Teror Di Rumah Belanda

Teror Di Rumah Belanda
Karen (4)


__ADS_3

4


Dien pulang.


Fariz begitu semringah saat sosok itu melebarkan bibir dan langsung memeluk, mainan yang dimainkan di halaman, ditinggalkan begitu saja. Lalu Dien menggendongnya, meski badan itu terasa amat lelah.


“Bunda mana?” tanya Dien celingukan ke arah ambang pintu.


“Sakit, Ayah. Bunda di kamar sama Kak Firly.”


Dien sesegera mungkin menuju kamar.


Risma terlihat pucat berbalut selimut serta mata cekung. Segera ditempelkannya punggung tangan ke kening.


“Dingin. Bunda sebenarnya sakit apa sih?”


“Itu Yah, semalam lihat orang tinggi besar, hitam, banyak bulunya di dapur. Genderowo,” timpal Firly.


Dien tersentak.


**


Fariz melanjutkan permainan yang sempat terhenti karena menyambut kepulangan Dien. Walaupun laki-laki, anak itu senang sekali memainkan perabotan masak-masakan dan berimajinasi menjadi seorang chef profesional di acara masak.


Ia begitu larut dalam dunianya, mengoceh sendiri menyebutkan nama-nama bahan makanan yang akan dimasak. Semacam membuat resep ala chef yang sering wara-wiri di acara televisi.


Di hadapannya, ada daun-daun entah dari pohon apa, tanah yang dianggap tepung, air serta beberapa bumbu dari dapur, diambil tanpa sepengatahuan Risma. Kalau bundanya itu tahu, sudah pasti Fariz akan kena ceramah.


Risma inginnya, anak bontotnya itu jadi seorang laki-laki yang seharusnya. Jadi tentara, polisi atau profesi lain yang dianggapnya lebih menunjukkan sisi maskulin. Kadang, ia harus adu argumen dengan anak itu hanya karena keinginan jadi seorang chef profesional.


Permainan masak-masakan dianggapnya terlalu wanita. Risma sangat cemas dengan perkembangan kepribadiannya nanti. Jangan-jangan, nantinya bakal memiliki sisi feminim. Untuk itulah, kadang ia lebih sering meminta Firly bermain dengan Fariz.


Nah, Firly yang sudah remaja, malah keberatan harus bermain dengan adiknya itu. Bagaimana tidak, teman-temannya dulu lebih sering menyebutnya, “emak-emak,” karena harus menjaga Fariz. Kebebasan dirasakan hilang. Terlebih, usia remaja pastinya ingin sekali mencari sesuatu yang lebih dewasa, dan bagi Firly, dewasa itu menjadi “laki-laki sejati,” tampan, keren, disukai banyak gadis dan tentunya jantan banget.


Memang kedua anak itu sudah seperti dua kutub magnet yang saling berlawanan. Firly yang lebih maskulin ketimbang Fariz, pasti kerap mendominasi setiap apa pun.


Fariz sangat menikmati dunia memasaknya.


Lalu, satu sosok hadir tanpa disadarinya, mendekat.


“Je(kamu) sedang main apa?” tanya sosok itu. Fariz tereyak ketika melihat orang yang menyapa. Noni berambut pirang dengan wajah pink amat pucat dan mata menghitam semua. “Wees niet bang (jangan takut)!Ik (aku), Karen Van Lucock,” seringainya.

__ADS_1


Ketakutan tak dapat disembunyikan. Wajah itu memutih dengan keringat membasah dan bibir yang bergetar gugup.


“Tan... tante?”


Karen tersenyum tipis, mencoba ramah namun tetap saja hawa ngeri masih terasa. Ia berusaha untuk diterima.


“Je anak manis. Boleh ik- ikut main?” Fariz tak bisa menjawab, gugup dan takut jadi alasannya, “jangan takut. Ik- tidak jahat. Ik- suka sama anak manis sepeti-je.” Diraihnya tangan Fariz.


Hawanya dingin serta terasa ringan seperti kapas.


Fariz mencoba tenang menghadapi Karen yang dirasanya memang tak jahat.


“Tante mau main masak-masakan?”


Karen kembali menyeringai, bahagia dengan tawaran itu.


**


Hari menuju senja, magrib akan datang.


Fariz belum juga memperlihatkan diri di ruangan mana pun di rumah itu.


Dien mencari-cari dan dibuat panik dengan hilangnya Fariz secara tiba-tiba.


“Ya, gak tahu,” balas Firly cuek.


“Kamu itu tidak pernah mau jaga adikmu, kenapa sih?” dongkol Dien.


“Aku bukan emak-emak, Ayah. Malulah, tiap ada Fariz, pasti teman-teman bilangnya, mau ke posyandu ya, Mak?”


“Cepat cari!” sergah Dien melotot.


Firly dengan santainya beranjak, tapi ada nada mendumel yang terlontar, “ketemu kujitak.”


Halaman depan disasarnya, tetap tak terlihat yang dicari.


Firly beranjak menuju halaman belakang di mana, di sana terdapat sebuah sumur tua dan juga pohon-pohon rindang berusia ratusan tahun. Keadaannya tak seindah bayangan. Terlihat suram dengan hawa mencekam terutama magrib seperti ini.


Sekelebat bayangan ditangkapnya.


Sosok agak pendek, tua sebab terlihat rambut putih tumbuh subur.

__ADS_1


Firly agak merinding dengan itu. Magrib tua seperti ini, ada seseorang yang mungkin itu bukan manusia, pikirnya. Ia memutuskan untuk menyudahi pencarian adiknya di halaman belakang. Kondisi yang dianggap tidak memungkinkan.


“Ayah!” teriak Firly, “di halaman belakang gak ada.”


Dien muncul dengan memakai afron.


“Adikmu sudah ada kok, di kamar tu,” ujarnya.


Muka Firly berubah dongkol, ditekan-tekannya gigi-gigi untuk menahan kekesalan, “kenapa gak dari tadi sih ngomong? Capek tahu!”


Dien cengar-cengir dengan tingkah anak sulungnya, pura-pura tak mendengarkan omelan itu. Lantas ia melanjutkan acara memasak untuk malam ini.


Dengan kegusaran yang masih melekat, Firly menyambangi kamar. “Ketemu kujitak!” dengkusnya berulang-ulang.


Pintu kamar dibukanya, dilihat, Fariz terlelap karena keletihan.


Firly tak tega setelah tahu kalau adiknya itu amat lelah sampai dengkuran halus keluar dari tidur itu. Ia kemudian mengurungkan niat yang tadi begitu membara dan kembali menuju dapur, menemui Dien.


“Ayah, kayaknya kita jual lagi saja rumah ini,” celetuk Firly menyantroni bakwan panas yang baru diangkat.


“Pindah, alasannya?”


“Banyak hantunya, Ayah. Bunda sampai sakit begitu gara-gara lihat manusia hitam tinggi besar, katanya banyak bulunya. Firly kira itu sejenis genderowo deh, Yah. Soalnya, dari buku dan cerita misteri yang sering Firly tonton, ciri-cirinya sama,” ujarnya begitu fasih. Firly memang sangat terobsesi dengan hal-hal gaib.


Bacaan, tontonan bahkan pertemanan di media sosial tak luput dari hal-hal gaib, seperti grup-grup horor dan paranormal. Bahkannya lagi, Firly sempat meminta pada Dien untuk dicarikan guru spritual yang mengerti ilmu-ilmu klenik dan cita-citanya pun sangat berbeda dengan anak laki-laki pada umumnya. Ia ingin sekolah ke luar negeri mengambil jurusan metafisika.


Dien jelas tidak ingin mengabulkan permintaan itu. Orang tua gendeng yang menjeremuskan anaknya mempelajari ilmu-ilmu supernatural seperti itu. Yang ada, ia takut anaknya itu malah salah jalan, atau jadi gila karena ilmu yang belum dipahami manusia normal pada umumnya.


“Kamu masih baca bacaan seperti itu, Ayah kan sudah larang?”


“Habis, bosan Ayah kalau baca bacaan yang dikasih Bunda atau Ayah. Gak menarik! Apa coba orang jatuh cinta sampai harus mati? Konyol!”


“Memang kamu baca apa?”


“Itu, novel Cinta Anak Monyet.”


Dien membuka afron dan meletakkanya di atas punggung kursi.


“Itu novelnya Bunda. Ya kamu gak bakalan ngerti sama bacaan begitu.”


“Tapi kita memang harus pindah Ayah. Tadi saja, di halaman belakang, Firly lihat sosok kakek-kakek. Rambutnya putih, pakaiannya serba hitam. Di halaman belakang sedang berdiri.”

__ADS_1


Dien kali ini mematung.


Seangker itukah rumah peninggalan Belanda ini? Tak hanya sosok manusia hitam tinggi besar, noni belanda dan sekarang kakek-kakek di halaman belakang. Namun, ia tak berkeinginan melepas kembali rumah ini. Justru, ada sesuatu yang menariknya untuk diselidiki ada apa sebenarnya dengan rumah ini. Sesuatu itu tampaknya menantang Dien untuk mengungkap keganjilan yang terjadi di sini.


__ADS_2