
Perjalanan menuju Station Soerabaia
SS Eendaagsche Express dengan lantangnya menggaung sepanjang rel yang terhampar melintasi sawah-sawah, ladang-ladang, perkebunan, sungai, hutan bahkan gunung. Karen terpesona dengan hamparan hijau pemandangan yang terlihat. Terlebih ketika melintasi perkebunan teh dan kopi.
“Pemandangannya luar biasa. Ini memang pantas disebut surga.”
“Ya, memang tanah negeri ini, tanah dari surga. Tuhan menciptakan negeri ini saat Dia benar-benar dimabuk cinta. Tapi, sayangnya mereka yang harusnya berhak atas tanah ini malah jadi budak di rumahnya sendiri.”
Karen tersentak. Ingin marah, sebab ada orang yang terang-terangan memberikan pandangan yang menurutnya keliru. Sepengetahuan Karen, VOC memberikan banyak perubahan dan kemajuan bagi negeri ini. Yang semula hanya mengadalkan kekunoan dalam segala aspek kehidupan, kini berubah jadi peradaban yang lebih maju. Contohnya loko ini. Masyarakat jadi mudah dalam memperpendek perjalanan. Itu semua karena adanya kebijakan VOC dalam mengubah kekunoan itu.
Namun, Karen tak menyadari betapa kemajuan itu harus dibayar dengan banyaknya kesengsaraan warga lokal. Mereka harus membayar semua itu dengan cucuran darah, nyawa dan juga harga diri sebagai pemilik tanah negeri ini.
“Kamu tidak bisa menyalahkan bangsa kami. VOC telah memberikan banyak sekali kontribusi untuk negeri ini. Kalau kami mengambil sebagian yang ada di negeri ini, itu wajar sebagai bentuk imbalan untuk kami, sebab kamilah yang telah bekerja keras membangun negeri ini. Kamu tahu kan, tidak ada makan siang gratis.”
“Ya, tidak ada makan siang gratis. Nona….”
“Karen, kamu panggil itu saja,” protesnya.
“Karen, apa kamu tidak bisa melihat bagaimana kami berusaha mempertahankan hak kami?”
“Hak mana? Papi selalu cerita kalau bangsa kami memperlakukan kalian dengan baik, memberikan hak-hak kalian. Masyarakat Eropa di sana juga tahu kalau kami memperlakukan kalian secara layak. Persoalan kalian hanya jadi penduduk kelas tiga, itu karena kamilah yang telah menanamkan modal di tanah-tanah kalian, kami yang telah mengolahnya, mengaturnya dan membuat tanah itu jadi lebih produktif.”
Rady tersenyum kecil, “dengan cara memperbudak kami?”
Wajah Karen memerah, tak terima, “ken mezelf niet (tak tahu diri)!”
Perdebatan yang terjadi mengubah suasana lebih dingin, hening dan sepanjang loko merayap menuju pemberhentian akhir, baik Karen maupun Rady sama sekali tak bersuara. Awalnya mereka saling pandang dengan sorot sebal dan panas, tapi entah siapa yang mulai menyerah lebih dulu, keduanya malah mengambil buku yang disimpan di kantung kursi.
Apakah kebetulan atau tidak, Rady dan Karen mengeluarkan buku yang sama, Shakespeares. Mulanya, keduanya tak ingin saling menyapa, menahan segala keinginan untuk mengawali percakapan, sampai kemudian, Rady yang pertama kali buka mulut.
“Hampir sampai di pemberhentian terakhir. Kamu mau kemana setelah ini?”
Karen melupakan perdebatan itu, “Ik (aku) akan menghadiri perjamuan antar warga Eropa yang ada di sini, di Oranje Hotel.”
__ADS_1
“Oh. Leuk je te ontmoeten (senang bertemu denganmu).” Peluit dari loko mencuit keras ketika mesin perlahan melambat. Dari arah stasiun, terlihat petugas memberi tanda agar masinis bersiap memberhentikan naga besi itu. Para penumpang mempersiapkan diri termasuk pelayan-pelayan yang kemudian datang pada majikannya untuk menurunkan barang bawaan. “Aku harap kita masih bisa bertemu lagi,” ucap Rady dengan sorot mata penuh harap pas saat kereta berhenti total. Diulurkannya tangan yang disambut hangat oleh Karen.
Rady memberikan penghormatan khas orang eropa dengan menciumi punggung tangan Karen sebagai tanda apresiasi yang tinggi. Dengan muka berbinar-binar, Karen tersenyum, merona hingga muka pinknya lebih terlihat lagi.
**
“Assalamualaikum,” sapa ustaz Mustafa pada Karen.
Ia memperhatikannya penuh dengan kewaspadaan, “wat wil je? (apa maumu)”
Ustaz Mustafa kebingungan dengan jawaban Karen karena tak mengerti dengan perkataannya. Untungnya, Fariz bisa mengerti kebingungan itu, “Tante, pak Ustaz gak ngerti. Kenapa Tante ngomong kayak ngomong sama aku?”
Karen kembali tersenyum, “Tante sengaja, biar dia bingung, hihi…,” bisiknya.
Fariz ikut tertawa juga, “Ih Tante, kasihan Pak Ustaz.”
Baik Risma maupun Dien dan Sanusi hanya bisa plangak-plongok. Mereka menatap aneh kelakuan Fariz yang sedang tertawa sendiri, bisik-bisik. Namun, ust Mustafa ikut tersenyum ketika memperhatikan anak itu.
“Aku gak mau kasih tahu ah,” jawabnya cekikikan. Risma kemudian melotot pada Fariz hingga anak itu sedikit menunduk, “Tante Karen bilang, sengaja biar Pak Ustaz bingung.”
Ustaz Mustafa mengusap kepala Fariz, “bilang sama Tante Karen, Pak Ustaz minta tolong buat jemput Kak Firly. Dek Fariz ingin kan, Kak Firly bangun lagi? Main lagi?”
Fariz diam, berpikir keras dengan permintaan itu. Bukan karena ia tak ingin kakaknya sadar kembali, tapi nalarnya belum begitu paham dengan apa yang terjadi.
Dien menghampiri Fariz, menyetarakan posisinya dengan cara berlutut di depan anak itu, “Nak, Ayah minta tolong. Bilang sama Tante Karen, kalau Pak Ustaz butuh bantuannya. Fariz sayang sama Kak Firly?”
“Aku sayang sama Kak Firly, Ayah. Biarpun dia jahat,” ujarnya polos mengungkapkan isi hati.
“Kak Firly gak jahat. Dia juga sayang sama Fariz.”
“Tapi kenapa dia selalu jitakin aku? Padahal, aku gak salah apa-apa.”
Dien mendekap lembut Fariz, diusapnya pula kepala anaknya,“Nak, Kak Firly melakukan itu karena khilaf. Kak Firly tadinya mau minta maaf, tapi….”
__ADS_1
“Iya, Ayah. Aku mau.”
Fariz berbisik meminta agar Karen mau menolong Firly. Dengan permintaan itu, ust Mustafa akhirnya bisa berkomunikasi dengan Karen. Banyak hal yang mereka bicarakan.
“Jadi, kamu ingin menyelamatkan anak itu?” tunjuk Karen pada Firly, “apa yang aku dapat kalau berhasil?”
“Apa yang Nona inginkan? Kalau pengorbanan nyawa, kami tidak akan pernah melakukannya.”
Karen tersenyum tipis, “aku tidak menginginkan nyawa. Hanya saja, aku ingin Romeo. Bagaimana?”
Ustaz Mustafa bengong, permintaan arwah ini terlalu aneh. Romeo bukankah tokoh fiktif?
“Saya tidak paham, Nona.”
“Sudah aku duga. Kalau kamu tidak bisa memenuhi keinginan itu, aku tidak akan pernah memberi bantuan apa pun. Kamu urus sendiri!” Karen lalu pergi tanpa basa-basi ataupun sekadar mengucapkan salam. Namun, sebelum benar-benar pergi, ia sempat menoleh pada Dien dengan binar penuh harap.
Ustaz Mustafa menceritakan semua pembicaraannya dengan Karen. Mereka juga kebingungan dengan sarat yang diberikan.
“Terus kita harus bagaimana Pak Ustaz? Firly…,” tanya Risma tak kuat sesenggukan ketika melihat keadaan si sulung, “Ayah, bagaimana keadaann Firly sekarang?”
“Tidak ada cara lain. Kita harus cari tahu maksud keinginan Karen,” imbuh Sanusi sembari memangku Fariz di pahanya.
“Ya, tapi apa Pak? Dien juga tidak paham dengan maunya Karen.”
Sanusi kemudian terdiam, mengingat-ingat sesuatu. Matanya sengaja ditenglengkan ke atas langit-langit, “apa ada hubungannya ya?” gumamnya bicara sendiri.
“Kakek ngomong sama siapa?” tanya Fariz sembari mencubiti bibir Sanusi.
Namun Sanusi tak begitu memedulikannya, “Dien, sepertinya… Bapak harus bicara jujur tentang keluarga kita.”
Dien melirik disertai keheranan, “keluarga kita, apa Pak?”
Sanusi mendengkus sejenak, menghirup udara segar guna melapangkan dadanya yang terasa berat karena harus menceritakan satu rahasia yang sudah lama disimpannya lekat-lekat. Rahasia yang seharusnya tidak boleh diungkapkan mengingat itu sudah jadi sebuah ikatan janji masa lalu di keluarganya.
__ADS_1