Ternyata Dia Cuma Bercanda

Ternyata Dia Cuma Bercanda
Wajar Aja


__ADS_3

Aku berjalan beriringan dengan Leo. Entah kenapa aku malah suka ada di sini. Dan rasanya aku mau sama dia terus.


Tapi kalau aku inget akhir dari kisah ku dan dia, aku jadi ragu apakah aku sama dia bakalan sama-sama terus?


"Aku ke kelas dulu." ucapku yang sudah berdiri di depan pintu kelas ku.


Leo menatap ku dengan tatapan yang biasa saja. Kenapa ya dia kayak gitu? kadang aku beneran ngerasa kalau dia tuh sebenernya enggak suka sama aku.


Pantesan aja kalau Reta yang asli tuh sering banget terbakar api cemburu ke Risa. karena ya perlakuan dia tuh beda kalau ke Risa.


"Belajar yang bener." ucapnya.


"Iya. Kamu juga semangat belajarnya." ucapku sambil tersenyum.


Dia mematung kemudian dia langsung pergi begitu saja. Aku yang masih di depan pintu hanya bisa terheran-heran melihat dia.


orang ganteng mah bebas mau ngapain aja. Walaupun dia bertingkah aneh itu sama sekali enggak mengurangi kegantengannya.


"Minggir!" kesal Seorang cowok.


Aku memperhatikannya yang masih ada di depan ku. Dia tinggi banget dan dia kelihatan ganteng.


Kenapa semua cowok di sekolah ini ganteng-ganteng?


"Rrrr."


Dia berjalan sambil menabrak bahuku. Aku kaget banget sama tingkahnya. Sebenarnya dia tuh siapa sih?


Kenapa kayak bukan manusia? Dan kenapa dia tuh kayaknya benci banget sama aku? Apa aku punya salah sama dia?


Daripada pusing lebih baik aku masuk kedalam kelas. Dan tak lama seorang guru perempuan masuk kedalam kelas.


"Seperti yang sudah kita janjikan sebelumnya hari ini kita akan ulangan harian." ucap Bu Tia.


Aku sangat terkejut. Karena aku sama sekali enggak belajar dan aku juga enggak tahu sekarang ini pelajaran apa.


"Jangan ada barang lain kecuali kertas ujian dan peralatan tulis. Selain itu masukkan kedalam laci." perintahnya.


Sontak saja semua orang langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Bu Tia.


Aku melirik ke kiri dan kanan. wajah mereka terlihat pucat pasi. Aku enggak tahu kenapa tapi sepertinya mereka sama seperti ku, enggak belajar.


"Reta, bantu ibu bagian soal dan lembar jawaban kepada teman-teman mu." pinta Bu Tia.


Aku pun langsung maju dan mengambil soal dan lembar jawaban kemudian aku membagikannya kepada teman-teman kelas ku.

__ADS_1


"Kerjakan sekarang dan jangan ada yang ribut!" ancam Bu Tia.


Aku membaca soal yang ada di aras meja ku dengan perasaan campur aduk. Pelajaran ini diluar nalar. Aku sama sekali enggak paham.


Karena aku merasa sudah tidak ada harapan lagi akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja.


Aku enggak perduli dengan nilai ku di sini karena enggak akan ada orang yang bakalan marahin aku kalau aku dapat nilai jelek.


Aku tidur terlalu nyenyak hingga aku terbangun karena mendengar suara Bu Tia.


"Ayok kumpulan sekarang." ucapnya.


Aku kaget dan langsung bangun. Tapi aku malah bengong ketika melihat lembar jawaban ku yang sudah terisi penuh.


"Ini siapa yang jawab? Padahal dari tadi aku tidur?" bingung ku.


"Ibu hitung sampai tiga. kalau sampai hitungan ke tiga kalian enggak mengumpulkan kertas ujian kalian enggak akan ibu terima." ancam Bu Tia.


Dan benar saja baru juga hitungan ke satu. Semua orang langsung berlari dan aku juga melakukan hal yang sama.


"Kalian beloh istirahat sekarang." ucap Bu Tia sambil menata lembar jawaban kemudian dia pergi dari kelas.


Aku disini bener-bener kayak orang gila. Aku bingung banget dan enggak paham sama apa yang terjadi barusan.


Padahal aku tanya padanya tapi satu kelas malah menatap kearah ku.


"Kalau mau belajar lagi ya silahkan!" jawabnya dengan nada ketus.


Semua orang menatap ku dengan tatapan benci. Dan tatapan itu juga di tunjukkan oleh cowok yang berpapasan dengan ku di depan pintu kelas tadi.


"Reta?" panggil Risa dari depan pintu kelas.


Aku melihat kearahnya dan dia menyuruhku untuk datang kepadanya.


Aku berjalan kearahnya dan kini aku dan Risa sedang berhadapan.


"Kenapa?" tanya ku.


"Ini." ucapnya sambil memberikan ku roti.


Aku menerimanya dan aku heran kenapa dia ngasih ke aku?


"Kata Leo kamu terlalu kurus jadi kamu harus banyak makan." ucap Risa.


Aku yang mendengar itu menjadi tertawa. Bagaimana bisa dia ngasih aku roti karena aku punya badan yang kurus.

__ADS_1


"Kamu jangan marah. Aku ngasih ke kamu bukan karena aku menghina kamu. Tapi karena aku kasian lihat kamu kurus." ucapnya dengan nada panik.


Padahal aku biasa aja. Tapi dia malah bereaksi kayak gitu dan bikin aku dan dia jadi bahan perhatian orang-orang.


"Aku enggak marah kok. Makasih ya rotinya." ucapku sambil tersenyum.


Aku membuka roti tersebut dan langsung memakannya di depan Risa.


Bukan hanya dia saja yang kaget tapi semua orang yang melihat kami berdua pun ikut kaget.


"Aku masuk kelas dulu ya. Sekali lagi makasih ya rotinya." ucapku sambil berjalan masuk kedalam kelas.


Aku bisa mendengar samar-samar bahwa mereka membicarakan ku.


"Kok Reta tumben banget enggak marah-marah? Biasanya kelas ini bakalan ada perang walaupun cuma sekali dalam sehari." heran Bima teman Zen.


"Palingan besok dia bakalan ngomel-ngomel lagi." celetuk Zen.


Kenapa ya semua orang enggak suka sama Reta? Padahal Reta enggak seburuk itu.


Tapi aku juga enggak menyalahkan orang-orang, kalau mereka benci sama Reta dan enggak mau berteman sama dia karena itu semua memang salah Reta sendiri.


Andia aja dia baik sedikit aja. Pastinya dia enggak akan sendirian dan dia juga enggak akan kehilangan Leo.


"Palingan juga dia cuma cari perhatian." ucap Lisa dengan suara yang cukup keras hingga terdengar sampai ke telinga ku.


Aku langsung menatap kearahnya dan dia balik menatap ku tajam.


"Apa? Mau berantem? Jangan mentang-mentang kamu anak emas di sekolah ini jadinya kamu merasa kalau kamu bakalan dibelain sama guru-guru." kesal Lisa.


Kalau seperti ini aku menjadi sadar kalau menjadi Nia ternyata enggak enak ya. Nia adalah anak kesayangan para guru dan ketika aku bersama dengan Nia ketika kami melakukan kesalahan hanya aku yang disalahkan dan di anggap sebagai pembawa pengaruh buruk untuk Nia.


"Mendingan sekarang kita ke kantin aja daripada ngomong sama boneka kayak dia." ucap Zen sambil tersenyum sinis kearah ku.


Mereka semuanya pergi dan tanpa sadar aku nangis.


"Kenapa aku nangis? lebay banget sih." ucapku sambil menghapus air mata di pipi ku.


Ku pikir kehidupan Reta adalah kehidupan yang sempurna nyatanya ada begitu banyak masalah dalam kehidupannya.


"kenapa dia bisa bertahan sampai sejauh ini? Aku aja belum lama jadi dia udah nangis duluan."


Aku enggak sekuat dia dan aku juga enggak sehebat dia. Aku jadi menyadari bahwa orang jahat itu terlahir dari orang yang tersakiti.


Jadi wajar aja kalau dia jadi jahat karena orang lain duluan yang jahat ke dia.

__ADS_1


__ADS_2