Teror Di Rumah Belanda

Teror Di Rumah Belanda
Darah Karen (18)


__ADS_3

Asap dari pendupaan mengepul ketika serbuk-serbuk mirip kristal ditaburkan di atas bara. Seketika tercium aroma harum khas kemeyan bersama asap. Adun komat-kamit membaca mantra-mantra di balik pohon besar itu.


Asap di pendupaan mulai memudar, terhempas angin yang kencang. Seiring dengan itu, Adun mendadak tak bergerak, matanya tertutup dan tubuh itu telah ditinggalkan.


**


Firly begitu sedih dengan ketiadaan Dien dan Risma. Ia amat kangen dengan kejahilannya membuat Fariz menangis meski disadarinya juga kalau apa yang dilakukan itu salah, dan jahat. Namun, semua itu benar-benar membuatnya merasa dekat dengan Fariz.


“Ayah, Bunda... aku ingin pulang,” ringisnya di balik kamar tahanan.


Matanya berkaca-kaca, menerawang ke arah luar terali, berharap seseorang akan datang. Sejurus kemudian, langkah kaki dan bayangan seseorang terlihat. Firly begitu senang sebab harapannya tak sia-sia. Mungkin yang datang itu Dien, menjemputnya pulang.


Tapi sayang, yang diharapkan sama sekali tak ada.


“Loh-loh, kamu nangis ya?”


“Ah, Bapak kan yang aku lihat di halaman belakang dan di kamar mandi itu. Pak...,” ucapnya keburu terhenti karena lupa dengan nama orang ini.


“Masih ingat toh?! Makanya, jadi anak jangan kurang ajar sama orang tua. Kamu tanggung sendiri akibatnya.”


“Ah, aku ingat. Pak Adun!” sergah Firly, “untuk apa kemari. Aku curiga, Bapak ada hubungannya ya sama siluman itu?”


Adun tergelak, “kamu pinter! Siluman-siluman itu peliharaanku. Aku sengaja menempatken mereka di rumah itu buat nakut-nakuti semua penghuni rumah itu. Siapa saja yang menghuni rumah itu, pasti akan aku usir secara halus.”


Meski masih remaja tanggung, tapi Firly cukup mengerti dengan maksud Adun, “Bapak sengaja melakukan itu? Bukannya rumah tua itu sudah ayah bayar sepenuhnya?”

__ADS_1


“Kamu memang pinter. Aku ndak ingin rumah itu jadi milik siapa pun. Di rumah itu ada harta karun peninggalan VOC. Aku juga ndak tahu menir Van Lucock menyimpan hartanya di mana. Nah supaya orang ndak curiga, makanya aku sengaja jadi makelar rumah itu. Jual ke orang lain setelah ditempati aku suruh piaraanku ganggu mereka supaya rumah itu kembali dijual. Aku ken untung toh, dapat harga murah dari mereka?”


“Licik, mirip piaraan Bapak!”


“Anak semprul, kurang ajar! Kamu ndak akan aku bebaskan.” Adun lalu memanggil beberapa pengawal untuk membawa Firly dari tempat itu. Dengan amat ketakutan ia mencoba melawan, tapi tak ada gunanya. “Bagusnya, aku beriken kamu sama peliharaanku. Biar mati sekalian di sini.”


“Aku mau pulang! Ayah Bunda,” isak Firly.


“Ndak akan ada yang nolong kamu! Pasrah saja.” Saat Firly hendak dibawa keluar gerbang istana, Karen muncul menghalangi. “Setan betina! Kamu mau apa menghalangi jalanku?”


Karen menatap Adun tajam, memancarkan kengerian. Aura yang terpancar di sekitaran berubah dingin dan lebih terasa mencekam. Adun tak gentar, sama sekali. Mulutnya komat-kamit, tapi lama-lama, secara pasti, keberaniannya mulai memudar.


Adun merasakan itu, ia berjalan mundur mana kala Karen semakin memperlihatkan aura keseraman.


“Ik tidak akan tinggal diam bila keturuanan Ik, kamu ganggu! Dalam darah anak itu, ada darah Ik.”


“Kamu dan leluhurmu dari dulu memang mengincar harta yang disembunyikan sampai kalian rela jadi pengkhianat bangsa sendiri!”


“Kamu ndak tahu apa-apa! Leluhurku itu pahlawan sejati. Dia tidak pernah ingin kekayaan bangsa ini dikuasai orang asing.”


Karen menggeram, “kamu memang pandai bicara, persis leluhurmu! Radya tertangkap itu karena kalian yang jadi spionase. Kalian telah mengkhianati pergerakan yang telah direncanakan sebelumnya.”


Adun tertawa, “apa ndak lucu? Kamu sendiri malah berpihak pada Radya, memberikan banyak informasi penting tentang VOC. Kamu sama saja seperti leluhurku, pengkhianat bangsa sendiri.”


Karen menatap lebih tajam, menyebarkan aura lebih suram dan membuat suasana berubah kelam, “onbeschaemd vercke!”

__ADS_1


Adun bisa melihat bagaimana sekitaran Karen berubah hitam pekat. Kumpulan energi begitu kuat memancar dan terasa dingin. Sekitaran ikut pula terasa bergetar. Adun sebisa mungkin merapalkan mantra-mantra untuk melawan kekuatan yang terpancar.


Aduh Setan betina ini kuat sekali! Pantas raja siluman anjing ndak mau punya urusan. Kalau begini terus, aku bisa-bisa mati konyol, batinnya mulai kelabakan menahan setiap serangan aura yang terpancar.


Firly sampai bergetar hebat saking takutnya dengan aura yang meluap.


“Karen, kamu mau anak ini mati di sini?!” ancam Adun memegangi Firly kuat-kuat. Karen tak menggubris, tatap matanya justru makin mengganas, “oh, kamu ndak sayang ya sama cicitmu? Bukannya dia ini masih keturunan Radya?”


Karen tertegun, mengingat nama itu disebut, batinnya bergejolak. Radya, satu-satunya alasan kenapa dia begitu tak tenang meski kematian telah menjemputnya puluhan tahun lalu. Satu keinginan yang membuatnya harus mengembara di dunia manusia. Menjadi makhluk yang tak bisa diterima di dunia ini, tak jelas arah dan tak bisa pergi dengan damai sebelum keinginan itu tuntas terpenuhi.


Aura hitam yang semula pekat, perlahan mulai pudar. Hawa di sekitaran ikut pula tenang. Karen hanya bisa menatap Adun saat segera beranjak membawa Firly. Ia tak mungkin bisa menyakiti keturunannya sendiri. Adun paham benar dengan kelemahan itu dan memanfaatkannya dengan sangat baik.


“Hihi... kamu ada gunanya juga,” ringkihnya merasa menang.


“Bapak ini benar-benar licik! Padahal, aku sudah berharap kalau tadi, wanita itu melakukan sesuatu. Apa kek.”


“Dasar semprul! Kamu ndak tahu ya? Kalau tadi Karen nyerang aku, kamu juga bakal kena. Bisa-bisa, kita berdua ndak akan bisa lagi lihat matahari besok.”


“Aku gak peduli tuh. Toh sama saja kan? Mau aku masih ada di situ atau nggak, Bapak pasti gak bakal lepasin aku. Bukannya Bapak bilang, aku mau dikasihkan ke peliharaan Bapak.”


“Bocah semprul! Pinter juga. Tapi, Karen ndak tahu. Yang penting, aku bisa selamat dari Setan betina itu. Urusan kamu, aku ndak mau panjang-panjang. Yang penting, Bapakmu segera pindah dari rumah itu. Siapa tahu kalau kehilangan kamu, Bapakmu ndak bakal keras pertahankan rumah itu dan buru-buru jual.”


Adun terbahak-bahak dengan rencananya itu. Jenius, itu yang tertanam dalam otaknya. Mengelabui orang-orang yang berminat dengan rumah itu dengan cara menjual pada mereka dengan harga tinggi. Setelah itu, ia sengaja mengirimkan siluman peliharaannya untuk mengganggu penghuni rumah, membuat mereka tak betah dengan berbagai cara. Kemudian, dengan sedikit melakukan drama, ia akan tampil sebagai penyelamat. Menawarkan bantuan untuk kembali membeli rumah itu dengan harga miring.


Di tengah kegembiran Adun yang memikirkan keberhasilan rencananya, Firly mendapat jalan untuk lepas. Sengaja diinjakkannya kaki pada kaki tua Adun. Sangat keras sampai Adun mengaduh, melepaskan eratan tangannya pada Firly karena harus memegangi kaki yang diinjak,

__ADS_1


“Bocah semprul! Turunan Setan!” umpatnya penuh marah, tapi Firly tak peduli dan cepat-cepat lari dari Adun. “Aku ndak akan biarken kamu kabur!”


__ADS_2