Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
BAB 2 MALAM FORTUNA


__ADS_3

By Puji Nirwana


Deandra melirik arloji blue sporty. Terlihat waktu menunjukkan pukul 21.01. Jejak kaki ditinggalkan sepanjang jalan.


Angin berhembus menusuk. Genangan air sisa hujan terus berlinang. Sayup-sayup terdengar bunyi suara binatang.


Ugk


Ugk


Ugk


Langkah kaki gadis belia itu dipercepat. Mata melirik ke kanan dan ke kiri.


Duh, mana jalanan sepi lagi. Hiks. Perut, kali ini kita kompromi ya! Jangan sakit dulu. Nanti kalo ketemu makanan lezat aku jabanin deh maumu.


Kau kan tak punya uang Andra, dari mana kamu mentraktirku?


Sahut perut.


Tenang saja. Pasti ada cara. Semut saja bisa makan apalagi aku yang manusia.


Deandra terus membelai perut kecilnya dibalik blus biru. Jemarinya menyusup masuk menyentuh kulit.


Ugk


Ugk


Ugk


Suara burung hantu menambah hening dan seksinya malam.


Kok jadi merinding gini sih.


Nafas sedikit tersengal. Bersahutan bagai laju nafas aki-aki. Langkah kaki merapat. Berhenti sesaat. Kepala berputar 90 derajat.


Tuhan lindungi aku. Lindungi aku.


Kedua tangan ditangkupkan.


Mau ke mana gadis cantik? Ikut abang yuk.


AAAARG


"Don't touch me sir!"


"Kamu bicara apa?"


"Don't touch me.?"


Deandra mengatur langkah. Pria berambut kurang rapi itu berjalan maju. Langkah kakinya berirama mundur ke belakang.


"Ayah. Ayaaah."


"Kamu sendirian kan? Sudahlah enggak usah jual mahal."


"Kalian mau apa?"


"Masih nanya lagi. Bro, dia enggak tahu keinginan kita."


Pria di sebelahnya masih terus diam.


"Kau mengenalnya?"


"Enggak. Aku sedang malas."


"Sudahlah wanita memang seperti itu. Makanya jangan terlalu percaya sama wanita."


Kedua penjahat itu sedang asyik berdiskusi. Bukankah ini kesempatan emas sayang?


"Teruskan dialog kalian. Iya bagus."


Gadis itu berjalan mundur seperti undur-undur. Badannya agak menjongkok.


"Wanita memang seperti itu. Sudahlah. Masih banyak wanita di dunia ini."


BLA


BLA


BLA


"Bro, kemana perginya gadis tadi?"


"Mana kutahu."


"Silakan kalian lanjut sayang-sayangnya. Aku di sini," teriak Deandra dari atas motor.


Dia melambaikan tangan dan melempar tanda bibir.


"Terima ini!"


Sehelai kain putih melayang dan mendarat soft di wajah pria diam. Mata pun ikhlas terpejam menghirup aroma khas menenangkan.


Hahaha


"Hey, ya ... Malah pergi. Kamu sih."


"Bro, elu masih waras ‘kan?"


Pria berambut kurang rapi memetik jari.


"Hem?"


"Yaa, ngelamun aja. Syalnya bagus juga. Sini buat gua aja."


"Eh, itu punya gua."

__ADS_1


***


Deandra berpaling dari kedua penjahat bengong. Di atas sepeda motor hitam, tangannya mencari pegangan.


"Apa kau suka berpetualang?"


"Menurutmu?"


"Kau tak cocok berpetualang malam-malam."


"Memang kenapa?"


"Tak baik seorang gadis berjalan malam-malam."


"Begitukah?"


"Kau gadis yang tadi di rel kereta api kan?”


Bayu mengurangi laju sepeda motor. Tangan kiri membuka kaca helm.


"Bukan."


"Tapi kayaknya mirip,


Bukaaan.


Masya sih.


Bye the way makasih ya.


Untuk .


"Tumpangannya. Harusnya tadi ada adegan keren bertinju atau bersalto."


"Lalu, mengapa tak kau lakukan?"


"Tak mungkinkan aku melakukannya dengan rok beginian?"


hahaha


Tawa pun pecah mengisi kesunyian.


Pemuda berjaket hitam itu mengegas sepeda motor perlahan. Berusaha mengoper kopling dengan santai diimbangi perasaan.


Rumahmu mana? Biar saya antar pulang.


Apa? Kurang jelas.


Rumahmu mana biar saya antar? Pemuda itu membuka kaca helmnya.


Jalan saja.


Iya ini sudah jalan.


Lurus saja.


Ini sudah lurus Nona.


Hahaha


Kendaraan itu melaju lurus sesuai intruksi Sang Nona. Mau jalan kemana? Yuk ikuti ceritanya.


KRUCUK


Aiiih napa ini perut ikut ngobrol. Mana narsis lagi.


Deandra membelai lembut si perut.


Di sebuah angkringan pinggir jalan motor hitam itu menarik laju pijakan rem.


Napa berhenti? Tanya Deandra.


Mampir dulu yuk? Sudah masuk saja.


Bang, kopi dua. Ehm, kamu mau makan apa Nona?


Mie rebus aja.


Mie rebus dua komplit ya, Bang.


Pemuda berjambang tipis itu duduk di samping Deandra. Bersekat botol kecap dan saus. Bayu meraih gawai dari saku jaket hitamnya.


Kenalin saya Bayu.


Ehm, Deandra.


“Deandra? Nama yang bagus.


Pemuda beralis tebal itu mengulum senyum sambil mengelap keringat di wajah dengan tisu basah.


Masya, wajah dan baju bisa mirip banget. Ngaku deh. Kamu orang yang tadi kan?


Bayu mencoba mengingat wajah dan baju seorang gadis yang dia temui di rel kereta api.


Iya iya. Masyak gak bisa bedain.


Saya tuh enggak mau mengingat sesuatu yang kurang penting di memoriku.


Weleh. Bilang aja pelupa.


Kenapa kamu tadi mau melakukan hal bodoh seperti itu?


Jangan salah. Siapa juga yang mau bunuh diri. Tadi aku tuh Cuma Cuma


Deandra menghentikan laju bicaranya sambil berpikir keras kelas super. Alas an tepat yang gak murahan. Abisnya malu kan? Iiih, enggak banget deh bisa malu tujuh turunan.


Cuma apa? sahut Bayu

__ADS_1


Cuma mau bantu nyelametin kucing.


Bayu tertawa sambil melihat peralihan wajah Deandra yang mulai memerah bak saus tomat.


Kamu enggak sedang kaburkan?”


Eh?!


Kali ini keringat dingin tiba-tiba mengucur. Wajah bulatnya mendadak merona. Segera tangannya meraih tisu.


“Dari mana kamu tahu?


Yaaa malah bener.


Tercium aroma sedap mie rebus menggugah cacing-cacing yang sedang asyik bermimpi. Seduhan kopi latte menambah relaksasi.


HEEEMMM


Silakan!


Makasih Bang.


Makan dulu.


HAP


HAP


Pelan-pelan.


Aku lapar sekali.


Iya kelihatan. Mau nambah?


Kalau boleh.


Hahaha


Kamu lucu. Ini buatmu saja.


Ternyata dia bisa lembut juga.


Bayu menyorongkan semangkuk mie rebus yang ada di hadapannya. Sesekali dia melihat wajh gadis itu tanpa dia tahu. Iya adegan mencuri pandang mengasyikkan. Walau kadang jika ketahuan malunya bukan kepalang. Mesti pakai taktik juga kan?


Kamu?


Saya masih kenyang.


Beneran?”


Iya.


Saat Deandra memasukkan beberapa sendok mi ke mulutnya, terdengar lagu era 2000an grup band masa masa eksis lagu pop Indonesia.


Kubayangkan bila engkau datang


Kupeluk bahagiakan aku


Kuserahkan seluruh hidupku


Menjadi penjaga hatimu


Kubayangkan bila engkau datang


Kupeluk bahagiakan aku


Kuserahkan seluruh hidupku


Menjadi penjaga hatimu


Bunyi sendawa Deandra membuyarkan lamunan pria muda di depannya.


Ups maaf aku terlalu kenyang.


Hahaha


Gak apa-apa. Santai saja.


Berapa Bang?


Empat puluh ribu, Mas.


Yuk.


Makasih ya.


Untuk.


Makan malamnya.


Bayu bersiap mengegas motornya. Deandra duduk di belakang sambil membetulkan posisi rok yang kurang panjang.


Lain kali kalau kabur makan dulu. Bawa bekal yang banyak.


Iya akan kuingat.


Setelah ini kau mau kemana?


Deandra menggeleng. Kepala menunduk. Sesekali melihat ke langit. Malam itu begitu menggoda. Kilauan cahaya bintang berbaris rapi bertaburan. Memanjakan mata dan mengusir rasa tak enak hati seketika.


Aku tak tahu. Boleh ikut denganmu?


Kamu tak takut? Gimana kalau aku penjahat?


“Aku akan menusukmu.


hahaha

__ADS_1


“Atau aku akan kabur lagi.


Langit malam sedikit lebih bercahaya. Menggeser awan mendung. Cahaya bintang pun menunjukkan pesonanya.


__ADS_2