Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
BAB 9 ORIGAMI RAJAWALI


__ADS_3

By Puji Nirwana


"Akhirnya, lega."


Deandra berhasil mengeluarkan semua sisa- sisa isi perut. Perut yang membuncit kini mulai mengempis. Terang saja dia terlambat mengeluarkan sampah perut hampir satu Minggu. Gegara susah makan.


Slap!


Saat jemari kiri mengambil gayung di ujung bak mandi. Bayangan kecil mulai mengusil. Bibir mulai terangkat masing-masing dua Senti ke arah menyamping. Tarikannya memanjang sepanjang jalan yang dia tempuh.


"Ma, jika aku besar nanti. Aku ingin jadi seperti mama. Disayang pap dan pergi ke London menengok kak Sonia."


"Ma, jika aku besar nanti aku pasti bisa bantu mama. Membantu lipatin baju papa. Agar papa gak marah lagi."


Blurpp


Celoteh Deandra di waktu kecil mulai mengecil. Saat itu dia melihat pertengkaran kedua orang tuanya hanya karena baju yang kurang rapi. Mama Deandra saat itu pergi menemui ibunya yang sakit. Saat pulang, rumah masih berantakan. Pembantu lima pada cuti semua.


"Mama semoga kamu bahagia di sana. Deandra sendiri Ma."


Slap!


Tangis histeris memenuhi pemakaman ibu Deandra. Deandra saat itu masih kelas tujuh. Belum genap usia empat belas tahun. Tapi, rasa sakit yang dia dapat sudah menahun. Papa nya menikahi seorang wanita penggoda. Kecantikannya melumpuhkan sifat ke-ayahan.


"De, kamu di dalam?"


"Ah, iya. Bentar."


Deandra membasuh kedua tangan. Setelah itu mengguyur sisa-sisa makanan. Ah, kamu tahu kan? Sebaiknya saya sensor agar nafsu anda tidak molor.


"Mengapa papa tega menyakiti mama?" Tanya batin Deandra.


Deandra membuka kotak engsel pintu toilet. Lima orang antri berderet. Tanpa basa-basi Deandra menyapa mereka sesekali. Ada yang membalas senyum Deandra. Ada yang bermuka masam ada juga yang narsis mendesis.


"Mbak-mbak kirain ketiduran."


"Kirain sambil makan leyeh-leyeh sampai lupa ada yang antri."


Deandra melempar maaf dengan wajah tanpa rasa bersalah.


"Iya iya. Sabar napa. Kalo belum dibuka pintunya berarti ya belum selesai. Masa aku mesti cebok kalo belum selesai."


"Jadi perempuan kok galak amat. Judes." Sahut pria berbaju biru.


"Maafkan sikap teman saya ya pak."


"De, kamu itu lembut loh aslinya. Dan kamu lebih cantik jika bertutur kata lebih lembut."


"Ah, Kak Fit bisa aja. Aku kan jadi malu."


"Dan kamu juga akan makin bahagia di sini setelah tahu aturan-aturannya."


"Aturan kok bikin bahagia. Apa maksudnya?"


Mereka berjalan melewati rerumputan. Menginjak beberapa rumput yang hampir layu. Fitri menghindari lubang becek terkena genangan air hujan sisa semalam. Para calon santri merapat di aula untuk pendaftaran sekaligus pemberian wawasan tentang tata tertib pesantren. Deandra yang tak sengaja mendengar beberapa aturan yang ditegaskan, seketika mata mendelik dan tenggorokan mendadak tersedak bagai kena lemparan bola pingpong.


"Para santriwati harus memakai pakaian tertutup. Kecuali muka dan telapak tangan. Andaikan muka memakai burkha atau cadar itu lebih diutamakan. Andai kata tidak, kami masih bisa mentolerir. Asalkan tidak melewati batas santri putri."


Uhuk


Uhuk


"Kamu kenapa Deandra?"

__ADS_1


"Gak apa-apa. Hanya gatal tenggorokan dan telingaku."


Jemari kanan Deandra mengelus tenggorokan yaang hampir maati tersedak. Entah apaa yang membuat dia tersedak hingga demikian.


"Aturan ya aturan tapi kalo keterlaluan apa aku bisa?" Rutuk hatinya.


Terlihat pemandangan yang membuat hati dan jiwanya menciut. Seorang santriwati ....


"Pokoknya semua harus selesai. Hapalkan semua."


Pemandangan itu membuat bulu Deandra semakin kusut bergidik thak karuan. Darah-darah seakan lupa untuk mengalir.


"Kak, apa sekejam itu peraturan di sini?"


"Iya aturan harus ditegakkan. Agar semua santri menjadi lebih baik dan disiplin.".


"Tapi aku takut kak."


"Takut apa?"


"Takut kena hukuman."


"Nyalimu terlalu kecil. Kapan kamu jadi istimewa jika kamu tak belajar sekarang juga."


"Kamu gak ingin memakaikan mahkota untuk orang tuamu di surga?"


"Apa bisa?"


Fitri menghentikan langkah dan menghadap Deandra.


"Ingatlah Deandra. Hidup kita cuma sekali. Jangan sampai kita menyesal nanti. Semua akan kembali kepadaNya. Maka, tugas kita sekarang adalah belajar. Mencari ilmu."


"Serius amat hidupmu kak Fit. Gak ada manis-manisnya." Ledek batin Deandra.


"Gak perlu banyak gaya. Agar kamu gak mati gaya." Imbuhnya lagi.


"Dengar apa?"


"Barusan yang ku katakan."


"Nggak."


Langkah kaki Diandra akan menunggu irama. dia mencari kertas origami Ungu yang dia masukkan dia masukkan di dalam saku. Jemari kanannya sibuk mencari sesuatu. Jumari kiri mencari di saku kiri. Namun hasilnya nihil.


"Kemana kertas unguku? Perasaan tadi aku inget kutaruh di saku."


Diandra mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Bayangannya berhenti saat dia terjatuh menabrak seorang lelaki.


"Ah iya. Pasti jatuh tadi."


Dia memetik ke dua jarinya. Kembali ingatan itu ke tempat semula. Fitri berjalan 2 langkah ke depan. langkah Deandra terhenti saat dia memunculkan 'aha'.


"Deandra, Kamu kenapa?"


"Ah, gak apa-apa."


"Sepertinya kamu mencari sesuatu."


"Ah, nggak. Bukan apa-apa."


Di ujung kantin, seseorang telah membuka dan membaca dengan seksama kertas origami ungu. Pria berkoko hijau tosca membaca sambil gigit jari telunjuknya.


"Rajawalinya kok agak botak. Ada-ada aja."

__ADS_1


Pria itu mencoba mengobservasi dan memahami dengan santuy. Duduk di kursi rotan membuat dia semakin nyaman. Punggung bersandar di bahu kursi. Angin sepoi-sepoi seakan bertingkah melihat pria berbadan tegap beralis tebal. Senyum manis terlukis.


"Ustadz senyum-senyum. Ada apa ustadz?" Tanya Alfi Sambil berdiri.


"Ah, gak. Gak apa-apa."


"Ustadz nanti diminta pak kyai untuk mengisi acara pengajian di pesantren Putri. Peringatan maulid nabi."


"Iya, nanti aku siap-siap."


***


Di kamar Deandra.


Deandra tidak tinggal sendiri. Dia tinggal bersama lima orang santriwati. Posisi tidurnya dekat dengan lemari di bawah jendela sedangkan depannya adalah marsha. 3 orang lainnya bernama cila, bilqis, rossi. Fitri berbeda kamar, karena mereka berbeda kelas.


"Jangan lupa nanti jam setengah delapan ada acara peringatan maulid Nabi." Ucap Bilqis.


Marsha bersiap sedari tadi. Dia sudah menyiapkan baju yang akan dia pakai. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Para santri bersiap pergi mengaji. Ada yang sudah mulai setor hafalan. Ada yang masih belajar iqro ada juga yang masih diam saja seperti Deandra.


Mmmoaaah indra tertidur pulas sampai lepas Mahrib. Semua teman sekamar sudah menunaikan solat magrib dan bersiap mau mengikuti acara. Deandra?


"Hey bangun kamu tidak salat. Deandra bangun?"


Marsha menggoyangkan berulang bahu gadis di depannya. Saat inj dia masih memakai baju santai. Belum mandi pula.


"Apaan sih ngantuk." Sahut Deandra masih menahan kantuk. Mata masih lengket dengan lem perekat dua dimensi.


"Deandraaaa, " Marsha mencoba menggoyangkan bahunya lagi.


"Masih ngantuk Marsha..."


"Minggir." Seorang wanita berbadan agak besar menghampiri tempat tidur Deandra.


Teng


Teng


"Kebakaran kebakaran. Air air."


Wanita itu mendekatkan jam weker ke telinga Deandra. Tanpa basa basi tanpa banyak tapi.


Deandra tergeragap dan terpaksa beranjak karena mendengar bunyi alarm jam weker.


Hahaha


Semua tertawa


"Segera sana solat mahrib. Jam segini belum bangun. Anak santri, sore itu mengaji."


"Eh, iya."


Dengan langkah tergesa, Deandra mengambil handuk dan pergi menuju kamar mandi. Sandal yang dia pakai tertukar semua bagian kiri. Oh Deandra.


Tak hanya itu di jalan dia berpapasan dengan santriwan dan santriwati yang sudah wangi. Deandra? Masih mengenakan baby dol warna ungu kesayangannya.


"Deandraaa," teriak wanita agak besar di belakang.


"Apalagi Kak?"


"Kau meninggalkan sesuatu. Ceroboh sekali kau ini."


Mata Deandra membulat melihat ....

__ADS_1


To be continued


"


__ADS_2