Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
Bab 16 Sakit Kepala


__ADS_3

Di kantor Bayu.


"Nama kamu siapa?"


Bayu bertanya pada gadis anggun ber-rok mini hitam dan berkemeja putih di depannya.


"Amanda."


"Oke. Baik Amanda. Sekarang kamu bisa menjadi sekretaris saya. Kamu bisa langsung kerja hari ini. Meja kamu ada di sebelah sana."


Bayu menunjuk ruang kerja di luar pintu kaca. Sebuah ruangan yang tak jauh dari miliknya. Hanya terpisah oleh daun pintu.


"Makasih pak."


Amanda keluar ruangan Bayu dan melangkah ke meja kerjanya. Beruntung sekali hari ini Amanda mendapat pekerjaan dari Hans. Hans adalah rekan bisnis Pak Herman. Kedekatan mereka seperti keluarga. Hingga tak jarang mereka sering menghabiskan waktu bersama. Amanda? Bukannya mau liburan ke Jepang?


Mereka menunda liburan sampai batas waktu Amanda menjadi istri sah Hans. Atau istri simpanan? Entahlah.


"Bos baruku lumayan juga." bisik hati Amanda saat dia keluar ruangan Bayu.


Bayu mencoba menghubungi Deandra tapi nomer yang dituju selalu tak aktif. Benar saja, di pondok Pesantren tersebut para santri dilarang memakai hape. Jika ketahuan nanti akan kena ta'dhir atau hukuman.


Bayu memutar otak agar bisa bertemu Deandra. Wajah Deandra telah membuyarkan titik fokusnya. Kerjaan yang menumpuk belum dia periksa sama sekali. Yang ada hanya pegang pena dan menggigit bagian ujungnya. Oh Deandra....


Deandra, mengapa semakin hari gemuruh dadaku semakin nyeri?


Apa kau baik-baik saja?


Segera dia mengambil kunci mobil dan melesat ke sebuah pondok pesantren. Hari Sabtu dan Minggu dia rencanakan untuk pergi ke Pondok Pesantren tempat Deandra belajar.


"Ma, hari ini saya gak pulang. Mau pergi weekend ke luar kota."


Bayu mengirim pesan via WhatsApp ke gawai mamanya. Dia selalu ijin ke manapun dia pergi meski dirinya bukan anak kecil lagi. Bayu memang berusia dua puluhan, akan tetapi sikap dan sifatnya melebihi pria dewasa yang sudah matang.


***


Deandra mengalami sakit kepala yang hebat. Usai meminum susu coklat.


"Aduh, Kepalaku sakit."


Deandra merintih kesakitan. Marsha sudah pergi meninggalkan Deandra. Setelah berdebat dengan tunik dusty pink. Sahabat sekamarnya semua pulang. Tepat dua bulan Deandra berada di lingkungan baru dengan peraturan baru. Yang jauh dari hidupnya dulu. Banyak perubahan yang dia dapatkan. Mulai dari berpakaian, ucapan, ibadah dan mulai menghargai teman.Terang saja hari itu Jumat siang santriwati banyak yang pulang. Termasuk Marsha.


Deandra tergeletak di lantai.


"Aduh sakit. Kepalaku."


Deandra merintih kesakitan. Tubuhnya terkulai lemas di lantai kamar. Kondisi pesantren agak sepi.


Menjelang sore terlihat deretan para orang tua menyambangi putri mereka yang belum boleh pulang. Ada yang melepas rindu dengan berpelukan. Ada yang melepas rindu dengan obrolan. Ada yang melepas rindu dengan melihat sebuah foto. Iya, gadis berpipi cabi itu melepas rindu di dada dengan memandangi sebuah foto keluarga. Sebuah foto berbingkai hitam dari kayu. Sebuah foto yang tak lengkap dengan ayah dan ibu. Tapi, hanya foto Deandra dan mamanya. Foto papanya sudah dirobek sejak dulu. Saat Deandra tahu papanya menyakiti mamanya dengan membawa wanita lain ke rumah. Kebahagiaan pun telah berubah. Itu sedikit cerita tentang Deandra.


"Deandra,"

__ADS_1


Fitri melihat Deandra saat mau ke kamarnya. Dia berniat mau mendengarkan curhat Deandra yang sempat tertunda. Saat itu mereka sedang membicarakan tentang Raka. Kalian masih ingat bukan?


Fitri sedikit panik melihat kondisi Deandra. Tapi segera dia menepis rasa paniknya itu dengan mengucap kalimat thoyibah dan nada istighfar.


"Kamu kenapa Deandra? Toloooong. Tolong!"


Fitri berteriak keluar kamar minta tolong. Kebetulan ada beberapa wali santri yang berada di dekat mereka. Wali santri itu pas duduk di teras kamar sebelah.


"Ada apa mbak?" Tanya lelaki setengah baya.


"Gimana dek?" Tanya wanita berkacamata.


"Ini pak. Teman saya pingsan. Bisa tolong saya?"


"Iya. Gimana mbak."


"Saya akan memanggil bantuan. Tolong Bapak atau ibu tungguin teman saya."


"Kasih minyak angin dulu Dek. Coba."


Si ibu menyodorkan minyak angin aromatherapy yang dikeluarkan dari tas hitamnya. Minyak angin rol on beraroma jeruk lemon.


"Deandra, bangun De."


Fitri mendekatkan minyak angin aromatherapy itu ke hidung Deandra. Deandra yang tadinya tergeletak kini dalam pangkuan Fitri. Tangan Fitri meremas-remas jemarinya. Jilbab pashmina nude gadis itu pun direnggangkan lehernya.


"Masih belum sadar juga Bu."


Fitri keluar mencari bantuan. Dan dia mendapati Bening sedang mencuci piring kotor. Fitri pun menjelaskan apa yang terjadi dan mengajak Bening ke lokasi.


"Deandra...."


Bening menepuk-nepuk pipi cabi Deandra. Matanya masih enggan terbuka.


"Kita bawa ke klinik dokter Raka saja." Ucap Bening.


"Yuk."


Fitri dan Bening memapah gadis itu ke mobil. Mobil putih melaju kencang ke tempat tujuan.


Di Klinik


"Tolong Deandra dok."


"Deandra?"


"Dia kenapa?"


"Gak tahu dok, tadi dia kudapati sudah pingsan."


"Sebentar biar kuperiksa."

__ADS_1


Dokter Raka mengecek pergelangan nadi dan juga mata gadis itu. Menggerakkan stetoskop ke mencari detak jantung.


"Kita tunggu sampai sadar."


"Gimana dok? Deandra nggak papa kan?" Tanya Fitri khawatir.


"Kamu tenang aja Deandra nggak apa-apa hanya kecapean saja."


"Tekanan darahnya menurun drastis jadi dia harus banyak istirahat. Nanti kalau minum obat insya Allah juga akan pulih." Jawab Raka.


Deandra masih belum juga sadar. Waktu sholat Jumat sudah lewat tapi dia belum juga rehat. Mata masih terpejam. Fitri masih menunggui gadis itu di sampingnya.


"Dokter, Napa Deandra belum sadar juga?" Tanya Fitri saat Dokter Raka masuk visit ke kamar


pasien sebelah.


Fitri saat itu pergi mencari makan dan berpapasan dengan Raka di jalan koridor rumah sakit.


"Tadi sudah kuberi obat. Agar nyeri di kepalanya berkurang."


"Di mana aku?"


Mata Deandra menguliti langit-langit kamar. Jemari kanannya bergerak sedikit.


"Kak Fit."


"Tadi kamu pingsan di kamar."


Fitri mengelus jemari Deandra. Deandra terdiam sesaat. Mencoba mengingat apa yang dilakukan sebelum pingsan.


"Aww, sshhh." Desis Deandra dengan wajah meringis kesakitan memegangi kepalanya.


Raka memasuki ruang rawat Deandra. Deandra masih nampak terkulai lemah. Akan tetapi dia sudah sadar.


"Gimana sudah enakan?" Tanya Raka. Dia diikuti perawat dengan membawa jurnal pasien harian.


Deandra hanya terdiam.


"Rasa nyeri di kepala masih sakit?" Tanya Raka lagi. Kali ini nadanya lebih lembut dari yang pertama. Tapi yang diajak bicara masih diam juga.


Raka melempar senyum tulus. Tetapi Deandra menyambut senyum itu dengan wajah ketus.


Raka melangkah meninggalkan kamar rawat Deandra.


"Suster, tolong nanti dijaga baik-baik pasien Deandra ya! Jangan sampai dia kenapa-kenapa."


"Baik dok."


Sabtu paginya, seseorang memarkirkan mobil putih Fortuner di Pondok Pesantren Tahfiz putri. Dia pun membuka kaca mobil dan membuka sabuk pengaman.


\=\=\=

__ADS_1


Dear, readers jangan lupa like coment vote n rate ya. Biar author makin semangat nulisnya. terimakasih sudah berkunjung dan membaca ceritaku


__ADS_2