Ternyata Dia Cuma Bercanda

Ternyata Dia Cuma Bercanda
Cemburu?


__ADS_3

"Kamu enggak usah mikir yang macam-macam. Coba kamu lihat." perintahnya.


Secara perlahan aku pun melihatnya. Aku kaget karena ada begitu banyak bekas luka. Ada bekas luka yang menghitam, ada luka yang mulai kering dan ada juga luka yang masih basah.


Apa mungkin baju Reta ada darahnya karena lukanya?


"Ini?" tanya ku tak percaya.


Dia hanya menganggukkan kepalanya. Dia juga menunjukkan padaku bekas luka di bagian belakang kepalanya.


Ini? Apa ini editan? Enggak mungkin kan dia sama kayak aku?


Jelas-jelas dia anak kesayangan enggak mungkin dia di siksa kayak gitu. Lagian kan dia tuh orangnya gampang marah pastinya dia bakalan melawan kalau dia di tindas.


"Kamu masih nggak percaya sama apa yang saya?" tanyanya dengan nada sedih.


Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. Tapi anehnya apa yang dia perlihatkan padaku membuatku merasa bahwa apa yang ia katakan adalah kebenarannya.


"Kalau kamu nggak percaya kamu bisa secara langsung bertanya padanya. Kalau dia benar-benar percaya padamu pasti dia akan jujur padamu." ucapnya.


Setelah itu dia pergi meninggalkanku begitu saja. Dan anehnya aku malah nggak mengejar dia.


"Apa mungkin ya dia cuma mau memprovokasiku? mungkin aja dia menggunakan diriku untuk balas dendam sama keluarganya." pikir ku.


Setelah banyaknya aku terdiam tiba-tiba aku berpikir tentang ayah yang tiba-tiba memukulku.


Mungkin saja ini ada kaitannya dengan Reta. dan aku juga ingat bahwa Reta sebelumnya berbicara berdua dengan Zen.


Sepertinya memang Zen mengatakan sesuatu kepada Reta.


"Dasar manusia nggak bisa dipercaya!" kesal ku.


Aku pun langsung menelepon Zen dan menanyakan keberadaannya. Ternyata dia juga masih ada di luar rumah.


Aku langsung bergegas pergi menemuinya. Jalanan yang sepi membuatku leluasa untuk meningkatkan laju kendaraanku.


Setelah aku melihat Zen langsung saja aku memukul wajahnya.


"Kau gila ya! Kenapa datang-datang malah nonjok wajah orang!" kesal Zen.


Rasa perih dari tamparan ayahnya masih terasa dan kini malah ditambah oleh Leo.


"Itu kenapa mukamu juga babak belur?" tanya Zen yang menyadari kondisi wajah ku.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bicarakan ini di tempat lain." ajaku.


Akhirnya aku dan Zen pergi ke rumah Panji. Panji adalah sepupu Zen dan dia membebaskan Zen untuk memakai rumahnya selama dia sedang pergi ke luar kota.


"Kamu kenapa sih?" heran Zen.


Aku menyapanya penuh dengan kemarahan. Rasanya mukul satu kalia enggak akan cukup untuk meredakan kemarahan ku.


"Nih, anak lagi kerasukan apaan sih?" batin Zen.


"Apa yang kamu omongin sama Reta?" tanya ku.


kening Zen berkerut, "enggak ngomong apa-apa tuh." jawab Zen.


Aku sama sekali tidak percaya padanya. Tidak mungkin jika dia tidak menceritakan tentang rahasia ku.


"Terus kenapa ayahku langsung mukulin aku setelah dia ngobrol sama Reta dan keluarganya?" tanya ku.


"Sumpah aku enggak ada kaitannya sama ini. Aku enggak tahu apa-apa." jawab Zen.


Ekspresi yang sangat meyakinkan bahwa dia kaget mendengarnya pertanyaan ku. Tapi sayangnya aku tidak akan tertipu lagi olehnya.


"Terus apa yang kamu bahas sama dia?" tanya ku.


"Terus?" tanyaku.


Aku benar-benar harus memastikan bahwa kemarahan ayahku tidak ada hubungannya dengan Reta, maupun keluarganya dan juga Zen.


"Ya karena aku lagi sensitif aku ngomong aja tuh secara terang-terangan kalau aku benci sama dia." jawab Zen dengan santainya.


Sebenarnya sih Aku benar-benar sangat bingung kenapa bisa send sangat membenci Reta?


Pada akhirnya aku tidak mau mengambil pusing untuk masalah itu. Aku hanya fokus dengan maksud dan tujuanku saja.


"Udah itu aja nggak ada yang lain." ucap Zen.


"Aku nggak mungkin kan cerita dari awal sampai akhir. bisa-bisa nantinya dia malah tambah ngamuk dan memukulku dengan membabi buta." batin Zen.


"Kenapa sih kamu takut banget aku cerita tentang rahasiamu padahal kan aku nggak akan cerita sama sekali sama orang-orang." heran Zen.


Jujur saja Aku sama sekali tidak percaya padanya. Namun aninya setiap kali aku mengobrol dengannya tiba-tiba Aku mengutarakan apa yang sedang aku alami padanya.


Benar-benar sangat aneh dan terkadang aku berpikir bahwa mungkin saja karena dia adalah musuh sekaligus temanku makanya aku dengan leluasa bisa cerita padanya.

__ADS_1


"Lagian kan kamu juga punya rahasiaku jadi aku juga nggak akan tuh cerita sama orang-orang." ucap Zen.


"Intinya sekarang ini kamu jangan dekat-dekat sama Reta." ancam ku.


Tiba-tiba dia tertawa cukup keras dan itu sangat menggangguku.


"kamu tuh kayak orang lagi cemburu aja." ejek Zen.


Aku mencermati kata-katanya. Apa mungkin yang ia katakan memang benar ya bahwa aku tuh sebenarnya cemburu.


Tapi nggak mungkin banget kalau aku cemburu pasti ini karena aku nggak mau Zen ngasih tahu rahasiaku ke Reta.


"Kalau kamu diam kayak gini apa mungkin kamu beneran cemburu?" curiga Zen.


Melihat Leo yang hanya diam saja membuat jiwa ngeselin Zen keluar.


"katanya cuma pura-pura cinta tapi kok malah sekarang cemburunya kelihatan nyata ya?" ejek Zen.


Aku langsung mendelikkan mataku. kata-kata pura-pura cinta itu bikin aku makin kesel.


"Udah deh mendingan nggak usah ngurusin tentang percintaanku. Urusin tuh rasa cinta tak terbalasmu sama Risa." ejek Ku.


Zen menarik sudut bibirnya, "wah bener-bener nih Anak ngeselin banget ya." tawa Zen.


Aku nggak mau cuma dia doang yang nyebelin Aku juga harus nyebelin dong.


"Udah aku bilang kalau aku itu nggak ada rasa sama Risa. Tadi aja tuh Reta juga bahas ini. Masa Dia ngomong aku benci dia gara-gara dia sering gangguin Risa padahal kan nggak ada hubungannya sama sekali." jujur Zen tanpa sadar.


Aku langsung mencengkram bahunya cukup keras hingga Zen meringkas kesakitan.


"Katanya nggak bahas apa-apa. Katanya juga cuma ngomong kalau kamu benci sama dia. Tapi kok sekarang malah kamu ngomong kalau kalian berdua juga bahas tentang Risa?" curiga ku.


jujur saja aku malah merasa kalau dia itu nggak benci sama sekali sama Reta. justru saya malah memegang rasa Reta.


"Udah deh nggak usah mikirin macam-macam. Lagi pula kan kita berdua kan memang sama-sama benci sama dia jadi nggak mungkin dong aku punya rasa sama dia." ucap Zen.


Aku nggak tahu sih kenapa kata-kata itu malah bikin aku jadi kesel.


Iyaa memang sen dari awal tahu bahwa dia hanya berpura-pura menyukai Reta. dan aku juga sangat muak menceritakan tentang pertengkaran antara Reta dan Risa.


Dan Zen tahu bahwa aku itu juga menyadari bahwa Risa itu sebenarnya suka padaku. Tetapi aku pura-pura tidak tahu akan hal itu.


aku tahu bahwa aku adalah orang yang jahat tapi aku tidak mau orang-orang mengenaliku sebagai orang yang jahat.

__ADS_1


Jadi aku selalu bersandiwara sebagai orang yang baik dan pada ujungnya aku sendiri yang merasa sangat lelah dan muak.


__ADS_2