
Obrolan renyah di rumah Bu Ratna.
“Wah, Jeng kamu beruntung punya suami baik dan perhatian kayak Mas Setyo.”
“Ini jaket bulu dari Mas Pras. Cantik gak?”
“Uuuuhh banget.” Sahut mereka kompak.
"Silahkan diminum Bu tehnya." Seorang asisten rumah tangga meletakkan lima cangkir teh dan beberapa biskuit.
"Ini jam tangan favorit aku. Juga hadiah dari papi saat di Amrik." sahut mama satunya.
"Kemarin kami habis liburan ke Jepang. Lalu ke Koreo negerinya Lee Min Ho. Kucari di sana kok gak nemu ya." Sahut mama satunya lagi.
Obrolan terhenti melihat Raka berdiri.
"Nak Raka ya?" Bu Ratna berjalan menuju posisi pemuda di depannya.
"Saya sudah sering mendengar cerita Nak Raka dari umimu. Wah, ...."
Mata Bu Ratna menguliti postur tubuh Raka dari ujung kaki hingga kepala.
"Ini kue brownies titipan umi saya. Maaf saya permisi." Mata Raka menunduk. Takut hilaf.
Wajar saja pesona Bu Ratna seperti gadis 20 an. Wajah glowing, kulit putih, lekuk tubuh bak biola italia. Leher dan kaki berjenjang seimbang.
"Gak duduk dulu, Nak?"
"Maaf. Saya harus segera ke pesantren."
Raka agak canggung di rumah itu. Dia terjebak dalam sekumpulan mama muda penipu usia seakan berada di gurun Sahara. Rok mekar di atas lutut, bahu shiny, lengan berlubang yang terlihat dari kejauhan. Make up tebal hingga natural ala artis Korea. Ah, semua itu bikin Saliva dan keringat pria turun terpaksa tanpa dipaksa.
"Mas, jangan jual aku." Sekali lagi pesan masuk melalu wa.
Raka segera menurunkan kaki ke arah mobil dengan langkah tegap agak tergagap.
"Mas, kunci mobilnya jatuh."
Wanita berbaju shiny mengingatkan. Berdiri di belakang Bu Ratna.
"Oh iya. Maaf."
"Siapa jeng?"
"Oh putra teman."
"Cakep juga."
"Ingat suami."
Mereka pun melanjutkan obrolan yang sempat terjeda oleh Raka.
"Mas, jangan jual aku." Sekali lagi pesan masuk melalui wa di Android Raka.
Siapa sih ini dari tadi ganggu terus. Ah, paling juga orang iseng kurang kerjaan.
"Sayang."
"Sayang. Aku tunggu di vila pondok indah ya."
Tembakan kalimat beruntun diluncurkan. Sesekali Raka melirik. Degup jantungnya memompa darah lebih ekstra dari biasa. Jari telunjuk refleks mengetuk-ngetuk. Kemal. Kepo maksimal.
Ciiit
Roda mobil menepi. Gerak kaki lincah menginjak rem. Sambil tarik nafas diapun tergoda untukembalas chat yang menggoyang batinnya
"Maaf, anda siapa ya? Sepertinya anda salah orang."
Saat hendak mengirim balasan chat ini, Jari tangan seakan berada di ujung kaki.
Tuing
"Mas Raka bukan?"
__ADS_1
"Iya. Tapi saya gak kenal anda. Anda siapa dan mengapa mengirim pesan seperti ini?"
00:00:02
00:00:04
Tik tik beberapa detik kemudian masih belum ada pesan.
Di ujung gang rumah dekat mami terdengar teriakan histeris. Teriakannya menyayat hati. Balita kok dipukuli.
"Aaaw. Ah, aduh."
"Ampun ma. Ampun. Ampun ma."
"Awas kalo sampai kamu ngompol lagi."
Sementara di dekat sungai terlihat seorang remaja yang masih mengenakan atribut SMP
.Anggun namanya.
"Kasian dia. Akibat ulah orang tua jadi dia yang kena getahnya."
"Iya. Tapi ngapain kasihan biarin aja. Salah sendiri."
"Kok kamu ngomongnya gitu mbak."
"Abis aku kesel gara-gara kelakuan ibunya semua daganganku jadi gak laku."
"Kok bisa?"
Kedua tetangga tengah asyik merecoki hati dan otak kiri. Mulut suka meleber tak mau diam jika salah peran.
"Ibunya itu bawa laki-laki yang bukan muhrimnya. Kan ibunya janda. Masih basah pula."
Perempuan berdaster merah mengambil tumpukan baju-baju ke tepi batu. Mengusap sabun colek ke kerah baju. Tak hanya baju tapi mulut pun ikut berbusa.
"Mungkin itu saudara jauhnya."
"Itu dulu. Sekarang malah heboh kemana-mana sama si Ita."
Perempuan berdaster kuning membilas baju-baju yang telah kumal. Kucek maksimal. Mereka berganti tempat nyuci karena air sungai mendadak alirannya terhenti terhalang oleh baju Si wanita berdaster merah.
"Ita bukan seperti wanita umumnya. Dia beda."
"Kamu tuh tahu dari mana?”
“Kupingku ini sakti dan suka berdenging kalo ada info semriwing."
Hahaha
Mereka pun tertawa lepas meregangkan otot mulut juga pipi yang kena dehidrasi.
"Kasian anaknya. Jadi gak punya teman. Tiap pulang sekolah ya mampi ke sungai ini." Imbuh Perempuan berdaster merah.
"Gitu ya. Andai aja anakku gak lima aku mau memungutnya. Ngajak dia tinggal di rumah. Makan aja masih kembang kempis. Asep lebih sering nganggur timbang kerja."
Anggun melempar batu kecil berulang kali. Tarik ulur lepas lagi. Lagi dan lagi.
***
"Coba nyalakan mesinnya." Ucap Bayu usai membetulkan kabel yang lepas.
BRMM
"Akhirnya bisa juga kak. Makasih ya."
"Sama-sama."
Mobil merah itu berlalu setelah mogok hampir satu jam. Juga terpaksa menunda pertanyaan yang akan dilontarkan Bayu untuk Deandra.
"Kamu pinter juga ya. Apa kamu montir?"
Bayu menggeleng.
__ADS_1
"Apa kamu bisa nyetir?"
Bayu hanya mengangguk tipis.
"Kau kenapa?"
"Enggak apa-apa. Iiih Bayu. Kenapa?
"Gak. Gak ada apa-apa Deandra."
"Kok diem."
Bayu berjalan menepi menuju batu berwarna ungu di seberang jalan. Mobil macet telah memacetkan deretan kalimat yang menyumbat pikiran dan perasaannya. Belum sempat mendaratkan pantat tetiba terdengar suara teriakan.
"Aaarghhh."
"Deandraaa."
"Bayuuu."
"Bayu Tolong!"
"Deeee...."
Gawer berhasil menangkap Deandra saat mau melintas di jalan raya. Gawer memegang kencang lengan gadis itu.
"Mau kemana kamu?"
"Kalian siapa?"
"Udah deh gak usah belagak pilon." Ucap Gawer dengan senyum puncaknya.
"Wo, dia belagak lupa."
"Masukkan dia ke mobil."
"Bayuuuu."
Deandra berusaha menggedor-gedor kaca. Berteriak keras memanggil-manggil Bayu. Akan tetapi mobil melaju bak orang kesetanan. Jalanan bergelombang tak menjadi persoalan. Roda-roda bersinggungan dengan arah jalan aspal.
"Jalan Wo, buruan."
Gawer membungkam mulut Deandra dengan tangan kanan. Tangan kiri memegangi kedua tangan Deandra dari belakang.
"Diam. Kami sudah mencarimu kemana- mana akhirnya ketemu juga."
Hahaha
"Mimpi apa kita semalam, Wo."
Tersadar gadis di belakangnya menghilang, Bayu berlari meluncur kea rah sepeda motornya.
Gawer mengikat kencang pergelangan tangan gadis berjilbab merah itu. Tak tanggung-tanggung tanggung diapun menutup mulut dengan lakban.
"Ehhmmm. Ehhmmm."
Di belakang, Bayu melintas bagai kuda terbang. Jalan licin dan belokan ekstrim tak membuat dia kesulitan. Dengan speed 140 kilometer.
Ciiit
Ciit
Adu kecepatan dan adrenalin bersentuhan. Semua bercampur menjadi satu keberanian. Sepeda motor Bayu menghadang mobil hitam itu.
"Ehhmmm ehmmm."
"Mau cari mati dia rupanya."
"Tabrak dia, Wo. Tabrak saja dia."
Mobil berjalan agak mundur lalu menambah porsi kecepatan. Bayu masih berdiri di depan mobil.
"Ehmm ehmm." Kaki Deandra menendang kaki Gawer. Wajahnya pucat berlinang air mata. Dan anda menunggu kelanjutannya.
__ADS_1
Bersambung ---
Jangan lupa like dan komen ya.