
Di rumah Deandra, Mami membanting gelas bekas minumnya. Gelas yang tak bersalah harus menjadi korban amarah.
Pyaar
"Cari Deandra sampai ketemu. Aku gak mau kehilangan barang termahal. Aku sudah bersusah payah membesarkan. Emang makan dan minum gratis apa."
Pyaar
"Kalian BISA KERJA GAK? Makan gaji buta?"
"Maaf mi, kami sempat menangkap. Tapi dia berhasil kabur. Iya kan Wo?"
"Benar Mi. Deandra sangat cerdik."
"Aah, omong kosong semuanya. Kalian memang gak becus."
"Pokoknya aku gak mau tahu. Gimanapun caranya kalian harus bisa menemukan Deandra. Atau istri kalian yang jadi pengganti nya." Getak Wanita itu sambil mematikan puntung rokok.
"Jangan Mi. Kami akan mencari sampai ketemu."
"Bagus. Kupegang janji kalian."
Gawer dan Wowo melempar isyarat. Sebuah anggukan agar tidak terkena damprat.
Akankah mereka berhasil menemukan Deandra?
Perhatian adalah wujud rasa kasih sayang. Tapi jika perhatian itu manis jangan salahkan gula-gula cinta itu datang.
Selama perjalanan menuju alamat yang dicatat dalam note, Bayu melihat ke awan. Bergeser ke langit biru. Mentari memancarkan sinar lembutnya.
'Deandra, aku tak mungkin bisa mengajak tinggal dia terus. Tapi aku harus apa?'
Pikiran Bayu mengukir langit biru.
***
"De ...."
"Hem."
Bayu menenteng tas kado merah marun. Gadis itu asyik memotong kuku di ruang tamu.
"Kau sudah pulang?" Ucapnya tanpa tolehan.
"Iya. Aku sengaja lewat samping. Dan pintu depan kukancing.”
Pemuda berkemeja putih bergaris itu duduk di samping. Meletakkan tas kado merah marun tepat di depan Deandra.
"Apa ini, Bayu?"
"Untukmu."
"Ba--yu."
Intonasi khas dengan mimik muka melas. Mengeluarkan isi perut tas tersebut. Dua pices tunik merah dan abu serta celana panjang joger sabyan. Lengkap dengan hijab pasmina.
"Bagaimana caraku berterima kasih padamu?"
Pipi agak cabi membentuk lesung mini.
"Kau suka?"
Deandra mengangguk girang.
"Hijab?" Kening gadis itu mengernyit.
'seumur-umur baru kali ini pegang hijab. Gimana cara makenya?'
"Dari mana kamu tahu kalo aku Muslim, Bayu?"
"Feeling. Feelingku kamu akan makin anggun pakai baju ini. Apalagi pakai hijab."
Kembang kempis hidung Deandra. Seperti kembang sakura yang malu-malu saat musim semi tiba.
"Tapi kamu muslim ‘kan?"
Deandra mengangguk.
__ADS_1
"Dalemnya juga ada mukena."
"Kalo yang ini aku hampir gak pernah pakai."
Gadis itu memegangi mukena pink katun. Bermotifkan batik di ujung.
"Kau pasti bosan dirumah terus kan? Sana ganti baju."
"Tapi, ..."
"Udah gak usah banyak tapi."
"Aku lagi masak air."
"Matikan saja."
"Kamu juga belum makan, Bayu."
"Emang kamu masak apa?"
"Gak masak apa-apa."
Gadis itu nyengir kuda. Berjalan perlahan ke kamar untuk ganti pakaian.
"Cepat De,"
Teriak Bayu sambil menyingsingkan kemeja.
"Baru juga masuk."
"Cepetan. Jangan lama-lama."
"Iya bawel." Teriak gadis itu dari sudut kamar.
Cermin itu berulah. Saat dia hendak menusukkan jarum pentul tepat di garis leher, tetiba pantulan dirinya bicara.
'Perhatian macam apa ini, De.'
"De, kamu tidur ya?"
Suara Bayu menyadarkan dia dari lamunan. Jiwanya kembali masuk tanpa mengetuk pintu dulu.
Deandra masih belum keluar dari bibir kamar. Saat dia hendak memasukkan separuh lipstick orange ke sarungnya, bibir mungil membentuk bulatan oval. Pantulan cermin makin centil. Mata terpejam pelan.
“Buruan De, udah nunggu hampir satu jam ini.”
“Belum juga dua jam.”
Mereka memang berlebihan jarum jam saja baru memutar lima belas menit yang lalu. Ah, apa memang begitu jika ingin cepat ketemu?
Bayu melirik jam sporty hitam berulang kali. Saat dia menatap ke arah salah satu jarum jam, telunjuknya sibuk mengetuk-ngetuk.
“Kenapa jam ini lambat sekali sih,”
Pemuda berkemeja putih bergaris itu mengatur laju duduk. Tukar menukar duduk dan berdiri tak cukup lima kali. Seperti orang ambeyen.
“Maaf nunggu lama ya?”
Bayu melongo seakan melihat letupan kembang api warna-warni. Warna indah itu mengurai wajah gadis di depan mata. Hidung mancung, pipi cabi berlesung mini. Terbungkus pasmina merah melingkar di kepala. Celana hitam jogger sabyan terkesan lebih sopan.
Saat Deandra melangkah muka Bayu agak memerah seperti kentang rebus saus stroberi.
“De, kamu gak mungkin pakai baju ini?”
“Kenapa? Jelek ya? Atau kamu takut tergoda?”
Gadis itu menaikkan kedua alisnya. Sambil meletup-letupkan bibir orangenya. Apa kamu tahu ekspresi Bayu? Keringat dingin tiba-taba membanjir. Segera dia seka dengan sapu tangan coklat dari saku celananya.
Bayu beranjak dari kursi sofa. Menuju kamar dia mencari sosok jaket panjang selutut miliknya. Masker cowok dan kacamata hitam.
“Pakai ini.”
Bayu menyodorkan seperangkat alat miliknya. Lalu dia berjalan menyomot pizza di meja ruang makan. Deandra masih berdiri di depan kursi sofa.
“Kan aku jadi gak cantik lagi. Percuma pakai lipstick, Bayu.”
“Emang kamu pingin seisi dunia tahu ada seorang gadis tinggal bersama cowok. Hem?”
__ADS_1
Bayu membantu memakaikan mantel cream ke tangan kiri Deandra. Usai tertutup semua bagian tubuh perempuannya, Bayu menutup wajah berpipi cabi itu dengan kaca mata hitam.
“Sekamar. Berdua lagi”
Deandra mengatupkan kepala. Menunduk seperti putri malu.
“Siniin tisunya. Biar aku saja.”
Deandra merebut tisu yang hendak mendarat ke bibirnya. Sambil melirik tajam.
‘Enak saja mau sentuh bibirku. Bibir ini hanya untuk suamiku.’
***
Di sebuah kamar hotel mewah kawasan Cimahi. Berdiri dara cantik lagi menawan. Sesekali dia menengok ke arah jendela tirai putih di lantai lima.
[Mas, Napa gak datang - datang sih?]
[Mas, buruan.]
[Kalo gak datang sekarang aku tinggal nih, masih banyak Opa yang nunggu aku di luar sana.]
"Gak gak. Ini kacangan. Kurang mahal Amanda."
Mami melirik wa yang akan dikirimkan ke target.
"Kamu terlalu Agresif."
"Terus gimana mami?"
"Biarkan dia yang mencari dan menunggumu."
Mami menuang minuman putih berbusa ke gelas cembung kesukaannya. Sambil membetulkan posisi duduk di kursi sofa putih dekat jendela.
"Biarkan dia yang bertekuk lutut padamu."
"Caranya?" Amanda meletakkan android di bawah dagu.
"Sini aku bisikin."
Mereka pun berbisik. Aku dan kalian tak mendengarnya.
Ha ha ha
"Beneran ini, Mi?"
Mami melingkarkan jari telunjuk dan ibu jari sambil menghabiskan sisa minum.
"Good luck ya!"
***
Di sebuah rumah seluas 2000 meter, Raka menghentikan mobil Pajeronya. Rumah besar yang dijaga dua anjing nakal.
Guk
Guk
"Permisi. Assalamu'alaikum."
Jari menekan bulatan hitam di tepi pagar. Tak lama kemudian Seorang satpam membukakan pintu.
"Cari siapa Bang?"
"Bu Ratna ada?"
"Oh ada mari."
Raka membawa tentengan dua plastik dus bronis.
Di ruang tamu Bu Ratna sedang asyik mengobrol dengan beberapa wanita yang cantik dan branded. Semua ujung kaki dan kepala barang branded. Seperti merk berjalan tinggal kasih price harga nice.
"Tau gak jeng ini tas harganya berapa?"
"Emang berapa?"
"Gak mahal kok cuma dua puluh lima juta. Hadiah dari suami saat di Paris."
__ADS_1
Bersambung