Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
BAB 6 BAYU SAMUDERA


__ADS_3

Panik adalah racun pikiran. Jangan biarkan dia mencemarkan.


Bayu mengatur langkah pasang kuda-kuda. Dan melemparkan tubuhnya ke depan kaca mobil. Di dalam mobil, mata Wowo bersiap membidik mangsa. Menarik kopling dan tancap gas.


"Ehmmm. Ehmm."


Deandra tak berdaya. Hanya mata sembab yang bicara. Kaki dia hentakkan sebagai tanda pemberontakan.


Jalanan agak bergelombang dan menikung tajam. Pandangan Wowo terhalang oleh aksi Bayu di depan mobil yang menempel bak Spiderman.


Ciit


"Napa berhenti Wo?"


"Mana bisa liat. Bisa-bisa kita terlempar ke tepi jurang."


Dok Dok dok


Bayu menggulingkan tubuh ke jalan. Tangan kanan menggedor kaca kiri jok belakang mobil. Dengan nada garang Gawer keluar mengayunkan kepalan tangan ke kepala Bayu.


HAP


Dengan sigap Bayu menangkis pukulan demi pukulan. Adu jotos saling bertautan. Gawer berhasil terkapar.


Aww


"Kurang ajar. Bocah tengik."


Wowo yang duduk di depan setir keluar membawa sebilah pisau kecil. Berjalan dari arah belakang Bayu.


"Ehhmmm. Ehmmm." Jerit Deandra tak terdengar.


Belum sempat Wowo melayangkan pisau, Bayu menoleh dan berhasil menangkisnya. Serta memukul balik pergelangan tangan pria berjaket biru itu. Pisau pun terjatuh.


Bayu bergegas melepas ikatan dan tambal mulut Deandra. Adegan tak terduga seperti drama Korea. "Lee Min Ho pahlawan ku. Kau berhasil melepas ikatan ku." Batin Deandra terkesima. Cuaca dingin senja itu bak kerumunan salju.


Mobil melaju dengan kecepatan maksimal. Meninggalkan jejak kedua pria brandal. Di sebuah kafe mereka menepi. Mencairkan suasana hati yang telah terkontaminasi.


"Kau tak apa-apa Bayu?"


"Saya gak apa-apa."


"Apanya yang luka?"


Deandra menyoroti beberapa bagian tubuh pria di depannya. Dengan wajah cemas dan mata agak menyipit. Dia berhasil menemukan sebuah noda. Noda memar di pergelangan tangan.


"Bagaimana denganmu? Kau tak apa-apa kan?"


"Enggak. Aku baik-baik saja Bayu. Masih utuh."


Hahaha


"Syukurlah. Tapi kenapa tadi kukejar. Harusnya kubiarkan saja mereka membawamu."


"Iiih Bayu. Nakal."


Kali ini Bayu yang tertawa. Mereka memanggil waiter dan memesan dua cangkir kopi moccacino dan dua porsi makanan.


"Mengapa mereka mengejarmu? Bukankah ini yang kedua kali saat kau lari."


"Mereka orang suruhan Mami."


Deandra membersihkan muka dengan tisu. Sisa-sisa air mata melunturkan sedikit bedaknya.


"Siapa Mami?"


"Mami adalah ibu tiriku. Dia menikah dengan papa. Dia juga yang membuat mamaku meninggal saat aku masih SMP."


"Terus."


"Papaku meninggal setelah itu aku mau dijual sama om-om."


Bayu tersedak. Mendengar kalimat gadis berjilbab merah itu. Karena gerah, Deandra pun melepas jaket panjang ke bahu kursi.


Dua wanita di samping meja tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Dan menoleh ke arah Bayu. Pemuda itu pun meringis dan menurunkan sedikit dagunya.


"De, bisa kecilkan suaramu?"


"Napa sih Bayu? Ngomongnya kok bisik-bisik." Gadis itu menambah Delume bicara. Sampai sampai perhatian seisi kafe tersedot oleh aksinya.


Tangan Bayu menyatu di bawah dagu dan sedikit menunduk sebagai ucapan permintaan maaf kepada mereka.

__ADS_1


"Napa dibuka?"


"Gerah Bayu. Coba kalo kamu jadi aku. Pasti gak akan tahan."


"Masyak sih?"


"Iih, gak percaya. Nih aku pakein."


Deandra melepas hijab merah yang bersandar di leher jenjangnya. Bayu menutup muka dengan menyilangkan kedua tangan.


"De, "


"Siniin."


"De, diliatin orang tuh. Semua melihat kita."


"Mana?"


Mata gadis itu menyapu ruangan kafe. Perasaan agak malu menampar mukanya. Beruntung slogan dia adalah cuek is the best. Jadi taulah ya perasaan orang cuek macam mana. Sebelas dua belas sama muka kuda Nil.


"Bayu, awas kau ya."


Hahaha


"Ekor kuda tungguin!"


"Ekor kuda berhenti!"


Hari ke 15


Pagi itu, pukul 10.01 di dekat sungai kampung halaman Deandra, terlihat seorang gadis remaja duduk di atas batu. Hal yang biasa dia lakukan sepulang sekolah. Tapi hari ini adalah hari Minggu.


"Hey, boleh duduk di sini?"


Dia menjawab dengan anggukan. Amanda mengamati tingkah gadis seusia adiknya itu. Kedua tangannya menopang badan ke belakang.


"Sudah berapa batu yang kau lempar?"


Gadis itu hanya menggeleng. Kening Amanda mengernyit. Mendadak laron-laron pertanyaan berebut di muka.


"Kakak mau lho jadi temanmu?"


Gadis berkaos putih itu berhenti melempar batu kecil. Merubah posisi duduk menghadap perempuan bermata lentik di sampingnya.


"Serius dong."


Amanda menunjukkan jari kelingking kanannya sebagai tanda ikatan janji. Entah ini ajaran siapa? Apa anda juga seperti itu? Jujur aku gak pernah deh.


Mereka pun berjabat tangan. Awal mula persahabatan dua anak manusia yang berbeda usia juga latar belakang nya.


"Anggun."


"Amanda."


"Kak Amanda cantik deh. Baik lagi."


"Ohya? Makasih sayang."


Pelukan hangat mendarat. Langit biru membentang awan putih menggumpal. Gumpalannya merekatkan dua jiwa.


Amanda memang cantik. Lekuk tubuhnya terlihat meski pakai kaos tak ketat. Lapisan bedaknya meski tipis tapi manis. Sapuan lipstik merah muda sungguh membuat semua yang melihat akan tergoda.


"Amanda, kamu di mana? Nanti malam ada dinner dengan om Hans. Inget ya! Jangan sampai mengecewakan."


Amanda menunggu jam malamnya dengan sepotong kue. Dia merogoh tas selempang kecil hijau tua. Anggun masih terlihat penampakan senyum yang lebih menawan seperti kue bulan.


Di ujung gang perempatan rumah besar nan mewah tercium bau api. Beberapa warga saling jual pandang bercampur heran. Api kian membesar. Asapnya menyumpal organ pernapasan warga.


"Pak, saya gak bisa napas."


"Mata saya pedas."


"Pengap pah,"


"Ada apa ini?"


Itulah beberapa part cuplikan warga kompleks perumahan elit berekspresi.


"Rumahku … Pah rumah kita, Pah."


Bu Ratna tercengang menyaksikan rumah tinggalnya dilalap api. Semua hangus terbakar. Hingga mobil kebakaran itu tiba, puing-puing keselamatan tak henti dikejar. Rumah tinggal atap dan tiang yang kini tinggal belulang.

__ADS_1


"Bayu, bisa pulang sekarang nak. Rumah kita ludes terbakar."


"Apa?"


Bayu Samudra adalah anak kedua dari Bu Ratna. Wanita sosialita dan pecinta barang branded dan berkelas. Semua terlihat jelas. Namun, Bayu agak berbeda. Dia lebih memilih hidup mandiri dan tak ingin menjadi anak 'mami'.


Itulah sedikit cerita tentang Bu Ratna. Dan secuil ulasan tentang Bayu. Gimana kalian masih besamaku? Pembaca yang Budiman saatnya Bayu pulang.


Di kamar kos Bayu mengambil beberapa pakaian yang ada di almari.


"De, aku harus pulang. Rumahku hangus terbakar."


"Apa?"


"Rumah mama."


"Kamu di sini gak apa-apa?"


"Aku ikut, Bayu."


Bayu membuka tas koper hitam agak besar. Dia mengemasi beberapa pakaian dan minyak wangi. Peralatan kerja fotografi tak lupa dia beresi.


Deandra duduk di tepi ranjang. Tak tahu apa yang mesti dia lakukan. Dengan wajah bak panekuk dia membantu membereskan buku-buku di meja. Sebuah novel bercover soft creme menjadi magnet perhatiannya.


"Semua kamu bawa?"


Deandra mengelus dan memegang novel Bidadari Gila.


"Buku ini boleh kupinjam?"


"Maaf De. Itu bukan milikku."


"Pelit. Atau ini dari pacarmu ya?"


"Ih, apaan sih bukan."


"Terus?"


Deandra menggoda Bayu. Melempar lempar buku itu ke atas. Ke samping. Dan ke belakang tubuhnya. Hingga tak sengaja mereka terbentur di kedua sisi. Saat tangan kiri Bayu berhasil mengunci.


"Curang."


"Kena."


Bayu berhasil mendapatkan kembali buku novel itu dan menaruhnya ke dalam koper.


"Sepertinya saya akan lama. Tapi kamu jangan khawatir setelah semua stabil kita bisa bertemu lagi."


"Iiih siapa yang khawatir. Lagian siapa kamu?"


Deandra memutar dan memilin ujung rambut. Bayu hanya melempar senyum.


"Sepertinya kamu harus cari tempat tinggal De. Yang lebih aman."


Bayu menjatuhkan pantatnya ke ujung ranjang.


"Karena ini kosan cowok. Ibu kos bisa datang sewaktu-waktu. Dan saya gak bisa menjagamu."


"Bayu, apa kau akan meninggalkan aku?"


"Tentu. Ini mau pergi."


"Iiih Bayu jahat."


Deandra memukul-mukul kecil lengan Bayu.


"Saya ada temen De, dia ngaji di pesantren. Kamu mau?"


"Apa dia sebaik kamu?"


"Jauh lebih baik malah."


"Sungguh?"


Wajah Deandra berbinar. Menyenggol pelan lengan bahu pemuda di sampingnya.


"Lama-lama bisa rontok bahuku, De."


Hahaha


tawa pecah mengisi atap langit kamar.

__ADS_1


"Bayu, kamu ngobrol sama siapa? Seperti suara cewek." Sahut Risman teman samping kosan.


__bersambung


__ADS_2