
Dien ditemani ustaz Mustafa melakukan ritual untuk menjemput kembali Firly. Rumah itu lebih terasa sekarang keangkerannya, mungkin itu yang terpikirkan oleh Dien setelah begitu kukuhnya dia mempertahankan prinsip. Namun, dengan dibawanya Firly ke alam yang berbeda, yang kata ustaz Mustafa merupakan salah satu penghuni gaib rumah ini, Dien mulai mempertimbangkan untuk membawa keluarga kecil itu keluar dari sana.
“Pak Dien sudah siap?” tanya ustaz Mustafa saat berada di halaman depan. “Saya rasa, siluman itu menyembunyikan Firly di sekitaran halaman belakang.”
“Area itu memang sangat aneh. Saya rasakan sendiri bagaimana hawa di sana tak enak.”
“Menurut Karen, kerajaan siluman yang membawa Firly ada di area dekat sumur tua. Kita harus ke sana.”
“Karen,” lenguh Dien pelan, “Pak Ustaz percaya dengan adanya reinkarnasi?” tanya Dien sambil jalan menuju halaman belakang.
“Reinkarnasi ya, Pak Dien? Kalau menurut agama kita, reinkarnasi itu tidak ada sama sekali. Allah menciptakan manusia itu sesuai dengan takarannya baik itu kelahiran, kematian, rezeki, dan ketika mereka sudah di dunia, manusia memiliki tugas untuk menjalankan semua yang telah ditetapkan-Nya. Setelah tiba waktu kematiannya, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya masing-masing dan tak akan ada kesempatan lagi untuk kembali ke dunia bagaimana pun dia berusaha.”
“Tapi, saya merasa telah mengenal Karen. Maksudnya, saya merasa punya kenangan kuat dengan sosok itu.”
Ustaz Mustafa berhenti sejenak, “Pak Dien, saya tidak ingin berperasangka. Menurut sepengetahuan saya, golongan jin dan iblis itu memiliki banyak cara untuk menyesatkan manusia. Mereka tak akan henti-hentinya mencari cara agar manusia lupa akan tugas utama mereka di dunia. Saya sering kali menemukan kasus-kasus seperti Pak Dien. Rata-rata mereka merasa dekat dengan sosok-sosok halus yang padahal, itu adalah salah gangguan yang telah mereka sebarkan untuk mengelabui manusia.”
“Lalu saya harus bagaimana, Pak? Apa perlu rukyiah?”
“Kalau Pak Dien mau, bisa. Tapi, sekarang kita jemput dulu Firly. Lagi pula, saya merasa Karen itu ingin menyampaikan sesuatu pada keluarga Pak Dien.”
Angin yang bertiup, terseok-seok seakan embusannya membawa peringatan agar mereka tak menginjakkan kaki di sana. Namun, itu tak menyurutkan niatan keduanya, sama sekali. Meski angin malah bertambah kencang, meniupkan daun-daun kering kecoklatan.
__ADS_1
Ustaz Mustafa berhenti, melantukan ayat-ayat sembari memainkan bulir-bulir tasbih yang ada di tangan. Terpaan angin itu semakin mengencang ditandai gema dari lolongan anjing yang entah dari mana asalnya. Dien memperhatikan, matanya menangkap bayangan hitam yang cepat menyelinap di antara pepohohonan yang ada di sana.
“Kalian sudah memasuki wilayah kekuasaanku. Itu artinya kalian telah menantangku. Pergi atau aku akan kerahkan semua anak buahku untuk menangkap kalian!” gema suara itu tak bertuan, tapi cukup jelas terdengar.
“Bagaimana sekarang, Pak?”
“Pak Dien tak usah takut. Mereka hanya menggertak. Tiada satu kekuatan pun yang bisa menandingi kekuasaan Allah,” lirihnya. Ustaz Mustafa dengan penuh keyakinan melangkah menuju pohon tua yang menaungi sumur itu, “hai penghuni kerajaan di tempat ini, aku minta secara baik-baik sukma manusia yang telah kamu tahan!” sergahnya sembari terus berdzikir dan memainkan bulir-bulir tasbih.
“Apa kuasamu memerintahku?!”
“Aku hamba Allah yang ingin mengembalikan apa yang telah Allah berikan pada manusia. Kalian tidak berhak menahan jiwa anak itu.”
Gema tawa menggelegar tersapu angin, “aku tidak akan memberikannya pada kalian. Kalau kalian menantang, akan aku layani.”
Dien dibuat terperanjat dengan penampakan yang ada setelah mata batin itu berhasil terbuka. Halaman belakang yang tadinya disesaki perdu dan pohon berukuran besar, rupanya itu sebuah jalan dengan gapura berhiaskan patung kepala anjing. Di sana pula terlihat keramaian dari makhluk-makhluk yang selama ini hanya dianggapnya tahayul.
“MasyaAllah, Pak!” pekiknya.
“Ini salah satu kekuasaan Allah, Pak Dien. Tapi, kita tidak usah takut karena Allah yang pantas kita takuti. Mereka hanya makhluk, sama seperti kita. Mari Pak Dien, jangan lengah dan tetap menyebut asma-Nya dalam hati.”
Dien menurut. Ke mana pun ustaz Mustafa melangkah, ia pasti mengekor meski matanya kerap tertuju pada pemandangan-pemandangan yang membuatnya cukup ciut. Di sepanjang perjalanan, ditemuinya berbagai penampakan yang selama ini hanya didengarnya dari orang-orang. Wanita berpakaian putih panjang dengan rambut memanjang pula, orang dengan perut besar dipenuhi bulu-bulu menghitam, anak-anak yang berlarian, tetapi mereka memiliki telinga yang panjang mirip kurcaci, dan banyak lagi makhluk-makhluk percampuran antara manusia dan hewan.
__ADS_1
Mereka tak menganggu Dien maupun ustaz Mustafa, sama sekali. Malahan, Dien heran kenapa makhluk-makhluk itu begitu cuek padahal mereka termasuk asing untuk ukuran makhluk-makhluk itu. Begitu juga saat Dien melewati sebuah pasar yang iruk pikuk oleh banyaknya makhluk-makhluk halus dan para penjaga yang berwujud setengah anjing dan manusia, mereka seolah-olah tak melihat keduanya.
“Pak Ustaz, mereka sepertinya tak melihat kita?” tanya Dien menyadari keadaan itu.
“Ya, Pak Dien. Mereka memang tidak melihat kita. Lewat pertolongan Allah, kita seolah-olah transparan di mata makhluk-makhluk itu. Pak Dien tetap tenang, jangan sampai menimbulkan kecurigaan sebab kalau sampai mereka tahu, kita bisa-bisa tidak akan pernah bisa kembali ke dunia manusia.”
Dien menelan ludah membayangkan kalau itu terjadi. Ia lantas tak berkata apa-apa, hanya sesekali memperhatikan pemandangan-pemandangan yang tak lazim kalau pemandangan itu ada di dunia manusia. Ada pula benda-benda yang sama seperti di dunia manusia, tapi ukurannya terlihat begitu besar.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di pintu gerbang istana berbatu hitam. Para pengawalnya begitu gagah dengan perawakan tinggi besar dan otot-otot yang terlatih, tapi kepala mereka berupa kepala anjing.
“Ini istananya,” lenguh ustaz Mustafa. Ia lantas membaca doa dan seketika itu juga, sosoknya bisa terlihat, begitu pula Dien. Para penjaga dibuat kaget bukan kepalang. Tanpa menunggu perintah, mereka langsung saja menyerang. Dien begitu kaget mendapati serangan para penjaga yang tiba-tiba. “Allahu Akbar!” dari kedua telapak tangan ustaz Mustafa, muncul sinar putih yang langsung menghempaskan para penjaga.
Suara lenguhan terdengar dari mereka diikuti runtuhnya pintu gerbang akibat hantaman tubuh para penjaga.
Para penjaga lainnya turut berdatangan dengan satu sosok yang memimpin.
“Kalian berani sekali mengacau di istanaku!” geramnya.
“Kami sudah memintamu baik-baik. Kami terpaksa melakukan ini karena kalian yang meminta.”
Sosok itu menggeram, marah dengan ustaz Mustafa yang dianggapnya telah mengibarkan bendera peperangan.
__ADS_1
“Aku tidak akan mengampuni kalian! Para prajuritku akan menangkap kalian dan aku akan menjatuhkan hukuman mati! Daging-daging kalian akan jadi santapan rakyatku,” ujarnya disusul gemuruh tawa.
Ustaz Mustafa menanggapinya dengan senyum kecil. Namun Dien begitu gemetaran, ketakutan dengan banyaknya prajurit yang ada. Ustaz Mustafa merapalkan doa-doa, lalu dari kedua telapak tangannya muncul cahaya putih yang membuat makhluk-makhluk itu ragu untuk meyerang.