Ternyata Dia Cuma Bercanda

Ternyata Dia Cuma Bercanda
Dia Bahaya


__ADS_3

Zen terlihat sangat frustasi. Apa yang aku katakan padanya salah?


"Kalau kamu engga tahu apa-apa tuh mendingan enggak usah bersuara!" kesalnya.


Entah mengapa kita berdua malah duduk bersebelahan sambil bersandar di tembok.


Dan aku juga lupa kalau aku izin ke ibu tuh untuk menghirup udara segar tapi sekarang malah ngobrol bareng Zen.


"Jadi, kamu benci aku karena apa?" tanya ku.


Kayaknya kalau ingin mengetahui rahasia seseorang kita mengajaknya ngobrol di malam hari maka dia akan dengan sendirinya mengatakan apa yang sedang ia pikirkan.


"Hidupmu terlalu sempurna." jawabnya sambil memejamkan mata.


Terlalu sempurna? Dulu aku juga mikir kalau hidup Reta itu sempurna dan enak banget.


Tapi setelah aku jadi dia sekarang aku sadar kalau hidup yang terlihat itu cuma sandiwara. Enggak ada tuh yang namanya kasih sayang orang tua, enggak ada tuh yang namanya ketenangan dan kebahagiaan.


Yang ada hanya rasa cemas kalau ibu dan ayah ada di rumah. Rasa cemas ketika sudah mengantuk tapi belum menyelesaikan soal-soal yang diberikan.


Dan ada begitu banyak ketakutan di pikiran ku sekarang ini.


"Kamu pintar jadi guru selalu membela mu walaupun kamu salah. Orang tuamu juga sayang sama kamu. Dan kamu enggak perlu berjuang untuk mendapatkannya." lanjutnya.


Semua itu butuh perjuangan. Dan ketika kita lengah maka perjuangan kita sebelumnya akan dilupakan begitu saja.


"Sedangkan aku? Enggak ada yang bisa di banggakan dan enggak ada alasan untuk ayah bangga sama aku." ucapnya.


Kehidupan karakter disini terasa sangat nyata. Sampai aku merasa bahwa aku adalah bagian dari mereka.


"Kamu engga tahu apa-apa tentang ku." ucapku sambil tersenyum.


Dia menatap ku dan aku pun balik menatapnya.


"Semua yang kamu lihat itu cuma manipulasi mata. Beda jauh sama kenyataannya dan aku yakin kamu engga akan percaya. Karena sejak awal kamu menanamkan pada otak mu kalau aku jahat." ucapku.


Kadang tanpa sadar kita terbawa suasana dan mencerahkan keluh kesah kita.


Kita mengatakan kita tidak butuh tempat bercerita. Tapi ketika ada satu orang yang membuat kita nyaman tanpa sadar mulut ini lancar menceritakan permasalahan yang sedang terjadi.


"Enggak usah ngarang." ejeknya.


Aku tahu dia tidak akan percaya dengan apa yang aku ceritakan tapi anehnya aku tetap mau cerita.

__ADS_1


Karena aku sudah lelah memendamnya sendirian. Dan walaupun dia anggap aku pembohong ya enggak papa. Jadinya aku bisa cerita semuanya dan dia enggak akan anggap kalau cerita itu nyata.


"Kamu tahu kalau ingin di sayang orang tua dan di bela sama guru kamu harus menjadi seperti yang mereka harapan." ucapku.


"Untuk apa? Kurang kerjaan banget. Kalau gitu mendingan enggak usah buat mereka bangga dan sayang sama kita. Dan kita bisa bela diri sendiri walaupun mereka enggak bela kita." komen Zen.


Ada sebagian orang yang menganggap itu gampang. Tapi kenyataannya kita membutuhkan itu. Kita butuh kasih sayang orang tua walaupun kita sendiri tersiksa dalam mendapatkannya.


"Kamu tahu aku orang yang sibuk. Sibuk membuat orang tuaku bangga dengan ku. Aku belajar lebih dari teman-teman kita. Setelah pulang sekolah harus bimbel ini itu. ketika malam pun harus tetap belajar." ucapku.


Rahasia kelam orang yang selalu ingin membanggakan orang tua dengan mengorbankan kebahagiaannya sendiri.


"Waktu tidur berkurang tapi harus tetep sekolah di pagi hari. Siang hari yang panas harus tetap belajar. Sore hari yang santai harus dimanfaatkan untuk bimbel. Malam hari harusnya beristirahat malah di sodorkan kertas soal-soal. Terkadang tidur pun bukan di kasur yang empuk tapi di meja belajar." tawaku.


Ini adalah pengalaman hidup yang tidak akan pernah bisa ku lupakan. Mu pikir orang pintar itu karena turunan nyatanya itu juga butuh perjuangan.


Enggak ada yang namanya instan yang ada adalah perjuangan. Perjuangan untuk mendapatkan yang kita mau.


"Makan? Banyak makanan yang enak tapi selalu di muntahkan. Benar-benar hidup yang berat." tawaku.


Zen hanya dia saja. Dia terkejut dengan fakta yang baru ia tahu.


Selama ini ia berpikir bahwa kehidupan Reta adalah kehidupan yang diimpikan semua orang.


Tapi, kenyataannya kehidupannya juga berat. Dia pandai menyembunyikan masalahnya dan itu cukup luar biasa.


Aku merasa lelah bercerita sehingga aku memilih diam. Zen juga diam saja.


Cukup lama kami diam dan pada akhirnya aku sadar bahwa aku harus kembali ke tempat ku.


"Aku pergi dulu." ucapku sambil berusaha berdiri.


Rasa sakitnya sudah mulai berkurang dan aku sudah siap akan kena omel nantinya.


"Sakit beneran?" tanya Zen.


Nada bicaranya kini berubah menjadi lebih lembut.


"Enggak kok." jawabku.


Aku berjalan di depannya dan dia langsung menarik tangan ku.


"Baju mu ada bekas darah." kagetnya.

__ADS_1


"Enggak ada tuh." ucapku setelah melihat-lihat baju ku.


"punggung mu berdarah." ucapnya.


"Oh, enggak papa. Santai aja, entar di kasih salep juga bakalan kering lukanya." ucap ku dengan santainya.


Zen tidak melepaskan tangan ku. Dan aku merasa aneh. Padahal dia bukan tipe orang yang suka sentuhan.


"Apa karena aku dorong kamu?" tanyanya.


Aku langsung menggeleng, "bukan karena kamu. Punggung mu memang ada luka. Tapi, enggak parah kok." jawab ku.


"Karena apa?" tanyanya.


Aku aja enggak tahu kenapa badan ini bisa lebih luka. Tapi, pintarnya luka itu hanya ada di bagian punggung saja. Wajah, kaki dan tangan mulus.


"Jatuh." bohong ku.


Zen tidak akan mungkin percaya dengan semudah itu. Dan aku harus jawab apa untuk meyakinkannya?


Orang keras kepala jika di hadapkan dengan orang yang keras kepala juga ujungnya akan jadi apa ya?


"Enggak mungkin karena jatuh. Sebenarnya itu karena apa?" tanya Zen penasaran.


Aku sedang berpikir mau jawab apa. Tapi tiba-tiba tangan ku di tarik sama seseorang sehingga genggaman tangan Zen lepas gitu aja.


"Kenapa kalian berdua disini?" tanya Leo dengan raut wajah yang menyeramkan.


"Ada yang harus di bahas sama dia." jawab Zen.


Leo menata tajam kearah Zen, "sejak kapan kamu punya urusan sama Reta?" tanya Leo lagi.


Zen menghela napas kemudian dia melihat kearah ku yang mencoba menahan sakit.


"Lebih baik kamu bawa pergi dia sekarang. Dia lagi sakit." ucap Zen mengalah.


Aku dan Leo bertatap dan dari situ aku sudah bisa membaca kalau dia bertanya apa aku baik-baik aja apa enggak.


"Aku enggak papa." ucapku.


"Jangan berduaan sama dia. Dia bahaya." ucap Leo.


Setelah itu aku dan Leo pergi meninggalkan Zen sendirian.

__ADS_1


"Bahaya? Yang bahaya itu kamu bukan aku." tawa Zen.


Ada begitu banyak rahasia yang belum terkuak sampai sekarang. Dan itu adalah hal yang tidak pernah di duga sebelumnya.


__ADS_2