Ternyata Dia Cuma Bercanda

Ternyata Dia Cuma Bercanda
Haruskah Aku Memberontak?


__ADS_3

Aku kembali ke tempat acara berlangsung setelah selesai mengganti bajuku. Mataku bertatap dengan ibu, dari sorot matanya dia tunjukkan sangat terlihat bahwa dia sedang marah padaku.


Entah mengapa badan ini bergetar tanpa sadar. Dan jantungku juga berdebar cukup kencang. Sepertinya akan terjadi sesuatu kepadaku setelah acara ini selesai.


"Dari mana aja kamu kenapa baru datang?" tanya Bu Yura sambil menunjukkan senyumnya yang dipaksakan.


"Tadi habis dari kamar mandi nggak sengaja ketemu sama teman sekolah Bu." jawabku mencoba sesantai mungkin.


Ibu tak banyak bicara karena dia sibuk mengobrol dengan orang-orang yang menyapanya.


Dan tugasku di sini hanyalah berdiri sambil menunjukkan senyum dan menganggukkan kepalaku. dan tak lupa juga aku menjawab pertanyaan mereka jika mereka memberikan pertanyaan kepadaku.


"Kalian mempunyai anak yang baik dan juga sangat berprestasi." puji pak Faisal.


Ibu dan ayah kompak tersenyum dan saling merangkul satu sama lain.


"Terima kasih atas pujiannya. itu karena Reta juga memiliki pemikiran yang dewasa makanya dia tidak berulah." ucap pak Zeri sambil tersenyum senang.


kenapa bisa ya di dunia ini ada orang yang seperti ini? Apa mereka tidak merasa lelah bersandiwara?


Padahal hanya tersenyum berapa detik saja itu sudah cukup melelahkan untukku. Ya walaupun aku memang ramah tapi aku tidak seramah ini.


Yang harus tersenyum ke semua orang. Harus selalu terlihat sebagai seorang yang penyabar. dan juga sebagai orang yang sangat gila akan belajar.


"Saya harap hubungan Reta dan juga anak saya ke depannya bisa selalu sama-sama." harap pak Faisal.


"Iya, kami pun mengharapkan hal yang sama. Terlebih lagi kami melihat kalau kereta juga sering tersenyum ketika bersama dengan Leo." ucap Bu Yura.


Itu hanyalah yang mereka lihat. Mereka nggak tahu kebenarannya. Sebenarnya hubungan antara aku dan dia itu sangat-sangat menyedihkan.


"Kalau begitu untuk kedepannya tidak akan ada masalah. Dan kerja sama antar perusahaan kita akan tetap berjalan." ucap pak Faisal sambil tertawa.


"Betul sekali. Hubungan kerja sama perusahaan kita akan semakin terjalin." ucap pak Zeri.


Aku benar-benar gak habis pikir dengan pikiran orang tua ini. Kenapa bisa sih mereka malah membicarakan tentang perusahaan?


Padahal aku dan Leo masih SMA. Dan aku tahu pada ujungnya keluarga ini akan hancur karena ulahnya sendiri.


Apa aku akan bernasib sama? Kalau aku mati di sini apa di dunia ku aku juga mati?

__ADS_1


Kenapa baru sekarang aku terpikirkan. Bagaimana dengan keluarga ku? Bagaimana dengan Sahabat ku?


"Jangan hanya diam saja." senggol Bu Yura.


Aku langsung tersadar dari pikiran ku dan mencoba untuk mengikuti instruksi dari Bu Yura.


Dia benar-benar sosok ibu bermuka dua. Aku mau melawan tapi aku enggak bisa. Padahal bisa aja kan aku balas perbuatannya.


Tiba-tiba ide gila muncul di kepala ku. Aku ingin memberontak dan berpikir untuk putus dengan Leo dengan cara apapun.


Walaupun Leo itu sangat sempurna dan akan sangat menyesal jika dia dilepas begitu saja. Tapi, nyawa lebih penting dibandingkan dengan dia.


Laki-laki di dunia ini ada banyak dan mereka juga banyak yang ganteng-ganteng jadi aku enggak perlu sedih kalau aku nantinya bakalan putus sama dia.


"Saya ragu hubungan kami akan tetap bertahan, paham." ucapku.


Ketiga orang yang ada di dekat ku langsung terkejut mendengar pernyataan ku.


Ya, terkejut lah terkejut yang sangat terkejut samapi kalian bingung mau ngomong apa. Aku sangat menyukai ekspresi kalian semua.


"Maksud mu?" tanya Bu Yura mencoba untuk mengendalikan ekspresinya.


"Banyak yang mengatakan pada ku kalau Leo hanya memanfaatkan ku saja. Dia menggunakan ku supaya membuat Risa sadar akan perasaannya." jawab ku sambil menundukkan kepala.


Nah loh, kalau kayak gini kan Leo bakalan di marah sama ayahnya dan pada ujungnya nanti akan ada kata putus diantara kita.


"Risa?" tanya Pak Zeri.


Haruskah aku membuat suasana semakin memanas dengan menceritakan semua kejadian jahat yang telah aku lakukan karena aku terbakar api cemburu?


Dan kalau ayahnya Leo tahu bahwa sifat asli ku itu jelek sekali aku yakin banget kalau dia bakalan mikir-mikir juga menjadikan aku sebagai menantunya.


"Dia sahabat kecil Leo. Mereka berdua hanya bersahabat. Jadi tidak mungkinlah Leo punya rasa sama Risa." ucap pak Faisal dengan nada gugup.


Dan sepertinya ayah dan ibu terpengaruh dengan apa yang aku katakan barusan.


Baguslah dengan begini hubungan antara keluarga kami dan juga keluarga Leo akan berakhir.


"Tapi, kelihatannya mereka punya perasaan yang sama." ucapku.

__ADS_1


Tiba-tiba ibu memang lengan ku cukup kuat sehingga membuat ku diam.


Dari wajahnya aku bisa membaca bahwa dia menyuruh ku untuk tidak macam-macam dan mengacaukan acara ini.


"Dia itu sangat suka padamu bahkan di kamarnya saja ada begitu banyak fotomu. Dan dia juga ketika teleponan denganmu dia selalu senyum-senyum." elak pak Faisal.


"Tapi, kota berdua enggak pernah telepon." ucapku dengan nada sedih.


Bukankah ayah dan ibu yang mengajariku seperti ini? Jadi kenapa mereka berdua juga malah terkejut akan apa yang mereka ajarkan padaku?


Jangan pernah menyalahkan anak jika dia meniru kejelekan orang tuanya sendiri. Karena apa yang mereka sering lihat tanpa sadar akan mereka tiru.


Dan di sini aku juga belajar bagaimana cara supaya wajah terlihat sedih dan juga menunjukkan senyum yang secara mentari.


"Paman pergi dulu, ada panggilan telepon." ucapnya sambil mengambil hp dari saku celananya.


Setelah pak Faisal pergi aku tahu bahwa aku tidak akan aman ketika acara ini berakhir.


Cengkraman tangan benar-benar kerasa dan kayaknya bakalan timbul memar.


Apakah aku juga harus sering membuat mereka marah supaya mereka memukul ku? Sehingga aku bisa melaporkan mereka atas tidak kekerasan terhadap anak di bawah umur.


"Jangan main-main! Ibu sudah peringatan itu! Kalau ada masalah kerja sama dengan ayahnya Leo, kamu tidak akan ibu biarkan bicara seenak mu lagi!" ancamnya.


Benar-benar orang tua yang sangat luar biasa dan patut untuk di berikan pengguna.


Bagaimana bisa orang tua lebih mementingkan uang disanding dengan anaknya sendiri? Bahkan dia bisa menyiksa anaknya sendiri.


"Kendalikan emosi mu. Masih ada banyak orang di sini." ucap Pak Zeri sambil memegang bahu Bu Yura.


Dengan kata-kata seperti itu bisa membuat ibu langsung menurut. Bahkan dia melepaskan genggaman tangannya kepadaku.


Sebenarnya di antara mereka berdua siapa yang lebih menakutkan? Ayah atau ibu?


"Lain kali kamu harus berpikir dulu sebelum berbicara. Kalau yang akan kamu bicarakan itu merugikan orang lain sebaiknya kamu diam saja." ucap Bu Yura.


Apakah mungkin selama ini dia selalu seperti itu? Merangkai kata di dalam otaknya sehingga kata-kata yang ia ucapkan itu membawa keuntungan untuknya?


Benar-benar wanita yang sangat hebat dan patut diacungi jempol. Selain pandai mengekspresikan wajah sesuai dengan apa yang sedang di bahas ternyata dia juga sangat pintar dalam mengolah kata.

__ADS_1


__ADS_2