Teror Di Rumah Belanda

Teror Di Rumah Belanda
Sulap (9)


__ADS_3

9


Fariz berbalik.


Garis matanya hitam dan menatap orang-orang yang datang dengan beringas. Ia menyeringai, memperlihatkan geligi yang serupa dengan anjing pemburu.


Risma melemah dengan tatapan itu. Tangannya gemetaran ketika mengerat lengan Dien.


“Yah, Fariz…,” bisiknya.


Fariz mengangkat tongkat dan menyempatkan bibirnya melebar, lalu dengan segera mengarahkan pemukul kasti ke arah orang-orang yang baru datang.


Jelas, Risma begitu kaget dan ketakutan dengan perubahan sikap anaknya yang dinilai brutal. Saat pemukul itu hendak mengayun, Risma tak kuasa melengkingkan ketakutannya.


Namun, Dien dengan sigap menahan serangan yang diperkirakannya mudah ditahan. Sialnya, meleset. Serangan itu nampaknya bukan serangan anak kecil. Dien merasakan sekali perbedaan tenaga yang diterimanya. Seakan, Fariz memiliki tenaga setara dengan seorang pemukul bisball professional.


“Ayah!” sergah Risma terkejut.


Beruntung, Dien tak mengalami apa-apa karena Sanusi juga sigap membantu menghentikan serangan.


Dieratnya tubuh Fariz yang meronta-ronta dengan nada menggeram persis suara orang dewasa berjenis bass. Amat berat dan mengerikan terutama bagi Risma yang memang paranoid dengan gangguan-gangguan astral.


“Dien, Fariz sepertinya ...,” ucap Sanusi sekuat tenaga menahan rontaan. Racauan yang keluar hanya geraman menggelegar, “aduh!” lenguhnya saat lengan itu digigit.


Fariz terlepas dan segera berlari menuju kamar mandi.


Dien mengejar, Fariz benar-benar cepat, sosoknya tak terlihat di mana pun. Namun, ia terkejut dengan jejak yang tertinggal. Sebuah tapak kaki yang sama seperti hari lalu, berbekas sebab tapak itu sepertinya habis menginjak tanah basah. Bekas-bekasnya begitu kentara, menempel di lantai kamar mandi.


**


Firly terbaring di kamar ditemani Sanusi dan Risma. Kondisinya belum juga sadar.


“Fariznya mana Dien?” tanya Sanusi saat melihat Dien masuk.


“Hilang, Pak.”


“Kok bisa sih, Yah?” sergah Risma was-was.


“Ini aneh, Dien.”


Ya memang aneh. Dien tak bisa menjelaskan letak keanehan yang ada. Takut-takut, kalau nanti Risma lebih ketakutan, dicemaskan akan berpengaruh pada kandungannya. Ia lebih memilih menyimpan rapat-rapat keanehan itu.


“Firly bagaimana?”


“Belum sadar, baiknya kita bawa, periksa ke dokter, Dien.”

__ADS_1


Dien setuju dengan usul itu mengingat kemungkinan terjadi trauma akibat pukulan keras. Perkiraannya memastikan kalau Fariz sempat memukulkan tongkat bisball, tapi entah bagian mana yang kena sampai Firly bisa tak sadarkan diri. Kalau bagian tengkorak kepala, Dien takut itu akan berakibat fatal.


Dien segera mengambil kunci mobil, tak berselang lama ia kembali untuk membawa Firly.


Saat berada di halaman, Adun berhenti bertepatan dengan terbukanya pintu.


“Loh-loh, pada mau ke mana?” tanya Adun.


“Pak Adun, maaf kami buru-buru,” pungkas Risma.


Adun memperhatikan Firly yang sedang dibopong Dien, “itu kenapa? Ndak apa-apa kan?”


“Tidak apa-apa, Pak.” Dien tak banyak komentar, segera berjalan agak cepat menuju mobil yang terparkir di halaman.


“Bapak di rumah saja, Dien. Jaga Fariz,” ujar Sanusi.


“Iya, Pak. Hati-hati.”


Adun melongok memperhatikan pembicaraan mereka yang dinilainya sesuatu yang buruk sedang terjadi.


Risma dan Dien pamit, lantas mereka pergi membawa Firly ke rumah sakit.


“Kenapa, San? Ndak ada yang aneh kan sama rumah ini?”


“Lah kamu mau apa kemari, Dun?”


“Soal?”


“Rumah ini. Katanya lelembut di sini sering ganggu, jadi aku mau bantu. Terus, mantumu bilang ndak betah tinggal di sini lamaan. Aku siap bantu kalau-kalau mau dijual lagi. Nanti aku cariken yang mau beli.”


Sanusi menghentikan perbincangan sejenak, seperti sudah diskenariokan. Pas sekali waktunya. Dien tak harus repot-repot mencari calon pembeli untuk menjual kembali rumah ini. Walau mungkin harga jual rumah ini akan turun dari pembelian, tapi itu masih lebih baik ketimbang lama-lama tinggal di tempat yang sudah seperti sarang makhluk halus ini.


“Loh-loh, kamu kenapa bengong San? Aku mau cariken pembeli asal dapat ini,” Adun memainkan dua jemarinya, telunjuk dan jempol yang digesek-gesekan.


“Ah itu urusan Dien nanti. Kamu mau masuk, Dun? Ngopi?” tawar Sanusi.


Bibir Adun mesem-mesem menerima tawaran itu, lalu ikut masuk.


Ketika Sanusi hendak menuju dapur, dilihatnya Fariz berada di ruang keluarga. Menghadap televisi memperhatikan tayangan film berbahasa negara kincir angin. Sesekali, anak itu melemparkan pertanyaan ke arah samping yang jelas-jelas, Sanusi tak melihat di situ ada orang lain.


“Orang itu ngomong apa sih, Tante?” tanya Fariz. Perhatian Sanusi begitu lekat, rumah ini memang membawa banyak keanehan. Janggal dengan segala yang terjadi, Sanusi dengan hati-hati mendekat.


Kejadian yang dialami Firly masih membayanginya.


“Cucu Eyang sedang nonton apa?”

__ADS_1


Fariz spontan menengok. “Eh, Eyang. Fariz nonton itu,” tunjuknya ke arah televisi, “sama tante Karen,” ia berbalik arah menunjuk ke samping, dan di sanalah Karen duduk.


Sanusi yang tak dapat melihat sosok itu, masih bisa menangkap hawa keberadaannya.


“Niet beleefd (tidak sopan)!” murka Karen saat memperhatikan raut Sanusi yang kebingungan dengan polah Fariz.


Karen berjalan menuju patung yang sepertinya itu adalah pahatan dari pemilik rumah, menir Van Lucock. Ia masuk ke dalamnya. Lalu, tiba-tiba mata patung itu benar-benar hidup, melirik Sanusi dan menatapnya.


Sanusi mematung dengan keanehan patung perunggu yang letaknya bersebelahan dengan sofa. Mata dikuceknya, takut-takut apa yang dilihat barusan hanya semacam ilusi. Namun, patung yang dilengkapi hiasan pedang khas prajurit Eropa itu malah menunjukkan aktraksi lain. Tangan dari patung bergerak dengan mata menatap tajam. Pedang diayunkan seolah hendak menebas.


Dengan debaran yang tak karuan, Sanusi tunggang langgang meninggalkan ruangan itu.


Berbeda dengan Fariz yang malah terbahak-bahak, merasa lucu dengan ketakutan eyangnya.


Karen keluar dari sana. Ia ikut tertawa melihat Fariz terbahak.


“Tante hebat, bisa sulap.”


“He-em. Ik- dengan mudah bisa melakukan itu.”


Mata Fariz berkaca-kaca, kagum dengan kemampuan Karen yang dianggapnya master sulap. Ia tak pernah tahu pandangan-pandangan orang-orang dewasa di sekelilingnya mengenai kejadian mistis barusan dan sosok Karen sebenarnya.


**


Napas terengah-engah, hampir-hampir habis kalau saja Sanusi tak berhenti dan buru-buru mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Desahannya tersendat setiap mengambil udara yang ada.


“Loh-loh, ngos-ngosan begitu San? Kamu lari malam-malam, olah raga biar sehat ya? Ndak capek?” berondong pertanyaan Adun tak lantas dijawab.


Sanusi masih fokus melahap oksigen yang sudah mulai terkumpul di paru-paru.


“Bukan, Dun. Tadi—itu, tadi-,” sela Sanusi tersendat mengambil napas.


“Yang jelas, San. Aku ndak paham toh.”


Adun berdiri dari posisi duduk, melangkah mendekati Sanusi lantas diraihnya bahu, lalu ia memijatinya dengan pelan.


Sanusi agak santai dengan itu, “Dun, kamu kan tahu betul tentang rumah ini,” ia berhenti sejenak menikmati pijatan Adun.


“Loh-loh, ya jelas San. Kamu ndak usah nanya. Enak?” Sanusi manggut, “kalau udah enakan, kamu lanjut cerita, tadi kenapa?”


Sanusi melirik ke arah ruangan yang baru saja ditinggalkan, sekejap lantas berbalik lagi, “patung yang ada di ruang TV, itu patung Menir Van Lucock?” kali ini Adun yang manggut dengan tatapan melongok, “patung itu tadi hidup.”


Ekpresi Adun berubah melonjak, “loh-loh San, kamu ndak bohong? Masa patung bisa hidup? Aku ndak percaya.”


“Berani sumpah, Dun!” serunya serius, “kamu kan lama mengenal rumah ini, coba ceritakan semua tentang rumah ini, kenapa penghuni terdahulu pindah? Pasti ini karena gangguan-gangguan gaib di sini. Ini sudah jadi rahasia umum, tapi aku mau tahu semuanya dari kamu, Dun.”

__ADS_1


Adun menaikan jemarinya ke dagu yang sudah ditumbuhi jenggot putih, tapi sudah tercukur dan hanya menyisakan bekas-bekas bulu kasar. Dimainkannya jari-jari di dagu.


“Aku ndak berani cerita, San,” ucapnya agak ragu.


__ADS_2