Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
Bab 12 Merecall Memori


__ADS_3

sosok bayangan itu mendekat. Marsha sembunyi di balik punggung Deandra. Deandra beranjak dari kursi panjang. Mencari sosok bayangan itu.


"Aaaargggh."


Mereka menjerit ketakutan melihat bayangan itu semakin membesar. Sambil berpelukan dengan mata terpejam mereka mengucap kalimat-kalimat thoyibah.


"Ampun. Ampun Nek! saya masih kecil. Saya masih gadis dan belum nikah Nek. jangan bunuh kami. Eh saya." ucap Marsha sambil menggigil ketakutan.


"Woy. Bangun woy."


Cila menggoyang-goyangkan tubuh mereka.


"Ini aku Cila. ngapain kalian malem-malem gini di sini?" tanya Cila, sahabat sekamar yang agak juling.


"Kalo sampe Kak Bening liat, bisa kena hukuman nanti."


"Ah, aku kan hanya lagi nyari angin." Sahut Marsha.


"Aku lagi ingin melihat bulan. Emang gak boleh?" Timpal Deandra.


Mereka bertiga malah asyik berdiskusi. sedang jalannya waktu menunjuk angka 00:01.


"Deandraaaa...."


Terdengar suatu sayu memanggil nama itu. Deandra mendengar tapi tidak teman-temannya.


"Apa kalian dengar itu?" Tanya Deandra.


Marsha dan Cila menggeleng. Mereka beradu pandang. Kedipan mata menurun dari biasa. lambat.


"Kau menyentuhku yaa?" Cila balik nanya


"enggak," jawab Deandra.


"Kok aku jadi merinding ya."


Marsha mengelus leher belakangnya. Sambil melihat ke seluruh area taman belakang pesantren.


BAAaa


"muncrat-muncrat. mami-mami. kodok-kidok."


Cila spontan menyebut semua benda yang ada dalam lintasan rel pikirannya. orang bilang itu latah. Apa anda begitu jika kaget luar biasa Lee Min Ho?


"astagfirullah aladzim. astagfirullah aldim."


Jawab latah Marsha. Nah, kali ini lebih bener. Marsha emang sentimen. Eh? puresantri men.


"Oh mama."


itu ucap Deandra. Duh Deandra nyebut atuh! kok manggil mama.


"Ustadz Alfi, ngagetin kita ih."


"Iya bener. jantung kita mau copot. coba kalo? copot emang bisa dibenerin lagi. susah atuh."


Cila menahan napas saat mengucap kalimat barusan.


"lagian ini udah larut. kalian masih keluyuran aja."


"Ini tadi kita nyusul Deandra ustadz. ini juga udah mau masuk kok. Iya kan temen-temen."


"Kalian harus baca sholawat sampai nanti jam 1 pagi."


"De..."


Marsha memberi sinyal Deandra untuk melakukan sesuatu.


"Pak Ustadz Alfi yang baik, maafin kita ya utadz. kami janji gak akan ngulangi ini lagi. Sekarang ijinkan kita pergi ya ustadz. Karena kami harus piket memasak besok pagi."


"Iya ustadz. Pak ustadz baik deh."


"Iya. iya kali ini saya maafin. Lagian jam segini itu jadwalnya mereka yang jaga. Bukan kalian."


"Mereka siapa ustadz?"

__ADS_1


"Tuh kayak di sampingmu?"


Argggghh


Tiga gadis itu menjerit histeris. hampir. setelah mendapat rem dari Ustad Alfi. Mereka berpelukan. erat. erat sekali. Mata mereka terpejam. Sungguh.


"Hai, memang kalian liat apa?"


Deandra menoleh. mata dan leher agak menunduk. melihat kondisi di sampingnya. Kedua sahabatnya masih menempel erat.


"gak ada apa-apa gini kok." Ucap Deandra lebih berani.


"Ustaaad. " Nada Deandra naik satu oktaf lebih gemas tapi dia ingat gak boleh keras-keras.


"Lagian yang bilang ada apa-apa siapa? Kalian aja yang penakut."


Eheeem


Suara lelaki berdehem memecah kericuhan berbisik.


"Ada apa ini ribut-ribut. Sudah malam."


"Itu kan ustadz Raka." bisik Cila kepada Marsha.


"ssst."


Bisikan malam telah bubar. Raka memang berkharisma. Dia jarang tersenyum pada santriwan atau santriwati. Semua yang melihat dia pasti mengira dia galak dan gak ramah. Apa benar seperti itu?


"Ampun deh, aku keluar malem-malem lagi. Enggak. enggak. Enggak bakal."


Cila ngedumel penuh sesal.


"Tapi tadi ustadz Raka cool ya?" Imbuh Cila.


"Sudah. Sudah sekarang kita tidur. Nanti kita harus bangun jam tiga." Pinta Deandra.


"Deandra sih keluar malem-malem."


"Aku kan gak suruh kalian datang."


"Iya Cila sayang. Marsha, makasih ya udah jadi sahabat aku."


Mereka berpelukan seperti boneka Teletubbies. Deandra mengambil selimut, mematikan lampu kamar dan membaca doa menjelang tidur. Sebelum tidur dia mengingat beberapa wajah orang yang pernah bersamanya.


"Apa benar ini punyamu?"


Raka menunjukkan kertas origami bergambar rajawali botak kepada Deandra. kertas origami berwarna ungu bergaris merah muda di tepi. Rajawali itu menabur berlian.


"Anda bicara sama saya pak ustadz?" Raka menghampiri Deandra yang sedang duduk di teras kelas. Usai mengajar ilmu Fikih, pria berhidung mancung itu menghampiri Deandra.


"Sebentar."


Raka mencoba mengingat sesuatu.


"Sepertinya wajah mu taak asing?"


sepertinya aku pernah melihat ustadz Raka. Tapi di mana ya?


Deandra dan Raka sama-sama merecall memori. Apa benar mereka pernah bertemu sebelumnya? Atau hanya berwajah mirip semata? Hayo pembaca bantu Deandra daa. Raka untuk mengingatnya.


00.00.01


00.00.02


00.00.03


Kedua mata saling menyipit.


***


slap! Deandra memasuki ruangan memorinya.


"Saya tidak serendah itu.”


“Berhenti Pak. Tolong Berhenti.”

__ADS_1


“Tapi jalanan ini sepi, Nak. Banyak begal dan penjahat lainnya.” Ucap Abah.


“Biarkan saja Abah. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan kehidupan malam.”


“Raka ….”


“Sudah akui saja. Dari pakaiannya juga semua udah tahu.”


Pria itu membuka kaca jendela. Bukan salam yang dia berikan tapi ….


“Cantik sih tapi mu--rah …..”


BUG


BUG


BUG


Kau tahu ekspresi apa yang Deandra tunjukkan?


tas biru sigap menipuk wajah pria berkumis tadi. Tak puas dengan itu dia pun mendaratkan kepalan jarinya dengan seksi.


Slap!!! bayangan memori Raka mengalir kembali.


“OOOOWWW. Hidungku.”


“Awas kamu ya!”


“Abah. Abah sepertinya salah nolong orang. Lain kali hati-hati.”


“Kamu sih bikin geregetan saja. Ha ha ha.”


”Abah tega ya. Sama anak sendiri.”


“Apa Ini?” Sebuah benda melingkar tertinggal.


Blurp!!!


KAMUUU


Mereka telah berhasil merecall memorinya. Alamak apa yang akan terjadi?


"Auw."


Raka memegangi hidungnya yang dulu pernah ditonjok Deandra.


Pria rese. Bisa-bisanya aku ketemu sama orang ini lagi. rasanya pengen nelen nih orang. Kalo darah halal pengen kuisep darahnya. biar gak seenaknya aja kalo ngomong. Sumpah! aku enek.


Sumpah serapah batin Deandra meracuni otak dan pikirannya. Semalam mereka bertemu bukan? TAPI sayang, kan remang-remang. cahaya gak bersahabat. semua baru terlihat sekarang. Detik ini. waktu ini. Ahad ini


Oh Mi Chiin.


"Kau tipe orang yang suka menjaatuhkan sesuatu ya?"


"Napa? Bukan urusan kamu?" jawab Deandra jengkel.


"Dulu kamu yang nabrak aku. kamu jatuhin kertas origamimu."


Raka mencoba meleburkan suasana. Suasana guru dan murid sudah tak ada sekat lagi. Sekatnya tergerus oleh gelombang arus kebencian. Raka melihat tetes embun yang menetes ke pohon kaktus. Deandra masih dalam posisi duduk. kali ini wajahnya lebih kusut.


"Maafkan atas sikapku dulu. Pertemuan pertama kita yang kurang mengenakkan. Aku sadar aku salah. Bisakah kau maafkan aku?"


Deandra masih terdiam. Dia pun enggan melihat wajah tampan di sampingnya. Mengingat kata-kata kasar yang pernah dia lesatkan. Kata-kata itu bagai pesawat jet tempur yang siap memborbardir lawan. Meninggalkan api besar kemarahan dan juga kebencian.


"kok bisa sampai di sini?" tanya Raka lembut.


"Bukan urusan kamu." Jawab Deandra ketus.


lalu dia pun berlari meninggalkan pria berkumis tipis itu. Mata Deandra berkaca-kaca. Baru kali ini aku melihatnya. biasanya dia kan ceria. Iya kan pembaca?


---to be continued


jangan lupa tinggalkan like,, coment, vote, n rate ya gaes .... makasih


"

__ADS_1


__ADS_2