
Rumah bergaya zaman kolonial. Dinding yang dibuat layaknya benteng, terbuat dari susunan batu-batu hitam bersemen kokoh menjadi pondasinya. Atap rumah yang lebih kerucut mirip rumah-rumah khas eropa di era pertengahan. Jendela-jendela dari kaca bingkai enam seakan itu adalah mata-mata dari bangunan tersebut.
Halamannya juga luas dan lantai berubinkan keramik berbahan semen dan pasir yang diberi pewarna coklat agak pudar. Tua sekali, kesannya begitu ketika memutuskan untuk membeli rumah yang mereka pikir, cocok untuk keluarga kecil ini.
Terdiri dari ayah, ibu yang sedang mengandung anak ketiga, dan dua orang anak laki-laki berusia empat belas dan tujuh tahun. Masih imut dan belum paham benar dengan keputusan orang tua mereka membeli rumah peninggalan Belanda itu.
“Deal ya,” ucap Dien.
“Mudah-mudahan, Nak Dien dan keluarga betah tinggal di sini,” ujar Adun, makelar rumah, sibuk mempersiapkan surat-surat yang telah disepakati sebelumnya.
“InsaAllah, Pak Adun. Saya dan keluarga merasa cocok dengan rumah ini. Seperti berjodoh.”
Adun tersenyum puas dengan kesepakatan itu, mengulurkan tangan, bersalaman lantas pergi membawa amplop coklat berisi uang pembayaran.
“Ayah jadi juga beli rumah ini?” Risma mendekati Dien yang sedang memeriksa surat-surat, setelah dirasa benar, dimasukannya ke dalam map jadi satu bundel.
“Kapan lagi punya rumah sendiri. Ini murah, Bun. Mana perlengkapannya antik lagi. Ayah serasa hidup di masa dulu, saat masih muda, haha...,” gelaknya renyah.
“Masa prasejarah maksudnya?” balas Risma, “Bunda sebenarnya kurang setuju, Yah. Rumahnya kok rada-rada aneh.”
“Bunda itu terlalu penakut. Nanti, Ayah renovasi sedikit biar tak terlalu terkesan kompeni. Pasti Bunda takut karena sering dengar cerita-cerita kalau rumah peninggalan Belanda itu banyak hantunya, ya kan?”
“Tapi, benar kok Yah,” helanya menyerah.
Keinginan Dien untuk membeli rumah ini amat besar. Dari sebelum-sebelumnya, suaminya itu sudah kukuh ingin memiliki rumah Adun yang katanya penuh dengan gaya artistik kuno dan memiliki nilai sejarah kuat. Tapi, Risma justru berkebalikan, rumah seperti itu dinilainya sebagai museum yang tentunya beraroma mistis. Terlebih, saat ia mendengar selentingan yang tak enak didengar.
Di rumah itu, katanya sering terlihat penampakan-penampakan. Saksinya juga tak sedikit. Dahulu saja, sebelum Dien membeli rumah itu, sudah tiga keluarga yang memutuskan untuk menjual kembali pada pemiliknya yang lama, Adun. Itu karena mereka tak betah tinggal lebih lama.
Mereka kerap diganggu dengan penampakan-penampakan yang tak masuk akal.
“Benar apanya? Bunda ini... itu cerita orang-orang kan? Pak Adun sendiri belum pernah lihat yang kata orang ada penghuni gaib di sini.”
“Ah, Bunda nyerah. Terserah Ayah saja, capek!” gerutunya, “Adek nanti jangan kayak Ayah ya, keras!” Risma mengelus-elus perutnya yang buncit.
“Loh, kok jadi Ayah. Adek jangan dengerin Bunda ya, kalau nanti laki-laki lagi, harus tampan kaya Ayah, kalau perempuan... jangan bawel kayak Bunda,” balasnya sambil mengelus-elus perut Risma.
“Hih!” tandasnya geretan, “mudah-mudahan saja, Bunda dan anak-anak betah tinggal di sini.”
__ADS_1
“Ya, pasti betah. Kita pindahan lusa saja. Anak-anak masih di rumah Eyangnya, masih kangen. Di sini kan enak Bun, dekat sama Bapak, Eyangnya anak-anak. Bunda juga ada yang jaga kalau Ayah tidak di rumah.”
Risma tak menggubris.
Ia malah tertarik dengan sesuatu.
Dari arah paling dalam, kebetulan mereka sedang berada di ruang depan. Risma menangkap sosok bayangan, berjalan berkelebat, selewatan.
Seketika bulu kuduk itu meremang. Kata orang tua dulu, wanita yang sedang mengandung memang memiliki aura yang peka dengan kehadiran sosok-sosok tak kasat mata. Begitu juga sebaliknya, mereka juga akan sangat tertarik dengan wanita hamil karena dirasa memiliki aroma yang menyenangkan.
Untuk itulah, kemudian mitos-mitos bermunculan, seperti larangan keluar magrib, membunuh binatang, pergi ke kuburan atau ziarah dan potong rambut. Atau lebih aneh lagi, diwajibkan wanita hamil membawa benda tajam berukuran kecil, seperti silet, peniti atau pisau lipat. Mungkin dengan benda-benda tajam kecil macam itu, makhluk gaib ogah bikin ulah sebab mereka takut kecucuk. Tapi, kalau orang hamil bawa benda tajam ukuran besar seperti golok, makhluk-makhluk itu justru malah serasa ditantang buat adu silat, mungkin.
Sosok yang melintas itu, kemudian kembali menampakan dirinya, melintas dan kali ini, ia berhenti, menatap Risma yang terkesima dengan senyumnya.
Risma tak merasakan keramahan di garis bibir itu, yang ada, tak hentinya bergidik dan menepuk-nepuk bahu Dien sedang matanya masih fokus pada sosok itu.
“Yah, Ayah!” panggil Risma panik.
“Ada apa sih, Bun?”
“Itu, Yah! Itu. Ayah lihat itu?”
“Lihat apa, Bun?”
Sosok itu lenyap seketika.
“Tadi, ada perempuan Ayah. Dia berpakaian ala noni. Rambutnya rada keriting pirang. Aduh Yah, belum pindah saja sudah bikin Bunda ketakutan, bagaimana nanti Yah?” Risma gelagapan.
“Bunda tidak usah terlalu paranoid. Mereka itu hanya jin yang menyerupai wujud-wujud yang pernah mendiami rumah ini sebelumnya. Kalau kita takut, artinya mereka akan semakin leluasa menakut-nakuti kita. Ingat kan, jin itu akan sangat kecil kalau manusia tidak takut, tapi kalau mereka ditakuti, ukurannya akan bisa sebesar rumah.”
“Tetap saja, Yah, yang namanya rasa takut itu bakal muncul kalau ada penyebabnya. Bunda gak mau ah tinggal di tempat seperti ini.”
“Kalau tidak di sini, mau ke mana? Kita selamatan Bun biar mereka bisa keluar dari rumah ini. Bukan tempatnya jin-jin itu menempati tempat manusia.”
Kekerasan Dien tak bisa dilawan. Risma terpaksa mengalah demi ikut suaminya. Bagaimana pun, seorang istri harus ikut suaminya. Apa kata orang kalau suami istri tinggal saling berjauhan. Ini dunia timur yang masih menjunjung tinggi nilai agama dan norma. Lagi pula, Risma juga butuh perhatian Dien untuk mempersiapkan kelahiran anak ketiga dan juga membesarkan anak-anaknya. Kalau saling berjauhan hanya karena rumah yang dirasa angker, itu akan jadi alasan konyol nantinya pada tumbuh kembang anak yang tidak akan seimbang.
Rumah tangga aneh yang harus saling berpisah hanya karena takut makhluk gaib.
__ADS_1
Sosok itu segera dilupakan.
Risma berpikiran positif untuk tidak terlalu dijajah ketakutannya.
Setelah dirasa semuanya cukup, mereka meninggalkan rumah itu. Sesosok bayangan menyusup masuk ke dalam. Hitam dan tak jelas. Di dalam, entah apa yang dilakukan sosok itu. Namun, tak berapa lama, sosok itu pun lenyap bak ditelan bumi.
**
Hari kepindahan tiba.
Dien dan keluarga membawa barang-barang yang diangkut menggunakan mobil pick up sebanyak dua buah. Para tukang sibuk menurunkan barang-barang dan memasukkannya ke dalam.
Dien mengatur tata letak barang-barang yang dibawa. Sementara, Risma berserta yang lain sibuk memberi jamuan untuk tukang.
“Eyang, nanti Fariz lebih deketan, jadi bisa main ke rumah Eyang,” ucapnya, anak kedua Dien yang masih berusia tujuh tahun duduk di pangkuan Sanusi.
“Eyang juga bakal sering-sering nginap di sini.”
“Asyik, Eyang nginap,” Fariz menepukkan tangan.
“Asal jangan tidur di kamarku! Aku gak mau tidur bareng Eyang,” protes Firly.
“Loh, kenapa Kak?”
“Eyang kalau tidur ileran, ditambah suka ngorok. Jijik tahu!” celetuknya.
Sanusi mengekeh lantas menciumi Fariz sebab Firly malah menjauh ketika eyangnya mengulurkan tangan.
Anak remaja seusianya memang sudah bisa berpikir ke arah dunia dewasa, meski masih tanggung. Dipikirannya, hal-hal semacam itu masih untuk anak-anak, ia sudah gede. Malulah.
“Kamu sama Fariz tidur sekamar,” celetuk Risma membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil.
Firly melongok, matanya membesar, “Idih! Bunda, masa aku sekamar sama Fariz? Aku sudah besar loh Bun, butuh kamar pribadi,” protesnya.
“Kalau adikmu sudah berani tidur sendiri, Bunda ijinkan. Firly, adik kamu itu masih takut tidur sendiri. Kalau tidur bareng Ayah sama Bunda, gak bisa.”
“Huh!” protesnya, dijitaknya kepala Fariz sampai adiknya itu mendadak bercucuran air mata.
__ADS_1
“Firly!” sergah Risma.
Ia cuek saja, berlalu menuju kamar yang jadi pilihannya.