
Di sebuah rumah yang tak jauh dari kontrakan Firna, terdengar tangis jerit bayi. Suaranya terdengar sampai ulu hati Mario.
“Ma, apa kau dengar suara itu?’
“Heeem.”
Mario menepuk bahu sang istri. Istrinya dengan muka malas melempar jawaban. Nadanya serak dan mata masih enggan membuka.
“Apaan sih Pa. Ngantuk nih. Lagian malam-malam gini mana ada tangis bayi.”
Firna asal menjawab dengan nada berat. Meski dalam setengah tidur dia ingat betul tak ada tetangga yang punya bayi di area perumahan ini.
Mario membiarkan istrinya menyelam dengan kehangatan malam sementara hati dan pikirannya bergerak mengikuti naluri. Dia melangkah menuju sumber suara yang semakin lama semakin jelas.
Oeeek oheeeek
“Tuh kan bener.”
Mario membuka pintu depan rumah. Mata sibuk mengawasi hingga menepi ke setiap sudut kaki. Penglihatannya tersedot oleh keranjang kecil di dekat tong sampah samping gerbang pagar.
“Astaghfirullah.”
“Ma, mamaaa.”
Mario bergegas menyusul istrinya yang masih tertimbun bunga mimipi.
“Ma, bangun Maa ….”
“Ma, bangun ma … lihat apa yang kubawa ini.”
Firna, perempuan muda 30-an agak menggeliat dan membuka mata pelan. Pasca sepuluh tahun pernikahan baru terdengar suar tangis bayi membuat hati mereka bagai dikerumuni sarang lebah madu. Begitu indah begitu syahdu.
“iih, lucu sekali, Pa. Mama mau. Tapi anak siapa ini Pa?’
“Nah itu. Papa juga bingung. Ini anak siapa.”
Kedua pasutri muda itu dihalau rasa cinta sekaligus galau tingkat dewa.
Di sebuah rel kereta api seorang gadis remaja tengah berdiri. Dari kejauhan terdengar bunyi bel klakson kereta. Laju kereta bagai kilatan petir yang menyambar.
“Awaaass!”
Gadis ber-rok mini merah itu masih terdiam berdiri di tengah rel.
JUG JUG JUG
“Sudah bosab hidup ya?”
Seorang pria tiba-tiba menyambar gadis itu hingga jatuh terjungkal 6 meter dari batas rel.
“Seharusnya tadi aku sudah mati. Mengapa kau menghalangiku?”
“Ditolong bukannya terimakasih. Malah ngomel.”
“Yasudah, sana mati lagi. Emang kamu enggak tahu apa rasa pedihnya terlindas kereta api?”
Batinnya bagai ditonjok ratusan tangan. Sesaat seakan mau sadar.
‘Eh?! Iya juga sih’
Gadis itu duduk terdiam di dekat saluran irigasi sawah padi. Pria berjaket coklat itu duduk di sebelah kiri dekat jambu biji.
“Beneran kamu mau mati?”
Gadis itu pasang muka seperti salad yang terlalu banyak tomat.
“Yakin sudah lulus tunai di dunia ini?”
“Ah, siapa kamu? Napa aku harus mendengar ocehanmu?”
“Kalau kamu serius beneran mau mati ada cara yang lebih elegan.”
Gadis itu memutar posisi 30 derajat ke arah kiri. Dengan masih meremas jari-jarinya.
“Apa?”
“Nanti saya beritahu. Sekarang kuantar ke rumahmu.”
Gadis itu menggeleng.
“Ayo.”
“Enggak.”
“Ayo.”
“Enggaaak.”
Bayu menarik lengan gadis itu lalu membisikkan sesuatu di telinganya. Entah apa yang dia katakan. Apa kalian dengar?
__ADS_1
“Ikuuut.”
Wajah gadis itu seakan menyempit setelah mendengar bisikan bayu barusan. Bahunya agak bergidik. Kakinya melompat kecil ke arah Bayu.
“Beneran di sini banyak pocong?”
Bayu menahan tawa sambil membuang muka. Jemari kanannya masuk ke saku celana.
“Beneran ya? Atau jangan-jangan …. Kamu bohong lagi.”
Ha ha ha
“Awas kamu ya. Mengganggu acara terakhirku. Hey, aku belum selesai bicara.”
Gadis ber-rok mini merah itu melempar highheel ke arah Bayu.
Lemparan pertama
Lemparan kedua
Lemparan ketiga ya habis. Terlihat sekali muka kecut sambel cuka di wajah sang gadis. Bayu? Dia berlari kencang.Di ujung gang dia melambaikan tangan sambil kiss bye penghormatan yaitu salam dua jari disilangkan sambil kiss bye gitu. Tahu kan maksudku?
***
Sebuah rumah dengan luas 1000 meter persegi mengawali kisah ini. Sebuah rumah besar sesurga bagi yang melihatnya. Tapi neraka bagi sebagian penghuninya.
“Wer, Gawer … Wo ….”
“Sepi. Ke mana perginya orang-orang ini.”
Beberapa tas belanjaan dia letakkan di atas meja. Dari penampakannya terlihat jelas abis menguras isi dompet teman kencannya. Seperti biasa.
“Deandraaa …. “
Wanita 40-an yang masih terlihat kencang. Merobohkan tubuh indahnya ke ranjang. Mini dress merah marun melekat. Tersibak oleh hembusan angin jendela kamar yang lumayan besar. Gerakan anginnya menggoyangkan tirai tipis softpink bermotif bunga sakura.
Sementara di ujung jalan perempatan, Gawer dan Wowo kehilangan jejak manis Si Gadis.
“Semua gara-gara kamu.”
“Kamu.”
“Kamu.”
Ka … mu
Malam itu jam menunjukkan pukul tujuh. Malam semakin larut. Padahal sudah waktunya untuk mengisi perut.
Terdengar suara hentakan kaki. Mengiringi langit malam. Udara agak dingin karena habis gerimis membuat suasana semakin manis. Meski rasa itu tak semanis suasana hatimu.
“Aduuh. Perutku.”
Deandra memegangi perut. Bibir tak simetris menahan tangis.Suara cacing dalam perut bersahutan.
“Mana nggak ada uang lagi. Duh bodohnya aku. Harusnya tadi aku ambil uang di laci.”
“Cerdas dikit napa kalau kabur.” Si tas biru ikut nimbrung.
“Kamu kenapa sih kok kabur, cantik?” Tanya Si blus biru.
“SSst, diaaam. Lagian dia gak bakal denger. Percuma. Mending kamu ngobrol sama aku aja, sepatu gelis.”
Gadis itu terus merintih perih. Apa dia sedang datang bulan atau telat makan? Entahlah.
Sebongkah batu berwarna ungu dia selipkan di perut kecilnya. Entah ajaran siapa. Katanya batu kecil itu bisa menahan rasa sakit saat ingin itu. Iya itu hasrat ingin pup. Lha dia sakitnya apa juga gak tahu main ikut-ikut aja. Jadi sembelit nih bacanya.
‘Sepertinya keadaan udah aman. Tapi aku harus segera pergi dari kota ini.’
Dari kejauhan terlihat sinar cahaya dari roda empat. Dia pun melambaikan tangan. Kedua tangan disilangkan ke atas. Kau tahu blus dan rok mininya? Tersibak hembusan angin. Iya bayangkan saja.
Mobil putih Pajero melipir ke kiri.
“AstaghfirullahalAdzim.”
Sontak seorang pria di dalam mobil takut telah berbuat dosa.
“Ada yang bisa kami bantu Neng.”
“Saya butuh tumpangan Pak. Bisa bantu saya?”
“Gimana Abah?”
Tanya supir ke pak Ustadz yang duduk di sebelahnya.
“Gimana Pak Raka?” lanjut supir bertanya dengan seorang pria yang duduk di belakang.
Mereka menjawab dengan anggukan.
“Silakan Neng.”
__ADS_1
Sang gadis duduk di belakang. Bersebelahan dengan seorang pria Berkoko Pink soft. Berkopyah. Udara mobil mendadak gerah.
“Mang bisa tambahin AC nya dong. “
“Kurang dingin ya Pak?”
“Mendadak panas. “
Mata lelaki berkumis tipi situ melempar keluar. Celananya panjang. Apakah sepanjang kesabarannya.
“Namamu Siapa, Nak?” Tanya Abah yang duduk di depan.
“Deandra.”
Pak supir sibuk mengatur laju. Sambil sesekali melihat ke pantulan cermin. Sambil senyum-senyum tipis. Entah pantulan apa yang dia dapatkan.
“Kau mau kemana Nak? Pulang? Ini sudah larut malam. Dimana rumahmu? Biar Bapak antar.”
“Saya berhenti di situ saja Pak.”
“Ini kan jalanan sepi. Bahaya.”
“Bah, biarkan saja. Mungkin dia salah mangsa.”
Lelaki berkumis tipis itu melirik rok mininya.
“Apa kamu bilang?”
Tas biru seketika dia turunkan sebagai pengganti kain.
“Saya tidak serendah itu.”
“Berhenti Pak. Tolong Berhenti.”
“Tapi jalanan ini sepi, Nak. Banyak begal dan penjahat lainnya.” Ucap Abah.
“Biarkan saja Abah. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan kehidupan malam.”
“Raka ….”
“Sudah akui saja. Dari pakaiannya juga semua udah tahu.”
Raka bicara dengan mengecilkan volumenya. Tapi terasa berat dan besar saat masuk di telinga.
“Raka. Jaga Bicaramu! Maafkan Raka ya Nak.”
“Saya gak apa-apa Pak. Saya sudah terbiasa.”
“Tuh kan dia ngaku.”
“Raka. Kau ini seperti anak kecil.”
“Maaf Pak. Turunkan saya di sini. Lebih baik saya ketemu penjahat dari pada ketemu orang yang dari casingnya aja kelihatan baik.”
Mobil putih pun melipir lagi ke kiri.
“Benar kamu gak apa-apa sendiri di sini?” Tanya Abah Khawatir.
“Makasih Pak.”
“Abah tenang saja. Toh dia udah biasa. Nanti juga bakal ada mobil lagi. Kasihan!”
Pria itu membuka kaca jendela. Bukan salam yang dia berikan tapi ….
“Cantik sih tapi mu--rah …..”
BUG
BUG
BUG
Kau tahu ekspresi apa yang Deandra tunjukkan?
tas biru sigap menipuk wajah pria berkumis tadi. Tak puas dengan itu dia pun mendaratkan kepalan jarinya dengan seksi.
“OOOOWWW. Hidungku.”
“Awas kamu ya!”
“Abah. Abah sepertinya salah nolong orang. Lain kali hati-hati.”
“Kamu sih bikin geregetan saja. Ha ha ha.”
”Abah tega ya. Sama anak sendiri.”
“Apa Ini?” Sebuah benda melingkar tertinggal.
--Bersambung
__ADS_1