
Kesempatan baik untuk melarikan diri.
Sambil sesekali Firly menengok ke belakang, berlari menjauh dari Adun yang dirasa mengejar. Lorong-lorong istana tak terlihat sibuk seperti yang dilihatnya saat pertama ke tempat itu. Firly cukup dibuat heran dengan lengangnya penjagaan. Istana seperti ini sudah barang tentu akan ada pengawal yang berjaga.
Namun, keheranan itu terpecahkan juga saat ia melihat beberapa penjaga terlihat tergesa-gesa dan panik menuju pelataran istana. Mereka mendapat komando dari salah satunya yang bisa dipastikan itu mungkin komandan pasukan. Terlihat dari pakaian yang dikenakannya, sangat berbeda dari yang lain yang hanya mengenakan celana persis rok, lebih tepatnya mirip potongan kain panjang yang dibuat melingkar. Firly jadi teringat dengan pakaian-pakaian ala prajurit kerajaan, persis seperti itu.
Sambil menyembunyikan diri di balik vas besar yang ada, Firly mencoba mendengar obrolan mereka. Menggaung keras ketika sang komandan memerintahkan prajurit untuk menangkap dua manusia yang telah menyusup.
“Mungkinkah itu Ayah?” terkanya.
Melihat adanya kesempatan, Firly tak pikir-pikir lagi atau malah merasa takut. Ia segera mencari celah menuju pelataran, meminta pertolongan pada manusia yang diceritakan sang komandan. Meski mungkin itu bukan ayahnya, tapi setidaknya Firly punya harapan untuk keluar dari istana itu.
“Bocah semprul! Kamu mau ke mana?” teriak Adun dari belakang ketika Firly mencoba menyusup keluar. Setengah kaget, ia berhenti dan menengok. “Kamu mau kabur, ya? Ndak akan bisa.”
“Bapak kenapa sih?!” geramnya menatap sekaligus menantang, “aku mau pulang!”
Adun tertawa, “tahu jalannya?” Firly agak bingung juga dengan kenyataan itu, “Ndak ken? Semprul semprul, lucu. Mau pulang, ndak tahu jalan. Makanya, sama orang tua jangan kurang ajar.”
Firly terlalu malas meladeni Adun. Celingukan memperhatikan sekilas kepanikan prajurit-prajurit yang bergegas menuju pelataran, setengah berlari ia pergi menuju tempat kericuhan.
Adun memasam, dengan sangat jengkel dikejarnya Firly.
“Kalau ketangkep, aku ndak bakal lepas lagi. Langsung saja kasih piaraanku,” dumelnya tetap mengejar.
“Siapa yang mau kamu kasih ke anjing?”
Adun tereyak menatap Karen yang sudah berada di hadapannya. Matanya agak melotot dengan air muka yang tak tenang.
“Setan Betina! Ndak ada bosen-bosennya ikutin aku?!”
__ADS_1
“Ini saatnya aku memberi perhitungan!”
“Heuh, perhitungan? Aku ndak takut,” ujarnya tetapi bahasa tubuh Adun berkata lain.
Mata Karen menghitam, memancarkan aura yang membuat sekitarannya berubah kelabu. Hawa dingin menyeruak seakan-akan tempat itu lemari pendingin ukuran besar. Adun agak mundur sembari komat-kamit merapalkan mantra-mantra.
“Sudah saatnya aku meleyapkanmu seperti yang kulakukan dulu pada leluhurmu!”
“Aku ndak takut! Alasanku mempertahankan rumah itu, karena dendamku juga padamu, Setan betina! Aku ndak ingin kamu tenang di alam mana pun. Untuk itulah leluhurku mengarang cerita kematianmu. Memisahkan jasadmu dengan Radya agar kamu sesangsara, haha....”
Aura hitam yang dipancarkan Karen semakin pekat. Hawa yang terasa makin membuat Adun menggigil, tapi mulutnya tak henti-henti merapalkan mantra. Dari cincin akik yang ada di jemari, terpancar sinar merah membentuk bulatan yang semakin membesar.
“Kamu tak bisa lari lagi, ini akhir hidupmu!”
Sinar hitam tercipta dari pancara aura Karen. Sinar itu juga membentuk bola besar melesat untuk melawan pancaran sinar merah Adun. Kedua bola cahaya itu melesat dan saling menubruk. Energi yang tercipta dari tubrukan keduanya begitu dahsyat, menciptakan sebuah daya yang mampu menyerap material apa pun yang ada.
Vas-vas besar yang ada di sana, berterbangan dan saling bertubrukan ketika terisap ke dalam energi bola itu. Begitu juga ubin di lantai-lantai yang terkelupas dan hancur begitu saja ketika terisap. Yang lebih membuat ngeri, segerombolan pasukan siluman anjing yang hendak melintas keluar, ikut jadi korban.
“Aduh! Aku ndak nyangka kalau Setan betina ini punya kekuatan maha dahsyat. Aku ndak bisa lama-lama di sini. Aku masih sayang sama nyawaku.”
Adun celingukan mencari kesempatan untuk bisa pergi dari Karen tanpa diketahui. Kesempatan itu pun terlihat. Adun segera pergi saat segerombolan pasukan siluman anjing mencoba menyerang Karen. Pasukan itu dengan mudahnya dihancurkan dan mereka lenyap tertelan bola hitam yang makin menggurita.
**
Di luar istana.
Dien dan ust. Mustafa mulai kewalahan dengan perlawanan pasukan siluman anjing. Raja siluman itu terlihat amat senang ketika tahu kalau lawannya sudah mulai kehabisan tenaga.
“Kalian sudah lancang masuk wilayahku, aku tidak akan mengampuni siapa saja yang telah menantangku!”
__ADS_1
“Bagaimana ini, Pak Ustaz?” Dien mulai was-was dengan banyaknya pasukan siluman anjing yang terus saja bermunculan dari dalam istana.
“Pak Dien jangan gentar! Ini demi anak Pak Dien. Saya yakin, Allah pasti akan mendatangkan pertolongan-Nya. Pak Dien jangan putus berdoa meminta pertolongan Allah.”
Serangan-serangan dari pasukan siluman anjing kian lama kian bertubi-tubi. Dien dibuat panik dengan serangan yang tak ada hentinya itu meski ustaz Mustafa masih mampu menahannya. Dien sebisanya mengumandangkan doa-doa sesuai arahan.
“Ayah!” teriak Firly dari dalam saat dilihatnya gerombolan pasukan mengepung Dien.
Secara spontan, Dien menengok. Dilihatnya Firly berlari padanya.
“Pak Dien, itu Firly. Kita harus segera menyelamatkannya. Jangan sampai mereka menangkap anak Pak Dien lagi. Setelah itu, kita segera tinggalkan tempat ini.”
“Ya, Pak Ustaz, saya mengerti!”
“Saya akan mencoba menahan mereka dari sini. Pak Dien bawa ini dan jangan lupa untuk terus berdoa mengumandangkan salawat agar mereka tak dapat menembus pertahanan Pak Dien.”
Dengan bekal tasbih yang diberikan ust Mustafa, Dien menerjang barisan-barisan pasukan siluman yang menghadap. Tasbih itu memancarkan energi yang tak dapat disentuh makhluk setengah anjing. Setiap ada yang mencoba menyerang Dien, ia dengan mudahnya terpental.
Raja siluman anjing menyadari kalau Dien hendak menjemput Firly. Raja siluman itu mengarah pada Dien dan berusaha menghadanganya. Namun saat ia hendak mengejar, sebuah pemandangan mengejutkannya dan memaksanya untuk berhenti.
Dari arah istana, sebuah bola energi mencuat, melahap sebagian besar bangunan istana. Tak hanya raja siluman anjing yang tak terpancing, para pasukan turut pula mengalihkan pandangan mereka pada bola raksasa yang makin menggurita. Daya dari bola itu mengisap seluruh material bangunan istana dan juga penghuni istana yang masih tertinggal di dalamnya.
“MasyaAllah, akhirnya pertolongan Allah tiba,” lenguh ust. Mustafa takjub dengan kekuatan energi bola hitam yang terpancar.
Para siluman anjing dibuat ketar-ketir. Mereka saling melolong ketakutan dengan energi yang sudah melahap sepertiga bagian istana.
“Firly!” sergah Dien sesegera mungkin meraih anak sulungnya, secara sigap ia mendekap erat.
“Ayah, aku kira aku gak akan selamat.”
__ADS_1
Dilepasnya pelukan, Dien menatap, dari pelupuk mata Firly mengalir beningnya air mata. Dien mengusapnya, “Ayah baru tahu kalau kamu bisa nangis juga.” Firly menunduk, menahan malu, “laki-laki itu bukan berarti gak boleh nangis. Tapi, air mata laki-laki itu hanya boleh jatuh saat dia sudah tak bisa menanggung segala beban untuk orang-orang yang kasihinya.” Firly mengangkat kepala, memeluk erat Dien, “ayo Nak. Bunda dan adikmu nunggu kita pulang.”