
Fariz pulang lebih cepat, sendirian sebab di sekolah yang baru belum terlalu banyak orang yang dikenalnya.
Rumah ini di siang hari terang begini saja, hawanya begitu dingin. Bisa jadi hal itu disebabkan adanya pohon-pohon rindang yang mengitari bangunan utama, terutama halaman belakang yang ditumbuhi pohon berukuran tinggi.
Penampakan rumah dari luar, memang terkesan artistik bergaya khas Eropa. Begitu rapi dengan desain serba simetris, teratur. Apalagi, rumah ini dulunya milik petinggi VOC. Terlihat luas layaknya rumah-rumah pejabat di masa itu, menggambarkan strata tinggi pemiliknya.
Fariz agak ragu masuk ke rumahnya sendiri.
Siang hari, sepi dan hawa di dalam agak suram dengan nuansa kelabu. Padahal, rumah itu memiliki cukup ventilasi dan celah sinar matahari bisa masuk, tapi atmosfernya tak bisa ditutupi kalau rasa merinding sekelebat menghinggapi.
“Bunda,” panggil Fariz pelan, masih mengenakan seragam sekolah, celingukan di tiap lorong.
Setiap ruangan dihubungkan dengan lorong-lorong simetris. Fariz dengan was-was menuju kamar untuk berganti pakaian. Namun, sesuatu menarik perhatiannya. Di kamar orang tuanya, sesosok wanita tengah duduk menghadap cermin. Diam mematung, melihat dirinya sendiri.
“Bunda?” sapa Fariz.
Wanita itu tak menjawab, tetap membelakangi Fariz yang terus melangkah masuk.
Saat anak itu hendak memastikan lebih dalam, dari luar terdengar seseorang memanggil.
“Fariz, kamu sudah pulang?”
Ia berhenti seketika, melongok mana kala suara yang didengar dari luar, itu adalah suara Risma. Sedangkan sosok yang dilihatnya, kemudian membalik.
Wanita berkulit pink dengan rambut pirang menyeringai. Wajahnya pucat dengan bola mata seluruhnya hitam.
“Bunda!” teriak Fariz melangkah mundur.
Di depan pintu, Risma segera menghentikan langkah Fariz.
“Kamu kenapa?”
“Bunda, tadi di situ!” tunjuknya ke arah kursi yang menghadap kaca.
Risma memperhatikan, “di situ kenapa?”
“Tadi, ada tante-tante, Bunda. Rambutnya kuning, tapi mukanya kayak hantu.”
Risma jadi teringat dengan sosok noni yang dilihatnya saat pertama kali di rumah ini. Ia menggidik. Lantas segera menutup pintu kamar.
“Siang-siang begini malah ada penampakan,” gerutunya.
“Bunda tadi ke mana?”
“Tadi, Bunda ke warung sebentar. Sesudah kamu ganti baju, kita ke rumah Eyang saja.”
“Tapi, Kak Firly?”
“Kakakmu nanti menyusul. Mana betah dia, di rumah sendirian.”
__ADS_1
**
Firly pulang lebih sore. Mata pelajaran anak SMP jauh lebih padat, karena itu, ia kelihatan begitu lelah. Gontai langkahnya masuk ke dalam rumah yang dirasa sepi.
“Pada ke mana orang-orang sih?” gerutunya, sepatu dilemparkan ke rak yang disediakan. Sebelah kiri tepat di atas rak dengan posisi agak miring, sedangkan yang kanan memantul ke lantai. “Bunda!” panggilnya berteriak.
Keadaan rumah benar-benar sesepi kuburan. Hening dengan hawa agak merinding, tapi Firly sudah terlatih dengan keadaan seperti itu. Ia memang tipe anak yang punya nyali cukup besar. Dien dan Risma yang kerap mendoktrin, kalau laki-laki itu harus berani, kalau penakut mana ada perempuan yang bakal mau dekat. Dengan petuah-petuah itu, otaknya bekerja secara tak sadar yang akhirnya menumbuhkan keberanian secara otomatis.
“Bunda, di mana sih? Lapar nih!” teriaknya kembali.
“Di sini, Nak,” jawab sebuah suara dari dalam.
Firly belum begitu sadar, suara itu memang mirip Risma, tapi ada kebiasaan baru. Sejak kapan Risma memangilnya, nak? Biasanya, ibunya akan memangil nama. Yang beda juga, suara itu lebih lembut dari biasanya.
Sebelum melangkah lebih ke dalam, Firly sempat terhenti.
Dari arah halaman, tiga sosok dilihatnya.
Loh, itu kan Bunda sama Fariz, Eyang juga, lalu siapa yang tadi jawab?
Pundaknya bergidik, tapi Firly tak ingin kejadian ini diceritakannya pada Risma. Ia tak mau kalau nanti, bundanya itu mengalami hal-hal paranoid, secara, Risma sangat takut dengan hal-hal gaib.
Firly segera berlari menyambut mereka.
“Bunda baru dari Eyang?”
“Iya, Bunda minta Eyang menginap di sini, Ayah kan baru pulang besok. Biar tambah rame kan rumahnya.”
“Ah, jangan ngarang!” Mata Firly melotot memberi semacam peringatan agar adiknya diam. Ia mencemaskan Risma kalau-kalau paranoidnya tambah parah. Repot nantinya, bisa-bisa semalaman, ia dan adiknya itu jadi semacam tahanan rumah yang susah bergerak ke mana pun hanya karena keharusan menemani Risma.
Fariz menundukkan muka, tahu kalau kakaknya memberikan semacam sengatan. Cukup itu sebagai peringatan awal kalau tak mau lebih lagi mendapatkan hukuman, dijitak.
“Kita masuk saja, tidak baik ngobrol di luar,” Sanusi menengahi.
Hari pun semakin akan gelap, waktu makan malam akan segera tiba, terdengar dari cuitan perut mereka yang mulai memainkan nada orkestra berirama keroncong, kriuk....
Risma lantas menuju dapur ditemani Fariz yang memperhatikan segala gerak-gerik ibunya, itu permintaan Risma sendiri, karena menurutnya, ia tidak merasa aman kalau sendirian. Seperti ada yang mengawasi, tapi entah siapa.
“Rumah ini sepertinya harus dirombak lagi,” cetus Sanusi mengawali perbincangan di meja makan.
“Rencananya memang begitu, Pak. Mas Dien juga inginnya ada perombakan di beberapa tempat. Soalnya, Risma merasa ada sesuatu yang aneh di sini.”
“Bapak juga merasakannya. Terutama di area belakang dan kamar mandi. Bapak rasa, di situ auranya sangat negatif. Area belakang itu bukannya ada sumur tua yang sudah tak dipakai lagi ya?”
“Iyakah, Pak?”
“Kalau tidak salah. Bapak sedikit tahu tentang rumah ini. Dulu rumah ini, milik seorang petinggi Belanda zaman VOC. Dia punya anak perempuan yang meninggal di rumah ini, Bapak kurang ingat siapa namanya.”
“Anak perempuan? Apa sosok yang dilihat Fariz ya, Pak?”
__ADS_1
“Kemungkinan, iya. Soalnya, penghuni lama juga sering sekali melihat penampakan anak gadis Menir Van Lukock.”
“Kenapa sih Mas Dien ngotot sekali beli rumah ini. Setiap dikasih saran, jawabannya, rumah ini memiliki kenangan. Memang Mas Dien punya hubungan apa dengan rumah ini?” omel Risma lantas dilahapnya rendang telur dengan buas.
Malam ini Risma dan dua anaknya tidak ingin menonton acara TV, tak seperti hari biasanya yang justru akan betah nongkrong di depan layar bergambar itu. Ini kan malam jumat, waktunya acara misteri dan alam gaib diputar.
Firly sangat suka dengan acara itu, menayangkan pengalaman-pengalaman supernatural semacam penampakan hantu-hantu, arwah penasaran, dan juga hal-hal gaib yang tentu saja, Risma sangat antipati. Acara macam itu, disebutnya sebagai acara non mutu, receh.
Suasana rumah jadinya hening meski jam di dinding baru menunjukkan pukul sepuluh.
Risma tidur ditemani Fariz. Alasannya tak lain karena sore tadi sosok noni itu ada di kamar. Ia jadi tak bisa tidur meski berulang kali matanya dipejamkan.
Apalagi, saat pendengarannya menangkap bunyi pelantingan, berasal dari dapur. Perkiraannya, ada seseorang sedang mengacak-acak barang semacam piring, atau gelas, barang-barang pecah belah yang sedang dipindah-pindahkan.
“Siapa malam-malam begini ke dapur, bukannya sudah selesai waktu makan ya? Apa jangan-jangan... ah, mungkin Mas Dien pulang langsung ke dapur buat cari makan. Ayah ini, bukannya nemui aku dulu, kan kangen,” pikirnya.
Risma sungguh bergairah mengira suaminya itu pulang.
Buru-buru disingkapkan selimut, dan menuju dapur.
“Bunda mau ke mana?” tanya Fariz terbangun.
“Ayah sepertinya pulang, Bunda mau ke dapur temui Ayah.”
“Fariz ikut.”
“Tidak usah. Tidur lagi, besok sekolah.”
Dengan agak ragu, Risma keluar memastikan. Pikiran lain menggelayuti keraguan itu.
Kalau itu ternyata bukan Mas Dien, bagaimana? Aduh, aku kok gak kepikiran ke sana ya? Kalau ternyata orang jahat....
Risma berhenti, mengurungkan niat menuju dapur, padahal ia sudah berada di lorong yang menghubungkan ruangan itu, selangkah lagi.
“Risma,” panggil suara lirih, tapi berhasil mengagetkan.
“Bapak! Huh, Risma sampai jantungan.”
“Kamu mau ke dapur juga?”
Ia mengangguk, “Bapak dengar juga, ya?”
Berbalik, Sanusi yang kini menggangguk. Tak lama, mereka sepakat menuju dapur, menyelidiki.
Di depan bak cuci, sesosok orang sedang membelakangi. Suara pelantingan barang berasal dari sosok itu, berbadan tagap tinggi besar dengan banyak bulu yang tumbuh dan rambut yang panjang.
Risma sangat syok dengan sosok yang ia tahu makhluk itu berjenis apa.
“Pak!” sengatnya, seketika langsung lunglai.
__ADS_1
Sosok itu berbalik, menatap Sanusi yang ikut terpaku. Sorot mata merah dengan dua gigi taring menjuntai. Wajahnya hitam dipenuhi bulu-bulu halus. Sanusi sontak melafalkan ayat-ayat suci sebisanya. Lantas makhluk itu lenyap.