Ternyata Dia Cuma Bercanda

Ternyata Dia Cuma Bercanda
Aku Lelah


__ADS_3

Aku sangat terkejut karena Leo sekarang ini ada di depan mataku. Kenapa dia ada di rumah ku?


"Kenapa lama banget pulangnya?" tanyanya dengan ekspresi sedih.


"Tadi, ada urusan lain. Kenapa kamu disini?" tanya ku.


"Aku minta maaf. Jadi tolong ya jangan marah ke aku ataupun ke Risa." pintanya.


Aku hanya bisa tersenyum kecut. kata-kata yang dia ucapkan bikin aku bingung.


"Sebenarnya kamu takut aku marah ke kamu atau kamu takut aku marah ke Risa?" tanya ku


Dia menatap ku sejenak kemudian dia menundukkan kepalanya.


"Aku tahu enggak seharusnya aku tanya ke kamu, kamu pilih aku atau dia? karena aku sendiri juga tahu kalau dia lebih lama kenal kamu dibandingkan aku. Jadi, aku udah tahu jawabannya kok." ucapku.


"Aku minta maaf." ucapnya.


"Iya, enggak papa. Lagian aku paham kok, kalau kamu udah enggak sayang sama aku kamu bilang aja. Dan kalau kamu udah sadar sama perasaan mu sendiri aku juga enggak papa." ucapku.


Bohong itu semuanya bohong. Walaupun aku bukan siapa-siapa tapi aku bisa merasakan sakitnya.


Kenapa harus ada peran yang sedih kayak gini? kenapa enggak semuanya di akhiri dengan akhir yang bahagia supaya semua orang bisa tersenyum tanpa ada tangisan kesedihan.


"Kenapa kamu ngomong kayak gitu?" tanyanya.


"Karena kamu harus sadar sama perasaan mu. Kamu bilang kamu suka sama aku. Tapi semua tindakan yang menunjukkan rasa suka itu kamu tunjukkan ke Risa." jawabku.


Aku enggak boleh egois. Aku enggak bisa memiliki semuanya.


"Jangan terlalu lama menghabiskan waktu bersama ku. karena aku itu enggak nyata. Aku juga enggak tahu sampai kapan aku ada di dunia ini." lanjut ku.


"kenapa kamu ngomong kayak gitu terus? kenapa kamu seakan-akan bakalan pergi dari dunia ini?" tanya Leo dengan wajah pucat.


kalau aku jelaskan ke dia pun, dia enggak akan paham dan dia juga bakalan bingung dengan apa yang akan ku katakan.


"Ini udah mau gelap. Sebaiknya kamu pulang sekarang." ucapku sambil menatap langit.


"Jujur aja aku udah muka dengan semua siklus mu. Kadang kamu baik dan kadang kamu jahat. Dan itu buat aku bingung sebenarnya kamu itu yang mana?" tanyanya sambil tertawa.

__ADS_1


Aku yang dulu adalah orang jahat dan aku yang sekarang aku belum tahu karakter ku seperti apa. Apakah aku akan menjadi jahat atau baik?


"Kamu juga selalu bikin aku pusing dengan tingkah mu. Dan aku juga lelah harus jelasin hal yang sepele dan itu aneh kalau aku harus jelasin secara detail." ucapnya sambil mengacak rambutnya.


Kayaknya dia udah di tahap stress deh? Ku pikir cuma aku aja yang stress nyatanya dia juga sama aja


Otak ini enggak akan mampu untuk mikir hal yang berat-berat dan bukan ranahnya bisa-bisa sel otak jadi eror.


"Aku tuh suka sama kamu. Dan aku sama Risa tuh cuma sebatas sahabat. Kamu jangan dengerin omongan orang. Kamu harus percaya sama aku." ucapnya.


Haduh, aku harus gimana ya sekarang? Enggak tega juga kalau lihat dia kayak gini. Hati nurani ku merasa jahat sekali ya.


"Iya, aku juga minta maaf ke kamu. Aku selalu anggap kamu suka sama Risa karena dari sikap mu ke dia tuh beda. Dan jujur aja aku cemburu." ucapku.


Ya, sekarang ini aku tahu gimana rasanya cemburu. Benar-benar enggak enak sama sekali. Selalu aja kepikiran dan hal itu malah makin memperburuk pikiran.


"Kamu cemburu?" tanyanya dengan nada mengejek.


"Iya." jawab ku santai.


Dia jadi ngeselin banget kalau mukanya kayak gitu. Dia kelihatan senang waktu aku ngomong kalau aku cemburu.


Aku sih enggak percaya ya sama apa yang dia omongin. Karena ya dia tuh udah di setting biar selalu belain Risa buka aku.


Jadi aku enggak mau tuh kepikiran banget sama janjinya.


"Tapi, kamu juga harus janji sama aku?" pintanya.


"Janji apa?" tanyaku.


"Kamu jangan marah-marah lagi dan jangan cuek ke aku. Jujur aja aku enggak suka banget sama kamu yang cuek aku suka lihat kamu senyum." jawabnya.


"Iya, janji." ucapku.


Dia cengengesan. Sumpah sama sekali enggak ada ganteng-gantengnya. Dia malah bikin aku kesel sama dia.


"Kamu pulang dulu ya. ini udah mau malam. Dan aku juga habis ini mau belajar." ucapku.


"Belajar terus sih?" herannya.

__ADS_1


Aku aja heran kok. Perasaan selama ini aku sekolah sekarang baru merasakan yang namanya benar-benar belajar.


"Harus dong. Biar bisa membanggakan mama papa." candaku.


"Kamu enggak perlu ngapa-ngapain. Karena mereka juga sayang banget sama kamu. kamu diem aja enggak usah usaha apa-apa pasti mereka bakalan tetep meluk dan senyum ke kamu." ucapnya.


Aku juga awalnya berukiran yang sama dengannya. Tapi, setelah aku merasakan kehidupan Reta yang seenaknya aku merubah pikiran ku.


Semuanya butuh perjuangan dan pengorbanan. Berjuang untuk mendapatkan nilai yang sempurna dan berkorban waktu untuk bermain dan tidur.


Aku enggak tahu apa yang akan terjadi jika aku mengecewakan mereka berdua? Apa mungkin aku akan mati di sini buka karena putus cinta tapi karena tekanan dari orang tua?


"Kamu enggak tahu apa-apa. Itu semua butuh perjuangan." tawa ku.


Miris banget rasanya. Hal yang menyedihkan malah ku jadikan sebagai bahan candaan.


"Iya sih. Tapi, setidaknya kamu lebih beruntung dibandingkan dengan ku." sedihnya.


Aku tahu kehidupannya juga tidak mudah. Dan kadang aku merasa heran kenapa pemeran utama dalam cerita tuh mempunyai penderitaan yang enggak masuk akal sama sekali?


Kalau enggak punya penyakit aneh pasti masalah keluarga. Kalau enggak masalah trauma pasti dia sendiri yang cari masalah.


Dan pada ujungnya bakalan ada satu penyelamat yang datang di kehidupannya dan merubah semuanya.


Di dunia nyata mana ada kayak gitu? Justru kalau kita ada di titik terendah malah orang-orang semakin menjauh dan kita akan tetap sendirian.


"Kamu benar. Karena aku lebih beruntung daripada kamu, maka kamu jangan pernah pergi dariku." ucapku.


Kadang suka heran sama mulut sendiri. Kenapa bisa gitu aja ngomong hal yang berlawanan sama hati dan pikiran?


"Enggak akan. Tapi, biasanya orang yang ngomong jangan pergi malahan dia loh yang pergi duluan." ucap Leo


Aku ngakak dengernya. Ya, itu sih memang fakta ya. Bahkan riset sudah membuktikan bahwa orang yang mengatakan janji dia sendiri yang akan mengingkari.


"Enggak akan." ucapku.


"Kita lihat aja nanti. Kalau kamu samapi bohong aku enggak akan biarin kamu pergi gitu aja." ancamnya.


Mamin lama dunia ini makin terasa lawaknya. Giliran di ajak serius eh dia malah bercanda. Dan giliran kita yang bercanda dia malah anggap serius.

__ADS_1


__ADS_2