Teror Di Rumah Belanda

Teror Di Rumah Belanda
Bermain bersama teman baru (5)


__ADS_3

Fariz lagi-lagi bermain sendirian.


Ketiadaan teman yang akhirnya membuat anak itu harus menciptakan dunianya sendiri. Firly terlalu sibuk dengan dunia remajanya. Kakaknya sangat berbeda, mudah bergaul, dapat teman baru, cepat menguasai lingkungan dan memiliki berbagai keterampilan yang sangat diakui di lingkungan barunya.


Fariz malah sebaliknya, introvert cenderung penyendiri dan tak pernah bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, dari itu ia ciptakan dunia imajinasi, teman-teman khayal yang kadang Risma dibuatnya sedikit cemas dengan kebiasaan bungsunya.


Tapi kali ini tidak.


Fariz ditemani teman baru, Karen Van Lucock.


Noni Belanda itu tersenyum manis ketika Fariz menawarkan cangkir plastik. Katanya, itu acara minum teh. Di sana juga ada kue-kue yang terbuat dari lilin. Dien membelikannya mainan playdooh sebab dipikirnya terlalu berisiko kalau anaknya itu bermain tanah.


Bagaimana kalau nanti ada kuman atau telur cacing. Bisa-bisa, Fariz terkontaminasi. Dien tak pernah melarang Si Bungsu bermain tanah, hanya menjaga dan memberikan sesuatu yang lebih baik untuk perkembangan bakatnya.


Fariz senang betul saat Dien memberikan mainan itu. Dan namanya anak-anak, cepat-cepat playdooh itu diotak-atik sesuai imajinasi yang terlukis di otak.


“Kalau di Netherland, teh akan disajikan dengan spekulaas koekjes, ontbijtkoek, olienballen, poffertjes-.”


“Tante suka tehnya?” Fariz segera memotong sebab ia tak paham dengan semua kata yang diucapkan Karen.


“Hihi... ik (aku) suka. Manis seperti- je (kamu).”


“Umur tante berapa sih?”


“Umur ya? Ik lahir di sini, di Buitenzorg, waktu itu papih menjabat sebagai boekhouder (akuntan di masa VOC) sekitar tahun 1800.”


“Fariz!” panggil Dien.


Ia segera membereskan perabotan plastik yang berceceran.


Dien datang sebelum mainan itu selesai dirapikan, “kamu main sama siapa? Mana kakakmu?”


Fariz menggeleng. “Fariz ditemani Tante Karen, Yah.”


Dien plangak-plongok, “siapa Tante Karen?”

__ADS_1


“Itu Yah, Tante Karen... katanya pemilik rumah ini. Katanya lahir zaman VOC.”


Dien terperangah dengan cuitan Fariz, Karen kelahiran VOC. Ada yang tidak beres dengan anak ini. Rumah ini memang menyimpan sesuatu yang mengerikan. Adun, mungkin ia akan memberikan banyak informasi mengenai rumah tua ini.


Dien lantas membawa Fariz ke dalam.


“Nak, Ayah mau tanya. Tante Karen itu seperti apa?”


Risma tanpa diduga ikut nimbrung dengan obrolan mereka, “ada apa sih, Yah?”


“Tante Karen itu, tante-tante yang rambutnya pirang itu loh. Bunda juga tahu.”


Risma tereyak dan langsung memandang Dien.


“Fariz kenapa Yah?”


“Apa dia sering begini selama di rumah lama?”


“Tidak, sejak pindah kemari saja jadi berubah. Noni Belanda itu namanya Karen?”


Dien tak menjawab.


Risma, Dien dan Sanusi sore itu duduk santai membicarakan rumah tua ini. Mereka berdiskusi cukup lama mengenai hal-hal di luar logika yang telah dialami.


Risma tetap ngotot ingin segera keluar dari rumah ini. Keinginannya agar Dien mau kembali menjual rumah itu dan mencari penggantinya.


Sanusi setuju saja dengan usulan mantunya karena pertimbangan kondisi kehamilan yang semakin mau masuk masa kelahiran. Ia masih memegang sebuah keyakinan kalau ibu hamil itu lebih sensitif terhadap segala hal. Bisa-bisa, kejadian tak masuk akal di rumah ini malah akan mengganggu kondisi bayi yang ada dalam perut mantunya itu. Terlebih kata orang tua dulu, ibu hamil lebih disukai mereka yang tak terlihat, khususnya baru melahirkan sebab darah yang dikeluarkan bersamaan dengan jabang bayi akan tercium harum dan memiliki unsur magis untuk kehidupan makhluk-makhluk itu.


Memang dari sudut pandang kepercayaan yang mereka anut, kalau makhluk-makhluk sebangsa jin lebih menyukai hal-hal kotor layaknya darah nifas atau haid bahkan kotoran atau bangkai hewan. Itu juga yang melatari Sanusi agar nanti Risma tak sampai lahiran di rumah ini. Takut kalau-kalau nanti, anak yang baru lahir itu akan diganggu juga.


Namun, Dien tak mau dengan gampang mengiyakan. Ia terlanjur jatuh cinta dengan rumah ini. Katanya penuh dengan sejarah, artistik dan nyentrik, dan merasa memiliki ikatan yang kuat. Ikatan yang tak dipahami bahkan dirinya sendiri.


Di tengah diskusi yang semakin sengit, Adun muncul dengan mengucap salam, memecah persengitan itu hingga orang-orang melempar pandangan padanya secara serentak.


“Ganggu?”

__ADS_1


“Pak Adun, silakan masuk. Ini, kami sekeluarga sedang diskusi.”


Adun manggut-manggut, “Ada apa ya dipanggil kemari? Serasa punya dosa.”


“Begini Pak Adun, mengenai rumah ini. Bapak bisa ceritakan dengan sebenar-benarnya tentang rumah ini?”


“Tentang penunggu rumah ini, Pak,” Risma nyelonong, Dien mengalihkan pandangan menatap tak suka.


“loh-loh penunggu, maksudnya apa ya?” Dien dengan lancar menceritakan semua kejadian. “Heran ya, kenapa bisa ada gangguan seperti itu? Padahal, sudah dilakuken pembersihan di rumah ini. Memang sih, rumah ini dulunya bekas Meener Van Lucock. Zaman itu, waktu itu, kata kakek saya sih, di sini sempat ada kejadian tragis. Tuan Mener katanya penganut ilmu sihir, dia pemuja setan yang telah mengorbanken anaknya. Bisa jadi, makhluk semacam genderowo itu piaraannya Meener Van Lucock dan Noni Belanda itu, anak yang dikorbanken.”


Risma merinding, dipegangnya erat-erat lengan Dien.


“Masa sih Pak?”


“Loh, bukannya ceritanya tidak begitu?” cetus Sanusi ingat-ingat lupa.


“Kamu ndak tahu apa-apa, San. Aku puluhan tahun ngurusi rumah ini, gonta-ganti pemilik karena ndak betah. Ya, penghuni lama ndak kuat lihat penghuni di sini.”


“Yah, kok Bunda makin merinding sih,” bisik Risma.


Dari cerita Adun, konon di rumah ini terjadi sebuah pengorbanan dikarenakan dulu, ketika VOC menguasai wilayah Buitenzorg, Menir Van Lukock telah mengobarkan anaknya demi sebuah jabatan. Menir yang kala itu hanya berkedudukan sebagai pegawai rendahan, nekat membuat perjanjian agar bisa naik jabatan.


Imbalan untuk perjanjian itu adalah anak gadisnya yang masih berusia dua puluh dua tahun untuk dikorbankan. Mayatnya dibuang ke dalam sumur yang ada di belakang rumah. Itu dilakukan agar makhluk yang membantunya terikat sebagai keluarga. Sosok hitam tinggi besar itulah yang kemudian jadi menantu sang Menir.


Dengan cara demikian, Menir berharap kedudukannya tidak akan tergoyahkan sebab adanya ikatan keluarga dengan makhluk penolongnya.


“Kata orang tua dulu, ya begitu itu... apa ya? Ah, nikah gaib. Katanya, Menir Van Lucock mendapatkan wangsit itu langsung dari Eropa, tempat kelahirannya,” jelas Adun.


“Lalu mayat anak perempuan Van Lukock?” Risma penasaran sekaligus ketakutan bukan main. Eratannya pada Dien semakin kuat.


“Masih dalam sumur, sampai saat ini ndak ada yang berani mendekat atau malah mengusik sumur itu. Pernah, aku datangken orang pintar kemari, buat bersih-bersih penunggu rumah ini, tapi dia malah bilang ndak sanggup sebab penunggunya sudah terlalu tua.”


Risma semakin pucat. Batinnya ingin sekali menangis, tapi bisa apa, Dien begitu gigih mempertahankan rumah ini yang jelas-jelas... mengerikan!


Firly pulang. Baju yang dikenakannya basah karena keringat yang deras mengalir ditambah kotoran yang menempel. Warna putih yang harusnya terlihat, malah bercampur coklat di bagian tertentu akibat sisa-sisa tanah.

__ADS_1


Ia tak lantas masuk ke kamar berganti pakaian, tapi sejenak berhenti memperhatikan orang-orang yang ada. Pandangannya terfokus pada satu titik.


Ah, mana mungkin! Aku gak salah lihat, kan? Batinnya.


__ADS_2