Ternyata Dia Cuma Bercanda

Ternyata Dia Cuma Bercanda
Ada Apa Dengan Zen?


__ADS_3

Dan waktu begitu cepat berlalu. Hari ini adalah ulang tahun ayah. Kalau di cerita aslinya sih semuanya berjalan lancar.


Tapi, aku enggak tahu gimana sekarang ini? Apa bakalan lancar?


"Ulang tahun kali ini sangat istimewa karena Putri dari pak Zeri dan Bu Yura akan menunjukkan kelihaiannya dalam bermain piano." ucap pembawa acara.


Aku merasa gugup karena disini ada begitu banyak orang. Dan aja melihat ada Leo bersama dengan Zen.


"Kita sambut, Retaaa..."


Tepuk tangan yang cukup meriah membuat ku berusaha untuk tidak mengecewakan kedua orang tua ku.


Mereka melihatnya ku sambil tersenyum tetapi dari sorot matanya aku bisa menangkap apa yang mereka pikirkan.


Bahwa aku tidak boleh melakukan kesalahan di depan tamu-tamu penting yang datang.


Aku duduk dan menarik napas dalam-dalam. Jemariku bergerak dengan sendirinya. Dan jujur saja aku juga merasa sangat terpukau dengan suara denting piano ini.


"Terimakasih." ucapku sambil sedikit membungkuk.


Tepuk tangan kembali terdengar dan aku tidak merasa gugup lagi karena tugas ku sekarang sudah selesai.


"Pertunjukan yang sangat mengagumkan." puji pembawa acara.


Aku hanya berdiri di samping ayah dan ibu. Rasanya gigiku kering karena selalu tersenyum kepada orang-orang yang menghampiri kami.


Dan aku juga harus bicara pada mereka supaya aku di kenal sebagai anak yang baik di depan semua orang.


"Bu, aku ke kamar kecil dulu." pamit ku.


"Jangan lama-lama." ucapnya sambil tersenyum.


Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan aku segera pergi untuk menghirup udara segar.


Aku pergi ke taman belakang rumah dan duduk di sana sambil menatap langit.


"Kapan aku bisa pergi dari dunia ini? Aku capek banget." keluhku.


Aku berbalik karena aku merasa kalau ada orang di sekitar ku. Tetapi aku tidak melihat siapa pun.


Baru juga bersantai tiba-tiba aku mendengar ada suara barang jatuh.


Aku buru-buru mencari sumber suara dan aku bersembunyi karena aku melihat ada Zen dan ayahnya.


"Kenapa kamu enggak pernah bisa jadi anak yang membanggakan? Kenapa kamu selalu buat ayah malu?" bentak pak Rudi.


Zen menatap dingin ke arah ayahnya. Aku berpikir bahwa dia adalah anak yang benar-benar enggak ada takutnya sama orang tua.

__ADS_1


Setahu ku biasanya anak nakal itu yang paling ia takuti adalah ayahnya sendiri.


"Kenapa kamu enggak mati aja? Kenapa harus menjadi beban keluarga?" Tanyanya penuh penekanan.


Nih mulut bapak-bapak sama sekali enggak di filter. Pantes aja anaknya suka ngomong kasar ternyata turunan dari bapaknya.


"Kenapa ayah enggak pernah bangga sama aku? kenapa ayah selalu ingin aku mati? Kenapa ayah selalu ingin punya anak seperti orang lain? Kalau gitu kenapa ayah enggak buat anak aja sama perempuan lain biar anak ayah jadi anak yang membanggakan! Kenapa ayah enggak buat anak aja sama Tante Yura ataupun Tante Nisa?" tawa Zen.


pak Rudi langsung menampar Zen cukup keras. Dan aku hanya bisa menutup mulut ku.


"Anak kurang ajar! Kamu harus jaga mulut mu!" kesal pak Rudi.


Zen tersenyum sinis dan dia langsung meludah. Kampret hampir kena aku.


"Jangan bikin malu lagi kali ini!" ucap pak Rudi penuh dengan penekanan.


Setelah itu pak Rudi pergi begitu saja tanpa memperdulikan Zen yang sedang menahan sakitnya.


"Keluar!" ucap Zen.


Aku kaget. Apa dia ngomong sama aku? Tapi, enggak mungkin kan. Karena aku udah bersembunyi dan dia enggak akan mungkin sadar kalau aku ada di sini.


Tiba-tiba aku melihat Zen berjongkok di depanku dan aku pun akhirnya keluar.


"Kamu senang kan? Kamu bahagia ngeliat aku di marahin sama ayahku?" tanyanya dengan nada tinggi.


Zen tak bersuara dan ketika aku membuka mata, mata kami bertemu. Aku bisa melihat bahwa matanya memerah.


"Kamu enggak papa?" tanya ku dengan suara bergetar.


"Kamu enggak usah sok perduli padahal dalam hati mu kamu ketawa kan?" tanyanya sambil tersenyum sinis.


Ini bukanlah hal yang biasa di tertawaan. Ini adalah hal yang membuat ku ingin menangis.


"Enggak usah pura-pura nangis." kesalnya.


Zen langsung berdiri dan aku pun ikut berdiri. Aku mengikuti langkahnya tanpa sadar. Dia berhenti dan aku hampir menabraknya.


"Mau mu apa!" teriaknya.


Lagi dan lagi aku langsung berjongkok. Dan aku melihat Zen mengepalkan tangannya.


"Jangan pergi dalam keadaan marah." ucapku sambil memegang tangannya.


Zen diam sambil menatap ku. Aku cuma bisa memegangi tangannya. Aku enggak mau dia pergi dan mengacaukan ulang tahun ayah ku. Dan aku juga enggak ingin dia keluar dari rumahnya sendiri karena ayahnya sudah mencapai batas kesabaran.


"Lepasin." Zen menepis tangan ku.

__ADS_1


Aku berdiri dan mencoba untuk bicara baik-baik dengannya.


"Enggak usah ikut campur sama urusan orang lain." ucapnya.


"Enggak bisa." kata ku.


Kami berhadapan. Dan ini situasi yang enggak pernah ku bayangkan sebelumnya.


"Apa begitu menyenangkan mencampuri urusan orang lain? Apa dengan cara itu bisa menambah kebahagiaan mu? Kenapa kamu jahat sama orang lain? Kenapa kamu malah menambah masalah sama orang yang udah banyak masalahnya?" tanya Zen sambil menatap tajam kearah ku.


Kita memang enggak suka kalau urusan kita dicampuri sama orang lain. Tapi, anehnya kita malah ikut campur sama masalah orang.


"Setiap orang punya masalah. Dan kadang kita butuh orang lain untuk menyelesaikan masalah kita karena kita enggak bisa sendirian menyelesaikan masalah yang ada di hidup kita." jawabku.


"Jangan ikut campur!" kesalnya.


Dia berjalan sehingga aku pun ikut berjalan di belakangnya. Entah apa yang sedang ku pikirkan. intinya aku tidak ingin dia sendirian.


Karena aku selalu mengikuti langkahnya sehingga dia makin kesal padaku dan dia pun tanpa sadar mendorong ku.


"Udah ku bilang jangan ikut campur." ucapnya sambil mengacak rambutnya.


punggung ku benar-benar terasa perih. Dan aku merasa kalau luka itu terbuka lagi.


"Enggak usah pura-pura sakit." kesalnya.


"Kenapa kamu benci banget sama aku? Aku cuma jalan di belakang mu karena aku enggak mau kamu sendirian." tanya ku.


"Kamu tanya kenapa aku benci sama kamu? Kamu lupa alasan ku benci sama kamu?" tanyanya tak percaya.


Dia mondar di depanku sambil mengepalkan tangannya.


Aku enggak tahu alasannya. Tapi, aku mikir kalau dia benci padaku karena aku mengganggu Risa.


"Karena Risa." jawab ku ragu-ragu.


Dia langsung tertawa terbahak-bahak dan dia tidak bisa menghentikan tawanya.


Kemudian dia berjongkok di depan ku sambil tersenyum sinis.


"Kenapa aku harus membenci mu karena Risa?" tanyanya.


"Karena kamu suka sama dia. Dan..." Aku ragu untuk melanjutkan kalimatku.


"Dan..."


"Dan karena aku mengganggu orang yang kamu suka makanya kamu benci sama aku." lanjut ku.

__ADS_1


Zen semakin menggila dan aku serem lihatnya. Kayaknya mentalnya benar-benar udah kena.


__ADS_2