Teror Di Rumah Belanda

Teror Di Rumah Belanda
Kembaran Fariz? (12)


__ADS_3

Dien bersama Fariz pulang untuk mempersiapkan kebutuhan yang akan dibawa. Kondisi Firly yang masih belum sadarkan diri mengharuskannya dirawat inap.


“Ayah, Kak Firly kenapa? Aku kok bisa ada di sana? Kan kemarin malam, aku tidur di kamar Tante Karen.”


Dien tak lantas menjawab. Ia sibuk mengambil beberapa potong baju untuk Risma ganti nanti. Dimasukannya pakaian dalam tas kecil yang tergeletak di atas ranjang.


Dien termenung sejenak mengingat kejadian malam yang telah diceritakan Sanusi. Karen, ia seolah terikat dengan nama itu. Ada rasa penasaran yang menggelayuti benaknya.


“Ayah!” panggil Fariz, sontak Dien terperanjat.


“Ya, Nak?”


“Kak Firly kenapa?”


Dien memangkunya sebentar, “Kak Firly baik-baik saja. Malam ini kita tidur di tempat Kak Firly, ya?”


“Tapi, aku punya janji sama tante Karen. Katanya dia mau ngajarin aku buat kue janhagel koekjes lagi. Kemarin gagal Yah. Aku kan ingin jadi chef kayak chef Juna.”


“Besok lagi saja, ya Nak. Kita gak bisa lama-lama. Kasihan Bunda ditinggal di sana.”


Fariz menggangguk.


**


Risma menunggui Firly yang masih belum siuman. Ayat-ayat alquran syahdu terlantun dari mulutnya magrib itu. Setelah menyelesaikan ayat terakhir, Risma bergegas menuju kamar mandi karena tak tahan dengan kantung kemih yang hampir mem-bleber. Lima menit di kamar mandi dirasa sudah cukup untuk membuang semua sisa percenaan.


Sekembalinya, ia terperanjat saat dilihatnya Fariz berdiri menghadap ke ranjang di mana Firly terbaring.


“Fariz?!” panggil Risma.


Ia berbalik, tapi tatapan matanya begitu membuat Risma ketakutan. Berwarna merah dan memiliki taring kecil seperti anjing ketika anak itu menyeringai. Yang terdengar di kuping Risma ketika berbalik, geraman layaknya dengkur anjing saat mengancam musuh.


Fariz melangkah maju, mendekat pada Risma yang terang-terangan memperlihatkan ketakutannya. Geligi persis rangkaian gigi anjing siap menerkamnya kapan saja. Satu geraman cukup membuat Risma tak bisa berkutik saat Fariz menyerang.


Risma menghindar dan terjatuh disertai teriakan ketakutan.

__ADS_1


“Fariz, jangan Nak, tolong!” pekik Risma ketika perih terasa menjalar.


“Risma, duh!” Sanusi datang buru-buru menolong bersama seorang berpakaian baju koko.


Anak itu menyudahi aksi penyerangannya, kemudian lari sangat cepat menuju luar. Orang itu mengejar Fariz, sementara Sanusi membantu Risma untuk segera berdiri.


Risma melenguh menahan perih bekas luka cakar.


“Pak, tadi itu Fariz kan?”


“Duduk di sini dulu,” ujar Sanusi memapah Risma menuju kursi tunggu, “tanganmu luka.”


“Pak, tadi itu Fariz?” ulangnya, “pasti ini ada hubungannya sama rumah itu. Risma jadi takut pulang.”


“Dien sebentar lagi kemari. Bagaimana pun kita harus mendesaknya untuk segera menjual rumah itu. Bapak takut, kejadian lebih mengerikan bakal menimpa kalian.”


Tak lama, orang yang dibicarakan datang, bersama Fariz.


Risma begitu kaget melihat anaknya itu. Tak memiliki mata merah, atau juga geligi anjing saat Fariz tertawa ringkih kegirangan melihat Sanusi. Fariz buru-buru ke pangkuan Sanusi dan bermanja-manja di atasnya.


“Bukan kucing Ayah, tapi....”


“Tadi Risma mengalami hal aneh, Dien. Ini pasti ada hubunganya sama rumah itu,” potong Sanusi karena dilihat muka mantunya agak pucat.


Dien makin mengerut, belum bisa mencerna maksud Sanusi, “hubungannya sama rumah apa, Pak?”


“Tadi, Bunda diserang sama orang yang mirip Fariz,” tandas Risma.


“Mirip Fariz, maksudnya gimana?”


“Fariz yang sama dengan Fariz yang buat Firly kayak sekarang,” tunjuknya rada kesal. “Ayah masih ingin mempertahankan rumah itu? Terus maunya, Bunda makin ketakutan sama ancaman-ancaman makhluk gaib di rumah itu, itu maunya Ayah?”


Dien tak bisa menjawab. Diam, merenung dan menimbang-nimbang kembali keinginan keluarganya untuk menjual kembali rumah tersebut. Meski hati kecilnya tetap kukuh dan amat sayang kalau rumah itu harus dijual lagi. Entah... apa yang membuatnya begitu kuat ingin mempertahankan rumah Mener Van Lucock. Yang jelas, Dien begitu jatuh hati sampai sulit memutuskan untuk menjualnya kembali.


Namun karena adanya desakan yang terus-menerus, kekukuhan Dien yang membatu lambat laun mulai tergoyahkan. Niatan untuk mempertahankan rumah itu sedikit luntur melihat kondisi Risma dan anak-anak.

__ADS_1


“Hufhh, kalau memang harus dijual kembali, sepertinya Ayah memang harus ikhlas.”


Risma semringah dengan keputusan Dien yang dianggap tepat, “secepatnya Ayah. Kata Pak Adun, dia siap membelinya kembali. Tapi, ya itu Yah. Harganya bakalan turun sebab kata dia bakalan susah cari calon pembeli kalau harganya sama.”


“Anggap saja sedekah, Dien. Ketimbang keluargamu malah dapat teror. Bapak senang kalau kalian tinggal di rumah Bapak saja.”


“Tapi tak tahu kenapa, Ayah kurang percaya sama Pak Adun. Bukan Ayah tak ingin menjual rumah itu, tapi sepertinya, Pak Adun itu pintar memainkan harga. Ayah tak mau terlalu kerugian, setidaknya dari hasil penjualan itu bisa beli lagi rumah yang setipe.”


“Lalu kalau bukan sama Pak Adun, mau sama siapa Ayah? Bunda gak mau lama-lama tinggal di sana.”


“Ayah yang bakal cari calon pembeli, lagi pula, Ayah punya kok kenalan yang pandai jual beli rumah. Bisa minta bantuan dia nanti.”


“Bunda mah terserah Ayah, asal rumah itu cepat laku.”


**


Di halaman belakang rumah, dekat sumur tua.


Seseorang duduk bersila memanjatkan doa-doa berupa mantra pemanggil. Di dekat sumur juga tersedia tujuh macam buah-buahan layaknya apel, anggur merah, jeruk, pisang emas, selasih, mangga dan kelapa muda berjumlah satu-satu. Begitu pula rampai yang terdiri dari tujuh macam kelopak bunga. Dia juga meletakan bungkusan kain kafan di tengah-tengah sesaji, juga kepala kambing utuh sebagai satu pertanda lengkapnya persembahan.


Asap dari bara arang yang disimpan di wadah tembikar mengepul, terlebih ketika ditaburkannya serbuk berbau kemeyan. Semerbak tercium aroma khasnya di sekitaran yang membuat hawa terasa lebih menggigil. Apalagi, ketika semerbak kemenyan mengundang para penghuni halus di sana untuk hadir di tengah perjamuan kecil yang sengaja dibuat.


Bunyi-bunyi hewan malam silih bersahutan diiringi gemuruh angin yang tiba-tiba saling berseok, seakan-akan itu tapak-tapak kaki para prajurit perang.


Grrrrr... geraman persis anjing terdengar seirama gemuruh angin yang datang.


“Eyang, maaf lancang. Aku butuh bantuan.”


“Apa yang bisa aku bantu, grrrr?”


“Eyang, aku ingin para penghuni rumah ini segera pindah. Buat mereka kapok tinggal di sini. Aku ingin mereka pergi karena rumah itu....”


“Aku paham, tapi penghuni sekarang susah ditakut-takuti, apalagi di rumah itu ada putri Van Lucock. Aku terhalang olehnya.”


“Karen biar aku yang urus. Bagaimana dengan cucunya Sanusi?”

__ADS_1


“Anak itu aman di kerajaanku. Sesuai permintaanmu, dia tidak akan aku bebaskan sebelum mereka memutuskan untuk pindah.”


__ADS_2