
Tahun 1900-an.
Seorang gadis, usia sekitar dua puluhan menatap dirinya di cermin, mengatur rambut pirang panjang agak keriting, menyisirnya dengan membelah bagian pinggir depan, dibuat semacam poni setelah hampir seluruh rambut itu diberi pita.
Ia senyum sendiri menatap dirinya di cermin besar.
“Kamu cantik Karen,” ujarnya memuji diri sendiri.
Setelah dirasa sempurna, Karen melenggang keluar sebab satu panggilan memaksanya untuk segera mengakhiri ritual bercemin itu.
Hari ini, ia akan pergi jalan-jalan ke Soerabaia. Ditemani beberapa dayang pengasuh yang merupakan warga pribumi asli, Karen hendak bersua dengan teman-temannya. Menghadiri pertemuan antar warga kolonial, akan diadakan pesta semalaman di sana sekaligus mempererat persaudaraan sesama bangsa Eropa yang tinggal di negara ini. Harapannya, di sana juga ia dapat bertemu seorang pengeran tampan yang akan memikat hatinya. Selain itu, hari ini pula peluncuran pertama kereta api tercepat dan termewah se-Asia dari Staats Spoorwagen yang akan dihadiri para petinggi NIS.
Dalam bayangannya, di pesta nanti pasti banyak pemuda-pemuda kulit putih yang bakal terpesona dan memuja kecantikannya.
Station Batavia-Benedenstad.
Loko bercat hitam, SS Eendaagsche Expres mengepulkan asap hitam dari kejauhan. Gemuruh mesin loko sudah dapat terdengar meski Karen melihatnya dari jarak satu kilo meter. Roda besar yang berputar tersambung dengan roda-roda lainnya melaju di jalur rel. Loko uap yang menjadi kebanggaan perusahaan Hindia-Belanda itu akhirnya berhenti di stasius terakhir Batavia.
Karen masuk ke dalam salah satu gerbongnya bersama para dayang, mencari nomor kursi yang sudah dipesan sebelumnya. Kursi-kursi bemuatan tiga sampai empat orang saling berhadapan jadi pemandangan utama saat mata pertama kali menatap dalaman loko.
Satu demi satu nomor-nomor kursi dicocokan dengan nomor yang tertera di karcis. Karen berada di gerbong kelas I di mana gerbong itu diperuntukan hanya untuk tamu-tamu pilihan. Ayahnya yang seorang pejabat, akuntan negara, mendapatkan tiket itu dan memberikannya pada Karen karena kesibukan yang tak memungkinkan. Sedangkan para dayang, mereka ditempatkan di gerbong kelas II, gerbong khusus bagi pembantu-pembantu dan pegawai rendahan.
__ADS_1
Dari pengeras suara, petugas mengumumkan bila keberangkatan kereta sekitar sepuluh menit lagi. Setelah merapikan koper, Karen duduk sambil membaca Hamlet karya Shakespeare, menunggu naga besi itu merayap di rel. Ia tak begitu memedulikan penumpang lain yang mencari kursi duduk, menaikan koper-koper mereka ke atas bagasi atau para pelayan di kereta yang lalu lalang menawarkan menu yang tersedia untuk menemani perjalanan.
Di salah satu gerbong memang disediakan resto dan dapur khusus untuk para penumpang. Namanya juga kereta elit di masanya. Pihak Staats Spoorwagen selaku penyedia dan pengelola perkeretaapian di masa pemerintahan Hindia-Belanda, menyediakan layanan-layanan terbaik sesuai standar pelayanan kereta di Eropa. Bahkan, para pegawainya kebanyakan orang-orang kulit putih termasuk para pelayanan dan pegawai loko. Itu semua karena adanya anggapan kalau memperkerjakan orang pribumi tentu akan banyak masalah dan kerugian, mengingat masa itu, pribumi lebih dianggap orang-orang rendahan. Jangankan untuk jadi pegawai, baca tulis saja mereka tak mampu.
“Het spijt me (Maafkan aku),” ujar seseorang yang tak sengaja menyenggol kepala Karen saat menaikan koper ke atas bagasi.
Karen yang terganggu, lalu menengadahkan kepala. Ia ingin marah karena ketidaksopanan si pemuda yang telah menganggu konsentrasinya membaca. Setelah ditatapnya pemuda berwajah lokal itu, rasa marah yang hinggap tak jadi tertumpah. Itu karena ada pesona yang membuatnya tersihir.
“Tidak apa-apa,” ujarnya sembari merekahkan garis bibir.
Ia agak kaget dengan kefasihan Karen berbahasa lokal, “kamu bisa bahasa negara ini?”
“Ya, aku bisa. Sangat bisa. Ada yang salah?”
Karen terperanjat, tapi lantas menyambut uluran tangan itu, “Karen Van Lucock, panggil aku Karen saja.”
“Karen? Ya, secantik orangnya,” Rady mengulum senyum, menambah pesona yang menembus ulu hati Karen. Ia senyum dengan pipi tersipu mendapat pengakuan dari pemuda yang baru saja mencuri separuh jiwanya. “Kamu suka Shekespear? Hamlet ya?”
“Apa yang kamu tahu tentang Shekespear?”
“Aku tak begitu tahu banyak, tapi dia seorang pujangga luar biasa. Aku kagum dengan pola pikirnya. Bisa mengubah pola pikir masyarakat Eropa melalui sastra. Kamu tahu bagaimana dia mempengaruhi bangsawan-bangsawan di sana tentang kasta? Cinta antara si miskin dan si kaya yang akhirnya bersatu karena maut?”
__ADS_1
“Maksudmu, Romeo and Juliette?”
“He-em. Itu maksudku.”
Karen merasakan dunianya begitu cerah, berwarna-warni dan ada cahaya baru, hangat di sekelilingnya. Rady memberi warna itu, yang semula hanya bercorak monokrom, di kelilingi doktrin-doktrin bagaimana bodohnya orang-orang pribumi yang tak sebanding dengan mereka. Para pribumi yang hanya bisa dijadikan budak, pelayan dan semua pekerjaan yang dianggap mewakili strata rendah, sengaja dibuat buta huruf demi kepentingan VOC dan gampang sekali direkayasa, tapi doktrin itu seolah terkikis dengan adanya pribumi yang rupanya memiliki wawasan tentang dunia luar.
Tanpa disadari, keakraban cepat terjalin di antara keduanya. Menjadi pilar-pilar yang saling mempererat bangunan yang sedang mereka ciptakan di ruang hati masing-masing.
SS Eendaagsche Expres menggaung lantang, menantang langit Batavia untuk beradu cepat menembus lajur waktu. Loko yang dirancang untuk kepentingan memperpendek jarak Batavia-Soerabaia itu telah meninggalkan stasiun menuju tujuan.
**
Karen menyudahi lamunannya tentang kenangan di masa lampau.
Dari halaman belakang, sinar merah berupa bola api melayang kemudian melesat menuju sumur tua yang ada. Karen mengikuti bola api yang terlihat dari kamarnya, menuju ke luar.
Gemerisik angin berembus agak kencang ketika bola itu menjatuhkan diri ke tanah. Sebentuk entitas mewujud saat bola itu menghamburkan api besar ketika menghantam tanah. Sosok tinggi besar hitam, berbulu lebat dengan moncong bergigi taring dua memanjang.
“Makhluk menjijikan! Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu penghuni rumah ini!” geram Karen.
Makhluk jelmaan api itu juga menggeram, membalas, “Kamu ingin melindungi mereka? Manusia itu bukan dari golongan kita, mereka tidak layak kamu bela!”
__ADS_1
“Itu bukan urusanku. Aku suka dengan mereka dan tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengganggu mereka. Aku bisa saja menghancurkan kerajaan dan pengikut-pengikutmu, kalau kamu masih juga mengganggu rumah ini. Kamu harusnya sudah aku musnahkan sejak saat itu.”
Makhluk mirip anjing itu melolong. Dia kembali mengubah wujudnya menjadi bola api mana kala Karen menatapnya dengan sinar mata memerah seakan tatapan itu memiliki kekuatan yang membuat makhluk itu ketakutan.