Teror Di Rumah Belanda

Teror Di Rumah Belanda
Pamali (2)


__ADS_3

Malam pertama pindahan, setelah sore tadi diadakan pengajian selamatan, Dien pergi menyelesaikan segala pekerjaan yang masih belum selesai di tempat lama. Di rumah itu, hanya ada Risma dan dua anak laki-laki yang tak pernah akur. Terutama si kakak yang sudah ABG dan merasa paling boss. Korbannya, tak lain adiknya, Fariz.


Namun, malam ini lain.


Fariz tak jadi sasaran, tapi Rismalah yang dibuat naik pitam.


Masalahnya, mereka rebutan acara televisi. Risma yang sangat cinta dengan drama dan sinetron, sampai ia bisa meraung-raung di depan televisi, nonton acara kesayangannya di adegan sedih, harus terganggu dengan keinginan Firly yang malam ini maunya lihat kartun Jepang yang hanya tayang di jam-jam menuju isa.


Remote TV sudah seperti bola pingpong yang pindah-pindah tangan.


“Ih, Kakak Bunda, dipindah-pindah terus sih!” protes Fariz.


“Bunda ngalah kenapa sih?”


“Episodenya lagi rame, gak bisa!” ujarnya bersikukuh.


“Tiap hari pasti episodenya rame, kapan tamatnya sih nih sinetron? Ganggu! Gak ada rame-ramenya,” Firly kesal karena acara TV favoritnya harus terlewatkan gara-gara Risma.


Untuk melepas kekesalannya itu, Firly memiliki ide yang menurutnya itu bisa memecah konsentrasi Risma.


Suit... suit, siulan berulang berhamburan dari mulutnya. Ia begitu senang menyenandungkan lagu melalui nada bersiul yang keras.


Risma terganggu, dan itu berhasil.


“Firly, jangan siul-siulan malam-malam. Pamali!”


Ia tak mau mendengar, polahnya semakin menjadi. Dengan riang dan sangat tertantang, justru siulan itu semakin kencang.


“Firly! Dengar Bunda gak sih? Jangan siul-siulan tengah malam!” larangnya lagi.


“Kakak, berisik!” Fariz ikut berkomentar.


“Kenapa sih, Bun? Itu gak boleh, siulan gak boleh. Firly bosen tahu?!”


“Pamali, Firly. Kamu gak takut kalau malam-malam ada yang bakal ikut siulan kamu? Kata mama Bunda, kalau ada yang siulan malam-malam, nanti ada yang niru,” ucapnya pelan.


“Siapa, Bun?” cibir Firly.


“Yang jelas bukan manusia. Mana ada manusia yang mau niru siulan malam-malam. Pokoknya, jangan main siulan malam-malam, pamali. Ayah malam ini gak pulang, cuma kita di rumah ini. Ngerti ‘kan maksud Bunda?”


“Ya ya, Firly ngerti. Bunda takut sama setan!” ujarnya acuh tak acuh.


“Ih, serem Bun. Fariz mending bobo sama bunda ya?”

__ADS_1


“Gak ya, Fariz sama kakak aja. Kan Fariz sudah mau besar, harus berani.”


“Firly gak mau ah. Fariz masih suka ngompol, Bun.”


“Kamu kan kakak, ajarin adikmu supaya berani. Bukan tiap hari dijitakin.”


“Habis ngeselin sih, Bun.”


“Kakaknya saja yang jahat!” gerutu Fariz.


Firly hendak mendaratkan kembali buku-buku jari di kepala adiknya. Untungnya, Risma keburu melotot. Fariz selamat.


Risma betah nongkrong di depan televisi sampai waktu di jam dinding menunjuk ke angka 21.48, itu waktu seharusnya istirahat. Secara, Fariz masih memerlukan cukup waktu untuk pertumbuhannya, dan tidur salah satu yang dibutuhkan untuk itu.


“Bunda, ngantuk,” keluh Fariz dengan mata kendur.


“Pipis, sikat gigi terus cuci kaki. Bunda juga mau tidur. Kakakmu sudah masuk kamar duluan.”


Fariz turut.


Kamar mandi bergaya lama. Bak mandi dari marmer putih dengan shower ala abad sembilan belas awal. Di sana juga terdapat jendela dengan kaca cukup besar berseloroh yang hanya bertirai kain putih tipis. Bau kusam masih dapat tercium sebab rumah ini sudah agak lama ditinggalkan.


Fariz rada ragu melangkah.


Dag dig dug jantung Fariz saat mengamati jendela kamar mandi yang langsung tembus ke arah halaman bekalang, ditumbuhi pohon-pohon lebat. Terlihat lebih suram ketika pemandangan malam menyelimuti. Dengkuran burung hantu ikut menyertai.


Fariz gemetaran mana kala diambilnya sikat gigi dan odol. Dengan perasaan was-was, ia menyikat gigi cepat-cepat. Tak tahu kalau di balik jendela itu, sesosok wajah hitam berbulu lebat dengan gigi mencuat keluar dan mata merah sedang memperhatikannya.


Sosok itu tak menampakkan diri, hanya aura keberadaaannya saja yang terasa.


Fariz sangat merasakan itu. Suram dan mencekam ditambah kegelisahan yang semakin menjadi. Tapi, ia tetap mencoba berani karena ingat betul dengan pesan Risma, “jadi laki-laki harus berani.”


“Bunda,” lirihnya lagi, lantas buru-buru keluar dari kamar mandi karena dirasanya sudah tak nyaman lagi. Hampir sosok itu memperlihatkan wujudnya, kalau saja Fariz tak lari terbirit-birit menuju kamar.


Firly dilihatnya sudah menutup mata berselimut.


Fariz meloncat begitu saja dan segera bersembunyi di balik selimut.


“Hmm,,, kenapa sih, Dek?” gumam Filry yang merasakan gangguan.


“Kakak... di kamar mandi, ada orang. Seram...,” desah Fariz berbisik.


“Ah, kebanyakan nonton film horor. Tidur! Besok hari pertama sekolah,” tanpa membuka mata, Firly bergumam.

__ADS_1


Fariz manut saja. Namun, ketakutan masih terasa.


Detakan jam beralih dari angka ke angka. Detiknya berputar sejurus dengan putaran malam menuju dini hari.


Sekitar jam duaan pagi, Fariz harus terbangun. Telinganya menangkap suara aneh yang tak biasa dari arah luar kamar. Posisi tempat tidur di kamar itu menghadap langsung ke jendela berdaun dua dengan bahan kaca simetris yang memiliki tulang-tulang dari kayu, bertirai merah dengan motif bunga lili.


Suara itu keretakan layaknya bunyi tulang-tulang yang saling berbenturan atau lebih persisnya, gemeratakan itu persis gigi-gigi yang sengaja diadu.


Kret... kret, ia berhenti tepat di muka jendela, suit... suit, nada yang terdengar serupa siulan Firly di waktu isa. Sosok yang ada di balik jendela, bersiul sebanyak tiga kali, lantas, “Firly... main siul-siulan, yuk!” ajaknya disusul suitan yang terulang. Sosok itu tak lama bersiul, lalu suara gertakan gigi kembali muncul dan terselip tawa riang sebelum menghilang.


Keringat dingin membasah disertai detakan jantung yang tak beraturan. Fariz tak tahan dengan ketakutan yang ada, sampai kantung kemihnya tak tahan mengeluarkan kencing saat itu juga. Ia tak berani memastikan siapa, tapi naluri alaminya menyatakan kalau itu memang bukan manusia. Ingatannya tertuju pada ucapan Risma, pamali.


**


Pagi ini, hawanya benar-benar dingin ditambah kasur yang basah berbau pesing menambah ketidaknyamanan.


Firly terbangun subuh-subuh karena tubuhnya juga tak luput dari basahnya kencing.


“Fariz ngompol lagi.” katanya, selimut dilapkan ke area kasur yang basah. Diciuminya juga baju tidur yang terkena, “Fariz, bangun!” dengan lembut membangunkan adiknya itu.


Geliat Fariz mulai terlihat, matanya masih mengantuk saat Firly menggoyang-goyangkan tubuhnya.


“Kakak masih ngantuk.” Ia kembali meringkuk.


Tak pantang menyerah, Firly terus menggoyang-goyangkan tubuh mungil adiknya sampai ia benar-benar mau bangun.


Ketika matahari naik sedikit lebih terang, Firly dan Fariz bersiap untuk berangkat sekolah. Mereka sudah berada di depan halaman dan berpamitan.


“Kakak, malam tadi, Fariz dengar....”


“Kakak juga dengar. Kamu tidak usah ingat-ingat,” ujarnya saat mereka di jalan.


“Kakak juga dengar?”


“He-em, kata Bunda benar. Kakak kapok deh, pasti itu hantu penuggu rumah.”


“Kakak,” keluh Fariz segera menempel pada lengan Firly, “takut, mending di rumah Eyang saja bobonya nanti malam.”


“Kasihan Bunda. Siapa yang mau jaga? Ayah belum bakal pulang.”


Fariz diam mendapat pengertian seperti itu.


Rumah itu menyimpan misteri yang mungkin akan membuat para penghuninya mengalami hal-hal tak terduga.

__ADS_1


__ADS_2