Ternyata Dia Cuma Bercanda

Ternyata Dia Cuma Bercanda
Tolong Dia


__ADS_3

Setibanya di rumah tiba-tiba ayahnya Leo menghajarnya habis-habisan. Dan Leo yang mendapat pukulan dari ayahnya tidak bisa melawan.


Dia bingung apa kesalahannya? Kenapa ayahnya malah memukulinya?


"Kamu tahu apa salah mu?" tanya ayah sambil mencengkram dagu ku.


"Enggak tahu." jawabku.


"Anak enggak berguna ucapnya sambil menampar wajah sekali kemudian dia meninggalkan ku sendirian.


Namaku Leo. Aku mempunyai ayah yang hebat dengan kemampuan bisnisnya yang awalnya keluarga mereka miskin berubah menjadi keluarga yang berkecukupan bahkan bisa dikatakan sebagai keluarga yang kaya.


Aku memiliki otak yang lumayan pintar dan aku memiliki ketampanan di atas rata-rata. Itu bukan karena aku sombong tapi itu adalah kenyataannya.


Semua kehidupan ku tidaklah seindah yang ku ceritakan. Ada begitu banyak luka yang tidak bisa di lihat oleh orang lain bahkan oleh ayahku sendiri.


"Bang, kenapa bisa kayak gini?" tanya ibu dengan tatapan kagetnya.


Aku tidak bisa berada di hadapannya. Aku tidak ingin dia melihatku sebagai orang yang lemah.


"Mau pergi ke mana?" tanya ibu sambil menghampiri ku.


Aku yang menyadari itu langsung bergegaslah pergi ke luar rumah dan menghidupkan sepeda motor ku.


"Mau kemana?" teriak ibu.


Aku pergi entah kemana. Yang terpenting itu bisa membuat ku merasa tenang walaupun hanya sesaat.


Entah kenapa aku malah berhenti disini. Dari sini aku bisa melihat rumah Reta.


Padahal aku sama sekali tidak suka padanya. Tapi, setiap kali aku ada masalah tanpa sadar aku malah berhenti di pinggir jalan sambil melihatnya dari sini.


Aku merasa heran karena aku tidak lagi melihat bayangan yang sedang duduk di meja belajarnya.


"Dia kemana? Apa dia terlalu lelah ya makanya dia tidur?"


tiba-tiba mataku melihat ke arah seseorang yang baru saja keluar dari rumah itu.


Seorang perempuan yang berusia sekitar 20 tahun ke atas.


"Kenapa dia jalan kayak gitu?" heran ku.


Dia terlihat menyeka air matanya. Dan sepertinya dia juga terluka.


Tiba-tiba otak ku berpikiran liar. Aku berpikir bahwa perempuan itu adalah selingkuh pak Zeri. Tapi itu sangat tidak masuk akal sekali.

__ADS_1


Bagaimana bisa orang yang terkenal dengan kebucinannya kepada keluarganya bisa selingkuh?


Perempuan tersebut menunggu kendaraan lewat tapi tidak ada sama sekali ya lewat karena hari sudah malam.


Dan aku merasa kalau dia melihat kearah ku. Dia berjalan kearah ku dan aku hanya bisa diam di tempat karena saking bingungnya.


"Dek, bisa anta mbak pulang?" tanyanya dengan suara yang bergetar.


Karena dia mengalami hal yang sangat menyedihkan. Bahkan matanya terlihat sangat sembab dan juga merah.


"Mbak, kenapa dari rumah Reta sambil nangis?" tanya ku penasaran.


Matanya membulat sempurna dan dia malah menangis. Air matanya bikin ngilu. Dan juga dia nangis sampai sesegukan.


"Kamu kenal sama Reta?" tanyanya sambil mengelap ingusnya dengan bajunya.


"Iya, dia pacar saya." jawabku tanpa sadar.


Aku kaget karena dia tiba-tiba memang tangan ku. Aku mencoba untuk melepaskannya tapi enggak bisa sama sekali.


Nih orang kenapa sih? Kenapa kayak gini ke aku? Apa mungkin dia mau nyuruh aku balas dendam ke keluarga ini melalui Reta?


"Tolongin dia." pintanya.


Aku langsung turun dari motor dan membantunya untuk berdiri.


"Kenapa?" tanya ku.


"Kakak bakalan cerita semuanya. Tapi, enggak di sini. Sebaiknya kita pergi sekarang." ajaknya.


Anehnya aku mau-mau aja. Dan sekarang ini aku dan dia sedang di sebuah kafe yang buka 24 jam.


Aku memberikannya tisu. Dan aku melihat sekeliling untungnya sepi jadi aku tidak terlalu pusing memikirkan pandangan orang tentang perempuan yang sedang menangis didepan ku.


"Kamu tahu kalau Reta sering di siksa sama orang tuanya?" tanyanya.


Mendengar itu aku langsung tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin anak satu-satunya di siksa sama orang tuanya sendiri? Sama sekali enggak masuk di akal.


Dan semua orang juga tahu bahwa orang tua Reta Sangat sayang padanya dan memanjakan dirinya.


Sepertinya perempuannya yang ada di depan ku benar-benar gila. Kenapa juga aku mau di ajak ngobrol sama dia? mungkin aja aku yang lebih gila dari dia.


"Kamu ketawa?" tanyanya dengan kecewa.


Aku langsung berhenti tertawa, "aku enggak ketawa kok." jawab ku dengan wajah datar.

__ADS_1


"Dengerin baik-baik. Mungkin kamu pikir mbak mengada-ada. Tapi, apa yang mbak sampaikan ke kamu itu beneran. Enggak ada kebohongan sedikit pun." ucap dia dengan serius.


Kalau dari tatapannya sih kayaknya dia enggak lagi bercanda. Tapi, tetep aja enggak mungkin kalau Reta di siksa sama orang tuanya.


"Mbak, kenapa mbak ngomong gini ke saya? Saya enggak akan percaya sama apa yang mbak katakan karena saya tahu tentang Reta dan juga orang tuanya. Mereka itu keluarga bahagia." ucapku dengan percaya diri.


Ya karena mamang aku tahunya seperti itu. Keluarga yang sangat di impikan oleh banyak orang.


"Kamu beneran tahu tentang Reta?" tanyanya dengan nada menyindir.


Apaan nih maksudnya? Apa dia mikir kalau aku enggak tahu apa-apa tentang Reta? Wah sungguh sangat menebalkan.


"Mbak, enggak usah mancing emosi saya deh. Mood saya lagi enggak stabil nih." ucapku dengan nada dingin.


"Saya lagi enggak bercanda. Yang saya omongin dari itu fakta. Saya gitu privatnya Reta. Dan saya tahu banyak tentangnya." ucapnya.


Gitu privat? Masak sih? Kalau dia guru privat kenapa dia keluar dari rumah Reta sambil nangis-nangis kayak gitu? Sampai tersedu-sedu dan juga keluar ingusnya.


"Sebenarnya mbak tuh maunya apa?" tanya ku yang sudah mulai jengkel.


Aku bukanlah orang yang sabar seperti kelihatannya. Aku diam bukan berarti aku mengalah. Aku hanya memilih waktu yang tepat untuk membalasnya.


Jujur saja aku mainnya sangat rapi benar-benar rapi. Sampai orang lain tidak pernah menyangka bahwa aku yang melakukan hal itu.


Terkadang aku saja sampai bingung kenapa aku bisa seperti ini? Apa mungkin aku punya kepribadian ganda? Tapi enggak mungkin.


"Mbak mau kamu tolongin dia." jawabnya tanpa keraguan sedikitpun.


Nih orang kadang bikin aku jadi mikir kalau yang dia omongin tuh bener. Apa mungkin dia bisa menghipnosis orang?


"Mbak, kalau gaji mbak enggak cukup mbak tinggal bilang aja ke saya. Bakalan saya tambahin kok. Dan misalanya mbak suka sama bapaknya Reta mbak mendingan mundur aja. Karena mbak enggak akan dapat apa pun" ucapku dengan serius.


"Kamu jangan kurang ajar ya!" kesalnya sambil menggebrak meja.


Kaget sih, tapi aku pura-pura enggak kaget.


"Ini apa!" teriakku sambil menutup mata ku setelah melihat apa yang ia tunjukkan di hpnya.


"Ini Reta." jawabnya.


Aku diam. Dan berusaha untuk melihat hpnya lagi. Kemudian aku memalingkannya ke arah lain.


"Kenapa enggak kamu lihat?" tanyanya heran.


"Mbak gila ya! Masak saya di suruh lihat punggung perempuan! Dosa mbak, dosa." tolak ku sambil melambaikan kedua tangan ku di depan wajah ku.

__ADS_1


__ADS_2