
Setelah sampai rumah Bu Yura lambung mengajak ku masuk kedalam kamar.
Perasaan ku benar-benar tidak enak bahkan tangan ku sedari tadi tidak bisa berhenti bergerak. Kaki terasa sangat lemas untuk di ajak berjalan. Aku pun merasa kalau badanku berkeringat panas dingin.
Kenapa badan ini bersaksi aneh pada ibu sendiri? Apa ada hal yang enggak aku tahu?
“Bosan?” Tanyanya dengan nada horor.
Aku langsung terduduk di lantai saking takutnya.
“Kamu bilang kamu bosan!” Teriaknya.
Aku reflek menutup kedua telinga ku. Entah mengapa aku menangis begitu saja.
Dahulu menyentuh lantai dan badanku benar-benar bergetar. Apa yang sedang aku lakukan sekarang?
“Ampun, Bu. Reta janji enggak akan nakal lagi. Reta bakalan jadi anak yang baik, anak yang penurut dan enggak akan buat ayah dan ibu kecewa. Reta janji.”
Tiba-tiba terlintas begitu saja kejadian yang sangat memilukan.
Dia di siksa oleh ibunya sendiri. Dan aku baru mengetahui fakta ini. Nyatanya yang ditujukan selama ini hanyalah kebohongan.
Aku tidak tahu bahwa kehidupan aslinya sangatlah memberikan. Pantas saja dia tidak bisa bertahan dan memutuskan untuk bunuh diri.
“Bukankah kamu sudah berjanji kamu tidak akan menjadi anak yang pembangkang? Tapi, kenapa kamu buat ibu kecewa?” tanyanya sambil tersenyum lebar.
Aku sama sekali tidak benari melihat wajahnya. Hanya mendengar suaranya saja sudah membuat ku tertekan.
“Lihat ibu!” teriaknya sambil menjambak rambut ku.
Sakit, sakin banget rasanya. Aku juga enggak tahu apa yang ada di hatiku saat ini rasanya nyesek banget.
“Jangan ulangi lagi. Karena ini enggak tahu apa yang akan ibu lakukan supaya kamu tersadar sama kesalahan mu.” Ancamnya .
“Enggak akan. Reta enggak akan melakukan kesalahan lagi.” Ucapku dengan suara bergetar.
Dia mendorong ku cukup kerasa sehingga aku terjatuh ke lantai.
“Sebaiknya sekarang kamu siap-siap. Kamu harus di hukum.” Ucapnya sambil melemparkan sebuah buku tebal di depan ku.
Aku langsung mengambilnya. Ini adalah buku kumpulan soal-soal olimpiade kimia.
“Kamu harus mengerjakannya karena itu akan membuat mu tidak merasakan bosan lagi.” Ucap Bu Yura.
Aku menundukkan kepalaku sambil memeluk buku yang diberikannya dengan erat.
“Lain kali jangan buat masalah!” ancamnya.
__ADS_1
Setelah itu dia meninggalkan ku sendirian. Kini aku mulai bisa bernapas lega.
“Ku pikir aku akan bahagia disini.” Rengek ku.
Aku melempar buku tersebut ke sembarang arah. Setelah itu aku tiduran di atas kasur sambil memeluk bantal guling.
“Aku enggak mau disini! Aku mau pulang!”
Baru juga aku memejamkan mata, aku sudah berada di meja makan dengan mengenakan baju seragam sekolah.
“Kau denger ayah?” tanyanya.
Aku mendongak dan melihat om-om ganteng yang sedang minum air putih.
Dia menatap ku dengan tatapan membunuh dan aku langsung menundukkan kepala ku.
“Jangan buat ibumu marah karena itu tidak akan baik untuk kulitnya.” Ucap pak Zeri.
“Iya, Reta minta maaf, ayah.” Ucapku .
Bukankah keluarga ini di gambarkan sebagai keluarga yang bahagia? Bukankah ayahnya juga sangat bucin terhadap Istri dan anaknya? Dan ibunya juga sangat penyayang dan tidak pernah marah?
Tapi, kenapa semuanya sangat berbeda? Kenapa aku sama sekali enggak bisa memahami situasi saat ini?
“Ibu akan periksa jawaban mu.” Ucap Bu Yura.
Mampus aku! Aku sama sekali enggak ngapa-ngapain. Dan kalau buku itu masih bersih gimana sama nasibku?
“Ayah enggak mau lagi denger kamu buat ulah! Kalau ayah sampai dengar itu, ayah akan kurung kamu!” ancaman.
Kenapa suami istri sama aja? Sama-sama suka mengancam enggak jelas kayak gini.
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Apa aku tidak bisa bicara? Kenapa aku selalu menganggukkan kepalaku?
“Cepat selesaikan sarapan mu. Ayah dan ibu akan mengantar mu ke sekolah.” Ucap pak Zeri.
Tanganku bergerak dengan sendirinya. Aku makan dengan cepat. Padahal aku hanya mengunyahnya beberapa kali tapi aku langsung menelannya.
Setelah selesai sarapan aku pergi ke sekolah bersama ayah dan ibu. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya membahas tentang pekerjaan dan tidak ada yang mengajakku untuk bicara.
Apakah aku enggak terlihat sama mereka? Apa selama ini Reta hidup kayak gini?
Ku pikir dia adalah orang yang paling bahagia dan jiga orang yang paling bodoh karena menyia-nyiakan Leo dan juga keluarganya.
Sekarang aku mengerti bahwa dia tidak ingin berada di keluarga ini. Jadi wajar saja dia langsung pergi begitu saja ketika ayahnya mengusirnya.
“Tunjukkan senyum mu. Jangan tunjukkan wajah jelek mu.” Bisik pak Zeri tepat di sebelah telinga ku.
__ADS_1
Dan ketika aku melihat wajah Bu Yura dia juga menatap tak suka kearah ku.
Tetapi ketika pintu mobil terbuka aku melihat senyumnya yang menawan dan matanya juga berkerut.
Ternyata kehidupan disini benar-benar penuh dengan kebohongan yang sangat luar biasa dan tidak akan ada orang yang akan menyangka akan hal ini.
kami bertiga turun dari mobil bersama dan semua mata tertuju pada kami.
wah keluarga ini ternyata lebih hebat dari yang aku bayangkan. Wajah ibu yang datar kini berubah bak bidadari dan ayah juga yang terlihat galak kini berubah menjadi penyayang.
"Belajar yang benar ya." ucap Bu Yura sambil mengelus kepala ku dengan lembut.
"Jangan terlalu memaksa, nikmati masa-masa SMA karena enggak akan terulang lagi." ucap pak Zeri.
Aku juga merasa menjadi orang yang bodoh. karena aku tersenyum begitu lebarnya sambil memeluk mereka berdua dengan erat.
"Kami pergi kerja dulu." pamit ayah.
Ayah dan ibu kompak mencium pipiku setelah itu mereka masuk lagi kedalam mobil dan pergi.
Aku masih berdiri di tempat yang sama sampai mobil itu tidak terlihat lagi di mataku.
"Enak banget ya hidupnya." ucap Mila pada Risa.
"Ya enaklah." ucap Risa.
Mataku melihat kearah mereka dan di situ juga ada Leo yang sedang bersanding pada dinding.
Aku tidak menghiraukan mereka dan langsung masuk kedalam kelas.
"Dia lihat kita tapi dia enggak senyum sama sekali?" heran Risa.
"Dia kan pelit banget sama senyum. Sombong orangnya mentang-mentang kehidupannya sempurna banget." jawab Mila.
Leo langsung terlihat masam. Dia sama sekali tidak suka kalau ada orang yang membicarakan Reta.
"Enggak usah ngurusin hidup orang. Lebih baik urusin tuh hidup mu sendiri!" ucap Leo dengan nada pedas.
Risa hanya menghela napas panjang. Ada begitu banyak perubahan sikap dari Leo semenjak dia berpacaran dengan Reta. Dan hal membuatnya menjadi tidak suka.
"Kamu semenjak pacaran sama dia kok makin berubah ya?" jujur Risa.
"Iya, kamu bisa-bisa ketularan kayak dia."celetuk Mila.
Leo tidak perduli dengan omongan Risa dan Mila dan dia memutuskan untuk masuk kedalam kelas.
"kayaknya dia di guna-guna deh."ucap Mila.
__ADS_1
"Ku harap dia enggak papa. Dan bakal balik lagi kayak Leo yang dulu." harap Risa.