
8
Hoofd, schouders, knie en teen, knie en teen
Hoofd, schouders, knie en teen, knie en teen
Oren, ogen, puntje van je neus
Hoofd, schouders, knie en teen, knie en teen
“Hihi... tante lucu,” celetuk Fariz girang.
Karen ikut terbahak dengan tawa itu. Ia mengulangi lagi nyanyian tadi disertai gerakan ala sirkus yang membuat Fariz makin terbahak-bahak.
Dien dan Firly yang baru saja kembali dari halaman belakang, memergoki Fariz yang tertawa girang. Mereka berhenti tepat di ambang pintu.
“Ayah, Fariz bicara sama siapa?” bisik Firly saat melihat adiknya belajar bernyanyi dalam bahasa yang dikenalnya sangat asing. Nyanyian yang terdengar tak berirama, hanya menyebutkan bagian-bagian tubuh yang ditunjuk sesuai lirik lagu.
“Pasti Karen,” gumam Dien.
Firly menekur.
“Dek, main sama siapa?” tanya Firly.
Fariz serta merta menengok, “Tante Karen, Kak. Mau ikutan?”
Ia celingukan mencari sosok Karen. Dipikirnya, adiknya itu mengalami gangguan mental. Semacam waham yang biasa menjangkiti orang-orang yang menderita ketimpangan psikis.
“Fariz harus dibawa ke rumah sakit jiwa, Yah,” celetuknya.
“Hussh, adikmu tidak gila!” sergah Dien melotot. “Nak, mainnya udahan ya, magrib.”
Fariz tak membantah. Bibirnya tersenyum gembira ke arah pojokan ruangan di mana di sana ada meja rias. “Tante, besok main lagi ya.”
Firly bergidik, tapi ia begitu penasaran dengan sosok Karen yang jadi teman main adiknya itu.
**
Makan malam ini terasa khidmat.
__ADS_1
Semua lengkap berkumpul di meja. Setiap anggota keluarga sibuk menguyah dan menelan makanan yang sudah masuk ke dalam mulut.
“Dien, sudah kamu pikirkan matang-matang?” Sanusi mengawali perbincangan di meja makan yang tadi hanya terdengar bunyi benturan sendok dan piring.
Dien mengelap mulut, mengambil sepotong pepaya kupas setelah puas menyantap hidangan utama, nasi bersama teman-temannya.
“Tidak tahulah, Pak. Rasanya masih berat. Sayang.”
“Kamu ini dari kecil memang keras sekali. Kalau sudah A susah berubah. Bapak kasihan sama Risma, istri kamu itu ketakutan sekali sama gangguan-gangguan yang ada di rumah ini. Jadi, lebih baik kamu pindah saja dulu ke rumah Bapak sebelum rumah ini laku terjual.”
Firly menghentikan suapannya, “Hah, pindah lagi?”
“Pindah ke rumah Eyang? Terus Tante Karen ikut juga, Yang?” sela Fariz.
Muka Risma mendadak pucat setelah mendengar nama noni Belanda itu disebut-sebut.
Dien jelas tahu kalau istrinya itu syok, ketakutan dengan keberadaan Karen yang sekarang malah menjadi teman bermain anak bungsunya.
Tanpa aba-aba, Firly melayangkan buku jari ke kepala Fariz yang sedang sibuk menguyah, pletak..., kontan desingan tangis berhamburan.
“Firly, kebiasaan!” bentak Dien segera mengusap kepala Fariz.
Fariz mendorong kursi ke belakang, kemudian berlari meninggalkan kerumunan.
Dien memanggil, tapi tak dihiraukan.
Ada rasa sakit hati yang membuat anak itu tak mempedulikan siapa saja. Fariz menuju ruangan kosong, menemui Karen yang tersenyum melihat kedatangannya.
**
Satu jam penuh, Firly pucat pasi, kupingnya kepanasan sebab Dien tak henti memberikan peringatan dan nasihat yang cukup keras. Tak ada satu orang pun yang membelanya, baik itu Sanusi ataupun Risma.
Firly lumayan marah pada dirinya, ceramah-ceramah Dien sedikit memberikan semacam pencearahan akan teladan seorang kakak pada adiknya.
“Sekarang cari adikmu, minta maaf!” perintah Dien.
Dengan langkah gontai, ia menelurusi lorong.
Hawa di rumah ini mengesankan seakan tak berpenghuni. Tiupan udara dingin dan itu direspon baik oleh bulu-bulu halus di tengkuk Firly yang meremang. Ia agak ragu untuk mendekati satu ruangan. Letaknya berada di dekat kamar mandi. Sebuah ruangan yang sengaja belum difungsikan sebab tadinya, ruangan itu akan dijadikan ruang kerja Dien karena letaknya yang strategis. Jauh dari kebisingan penghuni rumah.
__ADS_1
Dien memang sangat senang dengan kondisi tenang dalam mengerjakan setiap pekerjaannya. Ia tak pernah ingin diganggu dalam merancang tata ruang pesanan klien atau menciptakan ide-ide dalam seni arsitektur. Segalanya harus benar-benar matang dan sempurna menimbang kepuasaan klien dan kredibilitas yang dipertaruhkan.
Dari dalam ruangan yang bercahayakan lampu neon, Firly menangkap sekelumit suara. Tawa anak kecil, dan ia mengira kalau itu Fariz yang sedang bermain dengan teman barunya, Karen. Sebetulnya, sedikit takut dirasakan. Namun, karena tuntutan rasa bersalah, akhirnya ketakutan itu tak dihiraukannya.
Firly dengan perasaan was-was membuka pintu ruangan.
“Ah, kosong?” gumamnya heran. Ia memutuskan untuk mencari lebih ke dalam. Barang kali, Fariz sembunyi karena tak mau ketahuan atau bertemu dengannya. Firly sedikit paham dengan karakter adiknya yang sensitif, cenderung penyendiri dan lebih senang berdamai dengan pertikaian, lebih tepatnya melarikan diri dari masalah yang ada. “Fariz, Dek!” panggilnya agak lirih, “keluar, maafin Kak Firly.”
Tak ada jawaban. Ruangan itu sepi dan suara tawa yang tadi terdengar sama sekali tak lagi tertangkap. Firly semakin tak enak hati. Bukan karena rasa bersalah, melainkan nalurinya yang mendesak untuk meninggalkan ruangan itu. Ada sesuatu atau mungkin seseorang yang sedang mengawasinya, bersembunyi entah di mana, tapi itu bukanlah Fariz.
Dari arah jendela kamar, Firly menangkap satu sosok bayangan. Awalnya hitam lantas sosok itu terlihat jelas, berbadan tegap besar, hitam dengan mata melotot merah dan gigi mencuat keluar. Ia tak bisa beranjak. Keterkesiapan menahan langkahnya untuk menjauh.
Firly tetap mematung dengan bibir bergetar hebat ketika sosok itu semakin dekat.
“Ayah!” teriaknya lantas ia ambruk seketika.
**
Dien dan yang lainnya sedikit memperbincangkan masalah anak-anaknya. Bagaimana sikap Firly tadi pada Fariz yang dinilainya sebuah kegagalan dalam mendidik. Juga tentang masalah Fariz yang memiliki semacam keganjilan. Entah itu sebuah anugerah, kelebihan yang Tuhan berikan padanya atau malah sesuatu yang menakutkan karena mereka sependapat kalau kemampuan berkomunikasi dengan Karen, yang dimiliki Fariz, lebih cenderung pada gangguan jin atau makhluk astral yang dicemaskan justru akan berdampak negatif.
“Apa Bapak harus minta bantuan ust Mustafa ya? Bapak takut kalau lama-lama, Fariz menjadi anak yang jauh dari kehidupan normal. Kehidupan sosial yang sebenarnya,” cetus Sanusi.
“Iya, Pak. Risma juga takutnya, Fariz makin jadi anak pendiam dan tak menginginkan pergaulan dengan orang lain.”
“Apa itu kelebihan dia ya, Pak. Indigo,” ujar Dien dengan raut ragu.
“Bapak tidak paham dengan begitu-begituan Dien. Dalam ajaran kita, Indigo seperti itu lebih identik dengan gangguan jin. Fariz kan dapat gangguan itu setelah kalian pindah ke sini.”
Dien tak bisa menyangkal.
Sejenak, perbincangan itu terhenti. Seakan perkataan Sanusi memiliki efek penyadaran kalau pendirian Dien memang salah. Mempertahankan rumah ini bukanlah satu keputusan yang tepat mengingat keanehan atas gangguan yang terjadi.
Dien hendak memulai lagi obrolan ini, tapi keburu tak jadi sebab mereka teralihkan dengan terikan Firly.
Semua yang ada di ruangan itu melonjak, mencari tahu apa yang terjadi.
Mereka terhenti di ruangan dekat kamar mandi.
Pintu terbuka lebar, Dien mendapati Fariz sedang membelakangi, sebuah pemukul kasti digenggam di tangan. Di sisi lain, Dien juga dikagetkan dengan Filry yang tak sadarkan diri di atas lantai.
__ADS_1