
"Deandra ...."
Bening, ketua asrama putri memanggil Deandra yang berjalan meninggalkan kamar. Di lorong teras hendak ke kamar mandi.
"Deandraaa." Kali ini suaranya lebih kencang dari sebelumnya. Deandra terus melangkah apa dia mendengar atau sengaja tak mau dengar? Entahlah. Marsha yang berjalan dari arah berlawanan, menghentikan langkah Deandra.
"Kau dipanggil tuh sama Kak Bening."
Deandra menoleh pandangan matanya tertuju pada wanita agak besar yang berdiri di belakang. Jarak mereka kira-kira 50 meter. Mata Deandra menyipit, menyorot wanita yang agak gemuk itu. Karena saat dipahamkan wajahnya tidak kelihatan. Maklum gelap habis hujan. Penerangan pun tak bersahabat tepat di atasnya lampunya mati. Hadeeuh Mamamia.
Apa itu penting? Kira-kira kenapa ya?
Handuk merah Deandra berubah posisi. Semula dia lingkarkan di sebelah kanan sekarang dia kalungkan di leher. Sebuah gayung yang berisi peralatan mandi, dia letakkan sementara di sebuah bangku panjang bercat putih. Sambil berubah haluan dia mundur ke belakang.
"Iya Kak ada apa ya?"
"Duuuh Deandra kamu ceroboh sekali. Lihat kau menjatuhkan sesuatu!"
Oh mama
Mata Diandra membulat seperti mau loncat. Mendadak tenggorokan kering melihat sebuah benda di tangan Bening.
"Hehe, maaf Kak kok bisa sama Kak bening?"
Bening menggeleng-gelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Deandra.
Sebuah benda 'segitiga bermotif apel' telah mendarat dengan indah di bawah wastafel. Lengkap dengan 'roti tawar'.
Beruntung hari ini aku lagi datang tamu bulanan, jadi aku tidak perlu salat magrib. Kenapa tadi tidak jawab ya? Oh Deandra dasar kamu pelupa.
Slap
Ingatan Deandra tersengat saat masih tinggal bersama Bayu di kontrakan. Dia selalu menjemur pakaian dalamnya di tengah-tengah hanger. Hanger baju itu tertutup oleh pakaian Bayu. Masih ingat betul dalam pikirannya saat dia menjatuhkan 'roti tawar'.
"Deandra sampai sekarang aku masih penasaran. Gimana cara makainya kok bisa tidak jatuh ya?"
Mereka terpaksa menahan tawa karena takut terdengar oleh tetangga samping kosan.
Blurp
"Bayu, jadi inget sama ekor kuda. Apa kabarnya ya?" Bisik batin Deandra.
"Ngapain mikirin si Bayu. Buang-buang waktu."
Deandra membuka bungkus plastik pembalut wanita atau roti tawar istilahnya. Pembungkus itu dia buang ke tong sampah yang ada di dalam kamar mandi. Jangan bertanya cara memakainya. Cukup Bayu saja.
Dengan baik dan lebih segar Diandra menuju ke kamar. Teman-teman sekamarnya sudah pergi menuju aula pondok. Acara sudah hampir dimulai setengah jalan tapi Diandra masih belum kelihatan. Apa kabarnya ya teman?
Setelah merapikan diri, gadis berwajah oval dan berpipi cabi belum juga pergi. Malah corat-coret gak jelas sebuah buku diary. Sebuah buku berwarna merah dia menuliskan sebuah kisah. Diam-diam Diandra suka menulis. Tulisannya sangat rapi. Dia selalu menulis bismillah di awal dan menuliskan tanggal di sebelah kanan.
"Deandra kamu kok di sini saja. Kamu nggak ke aula tadi?"
"Rosi, tadi ustadz Raka keren ya." Nada Cila semangat mengawali percakapan.
__ADS_1
Cila gadis agak kalem tapi memiliki penglihatan kurang simetris alias juling. Rossi gadis energik tapi agak gemuk.
"Deandra, pasti nyesel banget kamu. Iya enggak temen-temen. Ustad Raka itu cool dan gaul."
"Lalu?"
"Gagah dan tampan." Sahut Bilqis
"Lalu?"
"Tinggi dan rapi."
"Udah?" Tanya Deandra lagi.
"Sebenarnya sih masih. Tapi, "
"Tapi apa?"
"Taakut khilaf."
"Sebenarnya tadi kalian nyimak tausiyah apa jumpa artis?" Tanya Deandra dengan menggambar tokoh favoritnya."
Wajah mereka seperti anggur yang habis diperas. Sisa-sisanya meninggalkan bekas pahit dan getir.
"Ah, Deandra gak seru."
***
Di rumah Mami.
"Pyuuuh. Bukan-bukan. Nanti dia harus di sini." Amanda mengatur beberapa batang korek api membentuk persegi.
"Amanda? Sudah siap?" Tanya Om Hans di ruang tamu.
Amanda melingkarkan telunjuk dengan ibu jari sebagai panda siap sebagai tanda sudah siap. Segera dia menyelempangkan slipping bag merah. Mini dress merah yang melekat pada tubuhnya menambah pesona kecantikannya.
"Mari Om."
Amanda tersenyum sinis melihat pria dua puluh lima tahun lebih tua dari usianya. Hans seperti terpelintir melihat pesona dan kecantikan Amanda. Gadis berusia dua puluh tahun ini memang sungguh bikin ****** mata lelaki. Bagian lekuk tubuh terlihat jelas. Apalagi mini dress merah agak mekar bikin mata agak melar.
"Kita mau kemana Om?"
"Kita akan ke hotel @Hanalife."
Amanda menyibak rambut ikalnya. Leher jenjang agak gerah melihat mata pria di sampingnya.
"Bisa berhenti dulu Om. Aku haus."
Amanda menunjuk ke salah satu toko retail di pinggir jalan. Sambil menunjuk leher jenjangnya yang kehausan. Hans menelan ludah.
Cegluk
"Aku tunggu sini ya!"
__ADS_1
Amanda mengangguk dan meninggalkan pria hidung jambang itu. Sambil tersenyum Amanda membuka catatan yang di contek dari film kesukaannya.
Gadis itu keluar dari toko setelah sepuluh menit. Dengan dua botol air mineral.
Hans membuka kaca mobil dan memperhatikan setiap lekuk gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kuku. Tak sabar menunggu itu, pria berjas rapi itu menghampiri Amanda.
"Gimana sudah?"
"Sudah Om."
"Jangan panggil Om dong. Geli dengernya. Beib aja ya sayang."
"Terserah om aja. Ups Beib."
Amanda menyentuh bibir Hans. Hans seperti kena setrum. Darah lelaki mengalir lebih cepat lima kali. Segera dia membukakan pintu mobil wanita kesayangannya. Untuk kali ini dia lebih memilih duduk di belakang. Karena Amanda mau rebahan.
"Istirahat dulu sayang. Nanti biar lebih fit."
Dalam genggaman Amanda dia menyembunyikan sesuatu.
Gawai Hans berdering. Sebuah pesan notifikasi sebelumnya belum sempat terbuka. Sambil menyetir dia menangkap suara melalui earphone.
"Halo Ma."
"Hari ini papa ada meeting mendadak di luar kota. Mama jangan lupa tutup pintunya ya! Papa pulang besok, Kamis malam."
"Papa Kirimin hadiah spesial buat mama. Gimana sudah sampai rumah?"
"Minggu depan aku ajak mama jalan-jalan deh bener. Sekarang papa kerja dulu. Hati-hati dirumah ya Ma."
Om Hans romantis ternyata. Baik juga. Cashingnya. Kayaknya penyayang juga. Ah, dasar lelaki. Mata gak bisa dinasehati.
Amanda menggenggam benda yang dia siapkan untuk Hans.
Liat saja nanti Om kamu bakal menangis histeris.
Amanda tertawa dalam batinnya
"Gimana sayang apa kamu lapar?" Tanya Hans.
"Ehm iya. Beib tadi istrinya ya?"
"Iya biasa. Aku harus absen dulu. Kalo gak nanti dia gak tidur. Nungguin aku pulang."
"Kenapa Beib tega menyakiti istri."
"Sayang, sudahlah jangan bahas itu. Karena aku hanya ingin berdua denganmu."
Jemari kiri Hans meraih tangan Amanda. Amanda yang duduk di belakang langsung meluncur dengan kecupan.
"Nanti aja sayang. Lagi nyetir ini."
Hans menggeggam jemari lentik Amanda. Dan anda menunggu kelanjutannya!
__ADS_1
To be continued