Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
BAB 7 NETIZEN BUS


__ADS_3

By Puji Nirwana


Risman makin penasaran.


“Tadi seperti suara cewek.”


Nada Risman sedikit lebih keras agar suaranya terdengar oleh Bayu yang masih di dalam kamar.


Risman celingukan dilanda penasaan. Mata coklatnya menyapu setiap sudut lekuk kamar kos Bayu. Meski dilihat sekilas dari teras. Mata tikusnya berusaha mengerling siapa tahu dapat sesuatu yang lebih cling.


"Mana ada ciwi di sini. Suara televisi." Sahut Bayu dari kamar.


"Oh."


"Bisa pinjam korek api gak?" Pinta Risman.


"Ambil aja ada di meja depan." Teriak Bayu dari bilik kamar.


Sssstt


"Aku ambil ya!"


"Iya."


Tuh kan? Bahaya kalo kamu di sini terus.


"Aku ikut."


"Maaf De, kali ini gak bisa. Saya harus melihat kondisi rumah. Papa juga sedang sakit. Saya harus pulang dan handle kerjaan papa sementara."


Bayu meninggalkan Deandra di kafe. Sebuah kafe yang dijadikan untuk transaksi pertemanan sekaligus penitipan. Seorang wanita berhijab muslimah datang menghampiri Deandra.


Deandra mencocol kentang goreng ke saus sambal dan memasukkan ke mulutnya. Suapan yang ketiga dia tersedak.


"Bener-bener ya. Bayu awas kamu ya. Ninggalin aku kayak gini. Sama orang gak kukenal lagi. Bukannya nunggu dulu. Eh ... Dasar ekor kuda."


Deandra nerocos meluapkan puncak kekesalannya. Karena Bayu bersikap tak seperti pangeran Cinderella.


"Bayu jelek. Bayu nakal. Bayu gondrong."


Lapisan kekesalannya terlampisakan pada kentang dan saus saat mendarat ke mulut.


Saat putaran cocolan kentang yang ketiga, wanita muslimah berjilbab panjang menghampirinya. Baju muslimah coklat susu membuat perempuan muda itu nampak ayu. Sementara Deandra dengan baju kemeja lengan pendek kotak-kotak berpadu dengan celana jeans ketat.


"Dengan Kak Deandra?"


"Eh, iya."


"Anda siapa?"


"Kenalin aku Fitri."


"Deandra."


Mereka saling berjabat tangan. Deandra menambah pesanan. Dua jus mangga dan seporsi kentang goreng lagi. Porsi pertama berhasil membawa kesalnya pergi.


Baiklah sobatku, saatnya kita tinggalkan Deandra. Biarkan dia asyik berdiskusi dengan teman barunya. Seingatku Raka sedang berjalan mencari seseorang. Apa kalian masih ingat?


Baiklah kuingatkan lagi. Secuil kisah tentang Raka.


Raka adalah pemuda yang dulu pernah menolong Deandra. Masih ingat?


"Iih bukannya Bayu Mis?"


"Ho oh. Kayaknya Bayu deh. Yakin gua."


"Ah, misis sih kelamaan nyeritainnya ‘kan gua jadi lupa."


Daripada kalian pusing simak ceritanya yuk!


Sudah menjadi bulan-bulanan Raka diguyur pesan mesra. Semakin hari semakin berani. Entah siapa dia? Yang jelas Raka merasa risih tiap kali dia menghubungi. Meski sudah ke sepuluh kali gonta-ganti nomer gawai, si dia selalu menggoda.


Hari ini adalah tanggal merah karena hari raya idul Adha. Dia dalah salah seorang ustadz di daerah Bekasi. Lulusan Magister dari Kairo.


"Terimakasih ustad. Saya jadi mengerti tentang hal ini. Perlunya memakai akal dan nurani."

__ADS_1


"Dalam buku ini dijelaskan bahwa seorang laki-laki berhak mendapat apa yang pantas dari apa yang diucapkan. Dengan kata lain kita haruss bisa menjadi yang terbaik."


"Boleh saya pinjam bukunya?"


"Boleh saja. Tapi untuk menghargai sebuah ilmu alangkah baiknya jika memilikinya dengan cara membeli."


"Masyak sih ustad? Saya baru denger."


Alfi membetulkan pecinya yang miring.


"Aku tak percaya ini. Bisa-bisanya dia mencuri. Mau jadi apa dia nanti?"


"Aku juga gak habis pikir ustadz. Fahri melakukan hal itu. Sekarang dia dikeluarkan dari asrama."


"Kamu tahu siapa saja teman-temannya?"


"Dia sering minta uang pulsa sama aku ustadz. Terakhir dia bon 505 ribu."


"Lalu?"


Ustad Raka mengambil segelas air mineral di depannya. Meneguk perlahan.


"Jadi sekarang dia keena takzir. Meski tidak pernah terjadi apa-apa tapi tetap saja mereka melanggar peraturan karena telah berani bertatap muka."


"Aku kecolongan."


"Tata tertib asrama pondok ini harus diperkuat."


Ustadz Raka menutup pembicaraannya dengan Alfi. Alfi ketua asrama pondok meninggalkan ruangan berkorden biru.


"Ustadz jangan lupa nanti ada acara walimah dirumah Bilqis."


"Iya. Nanti bareng ya!"


Di sebuah pasar tradisional Raka berencana membeli anggur merah dan melon. Buah itu akan dia bawa ke rumah Bilqis sahabat karib yang menikah dengan sepupu.


"Selamat ya sob."


"Selamat ya Bilqis."


Tamu undangan terlihat menggunakan masker. Sebagai salah satu antisipasi wabah covid.


Di saat yang sama dua orang perempua muda memasuki gapura pernikahan. Seorang perempuan cantik dan anggun dengan gamis wolfis renda merah marun. Satunya lagi gadis manis berwajah oval berbadan mungil bergamis moca.


***


Di tempat pernikahan lainnya.


"Ini pernikahan siapa Kak Fitri?"


"Ini pernikahan sahabat kita. Bayu."


"Bayu?"


"Jadi kakak ngajak aku ke sini hanya untuk melihat Bayu. Bocah tengil itu?"


"Kenapa? Bukankah kalian dekat, bersahabat?"


"Kenapa hatiku rasanya sakit gini sih?"


'Bayu napa nikah gak bilang-bilang sih. Tega amat.'


Deandra berjalan ke depan menuju posisi Bayu berdiri. Anehnya dia belum rapi.


"Selamat ya!"


"Deandra?"


Bayu terkejut melihat kehadiran Deandra.


"Kamu sama siapa?"


Deandra menoleh ke arah tempat duduk Fitri di meja sebelah kiri.


"Gimana De, bagus kan dekorasinya?" Tanya Bayu sambil melihat sekeliling ruangan dengan nuansa bunga soft pink.

__ADS_1


"Ini bukan untuk Bayu tapi kakak angkatnya."


Fitri menahan tawa melihat muka kecut Deandra.


"Iih gak lucu."


"Yey, ada yang cemburu kayaknya nih."


"Nggak. Siapa yang cemburu. Ngapain juga cemburu ama si Bayu. Kayak gak ada orang lain aja."


"Ah, yang bener. Tapi tadi kulihat langit mendung padahal matahari bersinar begitu indah." Timpal Bayu.


"Kak Fitri nakal."


Hahaha


***


Raka memakai topi soft grey. Karena mobilnya di bengkel terpaksa dia melanjutkan perjalannya dengan bus. Suasana baru yang jarang dia temui yaitu menikmati perjalanan dengan kendaraan umum. Sebuah bus yang akan membawa dia pergi ke luar kota Bekasi. Terlihat Jalanan agak lenggang. Bus pun melaju dengan kencang.


"Saya gak bisa gini terus, Mas. Saya mau kita putus. Pu-tus."


"Adek jangan gitulah. Mas kan lagi merantau nyari duit buat biaya nikah kita."


"Tapi saya gak mau terus-terusan kayak gini. Mas lebih baik kita sendiri aja. Wajahmu sudah tua. Saya juga gak lagi muda."


Adu mulut pasangan hampir suami-isteri semakin misteri. Raka terpaksa mendengar obrolan mereka. Sesekali melirik. Bahkan tak sering jari kaki pun ikut berdiskusi.


"Boleh geser dikit Mas."


"Ah, iya."


Raka menggeser pantatnya ke kiri sepuluh senti. Jari kanan membuka Al-Qur'an kecil yang diambil dari saku baju depan.


"Bisa lebih keras lagi Mas?"


"Maaf Pak, nanti mengganggu yang lain."


"Tapi saya tak bisa ikut mendengar. Padahal mendengar saja bisa jadi pahala. Iya kan?"


Raka masih membaca Alquran dengan laju bibir tanpa suara.


"Aku mau kita putus."


Perempuan yang beradu mulut barusan meninggalkan pria itu sendiri. Dia bergeser dan duduk di depan kursi Raka.


"Bisa lebih keras Mas?" Pinta lelaki berjaket biru di sebelah Raka.


Raka menambah volume suara. Wanita yang duduk di depan terkena hibah pendengaran.


"Nah, gitu dong. Bagus dan indah suaramu, Mas." Ucap pria berkaca mata bening di samping Raka.


"Bagus sih bagus. Berisik tauk. Lagi butuh ketenangan ini." Sahut wanita berkemeja pink di depan.


"Mendengar Alquran bisa jadi obat ketenangan." Jawab pria di sebelah Raka.


Raka menurunkan volume bacaan surat Alwaqiah.


"Mas, napa dipelankan? Saya kan mau dengar."


"Tapi dia gak mau Bapak. Bisa mengganggu yang lain."


"Andai saja aku bisa membaca. Pasti suaraku jauh lebih indah dan lebih merdu."


Pria berkacamata bening itu melorotkan kacamatanya. Dia taruh ke dalam saku baju.


Ciiit


Laju bus sedikit bergoyang. Tarikan remnya menarik perhatian warga netizen bus.


"Ada apa?"


"Ada apa ya?"


"Napa berhenti?"

__ADS_1


---bersambung


Jangan lupa like, coment, dan rate ya!


__ADS_2