
Aku pikir hanya aku dan Leo yang pergi ternyata Risa juga ikut. Dan ada satu cowok lagi yang ikut dengan kami.
"Aku ajak Zen karena aku enggak mau jadi obat nyamuk." tawa Risa.
"Hehehe..." aku cuma bisa nyengir.
Kalau dia enggak mau jadi obat nyamuk kenapa dia malah ikut? Bahkan dia malahan ngajak orang lain.
"Ayuk kita pergi." ucap Leo.
Aku berbonceng dengan Leo dan kami pergi duluan semenjak itu Risa dan zen ada dibelakang kami.
Kami berhenti di sebuah taman dan disini ada begitu banyak jajanan.
"Kamu mau beli apa?" tanyanya.
Aku melihat ke sekeliling. Dan wah aku udah lama banget enggak jajan karena aku harus menabung untuk pergi ke luar negeri. Kemana lagi kalau bukan untuk pergi ke Korea.
"Kamu pasti enggak pernah jajan di sini ya?" tanya Risa.
"Pasti dia enggak akan cocok sama jajanan disini. Kamu salah tempat." ucap Zen dengan dinginnya.
Kenapa sih di novel tuh cowok ganteng tuh pasti kalau ngomong nadanya dingin dan juga kata-katanya tuh kebanyakan nyakitin hati?
"Kalau kamu engga nyaman kita bisa pergi ke tempat lain." ajak Leo.
Aku langsung menggelengkan kepalaku. Kapan lagi coba aku bisa makan sepuasnya tanpa mikir kalau aku harus berhemat.
"Enggak papa. Kita di sini aja." ucapku.
Pada akhirnya kami berempat tetap di taman ini.
Aku membeli banyak sekali makanan dan mereka bertiga melihat ku dengan tatapan heran.
"Yakin kamu bisa makan semuanya?" tanya Leo.
"Iya." jawabku dengan antusias.
Setelah membeli jajanan akhirnya kami berempat duduk bersama.
Aku makan dengan sangat lahap. jujur aja jajanan disini bikin rindu sama masa kecil. Apalagi sama sampol ini.
"Kamu banyak banget beli sempolnya?" heran Risa.
"Iya, karena aku suka banget sama Sempol. Pertama kali aku makan Sempol aku langsung jatuh cinta dan memutuskan kalau Sempol adalah jajan favorit ku." jawabku sambil mengambil Sempol lagi.
__ADS_1
"sejak kapan kamu makanan jajan kayak gitu?" tanya Leo pemasaran.
Karena dia baru tahu kalau ternyata kereta itu juga suka dengan makanan seperti ini. Padahal ia kira reta hanya makan di restoran saja.
"waktu SMP aku punya satu teman tuh dan dia pertama kali ngasih aku Sempol. Dan sekarang aku nggak tahu dia di mana dan aku juga nggak tahu kabarnya kayak gimana sekarang ini." jawab ku.
orang yang kumaksud adalah Nia. jujur saja aku merasa penasaran dengan apa yang sekarang dia lakukan.
"Pasti dia kesepian banget karena nggak ada aku. dia itu penyendiri dan dia juga nggak pandai berteman. Jadi kalau ke mana-mana dia selalu sama aku karena kami berdua itu cocok." lanjut ku.
"Ternyata kamu punya teman juga ya?" tawa Zen.
"Zen enggak boleh gitu." ucap Risa sambil menendang pelan kaki Zen.
"Iya aku punya teman dan dia satu-satunya temanku. Aku kangen banget sama dia. Rasanya pengen banget ketemu sama dia meluk dia, cerita ke dia." ucapku.
"Emangnya sekarang dia ada di mana?" tanya Leo.
"Aku enggak tahu." jawabku sambil melihat ke langit.
"kamu tumben pergi keluar? Biasanya kamu sibuk sama les privat mu?" tanya Zen.
"Aku lagi pengen jalan-jalan aja." jawab ku.
Aku harus memanfaatkan keadaan saat ini untuk menjernihkan pikiran ku. Kapan lagi cuma aku bisa jalan-jalan santai kayak gini?
Aku berbalik dan melihat bahwa dia adalah ibunya Reta dan sekarang dia adalah ibuku.
"Ibu?" kaget ku.
Didalam cerita ibunya Reta terkenal dengan kelembutannya dan dia juga sangat memanjakan Reta.
Aku seneng banget punya ibu kayak dia. Karena dia adalah ibu yang penyabar dan dia juga enggak pernah tuh marah sama Reta.
Dan ayahnya juga orang yang sangat sayang dengan keluarnya. Dan dia juga paling sayang sama Reta karena dia adalah anak tunggal.
"Tante?" Leo langsung berdiri dan bersalaman dengan Bu Yura.
Risa dan Zen mau tidak mau pun akhirnya ikut bersalaman dengan ibunya Reta.
"Kenapa kamu disini?" tanya Bu Yura.
Aku bingung harus jawab apa. kenapa aku malah takut ya lihat ibu dan kenapa juga tangan dan kakiku rasanya lemes banget.
"Katanya dia bosen makanya dia mau jalan-jalan." jawab Zen.
__ADS_1
Bu Yura tersenyum lembut kearah Zen. kemudian dia fokus lagi pada Reta.
"Kenapa enggak ngomong ke ibu kalau kamu kamu bosan? Kita kan bisa jalan-jalan bareng dan ayahmu juga malam ini pulang ke rumah. Jadi, sekarang kamu pulang ya sama ibu." ajaknya.
Aku ingin pulang dengannya tapi anehnya aku malah mundur selangkah.
"Leo, makasih ya udah ajak Reta main. Sekarang Tante boleh bawa dia pulang kan?" tanya Bu Yura dengan nada sopan.
"Iya, Tan." jawab Leo gugup.
Bu Yura berjalan maju dan mengandeng tanganku. Aku berdiri di sampingnya.
"Kami berdua pergi duluan ya." pamit Bu Yura.
"Iya. Hati-hati di jalan." ucap Risa.
Setelah itu aku dan ibu pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Sempurna banget ya hidupnya. Dia punya otak yang cerdas, orang tuanya kaya raya dan mereka juga sayang banget sama dia. Dan sekarang dia juga punya pacar yang kaya, ganteng, baik hati, tidak sombong dan boros." goda Risa.
"Enggak usah gitu." ucap Leo.
Di dalam mobil perasaanku benar-benar tidak nyaman. karena ini adalah hari pertama aku bertemu dengan ibu. Jadi aku tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Apa kamu bosan banget?" tanyanya dengan nada lembut.
Padahal suaranya lembut banget tapi kenapa aku dengernya malah jadi merinding kayak gini ya?
"Enggak kok." jawab ku.
Aku kaget mendengar apa ya aku ucapkan. Padahal aku kan bosan tapi kenapa aku malah ngomong kalau aku nggak bosan ya?
"Iya kamu nggak akan mungkin pernah ngerasain bosan karena kan ibu udah kasih jadwal kegiatan terbaik untuk kamu." ucapnya sambil tersenyum.
Suasana di dalam mobil ini benar-benar buat aku pengen cepet-cepat sampai rumah.
"Kemarin ibu juga dengar katanya kamu malah tidur dan enggak datang les piano, apa itu benar?" tanyanya lagi.
Aku akui kalau kemarin memang aku tertidur sangat nyenyak. Dan aku juga nggak tahu kalau kemarin itu harusnya aku les piano.
"Kamu tahu kamu harus belajar dengan baik karena sebentar lagi adalah ulang tahun ayahmu dan kamu harus tampil di depan banyak orang. Kamu harus ingat bahwa yang akan datang bukanlah orang sembarang. Ketika mereka melihat mu maka mereka akan bangga kepada ayah dan ibu karena berhasil mendidik mu menjadi anak yang bertalenta dan juga anak yang penurut." ucapnya.
Apakah selalu seperti ini? Apakah selalu merasa tertekan ketika bersama dengan ibu kandung sendiri?
"Iya." ucapku.
__ADS_1
Aku merasa aku seperti terhipnotis olehnya dan kata-kata yang dia ucapkan membuatku ingin melakukan hal itu.
Sebenarnya ini kenapa? Apa ada hal yang aku lewatkan?