
Sanusi bersandar ke punggung kursi.
“Kamu kan sudah tahu cerita penghuni rumah ini, apa ndak ingat ya?” tutur Adun.
“Tahu selewatan, Dun. Itu juga dulu waktu kita masih kanak-kanak.”
“Aku juga ndak tahu lagi, San mesti gimana. Penghuni terdahulu juga sama, diganggu lelembut yang katanya Noni Belanda juga genderowo.”
“Kamu dulu kenapa tawarkan rumah ini ke anakku?” ucap Sanusi rada sebal kalau mengingat dulu Adun begitu piawai memainkan kata, membujuk anaknya untuk membeli rumah mengerikan ini.
“Anakmu yang mau, aku cuma nawari.”
Sanusi tak bisa lagi mendebat, percuma melawan Adun. Selalu ada saja celah untuk mengelak atau menangkis.
“Kalau terus begini, aku sepertinya harus minta bantuan ust Mustafa. Biar penghuni halus rumah ini pergi.”
“Loh-loh, ndak usah San. Aku ken kemari buat bantu kalian. Kamu lupa?”
“Ah, kalau benar kamu bisa, sudah dari penghuni terdahulu demitnya pindah. Ini masih betah di sini.”
Muka Adun menegang, tersinggung dengan ucapan itu, “kamu ndak usah ngomong begitu, San. Lelembutnya betah itu karena para penghuni lama ndak pernah percaya sama aku. Mereka itu malah buru-buru jual lagi rumah ini. Aku ken ndak bisa melarang mereka buat jual. Jadinya, usahaku buat pindahken lelembut di sini harus kembali lagi ke awal.”
Sanusi diam sejenak, terpikir satu hal, “ah, lupa. Fariz!” sergahnya serentak berdiri, “Dun, ikut aku. Cucuku masih di sana.”
**
Rada takut-takut, Sanusi mengendap diikuti Adun yang turut dari belakang.
Keadaan di ruangan keluarga senyap. Tak ada bentuk kehidupan yang terindikasi. Hanya terlihat barang-barang pajangan termasuk patung perunggu. Sanusi berhenti, celingukan mencari Fariz, sejurus kemudian, ia menatap patung.
“Ini Dun,” bisik Sanusi menunjuk ke arah patung.
Diamatinya baik-baik, Adun sampai harus memutari patung itu.
“Ndak ada apa-apa. Ndak bergerak,” gumamnya.
Adun memberanikan diri menempelkan telunjuk pada patung itu. Mulanya, ia juga merasa takut, kalau-kalau saat disentuh malah hidup. Namun, pas merasakan dinginnya lempengan perunggu, pajangan itu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Adun lega dibuatnya.
“Cucuku ke mana ya, Dun?” pungkas Sanusi mengalihkan perhatian.
“Ya ndak tahu.”
Sanusi menyambar lengan Adun dan menariknya untuk mengikuti. Ia pergi memeriksa setiap ruangan sampai tiba di kamar kosong.
Adun berhenti dan menarik balik lengan Sanusi, “San, ini kamar Karen. Anaknya menir Van Lucock. Cucumu ndak mungkin ada di sini.”
__ADS_1
Sanusi balik badan menyimak.
“Siapa tahu ada di sini, Dun. Soalnya, Fariz itu senang sekali ditemani Karen.”
“Cucumu ndak normal! Masa temanan sama lelembut. Dari rumah ini, kamar inilah yang katanya paling angker. Kamu ndak mungkin ndak tahu kalau Karen itu matinya mengerikan.”
Mitos rumah ini. Sanusi tahu cerita itu dari orang-orang dulu, secara turun temurun, keangkeran rumah ini hidup secara abadi di benak masyarakat sekitar kalau dulunya menir Van Lucock memiliki putri cantik jelita yang dikorbankan untuk ilmu hitam yang dianutnya. Mayatnya yang dibuang ke sumur, serta peristiwa-peristiwa aneh setelah kematian Sang Menir.
Adun dan Sanusi ragu untuk memasuki kamar itu, tapi tiba-tiba mereka mendengar senandung lirih dari dalamnya.
(Nyanyian Nina Bobo versi Belanda)
Slaap meisje, oh slaap meisje
Als je niet gaat slapen,
Zul je door een mug gestoken worden
Laten we gaan slapen, oh lief meisje
Als je niet gaat slapen,
Zul je door een mug gestoken worden
Setengah berani, Sanusi berinisiatif membuka pintu kamar. Walaupun, Adun dengan keras menarik lengannya dan memberikan kode dengan menggelengkan kepala. Namun, tak memundurkan niat Sanusi untuk tetap memastikan.
Belum juga gagang itu diputar, pintu sudah terbuka dan membuat mereka melonjak kaget. Terlebih, ketika terlihat di dalam, Karen duduk di pinggir ranjang bersenandung lirih serta mengusap kepala anak kecil yang diyakini itu Fariz. Ia tertidur pulas di sana.
Karen berhenti bersenandung.
Ia berbalik menuju mereka yang datang tanpa mengetuk pintu, menatapnya dengan sorot mata tajam dan seringai yang membuat bulu kuduk orang-orang yang datang meremang sampai-sampai lutut Adun gemetaran. Lantas, sosoknya lenyap setelah Karen mencium dahi Fariz yang terlelap.
“Itu cucuku, Dun,” ujar Sanusi gemetaran lalu buru-buru diraihnya Fariz setelah Karen tak terlihat lagi.
**
Kisaran jam menuju angka sepuluh tepat.
Dari arah luar, sorot lampu sen menerangi diiringi derung mesin yang berhenti tepat di halaman. Lantas, Dien keluar dari dalamnya, sendirian.
Saat ia akan membuka pintu, Sanusi sudah terlebih dulu melebarkannya.
“Kamu pulang sendiri?”
“Iya, Pak. Risma di rumah sakit menunggui Firly.”
__ADS_1
“Keadaannya bagaimana?”
“Firly tidak mengalami trauma atau benturan apa pun. Dia sepertinya syok dan belum siuman sampai saat ini.”
“Bahaya?”
“Tidak tahulah, Pak. Hanya ada yang aneh saja. Tidak ada bekas pukulan, tapi Firly bisa tidak sadarkan diri layaknya orang koma. Bahkan dokter yang memeriksa juga ikut merasa aneh. Kondisinya, katanya mirip orang yang sedang mengalami koma. Detakan jantungnya melemah. Risma nangis terus di sana, Pak.”
“Ini pasti gara-gara Karen,” cetus Sanusi.
“Karen, Pak?”
“Iya, Dien. Penunggu rumah ini. Tadi juga Fariz dibawa Karen ke kamar angker.” Dien mengernyitkan dahi, “itu loh kamar kosong yang ada di ujung dekat ruang TV.”
“Sekarang Fariznya?”
“Sudah ada di kamar. Kamu memang harus segera menjual rumah ini, Dien.”
Lagi-lagi, Dien dituntut. Kenapa semua orang, yang padahal di rumah ini hanya Sanusi dan Risma saja yang mendesaknya, harus menjual kembali rumah ini? Pendiriannya masih teguh, sayang menjual aset dengan nilai seni tinggi dan bersejarah. Obsesi Dien yang memang fanatik arsitektur kuno sangat sulit digoyahkan. Belum nilai jual yang pasti merosot dari harga belinya. Ia tak ingin rugi banyak dengan buru-buru menjual kembali.
“Nanti saja Pak, kita diskusikan lagi.”
Sanusi geleng-geleng dengan kekerasan anaknya.
Mereka menuju kamar di mana Fariz terlelap.
Dien sedikit tenang mana kala dilihat anak bungsunya itu berbaring tenang.
“Mau dibangunkan?”
“Tidak usah, Pak. Kasihan, sepertinya kecapekan.”
“Adun tadi kemari. Katanya diminta istrimu untuk mengamankan rumah ini dari gangguan Karen, juga mencarikan calon pembeli.”
Dien menegangkan muka, rada kesal dengan berita itu. “Risma minta Pak Adun carikan pembeli? Kok?”
Dari mimik yang ditunjukkan, Sanusi paham kalau Dien sedang tak baik. Ia tahu betul bagaimana kalau Dien marah.
“Kamu tidak usah memarahi Risma. Kasihan sedang hamil anakmu. Bapak juga sepaham dengan istrimu. Nanti, Bapak mau ke ust Mustafa, minta bantuan dia. Soalnya-“
“Kenapa, Pak?”
“Nanti saja Bapak ceritakan. Sekarang, kamu mau bagaimana? Risma tidak mungkin ditinggal di sana sendiri jaga Firly.”
“Ya terpaksa, Fariz dibawa. Bapak juga ingin ke sana melihat kondisi Firly kan?”
__ADS_1
Dengan hati-hati, Dien mengangkat Fariz yang sangat pulas setelah ia menyiapkan beberapa barang untuk dibawa. Dalam pangkuan ayahnya, anak itu begitu tenang dan tak merasa terganggu sedikit pun.
Rumah itu begitu sepi, kosong setelah semua penghuninya keluar. Yang tinggal, hanya Karen, memperhatikan dari dalam dengan pandangan merana.