Ternyata Dia Cuma Bercanda

Ternyata Dia Cuma Bercanda
Alasannya


__ADS_3

Jam istirahat sekolah biasanya Risa ngobrol bersama dengan Leo. Tapi, kali ini entah mengapa Risa merasa kalau Leo menghindari darinya.


"kamu sama Leo kenapa kok kayaknya kalian berdua kayak lagi musuhan?" tanya Zen yang menyadari keanehan dari keduanya.


"Aku nggak tahu sama sekali. Dan sebenarnya sih harusnya aku yang marah sama dia. Tapi anehnya sekarang malah kelihatannya dia yang marah ke aku." heran Risa.


Mereka berdua memperhatikan Leo yang sedang asyik mengobrol bersama dengan Reta.


"Emangnya kalian ada masalah apaan?" tanya Zen penasaran.


Karena menurutnya sangat aneh jika mereka berdua mempunyai masalah kan biasanya mereka berdua selalu cepat berbaikan.


"Jadi itu kan kemarin aku sama Leo jalan bareng tuh. nah waktu di lampu merah tuh ternyata samping kami itu mobilnya Reta. dan pada ujungnya Leo takut kalau Reta itu salah paham." cerita Risa.


"Terus?" penasaran Zen.


"Ya akhirnya Leo ngantar aku pulang. Tahu nggak sih sumpah dia tuh ngebut banget. Dia ngajak aku naik motor kayak ngajak aku mau mati." kesal Risa.


"Dia itu orangnya bodoh apa gimana sih? udah tahu kamu takut kalau bawa motor kencang-kenceng tapi jangan seenak jidatnya dia malah bawa kamu ngebut kayak gitu?" kesal Zen.


kali ini Zen benar-benar kesal. Dan dia bukan kesal pada Leo tapi malah kesalnya pada Reta.


"dan yang lebih ngeselinnya lagi setelah dia nurunin aku dari motor dia tuh langsung pergi gitu aja, tau nggak dia pergi ke mana?" tanya Risa.


"Ke rumah Reta?" tebak Zen.


Risa tanpa sadar memukul meja, "betul banget jawabanmu 100% betul." jawab Risa.


"Nggak habis pikir sama tuh anak kenapa dia bisa-bisanya bucin banget sama tuh cewek? sebenarnya apa sih yang dilihat dari cewek itu?" heran Zen.


"Namanya juga lagi jatuh cinta. Yang buruk bisa jadi baik dan yang baik juga bisa jadi." celetuk Risa.


"Reta, kamu udah enggak marah lagi kan ke aku?" tanya Leo.


Gimana bisa aku marah sama kamu? lihat tatapannya aja pastinya aku langsung luluh.


"Sejak awal aku tuh enggak ada marah sama kamu. Tapi kamu sendiri yang mikir kalau aku marah sama kamu." jawabku.


"Aku takut kalau kamu marah ke aku." jujur Leo.


kadang aku heran deh sama dia? sebenarnya dia beneran suka apa enggak sih?


Tapi kalau dilihat dari matanya sih dia kayaknya beneran suka.


"kenapa kamu diam aja?" tanya Leo.

__ADS_1


"Aku lagi mikir aja. kok bisa sih kamu suka sama aku?"


"kan waktu itu aku udah pernah bilang ke kamu alasannya kenapa aku bisa suka sama kamu Dan berharap nggak akan pernah putus sama kamu." jawab Leo.


seingat aku nggak ada tuh di dalam novel yang menceritakan tentang alasan Leo suka sama Reta.


malahan semuanya menjurus kepada Leo menggunakan Reta hanya untuk memancing perasaan Risa.


"Emangnya kamu ngomong apa?" tanyaku.


Aku merasa tidak nyaman karena Leo tiba-tiba memperhatikanku.


"Aku merasa semakin ke sini kok kamu malah semakin aneh gini ya? Aku ngerasa kalau kamu itu bukan kamu yang asli. Kamu kayak orang lain tahu nggak sih?" curiga Leo.


Jadi kalau dia beneran suka sama Reta dia pasti tahu dong kalau yang ada di dalam tubuh ini bukan kereta yang asli?


"Kamu nggak usah cemberut kayak gitu aku cuma bercanda kok." ucapnya.


"Tapi aku benar-benar penasaran sebenarnya apa sih yang kamu lihat dari aku?" desak ku.


"Matamu. Karena di matamu itu kamu nggak bisa bohong tentang perasaanmu. Orang lain bilang kalau kamu itu jahat dan orangnya nggak bersyukur. Tapi aku tahu banget tentang kamu. kamu adalah orang yang baik dan kamu juga orang yang suka menolong." jawabnya panjang lebar.


Aku yang mendengar itu menjadi tidak habis pikir deh sama jalan pikirannya.


udah jelas-jelas di setiap adegan yang aku baca retak itu selalu gangguin si Risa. bahkan dia juga nggak bersyukur punya orang tua yang baik.


ketika mengingat orang tua aku menyadari bahwa yang aku baca selama ini bukanlah kebenarannya.


dan mungkin saja yang dikatakan Leo memang ada benarnya. Reta itu kelihatannya jahat tetapi aslinya dia adalah orang yang baik.


"Apa iya aku sebaiknya itu di matamu?" tanya ku tak percaya.


"Kamu nggak percaya ya sama apa yang aku omongin? aku tahu kok apa yang kamu lakuin diam-diam." jawabnya.


"Emangnya aku ngapain?" tanyaku penasaran.


Apa mungkin ya dibalik layar itu ceritanya sangat jauh berbeda? Tapi kenapa bisa kayak gitu?


semakin aku pikirkan ini semua semakin tidak masuk akal. Dan hal ini malah mengurus pikiranku.


"Emangnya apa yang aku lakuin diem-diem?" tanya ku.


"Kamu nggak usah pura-pura nggak tahu deh. Orang kamu yang ngelakuin masa kamu nggak tahu siapa yang kamu lakuin. Jangan bikin kesel!" ucapnya.


Aku sendiri nggak tahu apa yang aku lakuin. Apa mungkin aku ngelakuin hal yang aneh ya? Tapi kayaknya nggak mungkin deh kalau hal itu aneh orang Leo sendiri aja bilang aku ngelakuin hal baik diam-diam.

__ADS_1


"udahlah nggak usah dibahas lagi. aku bayar dulu ya makanannya tunggu di sini." pamit Leo.


Sementara dia sedang pergi aku malah sibuk dengan pikiranku sendiri.


"kayaknya dia diam-diam lagi merencanakan sesuatu deh?" curiga Zen yang sedari tadi memperhatikan Reta.


"Merencanakan apa sih? kamu itu kebanyakan nonton film detektif makanya otak menjadi kayak gini." heran Risa.


"Apa hubungannya film detektif sama otak aku coba?" kesal Zen.


"ya cara pikirmu jadi kayak detektif kayak gitu lah." jawab Risa.


"Oalah berarti aku hebat dong dan jenius." puji Zen pada dirinya sendiri.


Risa yang mendengar itu pura-pura muntah. Dan Zen memandang Risa dengan tatapan tak suka.


"kenapa malah kayak gitu sih?" heran Zen, "eh tapi ngomong-ngomong yang aku tadi bilang itu beneran tahu. kayaknya Reta itu lagi merencanakan sesuatu." ucap Zen.


"udah deh kamu tuh dari dulu nggak ada habis-habisnya tuh ngomongin si Reta. Awas lo ntar kata Lio beneran kejadian." kata Risa.


Zen menaikan sebelah alisnya, "emang dia ngomong apa?" tanya Zen.


"Awas nanti kamu jatuh cinta sama Reta." tawa Risa.


"Nggak mungkin mana mungkin aku suka sama cewek kayak gitu!" ucap Zen dengan suara lantang.


karena suaranya itulah yang membuatnya menjadi pusat perhatian. dan Reta juga melihat ke arahnya dengan tatapan bingung.


"Nah lo Kamu lagi di tatap kan sama orangnya." ledek Risa.


Karena kesal akhirnya Zan langsung pergi begitu saja meninggalkan Risa yang masih tertawa terpingkal-pingkal.


"Aku sama sekali nggak nyangka ternyata godain dia itu seru banget ya." batin Risa.


"Udah aku bayar kita balik ke kelas yuk sekarang." ucap Leo yang mengalihkan perhatian ku.


"Oh, ayuk." ucapku.


Akhirnya dia mengantarku pergi ke kelas dan setelah itu dia pergi ke kelasnya sendiri.


Dan di kelas aku merasa aneh karena sedari tadi aku merasa kalau Zen itu curi-curi pandang ke aku.


Dan kalau mata kami bertemu dia malah langsung buang muka.


"Ini anak makin hari makin aneh. Ada aja kelakuannya." batinku.

__ADS_1


__ADS_2