Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
BAB 11 @Hanalife BY. Puji Nirwana


__ADS_3

Mobil Hans mendekat di hotel @Hana life. Dia memarkirkan mobil putihnya tepat di bawah pohon cemara. Mereka berjalan bergandengan tangan memasuki lobby hotel. Sesekali menatap wajah gadis di sampingnya. Amanda membalasnya dengan kedipan nakal.


"Reservasi suit room atas nama Hans."


"Baik pak. ini kunci kamarnya 202." Jawab resepsionis.


Mereka melangkah menuju kamar hotel 202. Pria berjas rapi itu membelai rambut ikal Amanda. Amanda membalasnya dengan kecupan di pipi. lalu menyandarkan kepalanya di atas bahu pria di sampingnya.


Hans membuka pintu kamar 202 dengan melempar senyum dan lirikan manja pada Amanda. Punggung Amanda bersandar ke dinding sambil bersilang dada. Pintu pun terbuka.


"Mandi dulu sayang." Ucap Hans sambil mengunci daun pintu.


"Kamu aja dulu beib. Aku mau rebahan bentar."


"Oke sayang."


Hans melangkah menuju kamar mandi berada di sebelah kiri kamar. suara gemericik air shower terdengar.


"seger."


"Bentar ya beib aku mandi dulu." Ucap lembut Amanda.


Apa benar mandi malam terasa menyegarkan? kata mereka dengan demikian. Bagaimana dengan anda? kita simak lagi lanjutannya.


yuhuuu


Hans dengan rambutnya yang basah terdampar di ranjang. Memakai baju handuk putih. Sementara Amanda masih terdengar keras bunyi kran air dalam kamar mandi. Entah apa yang dia lakukan selain mandi.


tiga puluh menit, lima puluh menit berlalu terasa begitu menggebu. Hans seperti cacing kepanasan menunggu momen itu. Jam dinding menunjuk angka 21.01. Akan tetapi yang ditunggu belum juga maju.


"Sayang ...." teriak Hans.


"Iya,"


"buruan."


"Bentar. lima menit lagi."


Amanda keluar dari dari sudut kamar mandi. tetes-tetes air menetes ke leher. Segera dia menyeka dengan handuk pink bermotif melon kecil.


Hans mencoba memeluk Amanda tapi seketika dia menepisnya. Wajah Hans sedikit kecewa karena menunggu terlalu lama. Amanda membelai wajah dan rambut Hans dengan lembut dan menggoda.


"Beib tahan dulu."


Amanda menahan aksi Hans yang hendak menyentuh bibir nya yang pink kemerahan.


"Aku mau beib tutup mata dulu." pinta Amanda dengan suara lembutnya.


Wajah Hans agak mengusut tapi tiba-tiba mekar demi mendapat apa yang dia inginkan. Ah, emang apa sih maunya Om Hans. Apa kalian tahu pembacaku?


"Untuk apa sih sayang?"


"Sudah turuti saja."


"Oh pasti ada kejutan. iya kan?"


Amanda tertawa geli melihat pria di depannya seperti boneka Barbie. Mau diginiin dibegonoin hayuuk.


"Minum madu dulu sayang biar fit." pinta Amanda lagi.

__ADS_1


Segera dia layangkan cangkir teh madu ke mulut tebal Hans. Tiga tegukan sudah mengguyur tenggorokan.


"Sekarang tutup mata dulu."


Amanda mengeluarkan kain hitam yang sudah dia siapkan. Hans tidur terlentang di atas ranjang. Segera dia menutup mata lelaki itu mengikatnya agak erat. Sepertinya dia sudah tak sabar ingin melihat kejutan yang akan dia dapat. Dia pun menuruti kemauan Sang Putri.


tiga


dua


satu


"Sayang, jangan main- main ah. iih geli tau."


"sayang tanganmu kok agak gemukan dikit sekarang. pipimu juga agak gemuk nih."


Hans memegang dan meraba wanita di depannya. penasaran dengan itu dia pun membuka penutup matanya.


"Ma--ma?"


mata Hans mendelik melihat sang istri tiba-tiba di depan mata.


"kok Mama ada disini?"


"Pulang. ayo pulang sekarang kataku."


"maaf maaf Ma."


istri Han menjewer telinga suaminya sampai keluar kamar. tak sadar dengan itu, sang suami masih memakai handuk putih. dia pun malu bukan main dan terpaksa menuruti istri. dia pun menjadi bahan tertawaan dan tontonan gratis di malam Kamis.


"Oh jadi mama gemuk? Gemuk ya?"


"Pokoknya mama gak rela kalo papa ada main sama perempuan lain. Gak rela tujuh turunan. kurang apa aku pa? Kurang apa?"


"Kurang banyak sih ma. kurang cantik, kurang langsing, kurang wangi, kurang nyenengin."


Hans menjawab dengan jujur dan santuy.


"PAPAAA"


"Eh?!! aww arghhh... Sakit ma. Sakit."


Bu Hans menjewer telinga lelakinya. tak cukup dengan itu dia menarik jangan mencubit lengan kanan lebih keras. bukan tepatnya melintir.


"aw sakit ma. malu dilihat orang."


"Masih punya malu kamu hah? Bia, biarr semua pada lihat."


Amanda terkekeh menyaksikan adegan barusan. adegan itu melebihi drama telenovela abad 28.


"lanjutkan lanjutkan drama kalian."


slap!


saat memasuki kamar mandi. Amanda mengambil gawai yang ada di dalam saku celana pria itu. lalu dia memindai nomor WhatsApp sang istri dengan ponsel pintar milik Amanda yang satunya.


"Ahay, sharelock cuyyy!" desis Amanda girang.


hotel @Hana life jalan mangga dua.

__ADS_1


Blurp


Hahaha


Amanda tertawa puas melihat kekasih palsu ditarik oleh sang istri. tarikan kencang jadi bahan tontonan sekaligus perbincangan. wow keren. beberapa ada yang mau mau melewatkan momen berharga itu lalu orang itupun merekam mereka diam-diam.


Dimana Amanda? dia pergi kemana


Mata hans menyapu area parkiran mobil juga beberapa jeda menyorot lobi. Namun dia tidak menemukan batang hidung gadis yang tadi bersamanya.


"Buruan masuuuuk!"


Wanita cantik tapi agak gemuk itu menggiring suaminya masuk ke mobil dengan suara 5 oktaf dari biasa.


"Dari mana Mama tahu papa ada di sini?"


"Itu tidak penting."


"Maafin papa Ma. Papa khilaf."


Hans menyilangkan jari telunjuk dan jari tengah sebagai tanda ketidakjujurannya. jurus kedua dia lesatkan. Ciuman mesra mendarat tiba-tiba.


Mata Bu Hans membulat. Tubuh mematung. bisa jadi amarahnya meleleh runtuh terbawa arus.


***


Di Pesantren.


hari ini hari Kamis. Kamis malam yang romantis. semua santri sudah nampak tertidur kecuali santri baru yang bernama Deandra. karena tak bisa tidur dia pun ke halaman untuk melihat rembulan. dia duduk di bangku panjang dekat taman.


"kenapa belum tidur?"


"gak bisa tidur."


Marsha duduk di sebelah kiri Deandra dan mengeluarkan permen mint dari saku. saat dia membuka bungkus permen melihat sosok di bawah pohon rambutan. pohon itu sangatlah besar. saat siang perlihatkan rindang tapi berbeda saat malam itu seperti menegangkan. apa ini cuma perasaan autornya? bagaimana menurutmu Marsha?


"De, Deandra..."


"Hem?" sahut Deandra tanpa menoleh. Dia masih terkesima dengan wajah rembulan yang berbentuk muka.


"De, "


kali ini suara Marsha lebih bergetar. Marsha sadar sekarang jam berapa. dia ingat betul dia menyusul sahabatnya pukul 11.02 malam.


"Deandraa."


"Kamu kenapa? Badan menggigil gak jelas."


"A-- ada. ba---yangan. di-- sana."


Dengan suara terbata-bata Marsha mencoba bicara. Jari Marsha menunjuk bayangan yang ada di bawah pohon rambutan.


"Bayangan apa? Mana?"


Deandra berdiri dan mencoba melihat bayangan yang dimaksud sahabatnya. Marsha menggigil sembunyi di balik punggung Deandra.


Sosok bayangan besar itu kian mendekat. Marsha saja yang masih melihat. Dan ...


"Aaarhhhh"

__ADS_1


__ADS_2