
Karen muncul dari dalam istana.
Tatapan matanya begitu hitam memancarkan energi yang membuat siapa pun yang melihat merasakan guncangan hebat dan getaran ketakutan. Begitu pula pasukan siluman anjing yang mundur saat Karen makin mendekat pada Dien.
Baik Firly maupun Dien hanya bisa terpana, mematung dengan getar-getar yang juga merasa takut. Karen hanya menatap mereka sebentar lantas memalingkan lagi pandangannya pada pasukan siluman anjing.
“Kalian ingin aku musnahkan semua?”
“Tidak, ampuni kami. Kami akan menuruti apa pun yang kamu mau.”
“Biarkan manusia-manusia itu pergi!” Raja siluman anjing tak berani melawan, juga pasukannya yang dengan telak menerima kekalahan. Karen kembali menatap Dien dan Firly dengan ramah, garis bibirnya melengkung manis. “Je- bawa dia, cucuku. Jaga cucu-cucuku dan didik mereka agar seperti kakeknya, Romeo.”
Karen kemudian berlalu memasuki istana yang sudah porak poranda sepertiganya. Sosok itu pun hilang setelah berada di dalam.
Dien dan Firly segera mendekati ust. Mustafa.
“Alhamdulillah, Pak Dien. Kita segera pergi dari tempat ini.”
“Mari Pak ustaz. Saya juga sudah gak betah, rindu istri sama anak,” senyum Dien.
Ustaz Mustafa mengangkat kedua telapak tangan, merapalkan doa-doa kemudian diusapkannya pada Dien dan Firly. Suasana berubah drastis. Istana maupun gerbang tak terlihat lagi. Semua berganti menjadi rimbunnya pepohonan tua dan semak belukar. Mereka kembali lagi ke halaman belakang rumah itu.
“Firly bagaimana?”
“Insaallah baik-baik saja di rumah Eyangnya. Kita pulang, Pak Dien.”
Dien mengiyakan dan melangkah dengan tenang, tapi kemudian ia berhenti ketika matanya tertarik pada sesuatu. Dari samping sumur yang berjarak kira-kira tiga meter, Dien melihat sebuah pondasi mirip tugu. Di sana tumbuh belukar yang menutupi keadaannya. Namun, Dien begitu tertarik dengan tugu itu dan amat ingin memeriksa.
“Pak Dien mau ke mana?” tanya ust. Mustafa saat Dien berjalan ke sana seperti tak sadar.
Dien memeriksa tugu itu dengan menyingkirkan semak yang ada.
“MasyaAllah!” pekiknya. Ustaz Mustafa yang tadinya diam, ikut mendekat. “Pak Ustaz, ini makam Karen,” tunjuknya pada tugu batu yang rupanya masih bisa dikenali meski telah rusak, tapi tulisan di atasnya masih bisa terbaca sebab nisan itu hanya terbelah di tengah karena faktor waktu.
Dien dengan cekatan membersihkan semak dengan mencabuti semak-semak yang bisa dicabut. Di sana, ia juga menemukan satu makam lagi. Sebagian tulisannya sudah hilang, tapi ada satu kata yang masih terbaca, “Van Lucock.”
“Pak Dien, di sini rupanya mereka dikuburkan. Selama ini, orang-orang tahunya keluarga Van Lucock hilang. Terutama Karen yang dikabarkan mayatnya dimasukan dalam sumur tua.”
“Iya, Pak Ustaz. Ini makam leluhur saya,” ratap Dien.
Keberadaan Karen yang mengamati mereka dari rimbunya semak-semak tak disadari. Ia tersenyum bahagia ketika Dien membersihkan semak-semak yang menutupi kedua makam.
“Romeo, aku ingin kita selalu bersama,” ujarnya.
__ADS_1
**
Di rumah Sanusi.
Firly mulai bisa menggerakkan tubuhnya. Risma yang menyaksikan, turut heboh memanggil Sanusi. Yang dipanggil pun datang dengan cepat.
“Alhamdulillah, Dien dan ust. Mustafa berhasil,” sergah Sanusi sembari mengusap-usap kepala Firly.
“Alhamdulillah, Pak.” Risma lantas memeluk Firly yang masih linglung dengan keadaan, “kamu ada di rumah, sayang. Bunda....” Risma tak bisa lagi berkata saat ditatapnya wajah si sulung. Dari manik mata berbinar basah penuh haru. Diusapnya kepala Firly penuh kasih.
“Mana Ayah, Bun?” tanya Firly agak lemah.
“Kak Firly bangun?” Fariz spontan meraih lengan Firly.
Firly segera menengok dan mengapit lengan Fariz, “kakak minta maaf ya, Dek. Kakak janji bakal sayang sama kamu. Gak bakal jahil lagi, atau jitakin kamu.”
“Benar Kak? Janji?” Firly mengangguk pelan, “hore...! aku sayang Kakak,” ia lantas memeluk Firly.
Dari arah pintu, Dien begitu haru sampai linangan air mata tak dapat dibendung. Bergegas, ia ikut dalam kerumunan.
“Ayah!” desah Firly, “kok nangis? Aku baik-baik saja kok.”
“Ayah gak nangis, cuma terharu.”
Malamnya.
Anak itu rupanya berada di tempat lain bersama Karen.
“Jadi, Tante Karen mau pergi?” tanyanya menunjukkan wajah yang muram.
“Je- tidak boleh sedih. Ik- senang sekali jadi teman anak manis seperti, Je-.”
“Tapi, nanti aku rindu sama Tante. Aku gak ada teman lagi buat main.” Binar mata Fariz begitu bening, basah dan pipinya memerah.
Karen menatapnya, tersenyum manis dan mengusap lelehan air mata yang jatuh. Kemudian ia menyenandungkan sebuah lagu berbahasa Belanda. Lagu yang membuat Fariz merasakan ketenangan.
“Je- harus jadi anak yang manis. Sayang pada ayah dan ibu dan jadi laki-laki yang hebat seperti kakeknya Je-, Romeo.”
“Siapa itu, Tante?”
Lagi-lagi Karen tersenyum, “nanti, kalau Je- sudah besar pasti tahu. Ik- pergi.”
Karen melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. Semakin lama, sosoknya semakin memudar dan tak terlihat lagi oleh Fariz.
__ADS_1
“Tante! Tante Karen, di mana?!” teriaknya agak terisak.
Tanpa disadari, Risma rupanya sedari tadi memperhatikan kelakuan Fariz. Naluri sebagai ibu, menuntunnya untuk mendekap Fariz.
“Fariz gak boleh sedih. Tante Karen harus pulang, di sini bukan rumahnya.”
“Pulang ke mana? Aku ingin ikut.”
“Nggak, sayang. Rumah Tante Karen sangat jauh. Fariz tidak ingin kan, Tante Karen malah sedih?”
Anak itu terdiam. Risma kemudian membujuk Fariz agar mau ikut dengannya menuju pengajian yang sebentar lagi akan selesai. Sepanjang menuju pengajian, Fariz banyak cerita tentang keinginan Karen.
Pengajian akhirnya selesai dengan ditandai pulangnya para jemaah. Yang tersisa hanya Dien, Sanusi, Firly dan ust. Musatafa.
“Ayah, Bunda ingin membicarakan tentang Karen.”
Dien tentu saja agak terkesima. Selama ini, Risma sangat takut dengan hal-hal berbau mistis, tapi kenapa ingin membicarakan arwah noni belanda itu?
“Memangnya ada apa, Bun?”
“Bunda kira, Karen menginginkan agar jasadnya disemayamkan dekat makam Radya.” Dien mengernyit menahan rasa heran, “tadi, Fariz cerita sama Bunda. Katanya, Karen ingin sekali dimakamkan dekat makam Radya. Karen amat mencintai Radya, sampai-sampai memanggilnya Romeo. Bunda jadi kepikiran, Yah. Karen dulu sempat meminta Romeo untuk menyelamatkan Firly. Pasti yang dimaksud, keinginannya agar bisa kembali dekat dengan Radya dan dia menceritakan itu pada Fariz.”
“Pak Dien, sepertinya itulah yang membuat arwah Karen tidak pernah tenang. Keinginannya yang menghalangi dia pergi ke alamnya. Ada baiknya, kita turuti saja kemauannya.”
“Ya, saya setuju. Dengan begitu, saya juga jadi bisa berziarah ke makam leluhur saya tanpa harus terpisah-pisah,” helanya ikhlas memutuskan, “ah, ya. Ayah sudah putuskan untuk menjual kembali rumah itu. Ya, meski sebenarnya Ayah sangat berat melepasnya, tapi Ayah tidak ingin kalian merasa tidak aman.”
“Keputusan yang bagus. Bapak dukung kamu, Dien. Keluargamu yang paling utama.”
“Aduh!” sengat Risma memegangi perut. Sontak semuanya mengalihkan pendangan. Apalagi Dien yang panik dan segera bertanya, kenapa. “Sepertinya Bunda kontraksi. Bayinya sebentar lagi mau lahir!”
Seketika itu juga, Dien kalang kabut. Untungnya, Sanusi dan ust Mustafa bisa menenangkan dan segera menyarankan Dien untuk membawa Risma ke klinik bersalin.
**
Menunggu selama empat jam.
Dari dalam ruang persalinan baru terdengar tangis manusia yang baru saja dilahirkan. Dien menangis haru menatap manusia mungil berkulit merah itu selamat menapaki dunia. Diadzaninya dengan penuh kebahagiaan yang tak terkira.
“Anak kita perempuan, Bun. Cantik sepertimu,” ungkap Dien saat Risma menatap bayinya.
“Ayah saja yang kasih namanya.”
Dien diam sebentar, memikirkan nama yang tepat.
__ADS_1
“Bagaimana kalau dinamai Karenina Radya Pertiwi? Nama kakek neneknya?”
“Cantik, Yah. Bunda setuju.”