Teror Di Rumah Belanda

Teror Di Rumah Belanda
Terbukanya Masa Lalu (16)


__ADS_3

Ustaz Mustafa menyarankan agar keluarga Dien jangan dulu menempati rumah itu. Alasannya karena di rumah itu terasa sekali aura negatif yang dicemaskan malah akan memperburuk keadaan.


“Untuk sementara, Risma dan anak-anak tinggal di rumah Bapak saja dulu. Oh ya, Bapak ingin kamu tahu garis keturunan keluarga kita.”


“Ada kaitannya dengan Karen?” sangka Dien.


“Ya, Dien. Waktu itu saat sebelum perjuangan kemerdekaan, buyutmu, Raden Radya Kartasura telah jatuh cinta pada anak Menir Van lucock yang waktu itu dia salah satu pejabat tinggi VOC.”


“Loh Pak, bukannya buyut kita bernama Arya Nagarakusuma?”


“Bukan, Arya Nagarakusuma itu adik satu bapak dari Raden Radya. Buyut aslimu.”


Dien mengeryit.


“Jadi maksud Bapak, Mas Dien ini keturunan lain dari keluarga Bapak?” sela Risma.


“Tanpa sepengetahuan keluarga, Raden Radya telah menjalin hubungan dengan Karen. Keluarga sama sekali tak pernah menduga hubungan itu terjadi. Waktu itu, pihak VOC melarang adanya percampuran darah antara kaum proletar dan pribumi. Namun, hubungan di antara mereka terjalin begitu kuat. Sampai Karen mengandung dan melahirkan anak laki-laki.”


“Oh pantas Pak, dari dulu aku heran kenapa aku lain sendiri di keluarga.”


“Lalu, anak laki-laki itu?” ungkap Risma tak sabar dengan cerita Sanusi.


“Anak laki-laki itu telah diberikan secara diam-diam pada kami karena… waktu itu Karen hanya mengakui kalau dirinya tidak pernah hamil pada Menir Van Lucock. Dia terlalu takut dengan hukuman yang akan diterima kalau sampai kehamilannya diketahui.”


“Hukuman seperti apa Pak, sampai Karen nekat begitu?”

__ADS_1


“Diasingkan ke tempat lain karena dianggap sebagai pengkhianat kerajaan. Karen tidak ingin nasib anaknya malah jadi sengsara. Dia kerap memberikan surat pada Raden Radya mengenai kesehatan janinnya, ketakutannya pada hukuman itu dan juga tentang mata-mata dari bangsa pribumi. Saat itu, Raden Radya secara diam-diam menghimpun kekuatan rakyat untuk memperjuangkan hak-hak mereka, memerdekakan diri dari penjajahan VOC dan berjuang atas penindasan-penindasan pemerintahan VOC.”


“Lantas bagaimana nasib Karen setelah anak itu lahir?”


Sanusi menghela napas sebentar, “pada akhirnya, sepandai apa pun mereka menutupi, Menir Van Lucock tahu juga. Meski Karen anak satu-satunya, Menir Van Lucock tak segan untuk menghukum anakmya sendiri. Terlebih, dia tahu kalau Karen kerap memberikan informasi penting pada Raden Radya. Karen benar-benar dipenjara di kamarnya sendiri, sampai makan minum pun di sana. Semua jendela maupun pintu diberi teralis dan dikawal sangat ketat. Karen mengalami depresi karena hukuman kurungan itu. Dia selalu mencoba bunuh diri kalau saja tak memikirkan calon anaknya.”


“Bagaimana Raden Radya bisa tahu keadaan Karen?” tanya Risma penasaran.


“Di rumah itu, Raden Radya menempatkan anak buahnya sebagai pelayan untuk mengawasi dan memberikan informasi. Sampai puncaknya benar-benar terjadi ketika Raden Radya ditangkap atas tuduhan pemberontakan, ekstrimisme. Sebenarnya, pihak VOC sangat kesulitan dengan pergerakan yang dilakukan, tapi karena di dalam tubuh rakyat sendiri ada orang-orang bermental pengkhianat, pergerakan itu dapat dipatahkan. VOC mulanya menjanjikan perdamaian dan pemenuhan atas hak-hak rakyat, tapi semua itu hanya tipu daya mereka untuk menangkap Raden Radya.”


Baik Risma maupun Dien hanya bisa hening mendengarkan dengan saksama. Mereka terhanyut dalam kisah bagaimana Radya memperjuangkan kemerdekaan rakyat, menyusun kekuatan-kekuatan untuk melawan penindasan sampai akhirnya pihak VOC menjatuhkan hukuman mati padanya karena dianggap sebagai orang yang paling berbahaya.


Dari penuturan Sanusi, Radya dijatuhi hukuman gantung di halaman balai kota, disaksikan rakyat banyak sebagai bentuk peringatan. Karen yang mendengar keputusan itu semakin dibuat depresi. Di hari yang sama dengan eksekusi hukuman Radya, Karen memutuskan untuk meminum racun guna mengakhiri hidup.


“Oh, jadi begitu!” dengkus Dien, “Pak, mungkin yang diinginkan Karen itu… Dien.”


**


Di kamarnya, Fariz menyusun dan membuat kue dari playdouh. Di sampingnya Karen tak begitu aktif yang biasanya akan menceritakan cerita di masa lalu, tentang Romeo, tentang kisah cintanya atau rumah keluarga Van Lucock di negeri Holland. Namun saat ini, dia kehilangan selera itu.


“Tante gimana kuenya? Enak?” tanya Fariz memperhatikan kue dari lilin itu tak disentuh sama sekali. Ceritanya, harusnya Karen berpura-pura memakan kue itu seolah-olah itu sungguhan dan berkomentar kalau kue buatan Fariz luar biasa enak dengan sedikit memberi tambahan ini atau itu sebagai pemanisnya. “Tante tidak suka ya?”


Karen baru tersadar, “ah maaf. Ik tidak dengar tadi.”


“Tante kenapa sih?”

__ADS_1


Saat di depan pintu kamar, Risma mendadak berhenti, mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Sedari tadi, menguping pembicaraan di dalam hingga kemudian, diputuskannya masuk juga.


Fariz tersentak dan buru-buru diam mengingat tidak ingin ibunya itu uring-uringan atau malah tidak memercayai segala perkataannya mengenai Karen. Memori Fariz sudah mencetak kalau ia akan dicap sebagai pembohong bila menceritakan keadaan Karen meski sekarang tidak berada di rumah itu.


Risma curi-curi pandang, melihat dan mencermati apa yang terjadi dengan Fariz.


“Fariz tadi main apa?”


Bingung menjawab. Selama ini, Risma pasti akan melarangnya bermain ala anak perempuan layaknya masak-masakan. Kalau berbohong mana mungkin sebab Fariz selalu ingat dengan didikan Dien agar tidak pernah berkata bohong. Diam dan berharap ibunya tidak lama-lama di sana jadi hal yang sangat diinginkannya.


“Fariz kok diam, gak jawab pertanyaan Bunda?”


“Aku gak main apa-apa, Bun,” ujarnya gelagapan.


Risma menatap Fariz lebih lekat, anak itu langsung menunduk. Kemudian, dengan lembut diraihnya bahu Fariz sampai tubuh mungilnya menempel di pangkuan Risma.


“Maafkan Bunda ya. Bunda sering sekali marah-marah sama Fariz, ngelarang Fariz bermain masak-masakan,” Risma mengusap-usap keningnya, “yang Bunda lakukan itu karena Bunda sayang sama Fariz, tapi Bunda tahu sekarang, kamu memang suka jadi seorang chef dan ingin jadi kayak chef Juna kan kalau besar nanti?” tanyanya menatap penuh kelembutan. Fariz mengangguk kecil dengan bibir yang juga menggaris lembut, “Bunda gak akan larang kamu buat jadi apa yang kamu mau.”


“Terima kasih Bunda. Aku sayang sama Bunda,” ujar Fariz seraya memeluk Risma begitu erat namun penuh kelembutan.


“Tadi, Bunda dengar kamu ngobrol sama Tante Karen. Benar kan?” lagi, Fariz tak berani menjawab, “ya sudah, Bunda tak ingin memaksa.”


“Tadi, Tante Karen memang main sama aku, Bunda.”


Risma segera beranjak, “bagaimana kalau Fariz mainnya sama Bunda, di kamar lain sekalian temani Kak Firly?”

__ADS_1


Fariz mengangguk sebagai tanda persetujuan. Barang mainan yang tergeletak di lantai, dibenahi dengan memasukannnya ke dalam keranjang. Setelah selesai, Risma mengajaknya untuk sesegera mungkin keluar dari kamar itu.


Bukan tanpa alasan, Risma tahu dan bisa melihat bagaimana Karen memperhatikan, menatapnya dari sudut kamar dekat lemari.


__ADS_2