Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
BAB 8 AKU TERJEBAK


__ADS_3

By Puji Nirwana


Kondektur bus menuruni tangga depan memeriksa beberapa ban.


"Bannya bocor bos." Ucap kondektur bus di ekor armada.


"Walah, naseb."


"Kok bisa sih."


"Duh, bisa telat ini."


Beberapa penumpang saling adu keresahan. Bahkan tak jarang ada yang mengumpat. Kalimat umpatan sengaja saya lewatkan. Tak baik kata mama saya.


"Bus e Iki piye tho. Diperiksa sek tho yen sakdurunge mangkat." Ceplos ibu berdaster coklat.


"Jan-jane aku Yo gak kudu numpak bus. Gandheng papa e lagi sakit yowes kepekso aku Yu, ora iso mlaku," sahut ibu bertahi lalat besar di hidung.


Raka menghentikan bacaannya. Dia meraih tas hitam di saamping dan keluar bus dengan cekatan.


"Ada apa pak?"


"Ini lho mas bannya kempes. Mana gak ada ban serepnya lagi."


"Kok bisa sih Mas?"


"Tadi saya jual ke teman diam-diam. Kukira gak bakal kayak gini."


"Duh mas. Jangan diulangi lagi. Kasian ‘kan penumpangnya."


Sang kondektur garuk-garuk kaki. Sedangkan Raka berputar otak mencari solusi.


"Sudah belum?" Tanya sopir dari dalam bus. Dia menampakkan wajahnya setengah badan


"Iya bentar Bang." Teriak kondektur.


"Yaudah gini aja sekarang kamu panggil temanmu itu kesini. Ajak dia untuk angkut penumpang ini."


"Bener juga ya Mas. Tapi gimana dengan teman saya. Bisa kena damprat saya."


"Lebih baik jujur sekarang daripada babak belur nanti. Dan penumpang semuanya menghilang kecewa pula. Hayo pilih mana?"


"Tapi temanku jauh."


"Coba dulu. Kalo jauh, coba kasih dia clue teman yang dekat sekarang."


Tenangkan diri pasti ada solusi.


Raka ikut memeriksa sejumlah ban. Di belakang kaki bus terlihat paku besar yang menyumpal.


"Sepertinya ini harus dibungkus sama karet ban lagi."


"Ustadz Raka anda dimana? Ditunggu pak kyai di ndalem."


Pesan wa meluncur ke gawai Raka.


"Saya lagi di jalan. Bus yang saya tumpangi mogok."


"Posisi dimana ustaz biar saya jemput." Tanya pak Tejo penjaga pesantren Darul Hikmah.


"Jemput saya di depan pasar kambing, Pak."


"Siap."


***

__ADS_1


"Aku gak mau diginiin."


"Aku gak mau mondok ayah."


"Aku pengen sama mama."


Ribuan santri calon penghafal Alquran mendekati gerbang. Hampir semua santri diantar dan dipeluk sayang oleh ayah dan bunda mereka. Ada yang menangis, ada yang tertawa, bahkan ada juga yang bermuka seperti kulkas. Begitu kotak begitu dingin.


Di pojok kiri dekat taman bunga di bawah pohon rambutan berdiri seorang gadis dengan hijab tertutup rapat. Akan tetapi masih memakai celana ketat. Gak salah?


"Duh, kok masih pakai celana ketat sayang. Ganti gih! Ntar di pelototin kakak kelas loh." Seorang ibu baru sadar pakaian anaknya.


"Biarlah Ma, aku nyaman kayak gini. Lagian aku ‘kan udah nurutin mama. Masuk ke pesantren."


"Sayang, ini semua demi kamu. Ganti ya."


Sang mama meraih tangan kedua putrinya lalu mencium jemari kecil itu. Bukan sekarang sudah besar. Tapi seorang ibu melihat anak-anak mereka tetap kecil meski mereka sudah besar.


Di bawah pohon mangga berdiri dua gadis manis. Memakai pakaian muslimah berwarna coklat tua dan hitam legam berenda.


“Kak Fit, beneran mau ngajak aku ke sini?” Tanya Deandra agak ragu.


Deandra mengeluarkan sebuah kertas origami berwarna merah muda. Dia meletakkannya di dalam saku gamis coklatnya. Kertas origami itu tergambar seekor rajawali. Rajawali gagah berkepala putih, berbulu hitam mengepak di langit semesta. Rajawali itu menebarkan berlian ke ke bumi.


“Aduh, jangan kak ….”


Deandra menarik lengan Fitri. Fitri meyakinkan diri anda untuk tetap tinggal.


"kak fit jangan aku takut ...."


"nggak apa-apa Deandra. nanti kita belajar bareng. kata bisa tinggal sekamar. kamu mau kan."


"tapi ...."


kalau aku di sini. kira-kira aku bisa nggak ya. Memakai baju serapat ini? Tapi kalau aku tolak, aku nggak punya tempat tinggal. Mana nggak ada uang lagi.


Deandra melempar tanya dibenaknya. Sudah hampir satu bulan dia meninggalkan rumah. dia tidak tahu kemana harus menuju. Tak punya sanak saudara, ataupun sahabat yang menyayanginya. hanya Bayu sosok pria yang dia temui setelah dia keluar rumah. Kini dia harus bertemu dengan Fitri. Seorang sahabat yang dikenalkan oleh Bayu.


"Deandra ... halo."


Fitri mengibaskan jemari kanan. Deandra


tergeragap.


"Eh, iya."


"Mau kan?"


"E ... eh iya. Tapi ntar aku diajarin ya kak. jangan ditinggal. jangan didiemin. jangan dianggurin."


"Iya. tenang nanti kamu bakal aku rujakin, tak gedondingin tapi aku gak akan nga-pelin."


"maaf toiletnya sebelah mana ya?"


salah seorang santriwati menjeda obrolan mereka.


"jalan saja lurus nanti belok lalu belok kiri nah mentok di ujung dekat gudang." jawab Fitri.


"kak Fitri udah lama ya di sini?"


"baru 2 tahun. sekarang lagi belajar hafalin Qur'an."


"kak fit pintar ya bisa menghafalin Alquran."


"kamu juga bisa Deandra."

__ADS_1


"Masa sih orang kaya aku bisa hafal Quran. baca huruf aja masih geal-geol."


"Jangan ngeremehin kemampuan sendiri. kamu tuh bisa. setiap orang bisa loh ngafalin Quran asal ada kemauan."


Fitri menggandeng lengan Deandra. saat mereka melangkahkan kaki menuju ndalem, Diandra mengelus perutnya.


"kenapa De? Kamu sakit?"


"Aduh, kayake sakit perut deh. Bentar aku mau ke toilet dulu, Kak."


"Ah iya. Aku tunggu di bangku itu ya." Jawab Fitri sambil menunjuk bangku di dekat masjid pondok.


Deandra lari kencang menuju toilet di ujung gang. Tanpa basa-basi dia meringis rasa sakit. menurut kalian Deandra mau apa? Hingga ....


Guptakk!


Deandra menabrak seorang lelaki hingga mereka jatuh terpelanting ke luar zona jalan. Rerumputan.


"Sorry."


Deandra tak kuasa menahan hasrat yang ada di perut. Dia langsung menarik diri dari tangan lelaki yang jatuh tersungkur akibat ulahnya. Untung saja dia tak menimpanya. Untung saja cuma lengannya. Andai itu tubuhnya? Oh tidak.


Sesaat penciuman Deandra dimanjakan oleh aroma. Aroma khas yang tak pernah dia cium sebelumnya. Begitu harum begitu wangi.


"Lain kali hati-hati."


Deandra hanya terdiam. Tak menjawab. Apa dia terkesima? Entahlah. Deandra berlari bagai kuda terbang memakai rok mini. Rok mininya melebar memenuhi rongga-rongga hidungnya. Begitu harum begitu mawar.


"Oh Tuhan .... mana toilet. toiletnya mana?"


"Ah di sana."


"Apa ada orang?"


Gadis bergamis coklat tua itu mengetuk agak kasar daun pintu.


Dok


dok


dok


"Permisi."


"Iya ada orang," sahut orang dari dalam toilet.


Deandra mengelus-elus perut kecilnya. Kaki merapat sebagai isyarat. Mulut pun agak mendesis.


"Bisa cepat sedikit pak. Saya sakit perut "


"Tapi saya belum selesai."


"Duuh..."


Seorang wanita berjilbab kuning lewat di depan toilet.


"Maaf Kak, ada toilet lagi sebelah mana ya?"


"Maaf saya kurang tahu. Saya nganter adik saya ke sini. jadi kurang tahu. Maaf ya."


"Duuh nonee."


"Ada yang bisa kami bantu?" Seorang lelaki datang menghampiri.


"Sa-ya bu--tuh to-i-let." Ucap Deandra sambil menahan nafas dan meringis.

__ADS_1


__ADS_2