Teror Di Rumah Belanda

Teror Di Rumah Belanda
Bintang di Oranje Hotel (15)


__ADS_3

l


Adun mengamati rumah itu.


Dengan mengenakan pakaian serba hitam dan juga ikat kepala hitam, ia menuju halaman belakang. Mantra-mantra meluncur lancar dari mulut. Hingga kemudian, riuh angin dengan kencang berputar membentuk pusaran kecil. Sesosok makhluk menyerupai anjing mewujud tepat di hadapannya.


“Anak itu bagaimana?”


“Sudah diamankan. Dia tidak akan bisa lari sampai ada perintah dibebaskan.”


“Ya, ya. Leluhurku tidak sia-sia bersekutu dengan bangsa kalian. Bisa aku manfaatkan untuk keuntunganku.” Adun lalu tergelak, sedang sosok itu melolong keras hingga membuat aura sekitar berubah tajam begitu mencekam.


**


Tahun 1900-an, November.


Oranje Hotel sedang akan merayakan pertemuan antar bangsa kulit putih. Bunga-bunga khas Belanda semacam lily, mawar putih dan croissant tersusun rapi di sudut aula, terpajang dalam guci-guci dan vas-vas dari keramik. Entah itu buatan negeri panda atau asli dari pengrajin lokal. Namun susunan bunga-bunga itu tampak serasi dengan dekorasi aula yang berhias kain panjang dengan permukaan licin.


Meja-meja dan kursi juga sama, dihias dengan kain-kain yang dilipat menyerupai kipas, indah dan sedap dipandang mata. Di sana pula tersedia meja yang berisi makanan serupa parasmanan, hanya saja isi makanan itu segalanya berbau eropa. Mulai dari segala jenis roti baik itu roti tawar padat juga roti berbahan biji-bijian, kismis dan buah-buahan sebagai campurannya. Ada pula hidangan macam-macam daging bakaran seperti **** dan sapi, juga krim sup khas makanan mereka.


Tak lupa dalam setiap pesta pasti terdapat minuman. Tak bakal meriah kalau yang satu itu terlupakan. Di meja khusus, susunan gelas yang membentuk piramida begitu menarik mata saat kucuran sampanye mengalir dari atas terus turun ke bawah, ada pula anggur merah di susunan yang lain.


Karen mengenakan gaun merah dengan bawahan yang menggelembung. Rambut pirangnya sengaja dibuat keriting di ujung, tapi bagian belakang diikatnya dengan ikatan yang terbuat dari batu berkilau dengan ukuran kecil-kecil. Ia juga mengenakan perhiasan kalung dan anting yang senada. Pokoknya, malam itu Karen benar-benar bak seorang puteri kerajaan Belanda hingga banyak mata lelaki kulit putih yang tak bisa berpaling darinya. Tak pelak, mereka begitu menyanjung kecantikannya, mengajaknya ke lantai dansa sampai terang-terangan mengajak kencan.


Tentu Karen sangat bangga dengan itu semua. Dia bintang dari segala bintang, bersinar terang di tengah-tengah cahaya dan pastinya, pesta itu seakan diselenggarakannya hanya untuk dirinya.

__ADS_1


Sebelum masuk ke acara inti yakni melakukan dansa bersama pasangan yang ditemui saat itu juga, seorang pemandu naik podium untuk memberikan pengumaman terlebih dulu.


“Baiklah para tamu yang terhormat. Sebelum kita berpesta, saya ingin mengumumkan sesuatu,” ujarnya. Perhatian tamu yang menikmati makanan dan minuman yang tersedia, teralihkan ke satu titik. “Tahun-tahun sebelumnya, kita tidak pernah mengundang warga selain eropa. Hari ini, kami telah memberikan kehormatan pada orang di luar kita. Kami mengundangnya karena dia telah memberikan banyak keberhasilan dan penghargaan dari Ratu Wilhemina. Anda semua tahu penghargaan khusus yang diberikan tahun ini karena bakatnya sebagai arsitektur?” tamu-tamu bergemuruh, saling berbisik. Namun, Karen justru penasaran dengan orang yang dimaksud. Siapa orang selain rasnya yang mampu membuat takjub orang-orang? “Dan saya panggilkan, Jonkheer Radya Kartasura.”


Karen begitu terkesima dengan munculnya Rady di podium.


Ia mengumbar senyum ramah pada para hadirin setelah memberikan salamnya. Di atas podium, Rady dengan fasihnya memberikan sambutan dan juga pidato-pidato tentang karyanya di bidang arsitektur. Gemuruh tepuk tangan begitu lantang setelah Rady menyelesaikan sambutannya.


Para pemain musik mulai memainkan instrumen sebagai tanda acara inti dimulai, berdansa. Alunan nada romantis membakar para tamu untuk menuju lantai dansa. Para lelaki mencari wanita pujaannya untuk diajak menari. Tak terkecuali Karen yang didatangi pemuda-pemuda kulit putih. tapi menolak tawaran yang datang. Ia malah mencari-cari keberadaan Rady. Karen berharap, Radylah yang akan menjadi pasangan dansanya.


Di tengah suasana yang semakin dirasa menyenangkan dengan semakin banyak pasangan yang menari di lantai dansa, begitu juga ritme musik semakin dirasa syahdu, Karin malah tak bisa menikmati itu semua. Ia merasakan kehampaan, kekecewaan karena sejak musik menggema di ruangan itu, Rady tak terlihat. Karena kekecewaan itulah, ia memutuskan untuk meninggalkan pesta ini. Pikirnya, percuma juga berada lama di situ kalau hatinya sama sekali kelabu.


Rada gontai, Karen menuju balkon sekadar mencari angin atau melihat bintang di langit Soerabaia. Mumpung berada di sini, dia pikir tak ada salahnya mengganti suasana hati.


“Rady!?” desahnya.


Rady mendengar dengan baik desahan itu, biar saat itu alunan musik dansa dari dalam masih bisa didengar dengan sangat baik.


“Oh, kamu?! Kenapa kemari? Ingin lihat bintang juga?”


“Tidak, ehmm… mungkin iya.”


Rady tersenyum tipis, berjalan santai menghampiri Karen yang terpaku di bibir pintu.


“Untungnya langit malam ini cerah, penuh bintang,” ujarnya lantas merendahkan tubuh dengan cara berlutut, diulurkannya tangan yang kemudian disambut baik oleh Karen, “ingin berdansa?” tawarnya.

__ADS_1


Tanpa ada penolakkan, Karen benar-benar menyambut ajakan itu. Rady segera berdiri merengkuh pinggang Karen dengan lembut mengeratkan rengkuhan itu, lebih erat lagi. Kaki-kaki mereka tanpa harus dikomando saling bergerak seirama alunan musik yang terdengar. Tak energik atau dengan gerakan aneh-aneh. Cukup mengatur langkah pelan dengan menikmati kesyahduan yang ada.


“Kamu cantik dengan balutan gaun itu,” puji Rady yang membuat Karen tak bisa lagi bicara, tapi melayang. Rady menatap lebih lama pada Karen saat kakinya berayun mengikuti aliran musik, begitu pula Karen yang kemudian sedikit menunduk karena tak kuat menatap lebih lama. “Kamu malu denganku?”


“Tidak… Romeo,” desahnya kembali mengangkat muka dan menatap mata Rady dengan binar penuh ketenangan.


Malam itu seolah mereka sedang menjadi bintang di antara bintang-bintang yang bersinar.


**


Karen tiba-tiba sudah berada di halaman belakang.


Begitu terkejutnya Adun karena Noni Belanda itu memperlihatkan raut yang tak menyenangkan. Dia menggeram.


“Karen, hantu betina! Ndak usah ikut campur urusanku, atau kalau ndak, aku bisa melenyapkenmu.”


“Kamu mengancamku?” tantangnya, “aku tidak pernah takut! Leluhurmu dulu hanya anjing penjaga keluargaku. Justru aku bisa saja melenyapkanmu. Tapi ini bukan waktunya karena aku masih punya urusan lain.”


“Kamu dendam pada kami karena peristiwa itu?”


“Itu tidak akan pernah aku lupakan. Sumpahku dulu akan tetap terlaksanakan. Hanya itu yang akan membuatku tenang meninggalkan dunia ini.”


“Karen, kamu ndak akan tenang sampai dunia kiamat sekali pun. Aku ndak akan membiarken kamu mendapatken ketenangan. Itu juga yang jadi sumpah leluhurku dulu, aku akan tetap menjaga sumpah itu sampai mati.”


“Grrr,” geramnya.

__ADS_1


__ADS_2