Teror Di Rumah Belanda

Teror Di Rumah Belanda
Belajar Masak (7)


__ADS_3

Fariz menumpahkan semua mainan yang disimpannya di kardus, alat-alat masak-masakan. Segala macam bahan seperti terigu, air dalam kemasan botol plastik, gula dan juga beberapa bahan kue diambilnya tanpa sepengetahuan Risma. Rencananya, hari ini akan membuat kue yang akan diajarkan Karen.


Kata Karen, resep kue itu sudah diajarkan secara turun temurun di keluarganya.


Karen datang mengembangkan bibir yang pucat.


“Sudah siap, Tante?”


“Je- harus hati-hati. Ik- tadi lihat inheems (pribumi), ik mag hem niet,” tuturnya.


Fariz tak begitu memperhatikan, ia disibukkan dengan persiapan bahan-bahan.


“Bikin kuenya jadi, Tante?”


“Vergeet het maar (aduh lupa)! Oh, ik- janji mau ajarkan je- buat janhagel koekjes. Je- anak manis, ik vind je leuk (aku suka kamu).”


Begitu senangnya Fariz dengan praktek masak ini. Berkali-kali, ia menyebutkan beberapa bahan layaknya chef di TV berikut tahapan-tahapan pengolahannya.


Dien tak sengaja lewat setelah sempat puas tidur.


Diperhatikannya Fariz yang menyebutkan beberapa kata dalam bahasa Belanda. Dien jelas kaget dengan itu. Dari mana anaknya itu belajar?


“Suiker (gula), meel (tepung), boter (mentega).”


“Fariz, lagi main apa, Nak?” Dien sengaja menghentikan ocehan anak itu.


“Belajar buat kue janhagel koekjes Ayah,” timpalnya. Fariz kembali mengocok-ngocok adonan. Dien hendak membuka mulut, “ditemani Tante Karen,” anak itu keburu menjawab seakan tahu persis isi kepala ayahnya.


Dien semakin tersentak dengan pengakuan Fariz.


Karen , Si Noni Belanda, hantu pirang yang ditemuinya semalam tadi. Ia yang menemani Fariz bermain. Dien pikir ini bukan hal yang sepele atau wajar bagi anak seumurannya. Mungkin, kalau itu hanya teman imajinasi, kecemasan tidak akan hinggap. Namun, Karen bukan sekadar teman imajinasi anaknya. Sosok itu memang ada, berwujud halus dan Dien ketakutan kalau-kalau nanti, bakal ada pengaruh negatif bagi perkembangan Fariz.


Dien tidak ingin anaknya kelak dianggap aneh, berbeda atau malah jadi manusia mengerikan yang tentu susah diterima lingkungan sekitar dan membuatnya semakin menjadi manusia yang terisolir di tengah orang-orang yang tidak mau mengerti keadaan.


“Nak, mainnya selesai ya, dibereskan.”


“Loh, kenapa Yah? Kan buat kuenya belum selesai.”


“Bereskan saja, kamu main sama Kak Firly.”


“Nggak ah,” Fariz mulai menguleni adonan dan menutupnya dengan plastik lantas ditekan-tekannya sampai rata kemudian ia mengambil alat penggiling kayu untuk meratakan adonan yang dibuat, “tinggal dicetak ya, Tante?”


“Fariz, udahan ya. Dibereskan!” kali ini, Dien sedikit mempertegas. Fariz merengut dengan bibir agak manyun, “eh, gak gitu ya. Ayah gak mau lihat kamu begitu.” Dien mulai memunguti beberapa perabotan mainan meski Fariz tetap kecut. “Firly!” panggilnya kencang.

__ADS_1


Yang dipanggil tak juga menampakkan diri, “Kak Firly pergi main futsal, Ayah,” sela Fariz kesal.


**


Sanusi sore itu datang membawa bungkusan, keresek hitam yang di dalamnya tercium aroma kacang berlumur mentega.


Fariz begitu semangat menyambut kedatangan eyangnya itu, “Eyang bawa martabak isi kacang ya?” tebaknya.


Sanusi tersenyum semringah seraya menciumi pipi Fariz, “cucu Eyang kok bisa tahu?”


“Aku kan chef Juna,” akunya.


Bungkusan dibawanya. Fariz lalu pergi ke salah satu ruangan dengan membawa beberapa potong martabak.


Dien dan Risma segera menemui Sanusi setelah Fariz menunjukkan bungkusan yang dibawa, di ruang makan.


“Menurut Bapak, kalian baiknya memang harus pindah, Dien. Kasihan Risma sedang hamil tua.”


“Itu lagi sih, Pak.”


“Bapak benar kok, Yah. Bunda gak mau kalau terlalu lama di rumah ini, makin banyak keanehan yang terjadi. Ayah gak cemas sama Fariz? Noni Belanda itu... siapa, Karen?”


Dien termenung.


Rumah ini adalah mimpi yang sudah lama diidamkan.


Sebagai seorang konsultan di bidang tata ruang dan arsitektur, rumah ini memiliki nilai seni tinggi. Penuh sejarah, berestetika tinggi, menyimpan hal tak ternilai yang hanya bisa dirasakan Dien yang tahu persis seni sebuah arsitektur.


Ia sangat sayang kalau rumah ini harus kembali lepas. Aset yang baginya tak dapat diukur hanya dengan materi semata.


**


Saat senja tiba, Firly baru pulang dengan tubuh penuh keringat. Ia tak buru-buru masuk ke dalam sebab saat akan menuju rumah, dilihatnya bayangan seseorang menyelinap ke arah halaman belakang.


Dengan takut-takut, Firly mengikuti.


Sosok yang sama, ia yakin kalau yang dilihatnya memang orang yang kemarin berada di halaman ini.


Orang itu berdiri di dekat sumur tua, tak tahu apa yang sedang dilakukannya. Namun sepertinya, ia melakukan semacam ritual. Firly bisa merasakan itu sebab bulu punduknya merespon getaran aneh ketika udara di sekitar tiba-tiba saja menjadi dingin dan berdesir agak kencang.


Daun-daun pada pohon yang tumbuh tinggi di sekitaran sumur, tertiup angin lalu berjatuhan disertai dengungan yang tak begitu jelas, tetapi itu membuat Firly cukup ciut. Suara itu menggeram, hampir mirip erangan serigala yang sedang mengancam musuh.


Grrrrr... geraman itu makin jelas diikuti desir angin yang mengencang.

__ADS_1


“Kamu memanggilku?”


Suara itu berubah meski geramannya masih sama.


Firly tak bisa mendengar apa yang dikatakan orang yang memanggil sosok suara tanpa tuan itu. Ia malah memutuskan untuk segera mengakhiri penguntitan dadakan ini.


Langkah tergopoh-gopoh dan napas yang sudah di ujung tenggorokan, Firly segera masuk ke kamar, berganti baju dan segera mencari Dien dan Risma.


“Ayah, Bunda!”


Sontak orang-orang yang berkumpul di meja makan, mengalihkan pandangannya.


“Kamu kenapa datang-datang teriak begitu?” ujar Risma.


Firly mengatur paru-paru yang sudah kembang kempis mengirup oksigen.


“Di halaman belakang, Bun!” ucapnya dengan napas tersengal.


“Tenang dulu, Firly. Bicara yang benar! Kenapa dengan halaman belakang?” Dien ikut penasaran.


“Orang itu Ayah, dia muncul lagi di halaman belakang. Malah ...ih ngeri!”


Risma dan Dien saling tatap.


“Eyang bawa martabak. Kamu mau?” sergah Sanusi berusaha melumerkan suasana kusut yang belum dimengerti siapa pun.


“Nggak ah Eyang,” tolaknya, “Yah, Bun, cepetan ke sana. Ayo!”


Dien menurut. Pikirnya, kemungkinan Firly sedang mencari perhatian orangtuanya. Ia sadar kalau sejak terakhir kali mencari rumah, dirinya dan anaknya jarang sekali bercengkerama menjalin ikatan keluarga yang kuat.


Halaman belakang.


Mereka tiba dengan setengah berlari menuju sana.


Tak ditemukan seseorang seperti yang dikatakan Firly. Namun, Dien mendapati kelopak-kelopak bunga bertebaran di sekitar area sumur.


“Eh, mana ya? Tadi ada di sini, Yah.”


Dien tak berkomentar apa-apa. Pikirannya fokus pada taburan rampai yang berserakan disertai bekas abu pembakaran yang sepertinya tumpah.


Keadaan di sekitaran mulai terasa agak menusuk. Sesuatu dirasakan Dien tak nyaman. Angin yang berembus seolah membisiki kalau mereka harus segera pergi dari tempat itu.


Secepatnya.

__ADS_1


“Kita masuk ke rumah saja. Sebentar lagi magrib,” perintah Dien.


__ADS_2