Ternyata Dia Cuma Bercanda

Ternyata Dia Cuma Bercanda
Harus di Rukyah


__ADS_3

Padahal belum belajar sama sekali tapi sekarang malah udah pulang sekolah aja.


"Sumpah pelajaran Bu Siti susah banget. Otakku rasanya mau pecah." keluh Ridwan.


"Padahal kamu cuma tidur." ejek Zen.


Aku bingung kenapa aku malah jalan kearah Zen dan dia juga melihat ku dengan tatapan bingung.


"Kenapa?" tanyanya dengan nada dingin.


Padahal aku enggak mau cari masalah sama sekali. Tapi entah kenapa kayak ada yang mengendalikan ku untuk datang padanya.


"Ini." ucapku sambil memberikan undangan padanya.


lah? Ini undangan apa yang aku kasih ke dia dan sejak kapan aku pegang undangan?


"Zen menerimanya dan membaca kartu undangan tersebut.


Dia langsung meremasnya kemudian menyobeknya menjadi kecil-kecil.


"Acara bapak-bapak kenapa aku harus datang?" ejeknya.


Aku cuma bisa diam karena saking kagetnya. Kenapa dia enggak bisa menghargai orang lain sih?


Aku ingat dia memang bisa menghargai orang lain tapi dia tidak bisa menghargai ku.


Dan sudah dipastikan karena aku mengganggu ketenangan Risa.


"Itu undangan bukan cuma untuk kamu aja tapi untuk kedua orang tuamu." ucapku dengan nada dingin.


kadang aku merasa seram kenapa aku bisa menjadi seperti ini. yang kayaknya aku nggak bisa jadi diri sendiri tapi malah aku terpengaruh sama karakter Reta yang ada di dalam novel.


"Kenapa kamu malah ngasih undangannya ke aku? Harusnya orang tuamu tersayang itu yang ngasih undangan kepada orang tuaku." tanya Zen dengan nada yang menyebalkan.


"Karena mereka tahu kalau kita berdua itu sekelas jadi mereka menitipkannya padaku." jawabku dengan suara lantang.


"Wah padahal beberapa hari yang lalu kamu kelihatan kalem ya. Tapi sekarang kamu kelihatan normal lagi. Apa mungkin ya karena nggak ada Leo di sini makanya kamu balik lagi jadi Mak Lampir?" tebaknya.


Itu mulut sama sekali nggak di filter. Selalu aja kata-kata pedas yang dia ucapkan padaku.


"Terserahlah kamu mau ngomong apa aku juga nggak akan peduli sama kamu." ucapku.

__ADS_1


Aku pergi meninggalkannya. Jujur aja aku ngerasa lega karena aku tidak lagi bicara dengannya.


"Oh ini ya yang onar?" sindir Mila.


Aku langsung melirik tajam ke arahnya. Ini peran cuma figuran tapi ngeselinnya minta ampun ya.


"Udah nggak usah cari masalah sama dia." ucap Risa mencoba untuk menenangkan Mila.


"Perempuan kayak gini tuh harus dikasih pelajaran. Kalau cuman didiemin dia bakalan semena-mena. Dengan seenaknya dia minta Leo untuk jauhin kamu itu kan sama sekali nggak masuk akal!" kesal Mila.


Padahal aku sama sekali nggak nyuruh Leo untuk menjauhi Risa. Aku kan cuma ngomong kalau aku nggak suka dia deket-deket sama Risa bukan nyuruh dia untuk jauhin.


Jadi bukan salah aku dong kalau Leo jauhin Risa. Tapi anehnya kenapa malah si Mila ini yang terlalu ribet?


"Sebenarnya kamu pakai pelet apa sih sampai Leo klepek-klepek sama kamu?" tanya Mila.


Aku mau ngapain? tubuhku bergerak sendirinya mendekati Mila.


Dan aku berbisik ke telinganya, "bilang aja kalau kamu iri kan sama aku? Dan kamu juga pura-pura belain Risa karena kamu ingin dianggap sama Leo?"


Mendengar itu Mila langsung melotot dan mendorongku sehingga aku pun terjatuh.


"kamu nggak apa-apa?" tanya Risa padaku, "Bila kenapa kamu ada orang dia sih?" heran Risa.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Leo yang tiba-tiba datang.


Kenapa sekarang aku merasa kalau aku yang jadi protagonis ya? Kan biasanya antagonis ganggu protagonis dan saat itu muncullah pahlawan untuk menolong si protagonis.


Tapi kenapa ini malah kebalikannya? dia malah nolongin aku?


"Aku nggak papa." jawabku sambil berusaha untuk berdiri.


"Nggak papa apanya kamu mau kelihatan pucat banget itu!" kesal Leo.


"Dia yang mulai duluan." tunjuk Mila padaku.


"Ya walaupun dia yang mulai duluan tapi nggak seharusnya kamu dorong dia. Aku lihat kok kamu dorong dia cukup keras sampai dia jatuh kayak gitu." ucap Leo.


Dan jeng jeng jeng sekarang ini malah zen yang datang.


Aku ngerasa kalau kisah ini sangat-sangat membagongkan sekali ya. kisahnya terlalu alay dan mudah di tebak.

__ADS_1


"Kamu nggak usah nyalahin dia. Orang jelas aku lihat sendiri kalau Reta itu yang ngajak mereka berdua ribut duluan." bela Zen.


Mila tersenyum senang karena ada yang membelanya.


"kenapa kamu malah ikut campur sih? Dan kenapa kamu malah belain Mila?" heran Leo.


Mereka berdua berantem dan tentunya aku tahu penyebabnya adalah aku.


"Harusnya aku yang tanya kenapa kamu belain perempuan kayak dia? Udah jelas-jelas dia itu bermuka dua tapi kamu masih aja belain dia." heran Leo.


"Udah kalian berdua nggak usah berantem. Aku mau pulang sekarang soalnya udah di tungguin." ucapku.


Aku meninggalkan mereka berempat begitu saja. Jujur saja aku tidak peduli dengan mereka karena yang harus aku perdulikan sekarang ini adalah aku harus cepat-cepat pulang ke rumah.


Jika aku terlambat setitik saja mungkin saja kulitku akan ada yang mengelupas nantinya.


"Tuh kamu lihat sendiri kan? Dia itu nggak apa-apa bahkan dia aja bisa lari kayak gitu." ejek Zen.


Mereka berempat melihat ke arah Reta yang sedang berlari ke arah gerbang sekolah.


"Kamu harusnya putus sama dia. karena dia itu benar-benar perempuan nggak baik." celetuk Mila.


Leo langsung mengepalkan tangannya, "Kenapa kalian semua berisik banget sih jadi orang? Kenapa selalu aja nyuruh aku putus sama dia? Ingat baik-baik sampai kapanpun aku nggak akan pernah putus sama dia kecuali dia sendiri yang minta putus ke aku." kesal Leo.


Zen mengeraskan rahangnya. dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh Leo.


Bisa-bisanya dia sampai sekarang masih membela Reta.


"Kamu yakin sama apa yang kamu omongin? kamu jangan sampai nangis-nangis ke kita gara-gara cewek itu!" Zen benar-benar kesal.


"Untuk apa aku nangis? kalian nggak akan lihat aku nangis karena aku sama Reta nggak akan ada masalah lagi." ucap Leo penuh percaya diri.


"Kamu nggak tahu Reta itu kayak gimana orangnya? Dan dia itu jahat." ucap Mila.


"Cuma dipikiran kalian kalau dia itu jahat. Tapi dia pikiranku dia tetap baik dan nggak ada yang bisa ngalahin kebaikannya." bela Leo.


"Ngomong sama kamu memang nggak ada gunanya ya. Pan pada ujungnya kamu selalu aja belain dia. Dan kayaknya kamu memang harus di ruqyah deh. Aku curiga kalau dia itu guna-guna kamu." kata Zen.


ayo sama sekali tidak memperdulikan omongan Zen dan dia langsung pergi.


"Kayaknya kita memang harus diam-diam bahwa dia ke ustad deh untuk di ruqyah." saran Risa.

__ADS_1


"Betul banget tuh di samping rumahku juga ada tuh ustad kita bisa bawa dia ke situ." setuju Mila.


__ADS_2