Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
Bab 17 Kakak?


__ADS_3

Jika hari bisa kuputar kembali saya akan mengikatnya. Agar kau tak pergi dan tetap berada di sisi.---


seorang pemuda berjas rapi navy mendaratkan kaki ke aspal sebuah parkiran. Mobil putih Fortuner membawa pemuda itu.


"Permisi,"


"Ah, iya Kak. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab santriwati bersarung coklat.


"Kantornya sebelah mana, Dek?"


"Itu Kak. Kakak jalan aja lurus lalu belok kiri nah jalan sampai ujung nanti Nemu deh ada tulisan kantor."


"Oke. makasih ya, Dek?"


"Dengan senang hati Kakak."


Gadis bersarung coklat itu menundukkan wajahnya. Pipi lesungnya membentuk bulatan kecil. mungil. Ujung jari tak sadar menyentuh bibir. Digigit.


"Aww."


"Napa Dek?"


"Ah, gak apa-apa Kak."


Gadis itu menundukkan kepala sambil menggenggam jari telunjuknya yang memerah gegara gigitan yang salah. Lagian itu kan jari napa digigit sih? Ehm mending gigit permen Cheweee.


Pemuda berjas navy dengan gaya rambut pendek ala Aldebaran mencari jalan yang ditunjukkan. Melepas kacamata hitam berbingkai silver ke saku jas navy. Jalannya sedikit diperlambat sesekali mata membingkai langit-langit. Mungkin ada yang bisa menjelaskan kondisi hati dan perasaannya sekarang?


"Assalamu'alaikum." Ucap salam dari pemuda itu.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh."


Seorang wanita berhijab panjang berwarna hitam mengikat salam yang terdengar.


"Mari silakan masuk. Maaf, ada yang bisa kami bantu?"


"Kenalkan saya Bayu. Kakaknya Deandra. Saya mau menyambangi adik saya jika diijinkan."


Bayu menampilkan wajah penuh kharisma. Bahkan saat kau melihat nya kau takkan menyangka jika dia ....


"Oh, anda kakaknya? Wah, Deandra se-


dang sakit. Untuk saat ini masih dirawat dikliniknya dokter Raka."


"Sa--kit? Boleh saya minta alamatnya?"


Wanita berhijab panjang itu menuliskan sebuah alamat yang dicatat dalam sebuah kertas. Kertas yang diambil dari buku hitam di meja depan mereka.


"Terimakasih ya Bu."


"Jangan dipanggil Bu. Mbak aja."


"Makasih ya Mbak."


Bayu meninggalkan senyum manis di kedua sisi bibirnya. Apa mungkin Bayu sedang tebar pesona? apa itu perasaan ku saja? Eh?!


"Apa wajahku sudah setua itu?"


Gumam Bening saat pemuda di depannya berlalu pergi meninggalkan dia sendiri. Dia pun mengambil cermin yang ada di dapur. Terang saja cermin itu selalu dia bawa saat membetulkan noda pipi.


Di klinik


Deandra berdiri di dekat jendela. Pandangannya menyentuh langit dan mentari yang menggoda dari ufuk timur. Hembusan udara di pagi hari benar-benar bikin sejuk hati.


Deandra mengenakan baju dan celana longgar biru muda khas klinik Medika. Berpadu dengan jilbabnya berwarna senada menambah asri suasana pagi. Tangan dia rentangkan.


"Mmmoaaah. Capek juga rebahan terus."


Kedua tangan gadis itu menyangga tubuhnya di jendela. Seperempat tubuhnya dikeluarkan.


Tiba-tiba kaki jatuh keseimbangan.


Aaarhhhh


"Tolong. To--long."


Jemari Deandra menahan tubuhnya yang menggantung. Kamar rawatnya terletak di lantai 3. Lumayan untuk turun terjun tanpa bantuan.


"To-long. Huwaa hu hu. Tolongiiin. aku takut ketinggian. Bayu. Bayuuu."

__ADS_1


lagian mana mungkin ekor kuda ada di sini?


hu hu hu Bayuuu.


"Deandra mana? Kok gak ada."


Raka mencari Deandra saat mau memeriksanya.


"To--long."


"Seperti ada yang minta tolong?" tanya batin Raka.


"Deandra ..."


"Ustadz. tolong."


"Deandra?"


Raka mendapati Deandra yang menggantung di luar kaki jendela.


"Tahan Dea. Genggam tanganku. Ayok."


"Ayo Dea genggam ya g erat jangan lepas. uuuh."


Raka menarik lengan Deandra sekuat tenaga.


Hup


hup


Brukk


Raka jatuh tergeletak di lantai. Tubuh Deandra hampir menimpa badannya. Beruntung Deandra refleks, tanganya bersilang dada dan menggulingkan tubuhnya ke samping.


"Awww. duuuh sakit."


Raka segera berdiri dan membantu gadis itu berdiri.


"Sini aku bantu."


"Gak usah. Aku bisa jalan sendiri."


"Aww."


"Tuh kan... sini aku bantu."


"Gak usah sok baik deh."


"Habis dibantu itu harusnya bilang makasih "


"Ogah. pengecualian. kecuali terimakasih untukmu. gak ada ya. gak ada "


"Oke. iya gak apa-apa. Alhamdulillah kamu selamat."


"Kayaknya kamu udah sehat. kamu bisa pulang hari ini."


"Iya. lagian aku juga eneg liat kamu tiap hari. bikin mual dan maagku kembung."


Deandra mengucap kata-kata itu pelan hampir tak terdengar Raka. karena dia bicara sambil membuang muka.


"Oke kalo gitu aku tinggal dulu ya. lain kali hati-hati."


"Iiih sok baik lagi. Udah gak usah sok baik sama aku. Biasanya juga tereak tereak."


"Deandra yang sopan ah sama dokter Raka."


Tiba-tiba Fitri hadir di tengah mereka.


"Kak Fit."


Deandra memeluk tubuh Fitri dan mencium pipinya. Saking gembiranya. Maklum sudah dua beberapa hari mereka tidak bertemu. Curhat mereka sempat tertunda. Iya curhat Deandra. Pasti kangen dong ya?


"Deandra ada sesuatu nih buat kamu."


"Tapi minta maaf dulu sama dokter Raka."


Wajah Deandra langsung masam seperti jeruk nipis berlapis. Segera dia pasang muka terjelek yang dia punya. Mata setengah mengatup. Bibir mulut meruncing. Dahi mengerut dan alis menyatu. Kebayang kan gimana jeleknya?


"Gak apa-apa Fit. kalo dia gak mau. Dia gak salah kok."

__ADS_1


"Tuh bener. Aku kan gak salah. jadi gak perlu minta maaf."


Buang-buang waktu dan energi saja. Syuuuh. syuuh.


"Deandraaa. Gadis manis, cantik dan Sholeha. yuk, minta maaf. gak baik ah."


"Iya. Iya. Maaf ."


Dokter Raka tersenyum melihat tingkah Deandra. Gadis itu duduk bersila di pembaringan.


"Oh ya tadi katanya kakak mau ngasih sesuatu. Apa?"


"Bentar ya. Kakak ...."


Fitri menyeru suara kakak dan terlihat sosok pemuda berkemeja putih tanpa kerah berpadu celana krem. Mata Deandra menyipit mencoba mengenali wajah pemuda itu.


"ka--kak?"


"Siapa dia kak Fit?"


Langkah pemuda itu berirama seperti terdengar lagu pop ternama. Hentakannya sedikit tapi asyik.


"Apa kabar Deandra?"


"BAYU? Beneran ini kamu? Iiih makin ketce aja kamu. Rambut kamu di kemanain?"


Deandra nyerocos seperti suara petasan saat jelang lebaran. Gemuruh riuhnya membuat bahagia bagi yang suka.


"Kabarku baik. Iih kamu jahat ya. Ninggalin aku lama."


Deandra memukul pelan lengan Bayu. Bayu hanya tersenyum tersipu. Dokter Raka memperhatikan tingkah mereka.


"Kenalin dok. ini Bayu. Bayu, ini dokter Raka. Beliau juga ustadz di pesantren Deandra."


"Oh, saya Bayu. Senang berkenalan dengan anda."


"Saya Raka. Maaf saya harus melanjutkan visit pasien lain dulu."


"Oh iya. Silakan."


Bayu mempersilakan dokter Raka keluar ruangan. Fitri memberesi pakaian Deandra yang berada di laci. Membersihkan tempat minum sisa semalam.


"Aku cuci ini dulu ya." Ucap Fitri.


"Iya Kak. Makasih."


"Bayu kamu sekarang makin keren tauk."


Jemari kanan Deandra mengepal dan mendaratkan ke dada Bayu pelan. Bayu membalasnya dengan senyuman.


"Iiih rambut kamu juga."


Deandra mengacak-acak rambut Bayu yang tadinya rapi dan wangi.


"Maaf aku ngomong terus dari tadi. Abisnya aku seneng liat kamu lagi, Bayu."


Tangan Deandra refleks memegang jemari Bayu. Hormon endorfin berlebihan jadi kayak gitu. Maafin Deandra ya sayang?


"Gimana kabarmu? Kamu betah di sini?"


"Tadi aku hampir terjatuh Bayu."


"Kok bisa. Gimana ceritanya."


@asdchhkkjbachjhcryjkjgf@


"Oh, gitu. Tapi gak ada yang luka kan?"


Deandra menggeleng.


"Nanti habis dari Klinik kita jalan-jalan bentar ya."


"Mana boleh."


"Kamu lupa ya? Aku kan kakakmu."


ha ha ha


Bahagia itu saat melihatmu tertawa Tersenyum bahagia Deandra. Tetaplah kamu menjadi peri kecilku. Nafasku tak lagi berat. Aliran darahku kembali lancar. Saat melihat seulas senyum mu yang menyejukkan jiwaku.

__ADS_1


__ADS_2