
Leo menyadari bahwa Reta sedang menahan sakit.
"Dia ngapain kamu?" tanya Leo dengan nada dingin.
Ini orang kalau ngomong selalu aja nadanya kayak gini. Bikin aku jadi merinding aja.
"Dia nggak ngapa-ngapain aku kok." jawabku.
Leo berhenti dan aku pun ikut berhenti. Dia cuma lihatin aku aja tanpa ngomong apa-apa.
"Kamu nggak usah belain dia kamu ngomong aja ke aku dia ngapain?" tanya Leo.
Haruskah aku memberitahunya? tapi kayaknya jangan deh soalnya takutnya mereka berdua malah jadi berantem.
lagi pula kan Zen dorong aku karena ya memang itu salah aku. aku ngikutin dia jadi wajar aja kalau dia risih sama keberadaan ku.
"Oh iya ada satu hal yang mau aku tanyain ke kamu." ucapkan mengalihkan perhatiannya.
Dia mengerutkan dahinya dan sepertinya dia penasaran dengan apa yang ingin ku tanyakan kepadanya.
"Tadi kan aku nggak sengaja lihat Zen sama ayahnya berantem ngomong-ngomong hubungan mereka tuh sebenarnya kayak gimana?" tanya ku.
Bukannya menjawab pertanyaanku Leo malah jalan duluan di depanku. Aku berusaha untuk menyamakan langkahku dengannya.
"Kenapa kayaknya kamu tertarik banget ya sama dia? Apa sebenarnya kamu nerima aku itu biar kamu bisa deket sama dia?" tanya Leo penuh curiga.
Lah dia kok malah mikir kayak gitu sih? Padahal kan aku memang benar-benar murni menanyakan hal itu bukan karena aku punya rasa sama Zen.
"kok kamu ngomong gitu sih?" tanya ku tak terima.
"Iya bisa aja kan kamu nerima aku biar kamu tuh ada kesempatan lebih banyak untuk dekat sama dia kan karena dia itu sahabat dekatku juga." jawabnya.
aku jadi dongkol malahan. bisa-bisanya dia mikir kayak gitu.
"Aku kasih tahu ya ke kamu. Aku itu nggak ada perasaan sama Zain aku cuma suka sama kamu. Walaupun Zain itu termasuk orang yang ganteng dan tipe bad boy kayak gitu lah yang banyak digemari sama cewek-cewek tapi aku sukanya sama good boy, ya cowok kayak kamu." ucapku panjang lebar.
sebenarnya sih kalau di dalam cerita aku lebih suka tipe-tipe cowok yang bad boy sih.
__ADS_1
tapi kalau di dunia nyata mah aku lebih suka yang good boy supaya nggak terlalu banyak makan hati.
"Maksudmu aku orang baik itu?" tanyanya.
Orang yang ada di depanku ini sebenarnya pikirannya ke mana sih?
Bisa-bisanya dia nggak terima kalau dia itu diomongin orang baik. Biasanya kan orang akan merasa sangat senang kalau dia dibilang baik bukannya malah kayak gini.
"Iyalah kamu orangnya baik." jawab ku.
Lea mahalan nafas dan melirik ke arahku, "Kamu belum terlalu mengenalku kamu nggak tahu aku orangnya kayak gimana. Kalau kamu mengenalku cukup dalam kamu pasti akan berpikir bahwa aku adalah orang paling jahat di dunia." ucapnya.
Mana mungkin tokoh protagonis itu jahat? kan dia pemeran utama pria dan dia juga digambarkan sebagai orang yang baik tapi kenapa malah dia sendiri ngomong kalau dia jahat ya?
Apa mungkin sebenarnya di dunia ini itu kembalikan dari cerita aslinya?
Sebenarnya retak itu baik dan Risa yang jahat. Terus Leo itu jahat dan yang baik itu Zen.
Tapi nggak mungkin sih kalau Zen itu baik. Dari tingkah laku dan gaya bicaranya aja udah mencerminkan kalau dia itu karakter antagonis.
"Berarti kalau kamu memang benar-benar aku juga Kamu harusnya tahu dong siapa aku?" tanya ku.
"Udah lupain aja. Aku mau ke kamarku dulu kamu balik aja ke tempat pesta." ucapku.
Aku berjalan di depannya dan entah mengapa sepertinya semua orang di sini hobi banget narik tanganku.
"Bajumu kenapa ada bekas darahnya? Apa ini zen yang buat kamu kayak gini?" tanya Leo.
Matanya memancarkan kemarahan. Dan aku yang melihat itu pun langsung berjongkok sambil memegangi telingaku dengan tangan kiriku karena tangan kananku masih dipegang olehnya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Leo.
"Aku nggak papa." jawab ku.
Aku melepaskan genggaman tangannya dan langsung pergi meninggalkannya begitu saja.
Leo pergi untuk mencari Zen. Dan setelah bertemu dengan Zen, ayo langsung mengajaknya ke tempat yang sepi.
__ADS_1
"Kamu ngapain Reta? kenapa bajunya ada bekas darah?" tanya Leo sambil menatap tajam Zen.
Zen malah terlihat sangat santai. bahkan sekarang ini dia dengan santainya duduk sambil bersandar di kursi taman.
"Kamu kalau benci sama dia ya harusnya nggak usah sampai segitunya. Tetep aja dia itu perempuan nggak seharusnya kamu kayak gitu ke dia." kesal Leo.
Zen tertawa. Dan hal itu malah membuat Leo semakin kesal kepada Zen. Karena ia merasa bahwa Zen sedang meremehkannya.
"Kamu bilang aku nggak seharusnya segitunya ke dia? Harusnya kamu itu yang ngaca!" ucap Zen penuh dengan penekanan.
Lio mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin sekali menonjok wajah Zen. Tetapi Leo sadar bahwa ini bukanlah waktu yang tepat.
Akan jadi masalah untuknya Kalau iya sampai bertengkar dengan Zen di sini.
"Kenapa kamu malah marah? Aku sama sekali nggak salah ngomong kan?" ledek Zen.
"Sebenarnya apa sih maumu? mentang-mentang kamu megang rahasiaku dengan seenaknya kamu kayak gini ke aku." ucap Leo.
Ada rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu. Bahkan Risa saja yang dekat dengan keduanya pun tidak tahu masalah ini.
"Kenapa kamu takut ya? Kenapa harus takut coba? Lagian aku juga nggak akan ngasih tahu ke orang-orang kok apalagi aku ngasih tahu ke Reta." pancing Leo.
"Ternyata memang benar ya musuh yang paling besar adalah orang terdekat kita sendiri." ucap Leo.
Maka dari itu jangan mudah percaya dengan orang lain. Jangan menceritakan masalah yang sangat serius walaupun itu kepada sahabat sendiri dan keluarga.
Mungkin dia terlihat bisa dipercaya tetapi ada waktunya nanti dia akan membocorkannya di waktu yang tepat.
"Nggak usah takut kayak gitu deh. Lagian nggak ada manfaatnya juga kalau aku cerita ke orang-orang. Lagi pula kamu kan juga tahu rahasiaku. Kalau aku bongkar rahasia mah pastinya kamu juga bakalan bongkar rahasiaku. Itu sama sekali nggak lucu." tawa Zen.
Akhirnya Leo merasa lega. Dia terlalu fokus dengan rahasianya sehingga dia lupa bahwa dia juga memegang rahasianya Zen.
"Jangan pernah lupa juga kalau musuh dari musuh itu adalah rekan yang sempurna." ucap Zen.
Leo yang mendengar itu langsung tertawa. sebenarnya awalnya mereka bukanlah seorang sahabat.
Tetapi karena mereka berdua ketika SMP mempunyai musuh yang sama akhirnya mereka memutuskan untuk bekerja sama.
__ADS_1
Dan sekarang kebanyakan orang malah mengira bahwa mereka adalah sahabat yang sangat dekat.
Padahal kenyataannya sih nggak seperti itu juga. Terkadang mereka juga seperti musuh.