oleh Reta.


Ada orang yang melapor ke guru dan yah bisa di tebak mereka berdua langsung masuk ke BK.


Aku melihat dari kejauhan kalau kedua orang tuanya datang ke sekolah.


Hebat banget orang tuanya langsung datang ketika anaknya mendapatkan masalah di sekolah. Biasanya orang tua akan menghindar ketika anaknya membuat onar di sekolah.


Aku tidak tahu apa yang mereka obrolkan di dalam ruangan itu dan aku pun lanjut bermain bola dengan teman-teman kelas ku.


Saat jam istirahat aku melihat mereka keluar dari ruang BK. Dan kalian tahu ibunya meminta baju bersih untuk anaknya.


"Wah hebat banget ya anak kita." tawa ibunya.


Agak lain sih orang tuanya. Bagian dia bisa bangga setelah anaknya membuat onar di sekolah. Bahkan anaknya menampar orang lain samapi giginya latah loh.


"Betul banget. Anak kita sudah besar dan bisa melindungi dirinya sendiri." tawa ayahnya.


"Makasih." ucap Reta sambil menundukkan kepalanya.


Ayah dan ibunya sama-sama mengelus kepalanya dengan lembut.


Iri? tentu saja aku merasa sangat iri padanya. Aku tidak pernah di perlakukan seperti itu oleh orang tua ku sendiri. Entah karena gengsi ataupun karena memang tidak ada rasanya kasih sayang di antara keluarga kami.

__ADS_1


Dan aku melihat ke lain sisi ada perempuan bernando pink yang tertunduk lesu karena di omelin orang tuanya.


Reta mengantar orang tuanya samapi depan TU setelah itu dia kembali untuk berganti baju dan masuk ke kelasnya.


Sungguh hal yang sangat jarang aku temui. Dan anehnya aku malah ingin terus melihatnya.


Hingga akhirnya aku bisa berkenalan dengannya melalui Zen. Aku tidak tahu kenapa Zen segitu bencinya pada Reta.


Ku pikir karena Reta itu selalu juara pertama sehingga dia selalu menjadi yang kedua. Sungguh alasan yang kekanak-kanakan.


Tapi, aku mulai merubah pikiran itu setelah tahu kebenarannya. Alasan dia membenci Reta bukanlah hal yang sesederhana itu.


"Leo." ucapku sambil berjabat tangan dengannya.


Tangannya benar-benar lembut. Tapi aku merasa kalau tangannya ada kapalnya. Dan yah karena dia sering memegang pena jadi wajar saja kalau ada benjolan di jemarinya.


"Reta." jawabnya datar.


Kenapa dia enggak terpesona pada ku? Nyatanya ketampanan ku tidak menggoyahkan hatinya. Apa mungkin aku bukan seleranya?


"Aku balik dulu." pamitnya.


"Eh, enggak ikut makan dulu?" tanya Risa yang terkejut karena Reta ingin buru-buru pulang.


Mulut yang sangat pedas ini terkadang membuat ku ingin menjahitkan. Tapi, aku sadar aku tidak mungkin melakukan hal itu hanya untuk di penjara.


"Enggak usah, makasih. Aku masih banyak urusan." jawabnya sambil berlalu pergi.


Aku melihatnya buru-buru pergi dan langsung masuk kedalam sebuah mobil hitam yang kinclongnya minta ampun.


"Enggak usah lihatin dia segitunya. Dia tuh Mak Lampir, makhluk tuhan yang paling berbisa. Kamu jangan percaya sama mukanya yang kalem. Suaranya yang lembut. Padahal di belakang tuh dia benar-benar nyebelin." ketua Zen.


Saat itu aku enggak bisa berkata apa-apa karena ya aku terpengaruh sama omongan orang-orang tentangnya.


Sampai suatu hari aku melihat sendiri kebaikan yang ia lakukan. Iya hal itu terlihat sederhana tapi sangat menyentuh.


Aku berhenti di lampu merah dan ternyata ada dua juga yang sedang berhenti. Aku melihatnya membuka kaca mobil dan melambaikan tangan kearah seorang anak kecil.


"Beli tisunya dong." ucapnya sambil tersenyum.


Nyatanya aku bisa melihat senyum tulusnya bukan senyum sinis yang selama ini selalu ia perlihatkan di sekolah.

__ADS_1


"Berapa?" tanya anak kecil itu sambil berjinjit.


"Beli semuanya." jawab Reta.


Mata anak itu berbinar dan memberikan semua tisu yang ia bawa pada Reta. Setelah Reta memberikan uang, anak kecil itu langsung berjingkrak kesenangan.


Karena lampu sudah berubah warna anak itu pun langsung minggir ke pinggir jalan sambil melambaikan tangannya kearah Reta.


Reta pun melampaui tangannya dan tak sengaja mata kami bertemu. Kayaknya dia enggak kenal aku karena dia langsung menutup kaca jendelanya.


Hingga kenyataan yang harus ku terima ketika aku sampai di rumah. Rumah begitu berantakan dan ada begitu banyak barang yang pecah.


Aku melihat ibu yang sedang menangis sesenggukan. Aku yakin pasti ayah yang melakukan hal ini.


Terkadang aku heran kenapa dia bisa seperti ini kepada istrinya sendiri? Dan yang lebih mengherankan adalah ibu sama sekali tidak ingin pergi dari kehidupan ayah. Dia masih tetep ingin berada di samping ayah. Benar-benar cinta yang sangat gila.


"Punya anak satu juga enggak ada gunanya." marahnya.


Aku sih udah biasa mendengar itu. Jadi wajar saja kalau aku enggak menangis ataupun berteriak padanya. Karena enggak ada gunanya sama sekali kalau aku melawannya.


"Ayah kenapa?" tanya ku pada ibu.


"Perusahaannya di tipu dan ada banyak hutang sekarang di bank." jawab ibu sambil menghapus air matanya.


Tiba-tiba mataku melihat kearah kertas yang ada foto sosok laki-laki dan sepertinya aku pernah lihat.


"Ini kan ayahnya Reta." ucapku tanpa sadar.


Tiba-tiba ayah menghampiri ku dan memegang bahuku. Mata kami bertatapan dan aku yakin pastinya ada yang ayah inginkan.


"Kau kenal dengan anaknya?" tanya ayah.


"Iya, dia teman sekolah ku." jawabku.


Ayah menarik kedua sudut bibirnya dan matanya juga berbinar-binar. Dan aku yakin dia pasti sedang merencanakan sesuatu di otak kecilnya.


"Kamu harus dekatin dia. Minta dia untuk membantu perusahaan kita." ucap ayah.


Aku yang mendengar itu langsung mundur beberapa langkah. Bagaimana aku bisa melakukan hal itu? Aku enggak mau sama sekali.


"Kau harus melakukan itu jika tidak kita akan benar-benar bangkrut!" teriak ayah.

__ADS_1


Dan jujur saja karena aku masih labil. Aku berpikir jika perusahaan ayah bangkrut dan kami terlilit hutang yang sangat banyak maka aku enggak akan bisa makan makanan yang enak, enggak bisa naik motor kesayangan ku lagi karena aku yakin akan di sita.


Hingga pada akhirnya aku setuju dengan ayah. Aku melakukan segala macam cara supaya bisa dekat Reta.


__ADS_2