
6
“Pokoknya, Bunda ingin pindah!” cetus Risma sengit.
Dien beralih posisi dari duduk jadi berdiri. Kamar, mereka melanjutkan kembali diskusi sore. Sebabnya tak lain masih perihal rumah yang dirasa tak nyaman. Terlebih setelah mendengar masa lalu penghuninya dari Adun.
Risma jadi selalu terbayang-bayang dengan Karen, noni Belanda itu menjadi satu momok mengerikan.
“Ya tidak bisa begitu juga, Bunda,” sanggah Dien, “kita baru saja pindah, belum juga satu bulan, masa pindah lagi?”
“Dari pada begini! Bunda gak nyaman, anak-anak juga. Dulu, Bunda sudah nentang. Ayah tetap saja kukuh beli rumah ini.”
Dien tak ingin membantah lagi. Semakin dijawab, tentunya Risma akan semakin berontak dan pasti susah diluruskan.
Risma melangkah menuju luar kamar.
“Loh, mau ke mana?”
“Ayah tidur saja sendiri di sini. Bunda mau tidur bareng anak-anak. Gak betah!”
Terpaksa Dien membiarkan, dicegah juga tak bakalan berubah pikiran.
**
Tidur sendirian.
Dien seolah jadi suami rasa duda, ditemani bantal guling yang dipelukanya erat-erat. Saat ini, angin malam tak menunjukkan keramahan. Terasa lebih dingin, seakan sekarang waktunya musim penghujan yang padahal masih jauh dari seharusnya.
Pikirannya tak tenang hingga mata itu tak mau juga terpejam.
“Masa harus dijual lagi? Sayang sekali, aku sudah jatuh cinta sekali sama rumah ini. Kapan lagi punya rumah eksotis seperti ini?” gerutu Dien menatap langit-langit kamar.
Dien berguling-guling, tak bisa juga tidur karena kebuntuan untuk melepas kembali rumah yang baru saja dibeli. Rumah yang jadi angan-angannya sejak dulu, sekarang harus dilepas kembali hanya gara-gara adanya gangguan astral.
Sekian lama ia tak tenang, samar terdengar guyuran air dari kamar mandi. Padahal, jarak antara kamar dan kamar mandi cukup jauh. Terhalang satu ruangan yaitu ruang makan, tapi bunyi guyuran itu seakan dekat.
“Malam begini siapa yang main air?” gumamnya.
Dari pada penasaran yang makin menjadi, Dien memutuskan untuk mencari tahu saja. Ia beranjak, melepaskan guling yang tadi dipeluk, lantas membuka pintu.
Guyuran air sempat berhenti mana kala Dien melewati lorong menuju kamar mandi. Gaya rumah yang memang serba simetris, khas arsitektur rumah-rumah Belanda menjadikan lorong-lorong di sana semacam labirin. Apalagi di malam hari seperti sekarang, seakan lorong-lorong ini jadi benteng-benteng tahanan yang ditinggalkan. Sepi dan lebih melekatkan energi yang membuat bulu-bulu halus merespon dengan sangat baik.
__ADS_1
Dien merasakan itu. Ia sempat mengusap bulu punduk karena hawa dingin yang bertiup.
Pintu kamar mandi tertutup rapat. Di dalam tak terdengar lagi guyuran air. Gantinya, dari dalam terdengar suara berderit serupa kayu yang saling bergesek. Dien sempat ragu untuk membuka pintu. Keraguannya lebih karena rasa was-was yang hinggap.
Malam-malam, di kamar mandi ada suara seperti itu. Suara yang lebih mirip orang yang sedang melakukan pengrusakan pelapon langit-langit kamar mandi. Kira-kira, siapa yang berani melakukan hal seperti itu? Tentu, orang tersebut bukan orang baik-baik. Dien yakin kalau rumah ini akan kena maling. Sebagai antisipasi, ia benar-benar waspada.
Pintu dibukanya dengan pelan.
Dari dalam, dilihatnya kosong. Dien memastikan lebih dalam. Pelapon kamar mandi utuh, tak ada bekas apa-apa ataupun dijebol orang. Semuanya seperti semula. Lalu suara kayu yang terdengar? Dien dibuat kebingungan dengan pendengarannya. Sedangkan guyuran air, itu pun tak ditemukan bekas air yang mengalir. Tak ada bekas basah di lantai, bahkan shower yang ada masih pada tempatnya, tak ada tanda-tanda seseorang telah menggunakan alat itu.
Namun, yang lebih membuat Dien bingung, ia menemukan lantai kamar mandi yang kotor. Di sana ada tapak kaki, cukup lebar dan sepertinya bukan ukuran biasa. Tapak itu jelas membekas karena tanah yang tertinggal menempel di ubinnya.
Dien memastikan ukuran tapak kaki yang ada.
“Lebar sekali,” gumamnya.
Setelah memastikan tapak itu, Dien memutuskan untuk kembali ke kamar.
Satu sosok mengamatinya dari balik kaca jendela kamar mandi yang hanya ditutupi tirai putih. Ia menyorotkan sinar mata memerah dengan wajah penuh bulu dan gigi yang mencuat keluar.
Pintu kamar dibuka.
Dien terpaku diambangnya, mata dikucek-kucek.
**
Dengan mata kantuk, Dien manggut-manggut menghadap ke piring yang sudah berisi sarapan. Semalam ia tidak bisa tidur lagi setelah melihat Karen. Noni Belanda itu tak menganggunya, tapi Dien tetap tak mampu merapatkan mata.
“Ayah sepertinya ngantuk sekali,” Risma memergoki Dien yang hampir menjatuhkan kepala di atas piring saking tak bisa mengontrol kantuk.
“Semalaman susah tidur, hoammm,” mulut itu melebar, Dien kembali manggut menutup mata.
Risma kembali melonjak setelah sempat duduk, dari arah luar sebuah salam mengharuskannya beranjak.
“Eh, Pak Adun. Pagi-pagi berkunjung.”
“Maaf, Bu Risma. Ndak ganggu ken ya?”
“Gak, Pak Adun mau kontrol rumah ini ya?”
“Seperti janji kemarin, aku sudah pergi ke orang pintar buat usir penghuni di sini. Mudah-mudahan bisa. Soalnya, kata Mbahnya, ndak gampang.”
__ADS_1
Risma mempersilakan.
Adun mengamati setiap ruangan, matanya liar mencari sesuatu.
“Di sini ndak ada,” lirihnya, “lah, di sini!” ia berhenti di dekat kamar mandi.
“Di situ kenapa Pak?” tanya Risma penasaran sebab Adun mengendus-enduskan hidungnya seperti anjing pelacak yang sedang membaui target.
“Aromanya beda.”
Risma pikir, ya pasti beda. Itu kan kamar mandi. Aromanya pasti tak akan enaklah walaupun ia termasuk emak-emak apik, tukang bersih-bersih yang sudah bersetifikat resmi yang diakui oleh semua anggota keluarga, bau kamar mandi ya akan sangat berbeda dari ruangan lain.
Risma nyengir dengan polah Adun yang terus mengendus.
“Ndak apa-apa kalau masuk?”
“Silakan saja, Pak,” jawab Risma mesem sebab geli. Dielus-elusnya perut buncit itu.
Firly berlari cepat-cepat menuju kamar mandi dan hampir saja menabrak.
“Kamu kenapa sih?”
“Kebelet Bun,” kedua telapak tangannya menutupi bagian bawah dan ia meringis menahan kebutuhan mendesak.
Di dalam, Adun sibuk menaburkan serbuk kecoklatan dari kantung hitam.
Firly sempat memperhatikan. Namun, Adun segera menghentikan kegiatannya.
“Loh loh, ndak sopan. Kenapa ndak kasih tahu dulu?”
Firly rada tersentak dengan Adun, “Kakek ngapain? Aku kebelet.”
Tanpa basa basi lagi, ia membuka restleting dan memancurkan banyak air dari baliknya. Setelah semuanya keluar, Firly bernapas lega.
Adun diam.
Firly tak begitu selera berbincang lebih lama. Ia memutuskan untuk segera pergi dan kembali ke aktivitasnya, mempersiapkan segala keperluan untuk bermain futsal.
Setelah semuanya dirasa selesai, Adun kembali keluar menemui Risma.
“Semuanya sudah selesai. Mudah-mudahan, lelembut penghuni rumah ini ndak ganggu lagi. Aku pamit.”
__ADS_1
Risma mengantarkan Adun sampai ke luar.
Sementara, tanpa disadarinya, Karen ikut memperhatikan. Noni Belanda itu menekukan muka. Sesuatu sangat tidak disukainya. Lantas, ia pergi setelah Adun hilang dari rumah itu.