
Baru juga aku samapi rumah. Aku harus bersiap untuk mengikuti bimbel. Kadang aku tidak habis pikir apa anak itu di ciptakan hanya untuk belajar dan memenuhi keinginan orang tua?
Bukankah mereka juga pernah menjadi anak-anak dan tentunya mereka pasti paham bahwa anak tidak ingin di kekang tetapi ingin bebas.
Disinilah sekarang ini aku berada. Di sebuah ruangan bernuansa putih dan hanya ada aku dan guru ku saja.
“Apa kamu ada masalah lagi?” Tanya Bu Cia dengan hati-hati.
“Enggak ada sama sekali.” jawabku sambil mencoba tersenyum.
Entah sudah berapa juta senyum palsu yang ku tunjukkan di dunia ini. Aku benar-benar merasa sangat sedih dengan keadaan ku yang sekarang ini.
“Apa ayah dan ibu mu masih memukul mu? Bagaimana luka mu sebelumnya? Apa sudah membaik?” Tanyanya dengan nada khawatir.
Aku terkejut karena aku tidak paham dengan apa yang sedang ia bicarakan.
Apa dia sedang membicarakan ku? Tapi, aku tidak pernah di pukul oleh ayah ataupun ibu. Dan aku juga tidak merasakan sakit apa-apa.
“Luka apa?” tanya ku.
Wajahnya terlihat sangat sedih dan kemudian dia memeluk ku.
“Enggak papa. Kamu anak baik, kamu pasti bisa lewatin semuanya. Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita ke ibu seperti biasanya.” Ucapnya sambil mengelus kepala ku.
Air mata ini dari mana datangnya? Apa dari mata ku? Tapi, kenapa aku menangis hanya karena mendengar kata-katanya.
Dan dia semakin memeluk ku sehingga aku tidak bisa menghentikan tangis ku.
Kenapa aku menjadi mudah menangis? Padahal di kehidupan ku yang dulu aku jarang sekali menangis.
“Kalau ada pelajaran yang sudah di mengerti kamu tanya saja ke ibu. Dan ibu sudah carikan soal-soal olimpiade tahun sebelumnya. Dan perkiraan soal yang akan muncul.” Ucapnya.
Dia pergi mengambil tasnya dan memberikan ku kertas-kertas contoh soal beserta jawaban.
Jujur saja aku sama sekali enggak paham. Karena aku bukanlah orang yang pintar dan suka belajar.
Dan disini aku sangat merasa tertekan karena orang tua dan guru menuntut diriku untuk menang di olimpiade nanti.
Apa yang akan terjadi kalau aku tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka? Aku bukan Reta yang asli dan aku tidak mungkin bisa sehebat dia.
Sekarang Bu Cia mengajariku banyak materi dan aku sama sekali enggak paham.
Berjam-jam berkutat dengan angka benar-benar membuat ku pusing kepala.
__ADS_1
“Pelajaran kali ini kita akhiri samapi disini.” Ucap Bu Cia sambil melihat jam tangannya.
Aku langsung merilekskan tubuh ku. Ini benar-benar sangat melelahkan.
Walaupun aku hanya duduk dan melihat kertas-kertas di mejaku jujur saja itu sangat melelahkan. Bahkan sedari tadi aku mengelap keringat ku.
“Saya pulang dulu, Bu.” Pamit ku.
“Apa punggung mu benar-benar baik-baik saja? Apa sudah di kasih salep?” tanyanya.
Salep? Untuk apa? Dan selama aku berada di tubuh ini aku sama sekali tidak merasa sakit.
Ya walaupun aku sering merasa pusing sih tapi itu karena aku memang belum terbiasa dengan semuanya.
Dan aku juga enggak tahu kenapa aku mual kalau makan bareng sama ayah dan ibu. Mungkin aja itu adalah kebiasaan dari Reta yang asli.
Begitu tersiksanya dia sampai makan saja harus ia keluarkan lagi. Dan dia juga memiliki tubuh yang kecil dan sangat rapuh.
“Sudah lebih baik.” Jawab ku.
“Syukur kalau gitu.” Ucap Bu Cia.
Setelah itu aku pulang dan di perjalanan ketika berhenti di lampu merah disamping ku ternyata ada Leo dan Risa.
“Sumpah seru banget. Kapan-kapan ajak aku lagi ya.” Ucap Risa sambil berpegangan pada bahu Leo.
Sakit banget rasanya. Ternyata kayak gini ya rasanya jadi Reta. Dan yah wajar aja kalau dia berubah jadi orang jahat. Karena dia udah enggak bisa nahan semuanya sendirian.
“Kalau Reta tahu kamu ngajak aku pergi terus dia pasti bakalan marah ke aku.” Tawa Risa.
“Kalau dia marah lagi ke kamu, kamu ngomong aja ke aku.” Ucap Leo.
Jelas aja Reta selalu menanyakan apakah Leo benar suka padanya? Karena yang aku lihat juga sangat meragukan.
Mungkin saja dia benar-benar mengunakan Reta hanya untuk membuat Risa menyadari perasaannya pada Leo supaya mereka bisa bahagia. Lalu bagaimana dengan Reta?
Apa hanya ini perannya? Hanya untuk menyatukan pemeran utama wanita dan pria? Ini sama sekali enggak adil.
Walaupun dia sebagai pemersatu tetapi setidaknya harus di berikan penghargaan dengan kehidupan yang lebih baik bukannya malah menjadikannya semakin terpuruk.
Aku melihat mereka masih asik mengobrol dan mereka tuh kelihatan cocok banget kalau bareng.
Aku membuka kaca dan melihat kearah mereka.
__ADS_1
Tatapan mataku dan Leo bertemu dan dia sedikit melotot mungkin karena dia terkejut.
“Hati-hati di jalan ya. Kalau udah sampai rumah jangan lupa kabarin.” ucapku sambil tersenyum.
Keduanya hanya diam. Dan yah karena lampu hijau akhirnya aku pergi duluan. Dan mereka masih diam saja sehingga kendaraan di belakang mereka mengklakson mereka.
“Kayaknya dia salah paham lagi deh.” Ucap Risa.
Leo hanya diam saja dan sekarang ini pikirannya sedang kacau. Kali ini dia benar-benar takut kalau Reta marah padanya.
“Pegangan!” ucap Leo.
“Hah?” bingung Risa.
Leo langsung meningkatkan laju motornya sehingga Risa langsung berpegangan erat pada Leo.
“Jangan ngebut-ngebut! Entar kita bisa mati!” panik Risa.
Leo sama sekali tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Risa. Yang ada di otaknya sekarang ini antar Risa dulu baru dia pergi ke rumah Reta untuk menjelaskan semuanya.
“Semenjak dia pacaran sama Reta. Dia benar-benar udah berubah. Biasanya dia selalu santai bawa motornya kalau dia bonceng aku. Tapi, sekarang ini dia enggak perduli mau kecepatan berapa pun. Padahal dia tahu aku takut.” Batin Risa.
Leo berhenti di depan rumah Risa dan menyuruhnya untuk turun.
Setelah turun Risa langsung mengambil kunci motor dan menyembunyikannya di dalam tas.
“Apa-apaan sih, Ris?” heran Leo.
“Kamu tuh yang apa-apaan? Bawa motor kayak orang kesetanan. Kalau jatuh terus meninggal di tempat gimana? Kamu enggak mikir apa!” kesal Risa.
“Tapi, kamu enggak papa. Dan aku juga antar kamu samapi rumah dengan selamat. Jadi balikin kuncinya!” kesal Leo.
Melihat wajah Leo yang sedang marah akhirnya Risa memberikannya.
“Padahal kamu engga pernah semarah ini sama aku. Hanya karena dia, hanya karena dia kamu marah sama aku.” Batin Risa.
Setelah mendapatkan kuncinya Leo langsung pergi ke rumah Reta.
Dan Risa masih saja berdiri di depan pagar rumahnya dengan perasaan yang kacau.
“Kalau kamu sama dia terus, bisa-bisa kamu perduli sama aku lagi. Kamu sama dia harus putus. Karena dia enggak baik untuk kamu. Cuma aku yang baik dan bisa bikin kamu ketawa terus.” Ucap Risa.
Motor Leo mulai menjauh dan sudah tidak terlihat lagi oleh mata Risa.
__ADS_1
“Reta Cuma buat kamu sedih dengan tingkahnya yang aneh. Dia sama sekali enggak suka sama kamu. Dia cuma manfaatin kau doang. Karena cuma kamu yang mau sama dia dan Cuma kamu yang mau ngomong baik-baik sama dia.” Ucap Risa sambil mengepalkan tangannya.
Tatapan matanya terlihat sangat kesal dan dia juga bertekad bahwa Leo harus dijauhkan dari Reta.