Teror Di Rumah Belanda

Teror Di Rumah Belanda
Di Negeri Siluman (13)


__ADS_3

Firly kebingungan sekaligus takut saat menyadari dirinya berada di tempat tak dikenal. Dia ditempatkan di sebuah kandang besar, berjeruji besi ditandu orang-orang berperawakan hitam legam, tinggi besar, dan memiliki bulu-bulu halus dan juga dua orang penjaga yang memiliki perawakan serupa. Mereka sama-sama memiliki moncong dengan dua taring mencuat, persis anjing.


Firly mencoba bergerak karena dirasanya kaku akibat tangan dan leher yang dirantai.


“Mau dibawa ke mana tawanan ini?” tanya salah seorang penjaga yang menandu kandang berisi Firly. Suaranya begitu berat dan besar.


“Bawa pada Yang Mulia raja kita!”


“Dia ini tumbal?”


“Bukan. Hanya tawanan. Kita tidak boleh mengganggunya sampai ada perintah dari Yang Mulia.”


Sepanjang perjalanan, Firly disuguhi pemandangan menakjubkan sekaligus ngeri. Dia melihat gerombolan orang sedang melakukan kegiatan layaknya pasar, hanya saja di sana barang-barang yang dijual jauh di luar kenormalan. Ada yang mejajakan bangkai-bangkai binatang, tulang belulang, dan yang lebih membuat Firly pucat ialah satu lapak yang menjajakan daging-daging manusia sebagai bahan dagangan.


Daging-daging itu digantungkan utuh dalam pengait besar, tanpa kepala sebab kepala itu dipajang tepat di meja dagangan yang terbuat dari batu hitam legam. Firly benar-benar ingin berteriak melepas rasa takut, tapi dia tak bisa melakukan itu. Napasnya secara mendadak terasa sesak saking tak kuatnya melihat kengerian yang ada.


Ayah, bunda kalian di mana? Jerit batinnya.


Para pengawal membawanya ke satu tempat yang lebih aman, setidaknya itu yang ada dipikiran Firly. Tempat itu tak terlalu ramai, tapi ada kesan megah yang tertangkap. Dari gerbang istana, berdiri dua penjaga. Gapura terbuat dari batu onix hitam, bertahtakan emas pada huruf-huruf kuno. Pintu gerbang memiliki ukiran kepala anjing hitam besar, bergerendel bulat dari emas. Kepala anjing terbagi dua saat gerbang terbuka.


Firly terkagum-kagum dengan pemandangan di dalam.


Taman-taman hijau tertata rapi. Di tempat masuknya ada patung-patung besar berbentuk manusia berkepala anjing, saling berhadap-hadapan. Di taman itu pula terdapat air mancur dengan kolam berbentuk piring besar. Sangat mirip tempat minum, airnya pun biru jernih sehingga orang akan betah berlama-lama di sana. Jalan-jalan setapak maupun jalan utama, berkelip sebab dilapisi batu-batu bacan dan kalimaya.


Di ujung taman, terlihat ruangan terbuka.


Firly terbelalak dengan kehadiran sosok yang duduk di singgasana. Dia begitu tinggi, memiliki otot setara pegulat professional dengan bulu-bulu halus hitam tumbuh di sekujur tubuh. Wajahnya apalagi. Hampir tertutup bulu-bulu tersebut dengan moncong bergigi taring dua mencuat keluar. Dia menggeram persis anjing yang mengancam lawan.

__ADS_1


“Kalian bawa dia. Jangan ada yang mengganggunya,” titahnya.


Dibawanya Firly ke sebuah kamar berdinding serba hitam dengan lantai yang juga hitam mengilap. Yang mencolok hanya kasur bertilam kain putih meski dipannya juga hitam dari batu onyx. Para penjaga meninggalkannya, lalu menutup pintu berteralis. Firly hanya bisa pasrah, matanya tak bisa membendung cucuran air yang jatuh dari pelupuknya.


**


Di ruang rawat.


Fariz anteng saja mengajak bicara Firly yang masih belum sadar juga. Sementara Dien, Risma dan Sanusi berbincang mengenai penjualan rumah yang telah disepakati. Di tengah pembicaraan yang semakin serius, orang yang sempat mengejar sosok mirip Fariz datang.


“Ustaz Mustofa, bagaimana?”


“Pak Sanusi, anak tadi bukan anak sembarang. Dia itu jelmaan siluman anjing.”


Risma mendadak menggigil dan menggeser duduknya lebih lekat pada Dien. Tangannya buru-buru mengerat lengan dingin.


“Dari pengamatan batin saya, anak itu memiliki wujud anjing.” Mereka mendadak lesu, keadaaan juga jadi hening. Harus percaya, tapi tak ingin memercayai. Kenyataannya, kejadian Fariz ada dua disaksikan langsung oleh mereka. “Kalian baru menempati rumah baru? Peninggalan Belanda?”


“Ya, memangnya kenapa Pak?” tanya Dien.


“Siluman itu bersarang di sana. Di halaman belakang. Saya juga sedikit melihat, kalau anak sulung Pak Dien ada di istana siluman itu.”


Betapa kagetnya Dien, apalagi Risma yang langsung pecah dengan tangisan.


“Ini semua gara-gara Ayah! Bunda dari awal tidak pernah setuju, tapi….”


Dien hanya bisa diam saat Risma menggoyang-goyangkan badannya saking kesal.

__ADS_1


“Sudah Risma, sudah. Tidak usah menyalahkan,” sergah Sanusi, “bagaimana kalau diadakan pengajian?”


“Saya kira itu lebih baik. Insaallah, saya akan bawa beberapa santri untuk membantu membawa kembali Firly. Kasihan, kalau terlalu lama di alam siluman, raga halusnya akan susah kembali lagi.” Risma makin histeris dengan isakannya. Dien berusaha menenangkan, tapi tetap saja gagal. “Bu Risma, Firly pasti sehat lagi dengan ijin Allah. Bu Risma harus kuat dan banyak-banyak meminta pertolongan Allah.”


“Tapi Firly? Ya Allah, bagaimana keadaannya?”


Fariz membalikkan badan, “kenapa gak minta bantuan Tante Karen? Ayah, Tante Karen pernah bilang kalau di rumah itu ada makhluk jahat. Aku dimintanya untuk gak main di belakang rumah, dekat-dekat dengan sumur itu.”


Risma semakin pucat. Belum jelas dengan keadaaan Firly, sekarang Fariz justru memperlihatkan gelagat yang tak bisa diterima akalnya. Meminta bantuan pada Karena, Si Noni Belanda yang juga penghuni astral rumah itu. Risma pikir, keduanya bukan jalan penyelesaian masalah. Dia takut kalau nantinya, Karen juga menuntut sesuatu di luar normal, tumbal misalnya.


Risma tidak pernah ingin melakukan ritual tumbal itu, meski yang dikorbankan bukan manusia, tapi jenis hewan seperti darah ayam hitam yang biasa dijadikan sarat. Ia tetap tidak ingin melakukannya. Menurutnya, sarat seperti itu hanya mengada-ngada dan ia takut kalau perbuatan itu malah menjerumuskannya pada kesyirikan.


Terlebih lagi, Risma ingat betul dengan cerita orangtuanya kalau makhluk-makhluk sejenis jin akan terus meminta tumbal bila sekali saja manusia mempersembahkan korban khusus untuk makhluk tersebut.


Beda halnya dengan ust Mustafa. Dalam dirinya timbul sebuah ketertarikan dengan cerita Fariz. Karen, mungkin bisa saja jadi media untuk membuka jalan menyelamatkan Firly sebelum semuanya benar-benar terlambat.


“Memangnya Adek Fariz bisa panggil Tante Karen kemari?”


“He-em. Aku bisa panggil Tante Karen di mana saja dan dia bakalan datang kok. Aku panggil ya.” Fariz dengan senangnya berdiri di tengah-tengah orang-orang. Dia lantas melakukan gerakan menari diiringi lagu yang biasa dinyanyikan kanak-kanak. “Hoofd, schouders, knie en teen, knie en teen, hoofd, schouders, knie en teen, knie en teen. Oren, ogen, puntje van je neus. Hoofd, schouders, knie en teen, knie en teen. Tante, aku mau minta tolong. Tante Karen!” panggilnya.


Suasana yang tadinya tak begitu merinding, seketika terasa lebih senyap dan membuat Risma mempererat jalinan tangannya pada Dien. Ia kemudian membenamkan pipi di bahu Dien. Ustaz Mustafa merasakan pula kehadiran seseorang di antara mereka. Dilantunkannya beberapa doa untuk menjaga kekuatan batinnya sekaligus antisipasi kalau-kalau ada serangan tak terduga pada orang-orang yang hadir.


Karen datang dengan membubuhkan senyumnya pada Fariz.


“Tante datang juga. Aku mau kenalin Tante sama Ayah, sama Bunda.”


Pandangan Karen segera beralih pada Dien. Wajah pink kepucatan begitu merona, “oh Romeo,” desisnya.

__ADS_1


__ADS_2