Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
Bab 18 Pipi Donat


__ADS_3

Mobil Bayu melaju meninggalkan klinik. Dia membantu membawa pakaian Deandra dalam tas ransel merah. Fitri harus berjalan meninggalkan mereka berdua karena ada telpon dari mamanya untuk segera mengambil baju jahitan. Mama Fitri ingin mencoba jahitan milik Marsha. Karena kata Fitri jahitannya cukup bagus.


Bagaimana dengan Bayu?


Bayu memutar benda bundar di genggaman nya perlahan. Beberapa saat pandangan melirik kaca. Ada sosok bayangan tertangkap di sana. Ah, wajah siapa ya? Dia begitu cabi dan lebih berisi.


"Sekarang kamu lebih chuby ya?"


"Kan aku dari dulu emang chuby Bayu.?"


"Enggak. Sekarang makin chuby. Bulet kayak donat."


"Eh, donat itu bolong tengahnya."


"Ya, donat bulet sekarang banyak."


"Iiih, tapi aku bukan donat. Aku Deandra."


Volume suara gadis itu ditambah lima kali. Saat dia mencoba menarik tisu di depan kaca mobil. Ekor matanya tergoda untuk melihat kaca yang menggantung. Dia menangkap bayangan wajahnya yang memantul. Sesaat dia terdiam. Dan dia baru sadar. Maklum di pondok dia lebih sering melihat panci dan dan kitab-kitab untuk mengaji. Soal wajah urusan sepersekian dari daftar urutan skala prioritas.


"Iya. Pipi donat." Ejek Bayu.


"Bukan. Aku bukan donat. Aku hanya ...."


Deandra bersikukuh dengan pendapatnya. Tak mau kalah. jelas saja jurus ngeyel memang jadi andalan. Tak peduli seberapa kuat lawan yang dihadapi.


Ya Allah bulat sekali pipiku. ini sih bukan donat lagi tapi melon. Hiks. Buletmu keterlaluan Deandra. Oh bukan, hidungmu kalah mancung sama si Bayu. padahal kan hidungmu dulu memang seperti itu. hehe.


"Hanya apa?"


Bayu menarik kopling dan menginjak kaki rem saat di perempatan. Lampu merah menyala. Semua kendaraan dipaksa berhenti. Iya seperti laju pergerakan bibir Bayu yang juga ikut terhenti. Terhenti saat melihat bulatan pipi.


Tin


Tin


Terdengar bunyi klakson mobil kendaraan di belakang yang bersahutan memberi alarm mobil Bayu. Suara klakson mereka membuyarkan titik fokus yang ada.


"Iya, iya sebentar. Sabar. Sabar."


Deandra menoleh ke belakang dan mengeluarkan setengah badan ke pintu mobil.


"Deandra kamu ngapain?"


"Abisnya mereka berisik."


Gadis berpipi chubby itu mengambil permen mint dari kotak toples kecil yang tersedia. Segera dia mengupas kulit permen dan memasukkan butiran merah itu ke mulut kecilnya.


"Kakak Bayu yang ganteng dan baik, kita mau ke mana?"


"Sudah ikut saja."


"Adik kan pengen tahu kakak?" Ledek Deandra.


"Apaan sih. Adik kakaknya udahan. Sekarang aku mau nunjukin kamu sesuatu."


Drtt


Drtt


Bunyi getar ponsel Bayu menghentikan dialog mereka. Terpampang sebuah nama. Amanda.


"Bentar ya aku angkat telpon dulu."


Bayu menempelkan earphone bluetooth ke telinga kanan.


***


Di rumah Mami.


"Gimana pencarian kalian? Sudah berbulan-bulan masih belum ada kabar tentang Deandra."

__ADS_1


Mami membuka emosi bertegangan tinggi. Di ruang tengah dia menyuntik beberapa wanita andalannya untuk bermain catur. Suntikan merah yang terbuat dari campuran bunga kecubung.


"Mami, aku gak bisa melayani om Mark." Seloroh perempuan berkaos pink ketat berpadu dengan hotpants.


"Kenapa sayang?"


"Badannya terlalu besar. Dia juga suka kasar."


"Kamu hanya belum terbiasa."


"Tapi mi..."


"ssst... gak ada kata tapi. Tak ada yang tak bisa ditaklukkan seorang wanita. laki-laki seperti bayi. Bayi suka botol susu. Pria juga. Iya kan?"


Mami melanjutkan wejangannya pada anak buahnya.


"Dia akan menuruti semua yang kau inginkan asal kau mampu menaklukkan 'bayimu'"


"Dengan cara apa Mi?"


"Dengan cara tadi. Ah, kamu diajak ngomong gak paham paham juga."


"Maaf mi."


"Berapa umur dia Wer?" tanya mami pada pengawalnya.


"13 tahun."


"Masih bocah rupanya. kasih dia sekolah dulu. jangan langsung kerja. Gimana sih?" Bentak mami.


"Baik mi. besok kudaftarkan dia di sekolah SMP."


***


"Iya halo Amanda."


"Ada berkas penting yang harus ditandatangani pak."


Obrolan via WhatsApp antara Bayu dan Amanda mengundang rasa penasaran gadis disampingnya.


*S*iapa Amanda?


"Siapa yang nelpon Bayu?"


"Sekretaris aku yang baru."


"Pasti cantik."


"Iya gitu deh."


Tetiba ada jalan yang berlubang agak besar. Keasyikan mengobrol, setir Bayu kurang kontrol.


BLUGG


Glek


Di saat yang sama kubangan itu menarik permen Deandra. Ternyata permen itu lagi jail. Dia mau bermain dulu di lehernya. Tingkah permen itu membuat dia harus tahan napas dan sesaat tak berdaya.


Ehm ehmmm


Deandra menepuk-nepuk dada Bayu. Bayu yang lagi fokus nyetir menarik setirnya ke arah kiri. Segera mobil itu diajak melipir ke kiri.


"Kau kenapa De?"


Ehm ehmmm ehmmm


Jemari Deandra menunjuk-nunjuk leher. Dengan tangkas Bayu menepuk-nepuk punggung leher Deandra. Ternyata permen itu masih sembunyi. Bayu berusaha lebih semangat lagi. Kali ini tepukannya lebih keras.


00:01


00:02

__ADS_1


00:03


00:05


Prull. Sebuah butiran permen merah seibu jari keluar dari mulut Deandra.


"Alhamdulillah. Deandra. Deandra kamu masih seperti dulu. Ceroboh."


"Semua ini kan karena kamu. Tadi nyetir gak hati-hati. Aku kan lagi makan permen, Bayu."


"Iya maaf. Tadi ada jalan yang berlubang saya gak lihat. Kamu gak apa-apa kan?"


"GAK. Makasih udah bantu. Tapi aku gak suka ya dibilang ceroboh."


"Sejak kapan kamu jadi sensian gini? Iya saya gak akan ngulangi lagi."


Kenapa aku jadi sensi gini sih? Biasanya aku gak pernah semarah ini sama Bayu. Lagian aku kan emang bener ceroboh.Tapi ... Kamu kenapa Deandra?


Deandra menyadari titik salahnya. Mereka terdiam beberapa saat. Suasana mobil sudah seperti kamar mayat. Untuk menghilangkan kecanggungan, Bayu memutar lagu sedangkan Deandra membuka opening dialognya.


"Kita mau ke mana kakak? Kakak Bayu?"


Deandra menaikkan kedua alisnya. Dan iya kebiasaan menyenggol bahu seakan sudah menjadi tradisi.


"Hemm."


"Kita mau kemana Kakak Bayu yang ganteng, baik hati dan tidak sombong?"


Terlihat lengkung garis senyum di kedua sisi Bibir Bayu. Bibir tipisnya membuka jendela hingga nampak deretan gigi-gigi putih yang berjajar rapi. Aroma parfum tubuhnya semerbak mengunci hidung Deandra.


"Nanti kamu juga tahu."


"Jadi kepo deh. Heeeemmm wangi banget kamu Bayu. Kayak mau ketemu doi aja. Cieee. Atau kamu udah mau nikah ya?"


"Apaan sih bukan."


Mobil mereka sampai pada sebuah restoran mewah di tepi jalan.


"Ayo turun."


Bayu membuka seatbelt. Di saat yang sama Deandra kesulitan membuka benda yang melingkar di tubuhnya.


"Bayu, tolong bukain?" pinta Deandra manja.


Bayu mencoba membuka seatbelt Deandra. Tapi tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Keringatnya menetes.


"Itu suara apa Bayu? Kencang sekali getarannya, seperti magma saja."


Jemari Deandra menempel ke dada pemuda bertubuh atletis di depannya. Tak cukup dengan itu. Dia pun menempelkan telinga kanannya di sana?


"Bayu, kamu sakit? wajahmu juga agak pucat?"


Jemari Deandra sigap menempel di kening Bayu.


"Ah, enggak. Aku gak kenapa kenapa."


Pemuda itu segera turun dari mobil dan membiarkan Deandra membuka pintunya sendiri. Iya, dia sedang membuang napas kegugupannya dan menggantinya dengan napas baru yang lebih rileks.


"Tapi, tadi ..... laju jantungmu keras sekali, Bayu."


"Bukan. Tadi cuma suara langit."


"Suara langit?"


Deandra membuntuti langkah Bayu sambil memikirkan apa yang dia katakan. Entah kenapa dia tak bisa jalan bersama. Harusnya kan bisa iya kan? Kasian Deandra ditinggal. Bayu payah.


"Tungguin dong Bayu. Bayuuu. Bayuuuu. Iiih nakal."


Bersambung


Hai dear readers. Makasih ya udah ngikutin ceritaku. dukung author ya! Dengan like, vote, comment n rate. Kutunggu ya!

__ADS_1


__ADS_2